Cindy sesekali menatap Andika dan kembali menatap layar ponselnya seakan tidak percaya dengan apa yang dia baca.
"Kenapa Cin? Apa yang Lo baca? Sini liat." Kata Bianca lalu menarik handphone Cindy dari tangannya.
"Hahhh.. Andika anak dari Pak Tirta? Yang punya perusahaan tambang yang terkenal itu kan? Ini beneran? Kok.. hah? Waahh gue nggak percaya bisa ngeliat anaknya langsung kayak gini. Kok kita semua nggak ada yang nyadar yah." Seru Bianca.
"Kok gue juga nggak tau sih. Kalin berdua kok jahat banget nggak ngasih tau ke gue." Kata Zara melihat Andika lalu Raka yang ada di sampingnya.
"Aduhh Zara.. Lo lagi pakai ikut - ikutan. Raka kenapa sih Lo ngasih tau ke mereka.." celetuk Andika kesal.
“Biar Cindy tau kalau Lo bukan orang sembarangan, dia kan tadi udah ngejudge Lo dengan berbagai macam hinaannya.” Kata Raka.
“Hmm.. gue nggak mau kalau orang - orang tau kalau gue anak dari pemilik perusahaan ternama.” Kata Andika.
“Loh kenapa Andika? Itu kan salah satu hal yang bisa di banggakan, kok Lo nggak mau sih kalau oranh - orang tau.” Kata Putra.
“Yah gue nggak mau orang - orang bangga sama gue karena gue anak dari pemilik perusahaan ternama, karena gue juga harus berusaha sendiri agar orang - orang bangga sama gue karena hasil kerja keras gue sendiri, bukan karena orang tua gue. Dan salah satu alasannya lagi, kalau orang - orang tau, seperti yang katakan Cindy tadi, mungkin perempuan - perempuan di sekitar gue nggak akan ada yang tulus suka sama gue, mereka mungkin mau sama gue yah karena gue adalah anak dari pemilik perusahaan ternama dan terkenal, mereka cuma mau uang gue. Nggak tulus suka sama gue.” Jelas Andika.
“Wowww.. so proud of you Andikaaa.. hahahahah.. jaman kayak gini, pastilah perempuan suka sama cowok yang berduit, bukan cuman tampang aja, tapi gue salut sama Lo yang nggak mengumbar uang Lo di depan orang banyak.” Seru Bianca.
“Ehmm.. Andika sorry yah gue udah ngomong sembarangan sama Lo, gue nggak bermaksud kayak gitu.” Kata Cindy.
“Hahaha nggak apa - apa kok Cindy. Itukan pemikiran Lo, gue nggak berhak untuk marah sama Lo.” Kata Andika.
“Tunggu - tunggu.. kan tadi Cindy Lo ngomong kalau nggak mau sama Andika, karena Andika dari keluarga yang biasa aja kan? Jadi sekarang gimana? Masih nggak suka?” Tanya Bianca lalu tersenyum meledek Cindy dan juga Raka.
“Nahh iya bener tuh.. jawab dong Cindy.” Seru Putra.
“Ihh apaan sih.. gue bercanda tau dia awal tadi.” Kata Cindy dengan malu - malu.”
“Hahaha nggak usah tegang gitu Cin, gue juga bercanda kok.” Kata Binca.
“Ehmm.. tapi kenapa Lo kerja di kantor Raka? Kenapa nggak kerja di kantor bokap Lo sendiri?” Tanya Zara.
“Yah karena itu tadi.. gue mau berusaha sendiri, nggak mau ada embel - embel keluarga gue buat orang bangga sama gue. Dan alasan lainnya karena Raka adalah sahabat gue. Gue nggak mau jauh dari Raka hahahah.” Jawab Andika.
“Najis !!!” Seru Zara.
“Hahahah kenapa Lo.. emang itu kok alasannya. Iyakan Raka?” Kata Andika melemparkan pertanyaannya ke Raka.
“Iyaa.. Andika adaah orang yang membantu gue untuk membangun perusahaan gue. Kalau nggak ada Andika mungkin perusahaan gue nggak akan ada saat ini. Dan Andika juga sahabat gue yang selalu menghibur gue waktu adik dan eyang gue meninggal dulu.” Jawab Andika.
“Aduuh Maaf yah Raka.. pembahasan kita menuju ke arah situ lagi. Maaf banget yah Raka.” Kata Zara
“Nggak apa - apa kok sayang.” Kata Raka lalu membelai rambut Zara.
Zara sangat deg - degan saat Raka membelai rambutnya.
“Ooeeekkkkkk !!!! Mentang - mentang udah jadian, mesran - mesraannya di depan kita.” Seru Andika. Yang semakin meyakinkan Cindy kalau Raka dan Zara berpacaran.
“Hmmm.. gue cabut yah kalau kalian berdua kayak gitu di depan gue.” Kata Cindy.
“Hahaha jangan dong Cindy. Ini nih Raka.. jangan kayak gitu sayang, Cindy beneran pulang nanti.” Kata Raka.
“Iyaa - iyaa.. maaf yah Cindy.” Kata Raka.
“Berarti Andika orang kepercayaan Lo banget yah Raka. Soalnya gue denger - denger Lo di kantorkan nggak banyak bicara, kecuali sama Andika.” Seru Cindy.
“Itu dulu.. sekarang udah nggak kayak gitu lagi, soalnya udah ada yang gantiin gue kan. Tuh.” Kata Andika menunjuk Zara.
“Ahh, iyaa .. gue sampai lupa kalau udah ada Zara.” Seru Cindy.
Zara dan Raka tertawa mendengar ucapan Andika. Zara juga tidak menyangka kalau bisa sampai sejauh bekerja di perusahaan Raka. Orang yang dulunya sudah membentak - bentak Zara. Suatu kejadian yang nggak bisa Zara lupakan.
“Alasan Lo untuk memanggil Zara kembali apa Raka?” Tanya Cindy lagi.
“Hah? Maksudnya?” Tanya Raka kembali.
“Iya maksud gue kenapa Lo manggil Zara lagi untuk masuk bekerja di kantor Lo? Lo kan udah mengusir Zara saat itu, dan kalau boleh gue tau juga kalian dulu ada masalah apa sampai yang katanya Lo saat baru pertama kali melihat Zara amarah Lo sampai memuncak kan?” Sambung Cindy.
Andika tidak menyangka kalau Cindy sampai membahas apa yang sudah ia ceritakan padanya, akan dia tanyakan langsung ke Raka dan juga Zara.
Andika sangat takut kalau Raka akan marah pada dirinya karena menceritakan hal yang tidak seharusnya ia ceritakan ke orang lain.
“Kenapa Lo mau tau Cin? Emang sekarang itu masih penting yah?” Tanya Raka.
“Masih.” Jawab Cindy.
“Kenapa? Gue kan sudah pacaran Raka Cin, kenapa Lo mau tau tentang hal itu? Masalah kita berdua. Gue dan Raka.” Kata Zara mengambil alih pembicaraannya Raka.
“Yahh gue penasaran aja.” Jawab Cindy.
“Karena gue merasa bersalah sama Zara. Ada sesuatu yang Zara bilang ke gue membuat gue yakin kalau gue harus menerima Zara di kantor gue.”
Jawab Raka lalu mengambil satu botol air mineral agar menenangkan hatinya yang sangat deg - degan menjawab pertanyaan dari Cindy. Karena Zara saat itu juga mendengar langsung jawaban yang di keluarkan Raka.
“Ehmm - eheemmm.. udah yuk serius - seriusnya kok tegang banget sih.” Seru Putra.
“Ohh iya habis ini kalian mau kemana lagi?”
Tanya Putra.
“Kita ke tempat oleh - oleh dulu dong. Banyak titipan teman gue nih.” Kata Zara.
“Iya nih, temen - temen kantor juga banyak yang nitip sama gue.”
“Yaudah.. ada banyak kok, gue carikan kalian yang terbaik.” Kata Putra.
====