Chapter 70

2070 Words
"Rakaaaaaaaa !!!! Aaahhh sialaaannn !!! Untung Lo sahabat gue, kalau nggak.. udah gue buang Lo di sini !!!" Seru Andika sambil melihat bajunya yang terkena muntahan Raka.  "Hahahah untung gue nggak di sebelah situ, kalau nggak gue yang kena.. hahah bau banget yahh. Ihhh." Ujar Putra dengan berusaha menutup hidup hidungnya.  "Hahah iya yah beb.. kalau nggak kamu juga kebauan hahah.. selamat yahh Andika, untung Raka sahabat Lo."' Seru Bianca.  "Aduh.. Cindy ada handuk - handuk nggak? Andika.. kasih duduk dulu deh Raka biar gue bersihin dulu. Kasihan kan mobilnya Cindy kalau sampai dalam mobilnya bau muntahnya Raka.  "Biiii.. bibiiii !!! tolong ambilin handuk - handuk kecil dong, sama air yahh taruh dalam wadah aja semuanya." Teriak Cindy memanggil salah satu pembantu rumah tangganya.  "Sama baju kaos yang baru yah biii.. dua lembar !!!" Sambung Cindy.  Tidak lama kemudian pembantu Cindy datang dengan membawa satu wadah yang berisikan handuk kecil dan juga dua lembar baju kaos yang masih tersegel. Zara segera membersihkan wajah Raka yang terkena kotoran muntahannya sendiri sampai ke lehernya . "Duuhh kenapa sih pakai muntah segala.. Raka awas aja yahh kamu besok kalau udah sadar, uughhhh aku bejek - bejek kamu." Kata Zara sambil membersihkan wajah Raka.  "Hahah.. sabar Zara.. udah bagus dia udah muntah, berarti minumannya udah keluar semua. Dan ntar lagi kayaknya dia udah bisa sadar." Kata Bianca.  "Bukan karena itu gue kesel, tapi karena dia tuh bukan pacar gue, kenapa gue sampai harus ngelakuin ini. Uuuhhh Rakaaa !!! Untung gue suka sama Lo, kalau nggak, udah dari tadi gue ninggalin Lo." Batin Zara.  Zara kesal sendiri terhadap Raka yang belum sadar - sadar juga sampai Raka muntah.  "Gue udah bersih - bersih nihh Zar.. balik yuk, gue pusing banget." Kata Andika.  "Iyaa.. yuk.. angkat lagi nih sahabat Lo. Udah gue bersihin juga, bajunya biar dia nanti aja deh yang ganti. Masa gue sih harus menggantinya, kan bukan muhrim." Kata Zara dengan polosnya.  "Mau gue yang gantiin, nggak apa - apa kok. Gue juga bisa." Seru Cindy.  "Nggak yahh.. jangan macam - macam." Seru Zara.  Zara tau kalau Cindy hanya bercanda.  "Hahahah.. gitu aja marah, nggak lahh.. masa pacarnya nggak berani gantiin bajunya, malah gue yang harus ganti. Nggak lah. Hahaha." Kata Cindy.  "Jangan macam - macam katanya Cin.. makanya Cin buruan cari pacar juga, biar bisa romantis - romantisan juga, terus bisa ngejagain cowok Lo juga dari cewek - cewek yang mau mengganggunya." Kata Bianca.  "Hmmm.. nanti.. kalian liat aja, gue bakal kenalin juga cowok gue ke kalian." Kata Cindy.  "Ehmm.. Ya udah kalau gitu balik yahh Cin.. Bianca.. Putra. Terima kasih banyak untuk hari ini semuanya." Kata Zara lalu berdiri dari tempat duduknya.  "Iyaa sama - sama. Besok gue kabarin kalau gue bisa ke hotel kalian yah." Kata Cindy.  "Okeyy Cin.. telepon gue aja yahh.." Jawab Zara.  "Iyaa - iyaa gue nggak akan kabarin Raka kok, langsung ke Lo aja." Seru Cindy.  "Ih hahah bukan gitu maksud gue.." kata Zara sambil tertawa.  "Hahaha iyaa gue bercanda kok.. udah sana, Andika udah nungguin tuh." Kata Cindy.  "Iyaa.. byee Cin.. Bianca sampai ketemu lagi yahh, baik - baik sama Putra, langgeng kalian berdua." Kata Zara.  "Iyaa Zar.. besok juga gue kabarin kalau bisa anterin ke bandara yah sama Putra." Kata Bianca.  "Okeyy beeeb.. see you yahh.. gue ke balik ke hotel dulu." Kata Zara sambil berjalan keluar menyusul Andika.  Andika dan Putra sudah mengangkat Raka dari sofa untuk di gotong ke mobil Cindy.  "Putra.. thanks yah Broo.. udah bantuin gue. Makasih juga untuk hari ini." Kata Andika ke Putra. "Sama - sama bro.. gue juga minta maaf sekali lagi untuk kesalahan gue yang kemarin." Kata Putra.  "Udah - udah.. nggak udah di ungkit - ungkit lagi, kita sekarang udah berteman, dan ternyata Lo orangnya asyik juga. Senang bertemu dengan Lo Bro." Kata Andika lalu mengepal telapak tangannya dan  di balas dengan tangan Putra.  "Hahha.. iya thanks yahh Andika gue juga senang ketemu sama Lo. Nambah teman baru lagi." Kata Putra.  Zara pun datang ke mobil Cindy lalu berpamitan juga dengan Putra.  "Byee Putraa.. baik - baik yahh sama Bianca di sini. Makasih banyak untuk hari ini." Kata Zara.  "Iyaa Zar.. gue minta maaf yah sama kamu soal kemarin sekali lagi. Dan untuk semua kesalahan - kesalahan gue yang udah gue lakuin sama Lo. Gue nggak nyangka bisa ketemu sama Lo lagi di sini." Kata Putra.  "Eiisshh eisshh.. ngapain sih Lo, jangan ungkit yang dulu - dulu deh. Gue udah maafin Lo udah dari dulu, jadi nggak usah di ungkit - ungkit lagi. Masalah itu udah lama banget, udah beberapa tahun yang lalu, dan nggak enak juga kalau Bianca denger lagi. Bisa - bisa dia ngamuk lagi sama Lo. Baik - baik deh yah sama Bianca, jaga Bianca dan jangan membuat kesalahan yang sama dengan Bianca. Bianca temen gue yang baik saat sekolah." Jelas Zara lalu masuk ke dalam mobil Cindy.  "Hmm.. iya dehh.. gue nggak akan sia - siain Bianca kok, gue udah lama sama dia. Kalau sampai pisah sih yahh gue rasa buang - buang waktu banget." Kata Putra.  "ehmm.. besok kalau Bianca free, gue berdua sama Bianca akan anterin kalian juga ke Bandara. Nanti gue kabarin yah." sambung Putra lagi.  "Iyaa.. kalau nggak bisa nggak usah di paksain. Gue udah senang kok bisa ketemu kalian di sini. sekarang kita juga udah sama - sama punya kontak masing - masing, jadi lebih gampangkan kalau mau ketemu atau reunian lagi." Kata Zara sambil memperbaiki posisi duduk Raka yang masih belum sadarkan diri karena mabuk.  "Kenapa beiibb?" Tanya Bianca yang baru saja keluar dari Villa bersama Cindy.  "Ohh nggak sayangg.. ini aku bilang ke Andika dan Zara kalau kamu Free besok kita bisa anterin mereka juga ke bandara." Jawab Putra.  "Ohh iya beb.. besok aku cek jadwal pemotretan aku dulu. Kalau bisa sih aku juga mau banget anterin Zara ke Bandara.” Kata Bianca.  “Kalau kalian nggak bisa juga nggak apa - apa kok. Jangan di paksain, karean sesuatu hal yang di paksain itu biasanya hasilnya nggak bagus.” Kata Zara sambil tertawa.  “Hahaha.. apaan sih Zar.. kok malah jadi kata - kata bijak.” Seru Bianca.  “Ehh itu katanya nggak ada yang kalian lupa kan?” Tanya Cindy.  “Udah nggak ada kok Cin, kita balik dulu yahh.. thanks Cin, Bianca, Putraaa.” Teriak Zara dari dalam mobil.  “Byee Broo.. kabarin kalau besok bisa anterin. Cin, gue cabut dulu yahh.. Bianca byee.” Kata Andika sambil masuk ke dalam mobil Cindy.  “Okeeyy Byyeee.. see youu yahh.. Pak anter mereka sampai tujuan yah, hati - hati.” Kata Cindy.  “Byee Zara.. Byee Andikaa.. salamin sama Raka.” Seru Bianca dan juga Putra melambaikan tangannya.  “Siaaapp !!!” Seru Andika sebelum mobil Cindy jalan. Zara, Andika serta Raka yang masih belum sadar di antarkan ke hotel dengan supir Cindy.  - HOTEL BALI  -  “Makasih yah Pak.” Kata Zara dan Andika bersamaan sambil pelan - pelan turun dari mobil Cindy karena menggotong Raka.  “Iya sama - sama Mas. Apa mau saya bantu untuk bawa temannya ke dalam?” Tanya supir Cindy sambil berbalik ke belakang melihat Andika dan Zara.  “Ehh nggak usah Pak. Nggak apa - apa, saya bisa sendiri kok, lagian kamarnya nggak jauh dan pakai lift juga naiknya, Jadi nggak masalah. Bapak pulang saja yah. Hati - hati di jalan Pak.” Jawab Andika.  “Baik kalau begitu saya permisi yah Mas Mbaa. Salam sama masnya yang belum sadar hehe.” Kata Supir Cindy.  “Haha.. iya Pak.. makasih sekali lagi Pak.. hati - hati yahh.” Kata Zara.  Andika sudah masuk duluan ke dalam hotel, beberapa orang yang ada di Loby memperhatikan Andika yang membawa Raka dalam keadaan tidak sadarkan diri. Orang - orang bertanya - tanya apa yang terjadi terhadap Raka sampai harus di gotong seperti itu.  Zara segera berlari menyusul Andika, dan membantu Andika untuk menggotong Raka.  “Udah Zar.. nggak usah, biar gue sendiri. Lo pegangin ini aja deh yang di tangan kanan gue.” Kata Andika sambil menggoyang - goyangkan plastik belanjaannya yang tadi ia beli.  “Ohh iyaa - iyaa sini.. Lo nggak apa - apa Andika? Raka berat kan?” Tanya Zara sambil mengambil plastik belanjaan Andika.  “Nggak apa - ap.. udah cepetan pencet tuh tombol liftnya.” Kata Andika yang sudah setengah ngos - ngosan.  Zara segera menekan tombol lift dan segera masuk ke dalam lift. Saat sampai di depan kamar Raka kepala Andika sudah mulai pusing.  “Zara.. coba cari kunci kamar Raka dong di tasnya.” Kata Andika. “Ehh Lo nggak apa - apa Andika? Kok kayak sempoyongan gitu sih.” Tanya Zara sambil mencari kunci kamar Raka di dalam tas yang menggantung di leher Raka.  “Nggak apa - apa Zar.. ini kayaknya efek minuman yang tadi.” Jawab Andika.  “Lo sih.. pakai minum segala.” Kata Zara sembari membuka pintu kamar Raka.  Andika berjalan cepat masuk ke dalam kamar Raka dan segera membaringkan Raka di tempat tidurnya.  “Huuuuffffttttt capek banget. Gila nihh anak berar juga.” Seru Andika.  “Gue langsung ke kamar deh yah Zara.. kepala gue udah mulai makin pusing nih. Lo yang urus sisanya, okey.” Sambung Andika lalu berdiri dari tempat tidur Raka dan langsung keluar dari kamar Raka. “Ehh ehh Andikaaa !!! Aduhh Raka kan belum ganti baju, aduh gimana dong yahh.. kalau bajunya nggak di ganti nanti masuk angin, mana bau lagi bajunya.” Gumam Zara dengan bertolak pinggang di depan Raka yang belum sadarkan diri.  “Masa iya sih gue yang gantiin bajunya. Nanti kalau dia bangun bisa - bisa dia berfikiran negatif sama gue lagi, nanti dia ngira gue mau berbuat m***m haduhh nggak deh. Gue nunggu aja di sini dulu, sapa tau dia ntar lagi dia bangun.” Gumam Zara lagi.  Zara berjalan ke sofa yang ada di samping tempat tidur Raka dan berbaring sejenak untuk menunggu Zara bangun. Tapi karena keadaan Zara yang juga sudah mulai mengantuk, akhirnya Zara tertidur di sofa dalam kamar Raka.  Dan saat Zara sudah tertidur pulas Raka terbangun dari tidurnya.  “Aduuhh kepala gue pusing banget.” Raka perlahan membuka matanya. Raka bangun dari tempat tidurnya, dan pandangannya langsung tertuju pada sofa yang di tiduri oleh Zara.  “Haaaahhh?? Gue bisa ngeliat hantu? Ya Allah hamba nggak mauuu.” Batin Raka sambil menutup matanya dengan selimutnya.  “Tunggu - tunggu.. tapi itu kayaknya Zara, Zara?? Hah? Zara?? Gue dimana sih? Hah? Oh my god apa yang udah gue lakuin? Tadi kan gue di Villanya Cindy. Dan kenapa gue udah ada di kamar hotel? Dan kenapa ada Zara di sini? Dan iyuhhh bau banget, bau apa ini?” Gumam Raka sambil mencium mulai dari tangannya sampai ke kerah bajunya.  “Ahh?? Ini apa? Gue muntah? Oh tuhan apa yang sudah gue lakuin?” Kata Raka lagi. Dan Raka langsung berdiri mengambil bajunya yang ada di dalam kopernya dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.  Malam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Raka baru saja keluar dari kamar mandi dan merasakan perutnya berbunyi. Raka yang kelaparan menghubungi pihak hotel dan memesan makanan untuk dirinya dan juga untuk Zara. “Sepertinya tadi gue melakukan banyak kesalahan deh di Villanya Cindy. Aduh parah banget sih gue, sok - sokan mau nyoba minuman malah jadi kayak gini. Memalukan banget, nggak sanggup gue menatap wajah Zara.” Ucap Raka sambil melihat Zara yang tertidur pulas.  Tidak lama kemudian makanan yang di pesan Oleh Raka sudah datang. Dan Zara juga terbangun dari tidurnya.  “Loh Raka? Kamu sudah bangun? Kenapa nggak bangunin aku.” Kata Zara dan langsung berdiri dari sofa.  “saya lihat kamu capek banget, makanya nggak saya bangunkan. Hmm Zara ngomong - ngomong apa yang terjadi? Kenapa kamu ada di kamar saya dan kenapa kita sudah ada di hotel?” Tanya Raka.  “Apa kamu tidak mengingat semuanya Raka? Mengingat semua yang barusan terjadi?” Tanya Zara.  “Yang saya ingat hanya saya minum minuman yang berakohol yang di beli Bianca dan juga Putra. Apa saya melakukan banyak kesalahan yah Zara pas mabuk tadi? Dan saya juga bau muntah tadi? Apa saya juga muntah?” Tanya Raka kembali dan duduk di pinggir tempat duduknya dan berhadapan langsung dengan Zara.  “Cuma itu yang kamu ingat?” Tanya Zara lagi.  Zara kesal karena Raka hanya mengingat bagian yang itu saja, Raka tidak mengingat bahwa ia sudah mengutarakan perasaannya dengan Zara. Zara tidak ingin mengatakan apa yang sudah di katakan Raka, Zara menunggu sampai Raka mengingatnya sendiri.  ====
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD