Raka, Zara dan Andika akhirnya sampai di Bali, meskipun sebelumnya ada perdebatan kecil antara mereka bertiga. Mereka langsung menuju ke hotel untuk tempat mereka menginap sampai meeting selesai.
Zara memberi tahukan ke driver yang membawa mereke ke alamat hotel yang di tuju. Hotel yang di pesan Zara sudah di setujui oleh Raka. Zara memilih hotel yang benar - benar nyaman untuk di tempati beristirahat, beberapa view yang sangat indah juga untuk di pandang.
“Gila gila gilaa !!!!” Teriak Andika.
“Kenapa lagi sih Andikaaaaaa ??!!!” Tanya Zara kemudian matanya melihat Andika dengan tatapan sinis.
“Hahaha nggak usah tegang gitu kenapa sih? Gue cuma kaget aja Lo pesen hotel yang ini, dulu gue nggak di bolehin loh sama Raka untuk booking hotel yang mewah kayak gini.” Jawab Andika.
“Hah? Beneran ini terlalu mewah? Aduh Raka maaf yahh? Kok nggak bilang sih?” Tanya Zara.
“Hahaha nggak papa kok Zara, Raka tuh selalu menyetujuinya aja, tapi dia ngasih ekspresi yang setengah - setengah gitu kalau gue bilang mau pesen hotel yang mewah kayak gini.” Jelas Andika.
“Bukannya gue nggak mau, tapi Lo kalau kesini pasti nyari - nyari cewek dan nggak fokus untuk kerja. Makanya gue kayak gitu.” Kata Raka.
“Masa sihh? Ngeles aja Lo hahaha. Udah deh, gue mau tidur dulu. Meetingnya ntar malam kan Zar?” Tanya Andika.
“Iyaa ntar malam kok, jam tujuh malam katanya sekertaris Pak Handoko.” Jawab Zara.
Zara sambil memegangi kopernya yang berwarna pink dengan tas laptop yang berada di atas kopernya.
“Alhamdulillah ya Allah.. gue bisa istirahat lebih lama dulu.” Seru Andika.
“Iyaa - iyaa sana tidur dasar tukang tidur.” Seru Raka.
“Hahaah bukannya gue tukang tidur, tapi apa kalian nggak capek apa? Rata - rata tuh yah, kalau habis naik pesawat pasti capek banget dan bawaannya ngantuk banget, masa Lo nggak ngerasain sih. Gimana Zara? Setuju kan sama gue?” Tanya Andika.
“Hahaha.. iya - iya, terserah Lo deh yah Andika. Mana sini kunci kamarnya, gue juga mau bersih - bersih nih.” Ucap Zara sembil menjulurkan tangannya meminta kunci ke Andika.
“Nihh, ini buat Raka, dan ini buat lo Zara. Kamar kita semua sebelah - sebelahan. Emang Zara pinter banget milihnya, nggak pengen jauh - jauh dari kita berdua Raka, cowok ganteng dan cool kan?” Ucap Andika dengan berpose sok keren di depan Zara.
Raka langsung mengambil kunci kamar di tangan Andika, karena sudah terlalu lama menunggu ocehan dari Andika.
“Haduhh katanya capek, tapi malah ngoceh nggak jelas.” Ucap Raka sambil membuka pintu kamar yang tepat berada di depannya.
“Puffttt.. rasain Lo. Sini kunci kamar gue.” Seru Zara tertawa kecil sambil merampas kunci kamarnya di tangan Andika.
“Ahh, nggak asyiik nih kalian berdua. Ya udah gue istirahat dulu yah, bangunin gue ntar. Siapa tau aja gue ketiduran sampai lupa waktu.” Kata Andika lalu berbalik ke kamarnya dan membuka kamarnya.
“Hahah, iya - iya.. tenang ada gue kok. selamat beristirahat Raka dan Andika yang halunya tinggi banget.” Kata Zara lalu melampaikan tangannya dan masuk ke dalam kamarnya.
Raka sudah masuk lebih dulu di banding Andika dan Zara.
Kamar hotel yang begitu besar dan sangat luas, membuat Zara sangat. Zara teringat dengan apartemen Raka.
