Chapter 74

1304 Words
“Tapi kan nggak seharusnya kamu seperti itu juga. Pasti banyak banget yang ngomongin aku juga di belakang, dan kesannya kayak kamu ngebelain aku.” Kata Zara.  “Emang iya yah? Apa pandangan orang seperti itu?” Tanya Raka kembali.  “Pasti Raka.. tapi apa kamu memang biasanya marah sampai seperti itu ke karyawan - karyawan kamu?” Tanya Zara.  “Yah nggak juga sih.”  “Nggak juga atau gimana?”  “Haha.. kok jadi kayak aku di introgasi sih. Aku memang selalu marah, tapi aku nggak sampai seperti itu. Nggak sampai memecat karyawan kalu kesalahannya nggak fatal.” Jelas Raka.  “Terus kemarin kenapa sampai marah kayak gitu?” Tanya Zara. “Nggak tau.. refleks aja kayak gitu. Aku emang nggak suka sama orang yang terus mendesak mencari tau tentang aku gimana. Bukannya aku sombong atau gimana yah? Apa mereka fikir cinta bisa segampang itu? Dan aku juga tau kalau mereka -  mereka semua yang suka sama aku cuma karena aku pemilik perusahaan. Mereka cuma mau uang aku aja. Nggak ada yang tulus sama aku.” Ujar Raka.  “Kok gitu? Kan ada aku?” Kata Zara melemparkan senyuman tipis ke Raka.  “Hahaha.. iya kecuali kamu. Makasih yah udah suka sama aku.” Kata Raka.  “Sama - sama pak bos.” Seru zara.  “Raka.. di sini aja.” Sambung Zara lalu melepas genggamannya di tangan Raka dan menepuk tempat tidur di sampingnya.  “ nggak apa - apa?” Tanya Raka.  “Nggak apa - apa yang penting kamu nggak apa - apain aku. Hahaha.” Seru Zara.  “Siapa juga yang mau apa - apain kamu. Yee kepedan.” Raka lalu naik ke tempat tidur dan menyandarkan badannya di sandaran tempat tidur tepat di samping Zara tentunya dengan jarak.  “Iihh aku suruh turun lagi nih !!!” Seru Zara.  “Hahah.. iyaa nggak - nggak. Ehmm Zara boleh nanya lagi nggak?” Ujar Raka.  “Boleh. Aku boleh sambil baring yah.” Kata Zara lalu membaringkan badannya di tempat tidur.  “Iyaa baring aja udah. Kamu pasti capek. Atau kamu mau tidur aja?” Tanya Raka.  “Ihh nggak.. aku nggak mau.. aku mau menikmati waktu kita sekarang, hari pertama kita menjadi sepasang kekasih. Uuuhhhmm.” Jawab Zara.  “Hahahah.. ada - ada aja kamu. Yaudah baring aja. Nih perbaikin posisi bantalnya.” Kata Raka sambil menepuk - nepuk pelan bantal Zara.  “Makasih Raka pacarkuuuu.” Kata Zara sambil tersenyum.  Raka kembali mengelus rambut Zara dengan lembut. Raka juga membaringkan badannya lalu berbalik berhadapan dengan Zara.  “Aku baru tau sekarang, kalau ternyata kamu itu sangat Cantik Zara.” Raka mengeluarkan kata - katanya tanpa sadar dengan apa yang barusan dia ucapkan.  “Apa? Coba ulang sekali lagi !!” Ujar Zara mendekatkan wajahnya ke wajah Raka.  “Hahaha.. jangan kayak gitu Zara.. jangan mancing - mancing deh.” Seru Raka tanpa memindahkan pandangannya sedikit pun.  “Hahahah.. yaudah kalau gitu ulang yang kamu bilang tadi. Aku mau dengar sekali lagi dengan jelas.” Kata Zara.  “Iyaa kamu cantik.. kamu cantik sekali Zara. Aku ternyata salah besar selama ini, karena sudah menyianyiakan cewek secantik dan sebaik kamu. Boleh peluk nggak?” Tanya Raka.  “Kenapa harus nanya dulu? Sini aku yang peluk kamu.” Zara lalu melingkarkan tangannya ke badan Raka.  “eh eh ehh.”  “Kenapa? Uuummm wanginya pacarkuuu.” Seru Zara.  Raka kemudian membalas pelukan yang di berikan Zara. “Ehh tadi kamu mau nanya apa Raka?” Kata Zara lalu memandang Raka.  “Ohh iyaa.. aku hampir lupa.” Raka melepaskan pelukannya.  “Ihh ihh.. jangan.. aku mau kayak gini aja. Nyaman banget di pelukan kamu.” Zara tidak ingin melepaskan tangannya dari badan Raka. Zara sudah terlalu merasa nyaman di dalam pelukan tubuh hangat yang di miliki Raka.  “Ya sudahh.. sini aku peluk lagi.” Raka kembali melingkarkan tangannya ke badan mungil milik Raka.  “Uummm.. ternyata Raka nggak sedingin yang orang - orang katakan yah. Dia punya badan yang hangat. Hangat bangeeett.” Zara semakin menempelkan wajahnya ke d**a bidang Raka.  “Awas merah loh mukanya.. sini sini.. aku mau ngeliat wajah kamu. Aku mau nanya.” Kata Raka melihat Zara yang terus menempelkan wajahnya ke d**a Raka.  “Nanya aja.. dari tadi aku tungguin loh pertanyaan kamu.” Kata Zara mendongakkan kepalanya untuk menatap Raka.  “Ehmm.. kamu suka sama aku dari kapan Zar?” Tanya Raka menundukkan kepalanya untuk melihat Zara.  “Dari awal banget nih?” Tanya Zara.  “Iya dong dari awal. Aku mau tau kamu suka sama aku dari kapan .” Kata Raka lagi.  “Ehmm.. janji yah jangan ngetawain aku.” Kata Zara.  “Lohh emangnya ada yang lucu yah? Sampai harus aku ketawain? Ya nggak lahh.. kenapa juga aku ketawa.” Ucap Raka yang tidak berhenti membelai Rambut Zara.  “Awas yahh.. ehhmm dari pertama kali kita ketemu sih. Saat itu aku ngeliat kamu di rumah kamu, dan aku penasaran kok ada sih cowok seganteng itu. Makanya pas di suruh sama aku nggak nyesel karena bisa ngeliat kamu.” Jelas Zara.  “Hah? Dari awal banget?” Tanya Raka lagi.  “Iyaa.. cuman kan dulu masih cinta - cinta monyet gitu. Dan dulu aku juga sempat ngelupain kamu kok, karena kejadian yang menyakitkan itu. Uuhh sakit banget.” Kata Zara sambil memegang dadanya.  “Hah? Iya? Sesakit itu yah? Maaf yah Zara.. maaf aku sangat menyesal atas perbuatanku dulu sama kamu, aku benar - benar menyesal Zara.” Kata Raka.  “Ehh.. nggak.. bercanda kok.. aku nggak sesakit itu kok hahah.. malah itu jadi pembelajaran buat aku, kalau jangan terlalu mencampuri urusan orang lain. Karena nggak semua hal yang terjadi sama kita bisa di mengerti dengan orang lain.” Jelas Zara.  “Hmmm..” “Hmm.. dan intinyaa.. aku suka sama kamu sejak saat itu.” Kata Zara lagi.  “Dan sampai sekarang? Apa dulu kamu nggak pernah pacaran sama cowok lain?” Tanya Raka.  “Yahh pernah dong hahah.. dulu kan aku suka pertama kali sama kamu, tapi karena kita emang awalnya nggak ada hubungan apa - apakan? Dan kamu meninggalkan rumah kamu, kita udah nggak pernah ketemu lagi. Ada orang lain yang masuk ke dalam hati aku, makanya aku pacaran dengan dia.” Jawab Zara.  “Yaahh aku kecewa hikss.” Raka melepaskan pelukannya.  “Loh ihh kenapa? Kecewa kenapa ? Ih kok gitu. Masa iya aku terus suka sama kamu, tapi kamunya nggak tau dimana? Kan sekarang pas ketemu sama kamu, aku juga makin suka sama kamu. Bukan cuma suka, tapi juga sayang dan sangat peduli sama kamu. Dan aku mau ada di samping kamu untuk membuat kamu juga bahagia.” Jelas Zara.  “Haha iyaa aku bercanda kok, makasih karena kamu udah mau jawab dengan jujur pertanyaan aku. Tapi kenapa dulu kamu suka sama aku? Apa yang membuat kamu suka sama aku? Padahal dulu aku sudah melukai perasaan kamu.” Tanya Raka.  “Karena kamu ganteng.. kayak oppa - oppa korea.”  “Puufftttt hahahahah.. Zaraaaa !!! Kamu samain aku sama oppa - oppa korea? Kamu nggak salah kan? Emang aku setampan itu yah?” Tanya Raka sambil tertawa terbahak - bahak.  “Ih gini nihh.. kalau orang nggak sadar kalau dirinya punya wajah yang tampan, suka merendah. Kamu udah punya kulit putih, hidung mancung, rambut yang selalu tertata rapih, aahh pokoknya aku suka semuanya sama kamu.”  “Iyaa - iyaa terserah kamu aja. Semoga kita bisa menjalin hubungan dengan baik yah Zara.. aku berharap kamu bisa bahagia sama aku, bukan cuma aku yang harus kamu buat bahagia. Tapi aku juga harus membuatmu bahagia. Aku sayang sama kamu Zara.”  Zara tidak membalas ucapan Raka lagi, Zara tertidur pulas di dekapan Raka. Rasa nyaman yang di rasakan Zara malam itu ketiduran. Raka tersenyum melihat Zara yang sudah tidur. Raka baru pertama kalinya tidur dengan wanita. ====
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD