CHAPTER 6

2751 Words
Kepala Diva terlalu penuh dengan pemikiran tentang dia, Nathan, Raina dan kejadian yang baru saja terjadi saat Nathan membawanya keparkiran khusus karyawan diskotik tempat laki-laki itu dan Raina bekerja. Diva terlalu sibuk dengan pikirannya, hingga membuat dia tidak sadar kalau sekarang dia sudah berada di atas motor yang dikemudikan oleh Nathan. Tidak hanya itu, Diva juga tidak sadar kalau Nathan belum mengganti pakaian kerjanya ketika mereka keluar diskotik. Nathan masih menggunakan kemeja putih lengan pendeknya yang ditutupi oleh vest hitamnya, sedangkan lehernya dihiasi oleh dasi kupu-kupunya. Lalu untuk celananya, dia mengenakan celana bahan hitam, sama seperti pekerja lainnya. "Turun," kata Nathan setelah mereka tiba di sebuah bangunan kecil yang Diva tebak adalah kumpulan dari beberapa apartemen sederhana. Apartemen yang biasanya dihuni oleh karyawan berpenghasilan pas-pasan. Meski mendengar perintah Nathan, Diva tetap tidak bergerak. Diva tidak tau apakah pikirannya terlalu penuh dengan pemikiran atau malah kosong, hingga membuatnya seperti orang i***t sekarang. i***t yang tidak tau caranya bergerak hanya karena sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Ya, Diva sudah sadar sekarang kalau cinta itu hanya ada pada dia sendiri saja, tidak pada Nathan. Lalu setelah menyadarinya, sekarang apa? Melepas Nathan begitu saja? Membiarkan Nathan pergi kepada Raina semudah itu? Atau membuat dia menjadi satu-satunya pihak terluka disini? Oh tentu saja tidak, Diva tidak sebaik dan senaif itu ketika egonya sudah diganggu. Biasanya jika egonya sudah terusik, hal itu mampu membuat Diva bisa berubah menjadi sosok yang kadang dia sendiri tidak percaya kalau ada kepribadian itu dalam dirinya. Egonya ini mampu membuatnya bertindak dan berpikir di luar dari akal sehatnya. Dan sekarang egonya menyuruh Diva untuk melakukan sesuatu pada Nathan, sesuatu yang Diva pastikan tidak akan pernah dilupakan oleh laki-laki itu. "Kamu duduk dulu. Aku buatkan kamu minuman." Ucap Nathan lagi setelah mereka sudah berada dalam apartemen studio sederhana milik laki-laki itu. "Tidak... Tidak perlu. Aku tidak mau itu." Kata Diva dengan tatapan mata yang masih kosong namun kini tatapan itu tepat terarah pada mata Nathan. Nathan menghela napasnya kecil, terlihat mengerti kalau tawaran minum darinya bukanlah sesuatu yang Diva butuhkan sekarang. "Baiklah kalau kamu tidak mau minum, lalu kamu mau apa?" Tanya Nathan dengan nada sabar dan tenang khas miliknya ketika dia berhubungan dengan Diva. Melihat reaksi itu, membuat Diva kembali teringat akan kenyataan Nathan yang tidak memiliki perasaan kepadanya. Membuat egonya yang tadi sudah terusik, semakin terusik lagi karena ketenangan Nathan yang tetap seperti biasanya. Padahal Nathan jelas sekali adalah pihak yang bersalah disini. Menurut Diva, Nathan bersalah karena telah menerima pernyataan cintanya, padahal laki-laki itu tidak bisa mencintai dia. Membuat Diva menjadi gadis bodoh dan menyedihkan karena tidak pernah tau bagaimana perasaan laki-laki itu sebenarnya. Selain itu, Nathan juga bersalah karena hanya bersikap sebagai pacar, tapi tidak memiliki perasaan sebagai pacar. "Kamu tau kalau ini adalah hari ulang tahunku?" Tanya Diva dengan tatapan yang masih kosong kepada laki-laki yang berdiri dihadapannya itu. Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Nathan, membuat Diva mengambil kesimpulan kalau Nathan tidak mengingatnya. Oh bukankah tahun lalu juga begitu, Nathan tidak tau kalau hari itu adalah hari ulang tahun Diva kalau bukan karena Deva Divo memberitahumya. Saat itu Diva bisa mengerti kenapa Nathan bisa tidak tau ulang tahunnya, karena memang itu adalah ulang tahun pertamanya sejak dia dan Nathan bersama. "Lupakan saja kalau memang kamu tidak mengingatnya. Tak apa." Diva menjawab pertanyaan untuk dirinya sendiri. Berbeda dengan sebelumnya yang menampilkan sorot mata kosong dan raut wajah datar, kalau kali ini raut wajah Diva bergantikan dengan senyum mengejek miris untuk dirinya sendiri. Namun senyum itu hanya sebentar saja karena kemudian dia menggantikan senyum itu dengan senyum angkuhnya. "Meski kamu lupa ulang tahun aku, aku akan tetap meminta sesuatu darimu. Sebagai hadiah ulang tahunku. Dan kamu, kamu harus memberikannya." Sorot kosong di mata Diva kini berubah menjadi sorot mata menantang kepada Nathan. Nathan menghela napasnya, terlihat berusaha untuk tetap bersikap setenang biasanya. Sayangnya sikap tenang itu membuat emosi Diva semakin tersulut, dia lelah dengan sikap tenang Nathan itu. "Aku mau kamu menjadi s*x pertamaku." Masih dengan tatapan menantangnya Diva mengatakan itu kepada Nathan. Untuk sesaat Diva bisa melihat keterkejutan pada wajah Nathan meski itu hanya sedikit dan sesaat, namun Diva sempat menangkap reaksi itu. Sayangnya hal itu tidak mengubah apapun yang Diva inginkan saat ini. Terbukti dari jari-jari Diva yang sudah mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang dia kenakan. "Ada apa denganmu." Dengan nada yang lebih rendah dari biasanya Nathan mengatakan itu pada Diva. Sedangkan kedua tangannya sudah mencengkram kedua pergelangan Diva, mencegah Diva membuka kancing kemejanya lebih ke bawah lagi. "Kenapa? Apakah sulit buatmu melakukan s*x dengan aku? Atau karena kamu tidak pernah membayangkan kamu dan aku berhubungan sejauh itu? Menyedihkan sekali menjadi aku kalau begitu." Kali ini Diva mengatakannya dengan nada yang bergetar, dan airmata yang telah jatuh satu persatu dari pelupuk matanya. "Apakah aku harus memohon dengan lebih menjijikkan atau menyedihkan lagi, agar kamu mau mengabulkan permintaan aku ini?" Lanjut Diva lagi dengan kepala yang telah tertunduk agar dia bisa menyembunyikan air matanya. Sebenarnya sia-sia saja dia melakukan itu karena Nathan telah melihatnya tadi. Tapi Diva tetap menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Nathan yang mungkin saja akan membuatnya menciut dan membatalkan keinginannya tadi. Tidak. Dia tidak akan membatalkannya karena dia telah mempertaruhkan harga dirinya saat meminta itu dari Nathan. Dia telah basah sejauh ini, jadi lebih baik dia menceburkan diri saja. Jadi Diva tidak peduli kagi kalau Nathan menilainya lebih rendah dari siapapun yang dia mau. Dengan mendorong sedikit kuat pada bahu Diva, Nathan akhirnya bisa mempertemukan tatapan mata mereka. Semua keberanian yang awalnya muncul karena rasa sakit, marah dan sedih yang dia punya, hilang seketika saat melihat tatapan dingin yang menusuk dari Nathan. "Aku tidak tau kenapa kamu akhirnya harus melangkah sejauh ini, tapi baiklah aku akan mengabulkan kalau ini benar-benar keinginanmu. But you should know, this is not just s*x for me." Tidak kalah dingin dari tatapan Nathan, suara Nathan juga sangat dingin ketika mengatakan hal ini. Setelah mengatakan itu, Nathan merangkum wajah Diva dengan dua tangannya. Lalu Nathan secara perlahan menarik wajah Diva itu ke arah wajahnya, sebelum benar-benar menyentuhkan kedua bibir mereka, Nathan menatap mata Diva sebentar lalu berkata, "That's you, just you and always you." Barulah setelah itu Nathan mulai menyentuhkan bibirnya ke bibir Diva. Mungkin Diva adalah pihak yang meminta bahkan memaksa Nathan untuk melakukan hal yang sejauh ini, tapi ketika Nathan setuju dan mulai mewujudkan apa yang diminta olehnya, Diva berubah menjadi seorang pengecut dan bodoh. Buktinya dia hanya bisa mengepalkan tangannya erat karena ketakutan. Dia menyerahkan semua yang akan berlangsung kepada Nathan karena dia memang tidak tau harus melakukan apa. Selama berpacaran satu setengah tahun, ini bukanlah ciuman bibir pertama antara Diva dan Nathan. Mereka pernah berciuman beberapa kali dan semua ciuman itu selalu memberikan