“Okeyy.. its okey Raka.. nggak apa - apa, menangislah kalau kamu ingin menangis.” Ucap Zara lalu menyenderkan kepala Raka di bahunya.
Raka terus menangis sesegukan, Raka sangat sedih karena mengingat kembali kenangan bersama Rivka adiknya dan juga eyangnya. Zara membiarkan Raka menangis dulu sampai Raka bisa benar - benar tenang. Dan beberapa menit kemudian perasaan Raka sudah mulai membaik. Raka menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya.
“Ah Zara maaf kalau saya merepotkan kamu. Aduh saya jadi malu, kenapa saya harus sampai menangis seperti ini.” Kata Raka sambil menghapus air matanya.
“Nggak apa - apa Raka.. kenapa kamu harus malu? Terkadang dengan menangis itu, perasaan kita bisa jadi lebih baik dan lebih tenang. Kamu tidak usah gengsi ataupun malu kalau kamu ingin menangis. Dan aku juga sangat tau apa yang kamu rasakan, please kalau kamu butuh aku untuk menangis, ada aku yang siap meminjamkan pundakku untuk kamu bersandar.” Kata Zara lalu berdiri untuk mengambil air mineral untuk Raka.
“Nih minum dulu.” Sambung Zara.
“Makasih yah Zara. Saya nggak tau kenapa saya bisa seperti ini lagi. Hampir dua tahun saya bisa melewatinya tanpa ada rasa trauma lagi, tapi barusan kenapa muncul lagi hahh.” Ucap Raka sambil menghela nafasnya.
“Mungkin kamu kembali mengingat rasa sakit kamu dulu Raka. Sudah yahh, aku nggak mau kita membahas itu lagi. Aku nggak mau kamu sampai kenapa - kenapa.” Kata Zara lalu kembali duduk di atas tempat tidur.
“Tapi Zara.. hal yang ingin saya bahas sebenarnya adalah tentang perasaan saya, dan tentang bagaimana kita selanjutnya dengan keadaanku yang seperti ini.” Ujar Raka.
“Kamu nggak usah memaksakan Rakaa.. kalau memang kamu belum siap yah nggak apa - apa, aku nggak akan memaksa kamu. Ehh tapi kok kesannya kayak aku yang nembak kamu dan kamu tolak sih hahaha.” Kata Zara sambil tertawa. Zara berusaha menghibur Raka di tengah kebimbangan hatinya.
“Ehh kok gitu.. nggak.. saya yang nembak kamu. Ehh.. apasih ini. Hahaha.” seru Raka.
“Nahh kan kalau senyum jadi makin ganteng.” Seru Zara lalu mengambil posisi tidur dan menyelimuti kakinya.
“Nggak usah muji - muji saya terus deh.. Zara saya minta maaf banget sama kamu.. rasanya saya terkesan sangat egois, saya tidak memperdulikan perasaan kamu, hanya kemauan saya yang terus kamu ikutin. Maafkan saya Zara..” ucap Raka menundukkan pandangannya.
“Loh kok gitu.. apaan sih Raka.. aku ngerti kamu, bukan berarti kamu egois. Please jangan memaksakan sesuatu yang emang kamu nggak bisa. Kita jalanin pelan - pelan aja Raka.” Kata Zara.
“Kalau emang kamu belum siap untuk membuka hati kamu untuk memasukkan orang lain di hidup kamu, aku nggak apa - apa. Yang terpenting sekarang aku tau kalau kamu juga suka sama aku. Berarti aku nggak bertepuk sebelah tangan. Kamu sendiri juga tau kalau aku suka sama kamu, aku mau kamu juga tau kalau aku akan selalu ada di samping kamu.” Jelas Zara.
Zara berbaring miring menghadap ke Raka yang masih duduk di sofa memegang botol air minumnya.
“Zara.. apa kamu bisa nggak ninggalin saya suatu saat nanti?” Tanya Raka.
“Rakaa.. kita nggak ada yang tau apa yang akan terjadi nanti. Tapi kita masih bisa berusaha untuk saling melengkapi. Dan aku akan berusaha untuk selalu ada di samping kamu.” Jawab Zara.
“Kalau begitu.. mau nggak jadi pacar saya?” Tanya Raka dengan pelan.
“Hah?”
“Iyaa kamu mau nggak jadi pacar saya. saya juga akan berusaha untuk melawan rasa trauma saya. Karena ada kamu yang bisa menguatkan saya.” Jelas Raka.
“Tapi Raka? Apa kamu bisa?” Tanya zara lagi.
“Saya harus bisa.. saya harus keluar dari zona nyaman saya, saya juga nggak mau seperti ini terus. Yang di kenal orang - orang dengan bos yang bersikap selalu dingin terhadap karyawan - karyawannya.” Jawab Raka.
“Hmm.. kamu yakin dengan keputusan kamu?” Tanya Zara lagi lalu bangun dari posisi tidurnya.
“Saya yakin Zara.. saya tanya sekali lagi yah, Zara apa kamu mau jadi pacar saya? Jadi pacar Raka yang tidak pernah memperhatikan orang - orang di sekitarnya lagi? Apa kamu siap untuk mendampingi Raka yang seperti ini?” Raka berdiri dari sofa dan duduk di samping tempat tidur yang di tempati Zara.
Raka lalu mengambil tangan Zara dan meyakinkan Zara lagi.
“Ohh my God.. aku nggak mimpikan ini? Aku di tembak sama Raka? Sekarang? Ohh my god !!!” Batin Zara.
Jantung Zara seperti mau meledak saat Raka memegang tangannya.
“Zara? Heii?” Raka melambaikan tangannya tepat di depan wajah Zara.
“Ehh iyaa..” seru Zara kaget.
“Jadi gimana?”
“Ah? Iya aku mau.” Jawab Zara.
Wajah Zara sudah mulai memerah karena tidak bisa menahan rasa senangnya.
“Jadi sekarang kuta pacaran?” Tanya Raka lagi.
“Sepertinya..” Jawab Zara dengan malu - malu.
“Yeaahhh. Eehh hahahah..” seru Raka.
“Ah maaf sepertinya saya terlau senang.” Sambing Raka sambil memegang belakang lehernya.
“Hahaha.. iyaa aku juga senang karena bisa pacaran sama kamu. Senang banget.. boleh teriak nggak?” Tanya Zara dengan wajahnya yang sangat merah.
“Haha.. boleh tapi teriaknya jangan kenceng - kenceng, nanti kedengaran sama orang - orang. Nanti Di kira aku apa - apain kamu.” Jawab Raka.
“Hahah.. iya juga yah.. aaaaaaahhhhhh.” Zara berteriak dengan suaranya yang pelan.
“Seneng banget. Aku nggak nyangka kamu bisa suka juga sama aku secepat ini. Aku nggak nyangka kalau kita akan pacaran.” Kata Zara sambil menguatkan genggaman tangannya dengan tangan Raka.
Raka melepaskan tangannya, dan mengelus lembut rambut Zara.
“Aku juga nggak nyangka akan menemukan orang yang mampu menaklukan gembok di hatiku. Dan orang itu kamu, orang yang sebelumnya sudah aku kasari, orang yang sudah aku maki - maki. Maaf yahh Zara.. aku minta maaf atas kesalahanku lima tahun.” Kata Raka.
“Udahlah Raka.. itu udah kesalahan dulu, semua udah berlalu, dan saat itu juga aku tau keadaan kamu gimana. Dan terlepas dari itu, kok tadi kamu bilang aku? Aku? udah di ganti?” Tanya Zara senyum - senyum.
“Iya.. kan kita udah pacaran, aku mau ngomong sama kamu berbeda. Biar beda dari yang lain. Dan kalau aku denger - denger dari orang - orang yang pacaran, emang gitukan cara ngomongnya.” Jawab Raka.
“Ah iya.. emang kayak gitu harusnya.. ahh aku masih nggak nyangka kita pacaran. Aku pacaran sama bos sendiri..”
“Ehh tapi tunggu deh Raka.. apa kita bilang ke orang - orang di kantor kalau kita pacaran?” Tanya Zara.
“Aku sih terserah kamu, terserah kamu gimana nyamannya kamu. Kalau aku sih mau - mau aja, malah aku senang kalau orang - orang di kantor tau kalau kita pacaran. Biar kalau ada yang suka sama kamu, nggak berani ngedeketin kamu lagi.” Jawab Raka.
“Yeee ngeledek aku yah? Mana ada coba yang mau deketin aku, aku tuh nggak seperfect kamu—“
“Huussshh nggak ada manusia yang sempurna, jangan ngomong kayak gitu.” Ujar Raka.
“eh iyaa deh.. maksud aku, kan kamu yang banyak di sukai oleh cewek - cewek di kantor, banyak yang mau jadi pacar kamu, banyak yang mau ngerebut perhatian kamu. Sampai - sampai itu tuh masalah yang sama customer service yang hampir kamu mau pecat cuma gara - gara dia suka sama kamu. Ih parah banget sih kamu.” Jelas Zara.
Zara masih terus menggenggam tangan Raka saking senangnya. Bagaikan mimpi indah yang di dapatkan Zara di dunia nyata, karena Zara sudah sangat lama menyukai Raka.
“Yah itukan salah dia sendiri kenapa sampai membuat keributan dikantor, dan pas ada mama lagi. Ckckckk nggak habis fikir aku.” Ucap Raka.
====