CHAPTER 7

1299 Words
8 Tahun kemudian "Semangat Diva, Kamu bisa!" Ucap Diva pada bayangannya dalam cermin. Pagi ini Diva lagi-lagi mengucapkan mantra paginya, mantra yang selalu diucapkannya untuk 8 tahun belakangan ini. Menurut Diva, dia perlu melakukannya untuk memberinya kekuatan dan semangat untuk menjalani hari-harinya. Bukan tanpa alasan Diva melakukan itu setiap harinya, harus bersikap seperti orang lain sepanjang hari sangat melelahkan buat Diva. Itulah kenapa dia butuh semangat dan dukungan karena tidak ada orang lain yang bisa memberikan semangat dan dukungan itu, jadilah dia menyemangati dirinya sendiri. "Pagi ma, pa." Sapa Diva pada mama dan papanya yang sudah berada di ruang makan keluarga mereka. Kemudian Diberinya ciuman di pipi mama papanya itu. Setelah itu, senyum Diva melebar saat dilihatnya seseorang juga duduk bersama mama papanya di ruang makan mereka. "Pagi Vo," katanya dengan semangat langsung memeluk kembarnya yang akan menikah itu. "Kapan datang?" Lanjut Diva bertanya setelah dia melepaskan pelukannya pada Divo dan mendudukkan dirinya di sebelah kembarannya itu. "Subuh tadi, jam tigaan. Mau diantar?" Tanya Divo lagi yang langsung diangguki oleh Diva tanpa pikir panjang. Menghiraukan roti yang sedang dikunyahnya, Diva menjawab, "Mau...mau..." Melihat Diva yang berbicara tanpa memakan makanannya terlebih dahulu, membuat Grace, mama Diva menoleh padanya lalu mendelik, "Telan dulu Va makanannya. Nanti kamu tersedak," tegur Grace pada bungsunya itu. Diva menyengir, lalu menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya sambil sekali-kali berbincang pada Divo. *** "Nanti setelah selesai tugas, lo hubungin gue ya biar gue jemput." Kata Divo saat dia dan Diva telah tiba di depan bangunan rumah sakit St Louis Central Hospital, rumah sakit tempat Diva bekerja. Diva menganggukkan kepalanya, lalu mencium pipi Divo. "Ok, lo jemput gue jam 4 aja. Gue udah selesai tugas jam segitu." Jelas Diva setelah mengingat-ingat jadwalnya untuk hari ini. "Ok, nanti gue jemput. Kita nge-date, kebetulan hari ini hari Jumat." Kata Divo lagi. Bibir Diva mengkerucut karena tiba-tiba saja dia ingat akan Deva, salah satu kembarnya yang kini bertugas di Amerika. Biasanya dia, Divo dan Deva selalu menghabiskan waktu bersama di hari senggang mereka. Tapi sekarang, kebersamaannya dengan kedua kembarannya itu tidak pernah terjadi lagi belakangan ini karena jarak dan kesibukan diantara ketiganya. Selain itu baik Deva dan Divo, kedua kembarnya itupun telah menemukan jodoh mereka masing-masing dan Diva cukup tau diri untuk tidak lagi se-clingy dulu pada kedua kakaknya itu "Ya udah, gue masuk dulu ya." Ucap Diva sebelum keluar dari mobil milik Divo. Divo mengangguk sejenak untuk mengijinkan Diva. Namun sebelum Diva benar-benar meninggalkannya, Divo menurunkan kaca mobilnya lalu berseru, "Va, remember this. You have me and Deva. We will be your brothers, your friends and your guardians no matter what happen. That’s always like that forever." Bukan karena Diva tidak mengerti arti dari kata-kata Divo tadi makanya dia tiba-tiba terdiam seperti sekarang ini, tapi maksud Divo mengatakan itulah yang membuat Diva seperti ini. Akan aneh sebenarnya kalau Deva dan Divo tidak tau bagaimana keadaan dia selama 8 tahun ini. Diva sudah pernah bilangkan, kedua kembarnya itu tidak perlu melihatnya langsung atau berada dalam jarak yang dekat dengannya untuk tau bagaimana keadaan dia. Bersama sejak mereka masih zygot dan tinggal dalam rahim yang sama selama 7 bulan lebih, membuat mereka bisa tahu keadaan masing-masing hanya melalui perasaan saja. Sadar akan hal itu, membuat Diva hanya bisa menatap kosong pada kaca depan mobil Divo. Kalau ada orang di dunia ini yang tidak akan bisa Diva bohongi tentang keadaannya, maka orang itu adalah Deva dan Divo. Sepintar apapun dia berakting baik-baik saja, menyembunyikan semuanya, keduanya tetap tau kalau sejak dia memutuskan pindah untuk sementara ke Amerika, 8 tahun yang lalu, Diva tidak pernah baik-baik saja. Dia sakit, sakit yang tidak hanya pada fisiknya saja, tapi pisikisnya juga. Jadi sekuat apapun dia berpura-pura menjadi sosok yang kuat seperti sekarang ini, baik Deva dan Divo tau kalau Diva tetaplah adik mereka yang cengeng, manja dan naïf. “Diva…” Divo memanggil Diva, membawa Diva kembali dari alam pikirannya yang telah pergi jauh kekejadian yang terjadi 8 tahun lalu. Tersadar dari bayangan, Diva segera melengkungkan bibirnya dan tersenyum, menunjukkan topeng baik-baiknya pada Divo. “I know it, brother.” Katanya. Kemudian dia mencium pipi Divo sebelum benar-benar meninggalkan Divo yang masih menungguinya hingga dia masuk ke dalam rumah sakit itu. *** "Pagi dok," sapa seorang perawat yang kebetulan melintas di depan Diva. Diva tersenyum kecil, lalu membalas sapaan itu. "Pagi." "Oh iya Rin, tolong panggilkan Melly ke ruangan saya ya. tolong minta daftar pasien saya." Katanya lagi pada perawat yang kebetulan lewat dari hadapannya tadi. "Baik dok," jawab perawat itu lalu pergi. Tidak butuh waktu lama, orang yang diminta Diva menemuinya akhirnya datang, lalu memberikan nama pasien yang perlu Diva periksa. "Ini sudah semua?" tanya Diva setelah memeriksa nama pasien yang perlu dia periksa pagi ini. "Iya dok, itu sudah semua." Jawab sang perawat. Diva mengangguk mendengar jawaban Karin. Dia lalu membubuhkan tanda tangan pada lembaran kertas itu tanda kalau dia bertanggung jawab untuk pemeriksaan atas pasien yang ada namanya dalam lembar kertas itu. "Oh iya dok, saya mau memberitahukan kedokter, kalau orangtua dari pasien yang bernama Gideon telah setuju untuk melakukan operasi dok." Kata perawat itu yang membuat Diva sempat berhenti sebentar dari aktivitasnya yang sedang membaca riwayat penyakit dari beberapa pasiennya. "Benarkah?" Kata Diva langsung tersenyum lebar dan bersemangat. "Itu artinya saya sudah bisa meminta dokter William untuk mulai menentukan waktu yang tepat buat Gideon operasikan?" Lanjut Diva senang. "Kalau begitu, kamu siapkan anamnesa, rekam medis dan berkas-berkas yang diperlukan Gideon untuk melakukan operasi ini." Perintah Diva pada Melly, kepala perawat di ruang anak. Melly menganggukkan kepalanya, lalu berlalu meninggalkan Diva yang kini telah bersiap-siap untuk memulai tugasnya untuk hari ini. *** Dengan tergesa Diva berlari menuju parkiran. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, mundur 1 jam dari jadwal seharusnya dia pulang hari ini. "Sorry Vo telat," kata Diva yang sudah masuk ke dalam mobil kembarannya tersebut. Divo yang awalnya sibuk dengan hp-nya menoleh pada Diva, lalu mendesah pelan. "It's ok." Balas Divo yang sudah menghidupkan kembali mobilnya. Lalu mereka meluncur ke sebuah mall tempat mereka akan menghabiskan hari ini. “Jadi, apa yang buat lo terlambat tadi?" Tanya Divo memecah keheningan diantara dia dan Diva. Diva menghembuskan nafasnya berat. Bukan karena merasa berat atau malas dengan pertanyaan Divo, Diva hanya merasa kesal dengan kemacetan yang kini tengah menimpa mereka berdua. "Tadi gue harus ketemu sama teman gue dulu buat ngebicarain soal operasi pasien gue." Jawabnya. Kemudian, Diva sedikit memutarkan tubuhnya ke arah Divo saat dia ingat kalau Divo pasti tau dengan pasien yang tengah dia bicarakan ini. "Lo ingat Gideon kan Vo. Pasien gue yang kemarin kenalan ama lo itu." Kata Diva kembali bersamangat. Divo menaikkan sebelah alis matanya, mencoba-coba mengingat anak yang Diva maksudkan. "Gideon yang pengen jadi pilot itu?" Tannya Divo tidak yakin. "Yups. Gideon yang itu." Lanjut Diva masih dengan bersemangat. "Lo tau nggak Vo, akhirnya orang tua dia setuju buat ngoprasi Gideon. Nah karena itu gue harus telat Vo. Tadi gue harus ketemu dengan dokter William ngomongin soal operasi yang bakal dijalani Gideon." Ujar Diva memberi alasan. Setelah mengatakan itu, wajah semangat Diva berubah karena bibirnya yang dibuat mengkerucut. "Sialnya, dokter William malah bilang kalau bukan dia yang akan menangani Gideon. Operasi Gideon akan ditangani oleh dokter baru yang katanya akan datang minggu depan. Itu makanya gue terlambat tadi." Jelas Diva. Mendengar penjelasan Diva, membuat Divo terdiam sejenak. "Lo udah tau siapa dokter baru itu?" Tanya Divo yang malah membuat Diva mengernyit lalu menggelengkan kepalanya. "No. Kata dokter William, dokter baru itu baru akan aktif minggu depan." Jelas Diva menjawab pertanyaan Divo meski masih dengan raut wajah yang mengkerut karena bingung. "Memang kenapa Vo? Lo tau dokter itu?" Tanya Diva akhirnya karena bisa merasakan ketidaknyamanan perasaan dan raut wajah Divo sekarang. Namun Divo menggelengkan kepalanya dengan tatapan yang memandang jauh ke depan. "Nggak. Gue nggak tau." Jawabanya dengan nada yang sangat pelan namun berat. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD