Chapter 72

1129 Words
Zara dan Raka sama - sama kaget dan salah tingkah. Zara segera berdiri dan bangun dari sandarannya di tangan Raka.  “Aduuhh maaf yahh aku nggak sengaja.” Kata Zara sambil menarik tangan Raka untuk membantunya berdiri.  “Iya nggak apa - apa Zara.. ini remotnya udah ketemu hahah.” Kata Raka lalu mengambil remote yang tadi ikut terjatuh. “Ahh.. kenapa aku ceroboh sekali sih. Pakai jatuh segala lagi, dan deket banget sama wajah Raka.. aduuhh jadi mikir yang aneh - anehkan.” Gumam Zara dalam batinnya.  “Zara cantik banget sih.. hmm apa gue harus memberitahunya kalau gue sudah mengingat semua yang terjdi di Villa Cindy? Ah tapi gimana yahh.” Batin Raka.  Zara yang masih salah tingkah kembali masuk ke dalam kamar mandi.  “Aku ke toilet dulu, kamu cari aja film yang bagus. Yang bisa kita nonton berdua.” Ujar Zara sembari  masuk ke dalam kamar mandi.  “Ohh okeyy.” Balas Raka.  Setelah lima menit di dalam kamar mandi, Zara kembali keluar dan langsung naik ke tempat tidur.  “Nih Zar.. coba kamu liat dulu filmnya, kamu suka apa nggak?” Tanya Raka yang sudah duduk manis di sofanya.  “ahh iyaa bagus kok.. ya udah nonton itu aja.” Kata Zara sambil melihat layar televisi.  “Okeyyy.. kamu mau aku buatkan kopi nggak?” Tanya Raka.  “Ehmm kamu yang mau buat? Nggak papa nih?” Tanya Zara.  “Yahh nggak apa - apa dong. Emanganya kenapa?” Tanya Raka kembali.  “Kan kamu bos aku, masa kamu membuatkan kopi untuk sekertaris kamu sih.” Jawab Zara.  “Haha yah kenapa memangnya.. sekarang kita bukan sebagai sekertaris dan bos tapi sebagai teman.” Ujar Raka sambil menuangkan kopi ke alat pembuat kopi.  “Sebagai teman?” Tanya Zara.  “Iyaa kan? Nggak usah anggap lagi kita sebagai bos dan sekertaris untuk sekarang. Biar lebih akrab, nggak apa - apa kan?” Tanya Raka.  “Ehmm iya nggak apa - apa.. terserah kamu aja.” Jawab Zara.  “Tunggu bentaran yah.” Kata Raka sambil mengaduk kopi yang telah iya buat.  “Iyaa.”  Zara menunggu kopi buatan Raka sambil menonton film yang telah di pilih Raka.  “Nih Zar kopinya.” Kata Raka lalu memberi kopi untuk Zara.  “Makasih yah teman.” Kata Zara sambil tertawa kecil.  “Hahaha.. kok aneh gitu yahh.. tapi nggak apa - apa lahh.. ehm Zara boleh nanya sesuatu nggak?” Tanya Raka.  “Boleh.” Jawab Zara.  “Kenapa kamu manggil saya pakai aku kamu? Sedangkan sama yang lain pakai Lo gue?” Tanya Raka.  “Yaa karena kamu kan bos aku, masa aku manggil kamu dengan Lo Lo, kan nggak sopan. Ih kamu pertanyaannya ada - ada aja sih.” Jawab Zara.  “Ah iya juga yah. Haha.” Kata Raka sambil tertawa lalu menyeruput kopinya.  “Haha apa sih kamu. Tapi kalau kamu sendiri katanya itu hari kamu pakai Lo gue sama aku, kata biar makin akrab. Tapi cuma sehari aja, malah sampai sekarang saya kamu. Kenapa coba berubah haluan?” Tanya Zara lalu mengambil posisi untuk menyandarkan dirinya di sandaran tempat tidur.  “Ah iya juga yah.. kok jadi berubah lagi. Ehmm mungkin saya lupa deh kayaknya. Haha terus jadi kebiasaan pakai saya kamu. Dan juga di kantorkan kalau manggil karyawan yang lain pakai kamu juga. Nggak hanya kamu sih.” Jawab Raka.  “Ihh iya - iyaa.. yang bilang hanya aku siapa juga. Aku kan cuma nanya yang tadi.” Kata Zara.  “Haha.. kok marah sih. Ehmm Zara sebenarnya bukan itu sih yang mau saya tanyain juga. Tapi kamu jangan marah yah kalau saya nanya - nanya yang lain.” Kata Raka lagi.  “Nanya aja Raka. Kenapa aku harus marah. Aku juga penasaran sama apa yang kamu tanyain.” Ujar Zara.  “Hmm.. kamu udah punya pacar nggak Zara?” Tanya Raka.  “Puufftttt.” Zara menyemburkan kopi yang sedang ia minum. “Aduh pertanyaanku aneh yahh.. tunggu Zar, aku ambilin tisu.” Raka segera berdiri dan mengambil tisu yang terletak di atas meja di bawah televisi.  “Nggak aneh Rakaaaa.. kan kamu sendiri yang pura - pura jadi pacarku, kok malah nanya aku udah punya pacar atau nggak sih? Kamu ngeledek aku?” Tanya Zara kesal.  “Hahah.. iya iyahh.. kok saya nggak kefikiran sampai kesitu yahh.. kayaknya ini masih pengaruh saya mabuk deh. Maaf yahh.” Kata Raka.  “Dasaarr .. makanya jangan sok - sokan minum minuman beralkohol kalau nggak bisa. Terus kenapa juga kalau aku udah punya pacar? Dan kenapa kalau aku belum punya pacar? Kamu mau daftar jadi pacar aku?” Tanya Zara tanpa berbelit - belit.  “Ah? Hah?”  “Apaan ah hah ah hah.. santai aja.. emang pertanyaanku sesulit itu yah?” Tanya Zara.  “Hmm.. Zara saya mau ngomong serius bisa?” Tanya Zara kembali.  Mendengar ucapan Raka, detak jantung Zara menjadi semakin deg - degan.  “Apa Raka mau menyatakan perasaannya seperti tadi yah? Oh my God aku belum siappp !!!” Batin Zara menggebu - gebu. “Ngomong aja.. sebelum aku ngantuk.” Ucap Zara lalu meletakkan kopinya ke meja kecil di samping tempat tidur.  “Zara.. sebenarnya saya sudah ingat apa yang saya bilang tadi pas di Villa Cindy. Maaf membuat kamu seperti nggak percaya apa yang saya bilang tadi. Tapi saya nggak bohong dengan apa yang saya bilang tadi. Saya nggak tau kapan saya mulai menyukai kamu, dan saya nggak tau kenapa saya bisa menyukai kamu.” Kata Raka.  “Terus?” Tanya Zara. Detak jantung Zara semakin deg - degan mendengar Raka menyatakan perasaannya secara langsung. “Saya tau kamu juga menyukai saya.. tapi Zara kamu tau kan, kalau saya kehilangan Rivka dan Eyang?” Saya masih takut untuk membuka hati, saya takut kalau orang yang masuk di kehidupan saya akan meninggalkan saya. Saya sangat takut akan hal itu, kalau mengingatnya lagi rasanya sangat sakit.” Jelas Raka.  Raka mulai sesak nafas, pipinya sudah dibasahai oleh air mata. Ingatan tentang Rivka adiknya dan eyangnya kembali membuatnya merasakan rasa sakit yang teramat dalam. Ketidaksiapan saat Rivka meninggal dunia membuat Raka tidak ingin menjalin hubungan yang terlalu dekat dengan orang lain. Raka tidak ingin merasakan rasa sakit saat kembali di tinggalkan oleh orang - orang yang ia sayangi.  Zara segera turun dari tempat tidur, merangkul Raka yang sedang menangis. Saat Raka menangis, Raka sempat ketiduran dalam beberapa menit, dan saat Raka tertidur Raka mulai masuk ke dalam mimpinya lagi yang kembali saat melihat Zara pertama kali masuk di kantornya.  Mimpi yang hanya sepersekian menit, sudah membuat jantung Raka kembali berdetak sangat cepat. Nafasnya sudah sangat tidak karuan. Tapi Raka tidak ingin memberitahukan ke Zara kalau ia mulai memimpikan kenangan - kenangan saat Rivka dan Eyangnya meninggsl dunia saat Raka bertemu kembali dengan Zara setelah lima tahun berlalu. ====
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD