Cindy terus memperhatikan gerak - gerim Zara ke Raka.
"Yang bener Lo Zar?" Tanya Cindy lagi.
"Yang bener apalagi Cindy?" Tanya Zara kembali.
Cindy berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Zara.
"Kamu pasti hanya pura - pura pacarankan sama Raka? Untuk membohongi Bianca? Iyakan Zara? Lo cuma nggak mau terlihat payah di depan Bianca kan Zar?" Tanya Cindy berbisik di telinga Zara.
Seketika Zara deg - degan, karena takut kalau Cidny mengetahui kebohongannya.
"Ah hahahah ya Ampun Cindy.. kok Lo mikirnya gitu sih? Ya nggak lahh.. gue tuh benaran pacaran sama Raka. Andika masa Cindy masih belum percaya sih kalau gue sama Raka itu pacaran, masa Cindy bisikin ke gue kalau gue hanya berpura - pura pacaran sama Raka hanya untuk membohongi Bianca karena gue takut terlihat payah di depan Bianca. Ada - ada aja sih Lo Cindy.. gue beneran pacaran. Andika coba deh kasih tau ke Cindy, gue sama Raka kapan jadiannya." Kata Zara sambil memberi kode mata ke Andika.
"Ahh? Gue nggak tau tepatnya sih, tapi pas tau mereka berdua pacaran, sumpah gue juga kaget karena sikap mereka berdua berubah derastis, dan sangat jelas kalau mereka berdua pacaran. Tapi kayaknya baru - baru ini kan Zar?" Kata Andika.
Andika memberi jawaban yang tidak terlalu jelas kalau mereka semua sedang berbohong.
"Masa sihh? Lo nggak bohongkan Andika? Kalau Lo bohong dosa loh." Kata Cindy lagi.
"Hahaha.. Cindy ngapain sih Lo pastiin Raka sama Zara pacaran terus? Kan terlepas dari itu, Raka sudah sangat menyukai Zara. Lo nggak denger tadi Raka ngomong kalau Zaraaa aku benar - benar menyukaimu.. uuuuhhh apa yang di katakan orang yang lagi mabok itu biasanya selalu jujur kalau soal perasaan mereka. Jadi Zara sama Raka mau pacaran atau tidak, Lo nggak ada harapan lagi untuk masuk di dalam hatinya Raka.” Ujar Bianca dengan santainya tanpa memikirkan perasaan Cindy.
“Sialaaannn.” Seru Cindy lalu melemparkan bantal sofa tepat di wajah Bianca.
“Hahahh.. emangnya ada yang salah sama apa yang gue barusan bilang? Nggak ada kan? Gimana Zar? Lo setuju kan?” Tanya Bianca.
“Hahah.. udahh jangan gituin Cindy.. dia salah satu partner kerjasama dari perusahaan tempat gue bekerja sekarang. Maaf yahh Cindy.” Kata Zara sambil tertawa.
“Dasar.. kalian berdua sama aja tau nggak. Gue tuh nggak bermaksud seperti itu, gue cuma penasaran aja. Soalnya mencurigakan. Huuummm.” Cindy membaringkan kembali badannya di sofa.
“Hahahha sorry deh yahh.. Udah sana.. Lo istirahat aja, mau gue ambilin minum nggak?” Tanya Bianca ke Cindy.
“Tumben baik.” Celetuk Cindy.
“Mau nggaaakkkk??” Tanya Bianca lagi.
“Iya - iya mauuu.. Bianca yang cantik tolong ambilin minum dong yahh.. please please pleaseeeee.” Kata Cindy dengan memasang wajahnya yang sok imut.
“Nahh gitu doh hahah. Tunggu bentaran yahh.” Bianca lalu berdiri dari tempat duduknya berjalan menuju dapur untuk mengambil air untuk Cindy.
Sementara itu Zara masih berusaha membangunkan Raka agar Raka bisa sadar dan kembali ke hotel tanpa harus merepotkan orang lain.
“Kayaknya nggak bisa deh Zara.. dia benar - benar mabuk. Kita pulang ke hotel dalam keadaan dia yang mabuk, nggak apa - apa kok. Gue bisa ngegotong dia sampai masuk ke kamarnya.” Kata Andika yang sudah bertolak pinggang berdiri di depan Raka dan Zara.
“Yah sudah kalau kayak gitu, kita balik aja sekarang. Lokasi hotel dari Villanya Cindy juga cukup jauh. Biar nggak terlalu larut malam.” Kata Zara.
“Iyaa kalian balik aja sekarang, atau mau nginap di sini juga boleh kok. Emang kalian balik ke bandung kapan? Udah pesan tiket belum?” Lanjut Cindy.