perasaan yang sama buat Diva. Perasaan berdebar yang tidak begitu kuat namun cukup membuatnya untuk merasa kalau dia sedang naik roller coaster anak-anak. Sayangnya sekarang pikiran Diva sedang dipenuhi emosi negative, jadi dia berpikir kalau perasaan seperti itu hanya dirasakan olehnya saja, tidak dengan Nathan. Buktinya setiap kali mereka selesai berciuman, Nathan selalu tampak biasa saja, tidak seperti dia yang pasti terlihat tersipu malu. Berbeda dari semua ciuman yang pernah mereka lakukan, ciuman kali ini memberikannya debar yang lebih kuat dan terasa. Saking berdebarnya, Diva sampai bisa melupakan semua masalah antara dia dan Nathan untuk sesaat. Tidak hanya itu, ciuman itu juga perlahan-lahan menghilangkan kewarasannya. Lihatlah, sekarang dia sudah berani membalas semua perlakuan laki-laki itu dengan nalurinya sendiri. Semua kesadarannya kembali saat dia merasakan sakit, sakit yang biasanya gadis rasakan ketika dia harus melepaskan kegadisannnya. Seketika dia merasa bodoh, bodoh karena harus melakukan hal bodoh seperti ini hanya karena kemarahannya. Kemarahan yang membuatnya tidak bisa mundur lagi karena dia bahkan tidak berani untuk meminta Nathan berhenti. Dia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di bahu Nathan, lalu menggigit kecil pada bagian itu saat Nathan benar-benar telah mengambilnya. Mengambil mahkota Diva sebagai seorang gadis. Saat itulah airmata Diva akhirnya jatuh. Airmata yang dia lepas untuk menenangisi apa yang dia alami saat ini. Dia merasa seperti idot karena telalu mengikuti ego dan kemarahannya hingga berakhir dengan sesuatu yang fatal dan tidak mungkin dia perbaiki lagi. Karena apa yang dikorbankannya untuk ego dan kemarahannya itu adalah sesuatu yang tidak bisa kembali lagi ketika dia sudah kehilangannya. Seharusnya ketika ego Diva tersinggung hingga memunculkan kemarahannya, Diva selalu ingat pesan papanya. Pesan yang selalu mengingatkannya untuk tidak pernah membuat keputusan ketika marah dan tidak pernah membuat janji ketika bahagia karena pada akhirnya, ujung dari keduanya adalah penyesalan. Tidak, Diva tidak menyesal Nathan mendapatkan kegadisannya karena bagaimanapun dia tidak bisa memungkiri kalau dia sangat mencintai Nathan. Terdengar mengerikan memang ketika mendengar seorang anak SMA yang bahkan baru berumur 17 tahun mengatakan kalau dia sangat mencintai seseorang, pasti orang akan menjadikan hal itu olok-olok. Tapi memang itulah yang Diva rasakan kepada Nathan, hingga membuatnya berpikir Nathan pantas mendapatkan semuanya dari dia. Jadi yang disesalkan Diva bukan tentang orangnya, tetapi alasan yang membuat dia melakukan semua kebodohan inilah yang dia sesali sekarang. *** "Diva," panggil Raja menghentikan langkah kaki Diva yang baru saja hendak melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk menuju perpustakaan. "Oh hai, Ja. Ada apa?" Sambut Diva sambil memberikan senyum tipis miliknya kepada teman laki-lakinya itu. Senyum yang juga awalnya berada di wajah Raja seketika hilang saat dia menyadari kalau Diva yang ada dihadapannya sekarang bukanlah Diva yang sama lagi dengan Diva yang menghabiskan ulang tahunnya bersama dia kemarin. Raja tau kalau telah ada yang berubah dengan Diva. Meski begitu, Raja berusaha mengembalikan kembali senyumnya secepat mungkin agar Diva tidak menghindarinya. Berbeda dengan senyumnya tadi, kali ini senyum yang dia berikan kepada Diva adalah senyum keterpaksaan yang berteman dengan kekecewaan dan penyesalannya, entah pada dirinya sendiri atau pada Diva. "Ini, gue punya sesuatu buat lo." Kata Raja lalu memberikan sebuah amplop kepada Diva yang sudah mengernyitkan keningnya. Kernyitan itu berubah semakin dalam saat Diva tau isi dari amplop tersebut. Itulah kenapa dia bertanya kepada Raja sekarang. "Ini apa Ja? Buat apa?" Raja tidak memberikan jawabannya saat itu juga pada Diva. Dia