Chapter 40

1109 Words
Terlihat Ibu Fara yang berdiri di depan pagar rumah Zara dengan dua papper bag di tangannya.  "Assalamualaikum." Seru Ibu Fara.  "Walaikumsalam." Balas Zara dan Julian.  Zara segera berlari membukakan pintu pagar untuk Ibu Fara sedangkan Julian berdiri di depan pintu ruang tamu.  "Masuk tante." Ucap Zara.  "Siapa Zaraaa???" Teriak Ibu Nadine.  "Tante Fara Maaaa." Balas Zara.  "Tante duduk dulu yahh, aku panggil Mama juga." Kata Zara sambil berjalan masuk ke dapurnya.  "Iya sayang." Kata Ibu Fara lalu duduk di kursi yang berwarna coklat di ruang tamu rumah Zara.   Zara pun kembali dengan membawa satu gelas minuman dan cemilan untuk Ibu Fara.  "Silahkan tante. Mama lagi sakit perut tante, jadi kayaknya agak lama deh keluarnya hehe." Kata Zara sambil menyuguhkan minuman dan cemilan yang di bawanya.  "Iya sayang, nggak papa kok. Tante juga nggak lama kok ini. By the way hmm kamu udah sehat?" Tanya Ibu Fara lalu berjalan masuk ke rumah Zara.  "Alhamdulillah tantee.. Zara udah sehat kok, Zara cuman kecapean aja. Makanya tiba - tiba pingsan, Zara nggak kenapa - kenapa kok." Jawab Zara.  "Alhamdulillah.. maaf yah tante nggak jengukin kamu, karena kata Raka kamu nggak lama di rumah sakit, jadi tante nggak ke rumah sakit deh." Kata Ibu Fara.  "Ihh iya tantee.. nggak papa kok, Zara juga harusnya nggak nginep kok dirumah sakit. Cuman Raka aja tuh yang katanya udah bayar biaya rumah sakitnya sampai pagi tadi, makanya aku nginep dulu di rumah sakit." Jelas Zara.  "Oalahhh.. rupanya karena Raka yah? Makanya kamu masih tinggal di rumah sakit sampai tadi pagi." Kata ibu Fara.  "Iya tante, aku juga di suruh istirahat dulu. Supaya bisa cepat pulih dan kembali berkerja. Soalnya ada meeting di Bali, terpaksa Raka undur dulu." Kata Zara.  "Hahah itu pasti cuma alesan dia doang, dia nggak mau bilang aja supaya kamu cepat sembuh, takut kamu salah paham." Kata Ibu Fara.  "Hahah tante bisa ajaa deh." Seru Zara.  "Oh iya ini ada buah buat kamu, di makan yah. Biar makin sehat.." kata Ibu Fara sambil memberikan satu paperbag untuk Zara.  "Aduh tante kok repot - repot banget sih. Makasih banyak yah tante." Kata Zara.  "Nggak kok.. ohh iya ini juga yang mau tante titip untuk Raka, kamu kasih aja pas nanti tiba di bali yah." Kata Ibu Fara lalu memberikan satu paperbag lainnya ke Zara.  "Hmm.. maaf nih tantee, kenapa nggak di kasih langsung aja ke Raka tante? Raka ke pulangkan tante kemarin?" Tanya Zara.  "Nggak, dia nggak pulang Nak." Jawab Ibu Fara.  "Lohh terus tante ngomong sama Raka kalau Zara sakit kapan dong?" Tanya Zara lagi. "Ohh ituu.. iya tante cuma telvonan sama Raka. Kemarin tante coba menghubungi Raka lagi, alhamdulillah dia udah angkat telvonnya." Kata Ibu Fara.  "Emang sebelum - sebelumnya nggak dia angkat tante?" Tanya Zara.  "Nggak.. kasihankan tante?"  "Ihh kok gitu." Seru Zara.  "Hahah nggak papa kok Zara, tante udah biasa." Kata Ibu Fara, sambil sedikit mencicip cemilan yang di bawa Zara tadi. “Hmm.. iya - iya tante.. ini nanti besok aku kasih ke Raka yah tante.” Kata Zara sambil mengangkat papperbag yang diberikan Ibu Fara.  “Iya makasih Zara.. maaf yah kalau tante sering merepotkanmu.” Kata Ibu Fara lagi.  “Dia suka di repotin kok tante. Apalagi sama tante Fara.” Seru Julian berjalan ke luar dengan membawa snack ditangannya.  “Awas ya Looo !!!!” Teriak zara kemudian melemparkan bantalan kursi tepat di wajah Julian  “Ih emang iya kan? Nggak usah malu - malu gitu deh.” Julian lagi.  Ibu Fara tertawa mendengar percapakan antara Julian dan Zara.  “Jangan di dengerin yah Tantee, dia emang suka rese.” Kata Zara.  “Hahaha.. nggak papa kok sayang, kalau bener juga nggak papa kan. Kamu nggak usah malu gitu.” Kata Ibu Fara.  Zara tersipu malu.  “Hmm kalau gitu tante pulang dulu yahh, salam sama Mama Papa kamu.” Kata Ibu Fara lalu berdiri dari tempat duduknya.  “Iya tante.. sekali lagi makasih yah buahnya tante.” Kata Zara.  Ibu Fara pun pulang ke rumahnya kembali, di antar oleh Julian. Meskipun rumah Ibu Fara di samping rumah Zara, tapi pintu masuk rumah Ibu Fara cukup jauh karena rumah Ibu Fara begitu luas dan sangat panjang.  - APARTEMEN RAKA -  Raka membuka pintu apartemennya, menyalakan semua lampu yang berada di apartemennya. Kemudian Raka membersihkan dirinya, dan packing pakaian - pakaian yang harus ia bawa untuk meeting di bali.  Raka juga mempersiapkan pakaian untuk liburan di Bali, meski tujuannya untuk meeting tapi Raka ingin memberikan kesan pertama yang baik untuk Zara di meeting pertamanya di luar kota.  Dddrrrttt dddrrtttt drrttttt (ponsel Raka berdering)  Panggilan dari Andika.  “Kenapa lagi sih nih anak? Malam - malam suka banget gangguin gue.” Gumam Raka pada dirinya sendiri.  Dua kali panggilan dari Andika tidak Raka jawab, karena masih sibuk membereskan barang - barangnya. Tapi Andika terus saja menelvon Raka.  “ADA APA SIHHH??? Penting banget hah?” Seru Raka yang sudah menjawab telepon dari Andika.  “Wooii woiiii kaleemm !!!! Ini penting tau nggak, makanya gue nelvon Lo sampai seribu kali, ngapain sih Lo sampai nggak jawab televon gue?”  “APA YANG PENTING ?!??? Cepetan Bilang, gue sibuk nih.”  “Aahhh dasar Lo , sukanya marah - marah aja. Gini tadi gue baru aja di televon sama sekertarisnya Pak Handoko, katanya dia nggak bisa ikut meeting besok.” “Lah terus gimana dong? Di tunda lagi?” “Aduhh.. makanya dengerin gue selesai ngomong dulu.”  “Iya lanjutkan cepat.”  “Katanya anaknya yang gantiin dia, daripada harus di tunda lagi katanya.”  “Anaknya? Cindy?” “Iya Cindyy, aduh malesin bangetkan? Dia kan kalau meeting banyak banget maunya. Dan belum lagi dia selalu neror gue kalau kita masih stay di sana beberapa hari. Dia pasti minta makan malam berdua bareng lagi sama Lo, lewat gue karena Lo nggak pernah mau di ajakin makan sama dia.” Jelas Andika.  “Huuuhhh, gimana yahh.. mungkin Cindy tau kalau kita mau meeting sama Papanya, makanya dia yang gantiin papanya.” “Nahh makanya, gimana dong ini?” “Yahh mau gimana lagi, kita harus tetep lanjutin meetingnya kan? Kalau nggak Pak Handoko akan ngomong apa? Nanti dia berubah fikiran dan nggak jadi ngetanda tanganin kontrak kita.” “Huuuffftt tersiksa lagi nih hidup gue kalau di Bali, padahal kan gue mau santai - santai di sana.”  “Lo abaikan aja kalau Cindy hubungin Lo, kalau perlu matiin aja ponsel Lo.”  “Beneran nih?” “Ya iyaa beneran.”  “Yess okey deh kalau gitu. sampai ketemu besok di bandara. Byeeee.”  Raka mematikan sambungan televonnya dengan Andika. Dan melanjutkan packingnya. Setelah selesai packing Raka beristirahat di apartemennya yang sunyi yang hanya ada Raka seorang.  ====
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD