Menjelang pernikahan Divo, Diva meminta Divo untuk menghabiskan waktunya lebih lama dengan dia. Biarlah orang bilang dia manja atau apa, Diva tidak peduli. Toh kenyataannya dia memang manja karena selalu mendapatkan perhatian dari kedua kakak kembarnya. Terkhusus Divo, kakak kembarnya ini memang lebih memanjakan dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan dia. Jadi menurut Diva, wajar kalau dia ingin memonopoli kakaknya itu selama dia masih bisa.
“Bet me, you called me just to show off, right?” suara dan wajah terganggu Deva membuat Diva dan Divo cekikikan di depan layar handphone mereka yang menunjukkan wajah Deva.
“You got it!” Kata Diva dengan senyum menyebalkannya karena dia memang sengaja memanggil Deva melalui video call agar satu lagi kembarannya itu tau kalau dia dan Divo sekarang sedang jalan berdua. Suatu rutinitas yang biasanya mereka lakukan bertiga, setidaknya sekali dalam seminggu.
“Jadi, lo berdua lagi dimana sekarang?” Tanya Deva mencoba menebak dimana kedua kembarnya itu sekarang menghabiskan kencan mereka. Karena ini sudah jam 7 pagi di NY, jadi Deva pikir kedua kembarnya tidak mungkin jauh dari rumahnya kalau sudah jam 8 malam begini.
Masih tersenyum jahil, kemudian memutarkan kamera HP-nya agar Deva bisa melihat kalau mereka sedang berada di restoran hamburger dan hotdog langganan mereka sejak kecil. “Kita lagi Meat Palace, mau makan beli burger ama soda buat marathon malam ini.” Jawab Diva lagi dengan nada pamer.
Melihat mata Deva yang berputar, membuat Diva cekikikan. “Makanya, siapa suruh ambir cuti pas mau di hari H, jadi nggak bisakan senang-senang ama kita.” Ejek Diva.
“Ya gimana, gue mau semua ini selesai secepatnya. Gue males tau jauh disini, nggak enak.” Deva mengeluh sambil memperbaiki dasi yang dikenakannya untuk kerja hari ini.
“Nggak enak karena nggak ada Anila doang kan.” Ejek Divo yang masih saja keki dengan Deva dan Anila.
Deva menunjukkan cengiran kecilnya, buru-buru pamit sebelum Divo kembali menyemprotnya. Tapi sebelum itu dia masih sempat memanas-manasi Divo dengan berkata, “Ya udah sih Vo. Beruntung lo ngegantiin gue, kan lo jadi ketemu ama jodoh lo.”
Saat mata Divo sudah mulai melotot barulah Deva benar-benar pamit. “Udah dulu ya, gue mau kerja ini. Bye Va, Vo.” Katanya lalu mematikan sambungannya tanpa balasan dari Divo atau Diva.
Melihat kejahilan Deva kepada Divo yang misuh-misuh kecil membuat Diva tertawa kecil. Dia memang selalu senang kalau mereka bertiga bersama dan masih bisa bersikap kekanak-kanakan. Rasanya sangat menyenangkan karena tidak perlu tersiksa dengan beban pikiran yang biasanya ditanggung oleh orang dewasa. Namun Diva sadar, tidak selamanya mereka akan selalu bersama. Pada akhirnya mereka harus menjalani hidup mereka masing-masing dengan pasangan yang telah ditakdirkan Tuhan untuk mereka.
‘Jika Divo dengan Aya dan Deva dengan Anila, lalu aku dengan siapa?’ Tanya Diva dalam hatinya.
Nathan…
***
Hari pernikahan Divo akhirnya tiba juga. Semua orang terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang sibuk dengan penampilan mereka, ada pula yang sibuk dengan persiapan pernikahan. Untuk Diva sendiri, dia memilih sibuk mondar mandir di depan kamar Divo, menebak-nebak apakah Divo sudah selesai berias. Sekalian, dia juga sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Ma, apa Deva sudah tiba?" Tanya Diva pada mamanya yang kebetulan lewat didepannya.
"Itu dia." Kata mama Diva sambil menunjuk seseorang yang baru menaiki tangga rumah mereka yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas. Lantai dimana kamar Deva, Divo dan Diva berada.
Diva tersenyum, lalu berlari ke arah Deva yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai yang sama dengan Diva. "Hi brother. I miss you so much." Kata Diva sambil memeluk erat Deva yang juga telah memeluknya.
"I miss you too." Balas Deva.
Hingga beberapa saat, keduanya berpelukan. Lalu saling melepaskan setelah merasa cukup menghilangkan rasa rindu mereka.
"So, Divo already take the start. When you and Anila take the baton?"
Sambil berjalan beriringan menuju kamar Divo, Diva menanyakan hal itu pada Deva.
Deva menggedikkan bahunya, namun berusaha menjawab semampunya. "Maybe after I finished my duties in NY."
Diva menanggukkan kepalanya. Dia mengerti kalau dalam beberapa hal antara dia, Deva dan Divo memiliki banyak persamaan kepribadian, meski kadang pemikiran mereka akan suatu hal kadang sangat bertolak belakang.
"How about you, are you seeing someone now?" Tanya Deva balik bertanya pada Diva yang langsung dibalas kekehan kecil oleh Diva.
"None, I'm busy with patients. I think I will end up like Divo." Setelah mengatakan itu, Diva kembali melanjutkan perkataannya. "I think it's not really bad if I got my husband through mom help."
Deva menghentikan langkahnya, membuat Diva ikut menghentikan langkahnya sambil menatap Deva dengan senyum yang masih menghias wajahnya.
"Jangan tersenyum kalau lo memang tidak menginginkannya. Lo kelihatan bodoh dan menyedihkan dengan senyum yang begitu."
Senyum Diva langsung memudar saat itu juga. Dengan segera dia menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan pandangannya dari Deva.
"Gue nggak tau sampai berapa lama lo akan berpura-pura kuat dan nyembunyiin semuanya dari gue dan Divo Va. Tapi lo harus ingat, gue dan Divo bisa ngerasain perasaan lo. Jadi berhenti dengan sikap sok kuat lo ini. Gue mau lo yang dulu balik lagi Va." Kata Deva sambil menepuk kepala Diva pelan.
"Gue harap, lo ingat kalau gue dan Divo akan selalu ada buat lo." Kata Deva lagi.
Tanpa disadari oleh keduanya, Divo sudah bersandar sedari tadi di bingkai pintu kamarnya. Mendengarkan setiap pembicaraan yang terjadi antara Deva dan Diva.
"Hari ini, hari bahagia gue. Gue harap lo berdua juga akan menemukan kebahagian kalian kelak." Ucapan Divo memutus suasana serius antara Diva dan Deva. Membuat kedua kembarnya itu tersenyum kepadanya, melupakan sesaat pembicaraan aneh mereka.
Tidak membiarkan Divo siap dulu, baik Deva dan Diva langsung berlari untuk memeluk kembaran mereka itu. Kembaran yang tidak dia sangka akan menikah terlebih dahulu itu karena Diva selalu berpikir kalau dialah yang akan menikah terlebih dahulu daripada Divo ataupun Deva. Tapi itu pemikirannya dulu. Dulu saat dia masih punya seseorang yang membuatnya menanamkan banyak harapan.
***
Jantung Diva berdetak kencang, keringat membanjiri keningnya. Sedangkan tubuhnya membeku begitu saja, membuat dia seperti orang bodoh. Kepala Diva terasa berputar, membuat Diva merasa mual dan ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya. Tidak pernah terbayangkan Diva, kalau dia akan bertemu lagi dengan sosok itu. Sosok yang selama ini dia hindari, sosok yang membuat dia harus berpura-pura kuat untuk delapan tahun belakangan ini.
Sosok itu adalah, Nathan Perwira Utama.
Laki-laki itu masih seperti sosok yang sama seperti saat terakhir kali Diva meninggalkannya. Dia masih tampan dengan mata biru gelapnya yang selalu menatap dinginnya dan jangan lupakan aura tidak tersentuhnya. Aura itupun masih keluar dari diri Nathan yang membuat laki-laki itu selalu terasa jauh dari jangkauan Diva. Tidak hanya itu, raut wajahnya yang tenang dan datar itu juga, raut wajah yang akhirnya membuat Diva lelah dan menyerah pada semuanya.
"Diva, are you okay?" tanya Anila yang ada disampingnya sedari tadi.
Diva tersentak, dia mengembalikan fokusnya pada Anila. "I'm okay La. Tapi sepertinya gue nggak bisa menjadi bridesmaid-nya Aya, gue tiba-tiba nggak enak badan La. Lo bisa nggak permisiin gue ke mama ama Aya?" minta Diva lagi sambil memaksakan sebuah senyum kecil diwajahnya.
Anila diam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. “Ok. Gue bakal ijinin lo ke tante Elisabeth dan Aya.” Jawab Anila.
Dan Diva sangat berterimakasih untuk pengertian Anila tersebut. Setelahnya Diva segera pamit, Diva langsung pergi meninggalkan tempat dimana pemberkatan dan resepsi akan dilakukan. Dia memilih untuk melihat pernikahan Divo dari jauh saja karena dia tidak mau kehadirannya disadari oleh Nathan. Kehadiran yang pastinya tidak diinginkan oleh keduanya, begitu menurut Diva.
Terlalu pengecut memang, tapi inilah yang bisa dia lakukan.
***
Kepala Diva terasa berat, Diva tidak bisa tidur semalaman. Semua bayangan tentang dia dan Nathan seolah berputar semakin jelas dikepalanya. Bayangan yang selama ini dia coba hapus kembali muncul menghantuinya, membuat dia kembali harus menangisi malamnya. Sama seperti malam dimana sesuatu tidak seharusnya dia lakukan.
"Dokter Diva, Dokter William meminta anda untuk menemuinya nanti saat istirahat siang. Beliau akan mengenalkan anda dengan dokter yang akan menangani Gideon." Kata Hera, kepala perawat di bagian jantung.
Diva menganggukkan kepalanya, "Baik, sampaikan pada dokter Wiliam kalau saya akan menemuinya nanti." Kata Diva menjawab sebaik mungkin meski dia merasa sedang tidak baik-baik saja.
Setelah mengatakan itu, Diva kembali keruangannya. Dia butuh mempersiapkan dirinya untuk melakukan pemeriksaan keliling untuk pasien-pasiennya.
***
Diva melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat dia janji bertemu dengan William, dokter senior di rumah sakit Diva bekerja. Setelah memastikan penampilannya baik, serta apa yang dibutuhkannya ada, Diva baru memberanikan dirinya mengetuk pintu ruangan dokter spesialis jantung itu.
Tok...tok...tok...
"Masuk." Ijin dari pemilik ruangan buat Diva.
Mendengar ijin itu, membuat Diva memberanikan dirinya untuk memasuki ruangan dokter yang menjadi salah satu dokter senior di rumah sakit tempatnya bekerja. Saat memasuki ruangan itu, kaki Diva langsung berhenti di langkah pertama. Diva kemudian berdiri mematung di depan pintu ruangan William. Kakinya seolah berubah lumpuh saat melihat sosok lain di dalam ruangan itu. Orang itu tidak perlu menoleh dan melihatnya untuk Diva tau siapa dia. Cukup dengan jantung Diva yang berdetak kuat, maka dia tau siapa pria itu karena hanya seorang Nathan, orang yang bisa membuat jantungnya berdetak seperti ini.
***