“Belum tau nih, Raka belum nyuruh gue buat beli tiket, tapi kemungkinan besok kok. Ntah itu besok siang atau sore. Karena kayaknya kalau pagi nggak bakalan sempat deh. Harus buru - buru, kita belum packing dan terlebih lagi bosnya udah kayak gini.” Kata Zara.
“Hahahah.. iya juga yahh. Yaudah nginep di sini aja.” Kata Cindy lagi.
“Ihh Cindy.. kan tadi gue bilang kita semua belum packing. Kalau nginep di sini kita nggak bakalan bersantai dulu di hotel, terburu - buru. Mana Villa Lo jauh dari hotel.” Kata Zara.
“Nihh Cin.. minum Lo.. beiiibb kamu juga minum air mineral dulu gih. Kalau ada yang mau minum, nihh minum juga yahh.” Kata Bianca sambil menuangkan satu gelas air mineral untuk Bianca dan satu gelas untuk Putra.
“Makasih sayangg.” Kata Putra.
“Makasih yah Bii.” Kata Cindy juga.
“Iya Cin.. kita nggak bisa nginep di sini. Kita emang udah mau balik besok kok, Raka kemarin sempat ngomong. Dan kayaknya ini pertemuan terakhir kita sebelum kami semua balik ke bandung.” Ujar Andika sambil menuangkan air mineral yang di bawa Bianca tadi ke dalam gelasnya.
“Kan kita bisa ke hotel kalian atau kalau bisa sih antar kalian juga ke bandara.” Kata Cindy.
“Loh tapi kan besok senin Cin, Lo nggak ada kerjaan apa?” Tanya Andika.
“Hahhaa.. Lo bercanda yahh Andika, yang punya perusahaan siapa? Gue bisa masuk sesuka gue, yang penting gue bisa handle anak buah gue.” Jawab Cindy sembari meminum air mineral yang di berikan Bianca.
“Ah iya juga yahh.. gue lupa kalau Lo yang punya perusahaan. Hahah.” Kata Andika.
“Kalau gitu besok kita kabarin Cindy aja kalau emang kita udah besok.” Kata Zara.
“Kita juga bisa anterin kalian kok, kalau nggak ada kerjaan sih yah.. liat jadwal dulu besok. Iyakan beb?” Tanya Bianca ke Putra.
“Iya sayangg.. urusan gampang itu.” Jawab Putra.
“Baiklahh.. kita balik sekarang ke hotel deh.. Cindy tolong bilangin supir Lo yah, gue juga pengen istirahat nih.” Kata Andika.
“Okeyy.. Tunggu gue turun dulu yah.” Kata Cindy sembari berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua yang dimana di lantai satu adalah tempat supirnya menunggu.
Cindy memberitahukan ke supirnya agar segera mengantar Raka, Zara dan juga Andika untuk kembali ke hotel.
Andika menggotong Raka sampai ke lantai satu di bantu dengan Putra.
“Aduuhh berat juga nih anak.” seru Putra.
“Iyaa berat banget, mana tangganya Cindy besar banget kayak gini, berputar. Jadi pusing gue menggotong orang sambil menuruni tangganya Cindy.” Kata Andika.
“Udah jangan mengeluh dong.. kalian bisa dapat pahala juga udah bantuin orang, orang yang mabuk. Haduuuhhh. Makasih yahh Putra.” Kata Zara.
“Iyaa sama - sama. Lain kali jangan izinin cowok Lo lagi untuk minum. Dia udah tau nggak kuat minum, malah pengen minum. Ckckckck.” Kata Putra sambil menghela nafas karena kecapean menggotong Raka.
“Iyaa nggak lagi - lagi deh. Bahaya banget kalau dia minum sama orang lain, bisa - bisa dia nggak pulang sampai ke rumahnya.” Ujar Zara.
“Di jaga baik - baik pacarnya Zar, jangan sampai di ambil orang lagi.” Kata Bianca sambil tersenyum dan menggantung di bahu Putra.
“Nggak akan.. dan gue juga percaya kalau emang dia jodoh gue, dia nggak akan kemana - kemana. Dia pasti akan kembali sama gue.” Jawab Zara.
“Bener banget tuhh Zar.. setuju gue sama Lo.” Seru Cindy yang baru saja masuk kembali dari parkirannya.
“Gimana Cin, mobil Lo udah siap?” Tanya Andika sambil mendudukkan Raka di sofa ruang tamu Villa Cindy.
“Iyaa udah kok, yuk keluar.” Kata Cindy.
Andika dan Putra kembali menggotong Raka untuk masuk ke dalam mobil Cindy.
UUUUEEEEEEKKKKKKKKK (suara semburan muntahan Raka)
tiba - tiba Raka muntah di depan pintu masuk Villa Cindy.
=====