baru memberikan jawaban setelah dia memberikan senyuman yang Diva tidak tau apa artinya, "Itu adalah foto-foto Raina saat dia melayani tamunya di ruang VIP di diskotik yang kita kunjungi kemarin malam." Jawab Raja kali ini dengan seringai yang menggantikan senyumannya tadi. Semakin tidak mengerti dengan perkataan Raja, membuat Diva semakin mengerutkan keningnya. Berharap dengan itu dia bisa menunjukkan kepada Raja kalau dia benar-benar tidak tau apa maksud dari Raja memberikan foto-foto itu kepadanya. "Lo bisa ngegunain ini buat ngebalas Raina. Dan kalau lo juga mau, lo bisa ngegunain ini untuk untuk melihat sejauh mana dan bagaimana sebenarnya perasaan Nathan kepada Raina." Jelas Raja dengan sengaja menekankan suaranya pada kata 'perasaan Nathan kepada Raina'. Mendengar jawaban Raja, membuat kerut di kening Diva semakin dalam. Namun kerut itu bukan lagi untuk menunjukkan ketidakpahamannya, tapi lebih kepada ketidaksukaannya akan perkataan Raja. "Aku tidak butuh ini." Kata Diva lalu mengembalikan amplop ditangannya itu kepada Raja, tapi Raja tidak menerimanya dia membiarkan amplop itu tetap menggantung dipegangan Diva. "Terserah lo butuh atau nggak dengan semua foto-foto itu. Gue ngasih itu buat lo karena niat gue buat nolongin lo. Jadi kalau lo ngerasa nggak butuh, lo bisa ngebuangnya sendiri." Ucap Raja lalu pergi meninggalkan Diva begitu saja. Saat Raja benar-benar menghilang dari pandangan matanya, Diva menatap kembali 2 lembar foto yang ada dalam amplop yang diberikan Raja padanya tadi. Pada salah satu foto itu, Diva bisa melihat Raina duduk diantara beberapa pria dewasa dengan salah satu tangan menuangkan minuman keras ke gelas pria yang duduk disebelah kirinya. Sedangkan telapak tangannya satulagi terletak pada paha pria itu. Lalu di fotonya yang satu lagi, ada foto Raina yang tampak sedang dirangkul dibahunya oleh pria yang berbeda dengan foto yang pertama. Setelah melihat kedua foto itu, Diva hanya bertanya pada dirinya kenapa Raina harus sampai bekerja begini. Diva yakin kalau ini bukan karena masalah finansial karena setau Diva, Raina bukanlah dari kalangan biasa saja. Keluarga Raina memiliki bisnis perhotelan dan restoran yang cukup besar dan terkenal yang dikelola langsung oleh mama Raina. Jadi sangat tidak mungkin bagi Diva kalau Raina harus bekerja sebagai pelayan dan hostess di diskotik hanya demi uang. Ya hostess. Berdasarkan foto itu, menurut Diva Raina hanya bekerja sebagai hostess saja. Tidak lebih. Diva tidak sejahat itu pada Raina, dengan menyimpulkan Raina melakukan hal yang tidak-tidak hanya karena dua lembar foto. Meski hubungan mereka sedang dalam keadaan renggang dan tidak baik, bukan berarti Diva berubah menjadi monster jahat yang asal menuduh dan melakukan hal-hal jahat hanya demi membalaskan kemarahannya pada Raina. Diva masih meletakkan kepercayaannya kepada Raina, menurutnya mantan temannya itu tidak akan melakukan sesuatu yang akan merusak harga dirinya sendiri. Sayangnya tidak semua orang akan memiliki pemikiran yang sama dengan Diva ketika melihat kedua foto yang ada ditangannya sekarang. Sebenarnya kalau Diva jahat dan ingin membalaskan kemarahannya selama ini pada Raina, dia bisa saja menyebarkan foto ini ke orang-orang atau menyerahkannya pada pihak sekolahan. Dengan begitu nama baik Raina akan hancur karena Diva yakin, sebagian besar orang yang melihat foto itu akan dan menuduh Raina bukanlah gadis baik-baik. Tidak hanya itu,  Raina juga akan di-DO oleh pihak sekolahan hanya karena kedua foto itu. Tapi Diva tidak akan pernah melakukan itu, Diva tidak pernah dididik untuk melakukan hal jahat kepada orang lain, apalagi orang itu pernah dekat dengannya. Itulah kenapa dia berniat membuang foto itu, saat dia sudah pulang nanti. *** Hari ini Diva terlambat datang ke sekolah karena dia yang terlalu sibuk dari siang hingga malam, kemarin. Bahkan