“Hmm.. apa gue masih bisa ke apartemen Raka yah? Dia kok bisa tinggal di apertemen yang luasnya seperti itu sendirian.” Gumam Zara sambil mengeluarkan pakaian - pakaiannya dari dari kopernya untuk dia masukkan ke dalam lemari pakaian yang ada di dalam kamar hotelnya.
Zara merapikan isi lemarinya, lalu Zara mengeluarkan pouch kecil dari dalam kopernya yang berisikan sabun - sabun, Zara masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum beristirahat.
Raka sendiri tidak bisa tidur di dalam kamarnya, Raka memang tidak terbiasa untuk tidur dinsiang hari. Jadi untuk mengisi waktu kosongnya, Raka mengeluarkan laptopnya dari dalam kopernya dan membaca sedikit demi sedikit materi meeting yang akan di bawakan Zara hari ini. Di dalam kamar hotel yang di pesan Zara ada teras yang pemandangannya terlihat kolam renang di depannya, benar - benar sejuk. Raka keluar untuk membaca materi di pinggir kolam renang. Dan tiba - tiba Zara juga keluar dari kamarnya membuat Raka kaget dan hampir terjatuh di kolam renang.
“Eehh eehh ehhh.. uuhhhh untung ajaa !!!” Seru Zara sambil menarik baju Raka dari belakang.
“Kamu sih ngagetin aja.” Ucap Raka.
“Lah kok aku sih, kamu tuh yang kenapa ada di depan kamar aku.” Kata Zara.
“Saya kan mau duduk di sini, di pinggir kolam makanya lewat depan kamar kamu.” Jawab Raka.
“Ih ngapaian sih bawa - bawa laptop terus mau duduk di pinggir kolam renang. Kalau laptopnya jatuh gimana?” Tanya Zara dengan posisinya yang bertolak pinggang sambil mengoceh.
“Kalau jatuh yah beli lagi.” Jawab Raka dengan santainya.
“Ihhh dasarr !!! Jangan kayak gitu lah.” Kata Zara.
“Kayak gitu kenapa?” Tanya Raka dengan sengaja mengganggu Zara.
“Yah jangan kayak gitu, jangan kalau jatuh tinggal beli. Ih jangan mentang - mentang banyak duit, dengan gampangnya ngeluarin duit untuk hal yang di sengaja.” Kata Raka.
Raka tersenyum melihat Zara yang marah - marah. Lalu tanpa berkata apa - apa Raka menutup laptopnya, menyimpannya di atar meja yang ada di depan pintu belakang kamarnya. Dan duduk di pinggir kolam renang sambil memainkan air di kakinya.
“Iiihhh kok aku di cuekin sih. Dasarrr !!!!” Teriak Zara.
Raka tersenyum lagi.
“Sini duduk sini.” Ucap Raka menepuk lantai kolam renang di sampingnya.
Zara pun mengikuti apa kata Raka, Zara duduk di samping Raka, dan memasukkan kakinya ke dalam kolam renang.
“Dulu saya sama Rivka sering sekali berenang, biarpun di siang hari kalau kami ingin berenang yah berenang. Dan Rivka selalu paling lama kalau berenang, dia nggak mau berhenti kalau tangannya belum keriput. Lalu eyang datang marah - marah kalau Rivka sudah sangat lama di dalam kolam. Kalau udah kayak gitu, saya selalu menertawakan Rivka kalau udah di marahin sama eyang. Hmmm.. Rasanya sudah lama sekali saya di tinggalkan oleh Rivka dan juga eyang.” Ucap Raka menceritakan kisahnya dengan Zara.
“Maaf yah Raka, kalau kolam ini mengingatkan kamu sama Rivka dan juga Eyang.” Ucap Zara pelan.
“Lohh kok kamu minta maaf, kenapa?” Tanya Raka kembali.
“Karena aku pesen kamar yang balkonnya kolam renang. Kamu jadi teringat sama Rivka dan juga eyang.” Ucap Zara dengan polosnya.
“Ya ampun.. saya kira kenapa, ihh nggak lah. Nggak papa, saya cuma teringat aja sama mereka. Saya kengen banget sama mereka.” Ucap Raka. Matanya sudah mulai berkaca - kaca mengingat Rivka dan juga Eyangnya, Eyang Lili.
====