saking lelahnya dia, dia sampai kesulitan untuk bangun pagi tadi. Beruntung Deva dan Divo mau menungguinya meski mereka tau kalau mereka juga akan terlambat sampai disekolah nantinya. Sedangkan Nathan, Diva sudah memintanya untuk tidak menjemputnya dan berangkat ke sekolah terlebih dahulu. Cukuplah 2 hari yang lalu dia membuat Nathan ikut terlambat bersamanya karena harus menunggu seragam dan peralatan sekolahnya yang lain diantar ke tempat Nathan dulu, sebelum mereka berangkat ke sekolah. "Diva...Diva, lo udah tau belom kalau ternyata Raina itu jualan." Kata Luna, salah satu teman sekelas Diva heboh, saat Diva bahkan baru duduk ditempatnya setelah menyelesaikan hukumannya karena datang terlembat. Diva menggeleng bingung, "Jualan? Maksudnya?" "Ih, lo pasti ketinggalan berita deh. Lihat ini. Ini gosip terheboh dan terpanas pagi ini." Luna menunjukkan foto mading utama sekolahan mereka. Tubuh Diva membatu. Dia terlalu syok dengan apa yang ditunjukkan oleh Luna saat ini kepadanya, bukan foto madingnya, tapi isi dari mading itulah yang membuat Diva terkejut. Dengan segera Diva membuka tasnya, mencari amplop yang dia selipkan di salah satu bukunya kemarin. Jantung Diva seketika mencelos ketakutan saat dia tidak menemukan amplop itu. Memotong ocehan Luna yang ternyata berlangsung sedari tadi, Diva segera menanyakan keberadaan Raina, teman sebangkunya itu kepada Luna. "Terus, Raina dimana sekarang Na?" "Dia dipanggil ke ruang kepsek Va." Jawab Luna sambil menunjuk arah ruang kepala sekolah mereka. Setelah mendengarkan jawaban Luna, Diva segera berjalan menuju tempat yang ditunjuk Luna tadi. Namun baru setengah perjalanan Diva menuju ruang kepala sekolah mereka, niat Diva terhenti karena seseorang sudah terlebih dahulu menarik tangannya. Orang itu membawanya ke pojok tersembunyi disekolahan mereka. "Bukan kamukan yang menyebarkan foto-foto ini?" Kata Nathan saat keduanya sudah berada dipojokan sekolah. Sambil menanyakan hal itu, tangan Nathan masih mencengkram kuat tangan Diva, hingga membuat Diva kesakitan. Namun sakit yang dirasakan dia ditangannya, tidak sebanding dengan sakit hati yang dia rasakan saat mendengar pertanyaan tuduhan Nathan tadi kepadanya. Ego Diva kembali terusik, membuat emosi yang sempat surut setelah dua hari lalu naik lagi. "Kalau iya aku yang nyebarin." Katanya sambil menghentakkan tangannya dari pegangan Nathan. "Kenapa?" Tanya Diva dengan nada yang menantang. Nathan tidak menjawabnya, dia hanya menunjukkan tatapan tajam penuh kemarahannya kepada Diva. Melihat itu, perasaan sesak yang selama beberapa waktu belakangan ini Diva rasakan kembali lagi. Sesuatu yang awalnya Diva niatkan untuk diabaikannya saja sejak dia menghabiskan malam bersama Nathan, muncul kembali. Membuat Diva mengeluarkan pertanyaan yang sebenarnya dia sendiri takut mendengar jawabannya. "Apakah kamu menyukai Raina?" Dengan suara lirih akhirnya Diva mengeluarkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang sedari dulu Diva sembunyikan jauh di dalam hatinya karena dia terlalu pengecut dalam menghadapi kenyataan. Kenyataan kalau seandainya jawaban 'iya' adalah yang keluar dari mulut Nathan. Setelah mengeluarkan pertanyaan itu, Diva bisa melihat rahang Nathan mengeras, kemarahannya kali ini benar-benar terlihat pada mata Nathan. Tapi semua reaksi itu hanya terlihat sebentar saja karena kemudian wajah Nathan berubah datar, dengan tatapan yang tajam menusuk masih menunjukkan kemarahannya. "Apakah hal itu begitu penting untukmu, hingga kamu mampu melakukan hal-hal yang bahkan diluar akal? Baiklah, kalau memang kamu pikir aku menyukainya maka lanjutkan saja pemikiranmu itu karena sepertinya, apa yang aku lakukan tidak pernah masuk menjadi perhitunganmu." Kata Nathan lalu meninggalkan Diva yang langsung meluruh jatuh ke tanah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD