Chapter 42

1073 Words
Setelah selesai memberikan Raka surprise kecil - kecilan, Ardya , Prilly, dan Bella bersiap untuk pulang karena sudah waktunya untuk Raka, Zara dan Andika berangkat ke bandara.  "Safe flight yah kalian, jangan lupa oleh - oleh yah andika." Kata Ardya.  "Kok cuma gue yang Lo mintain?" Tanya Andika.  "Ya nggak papa.. Lo kan punya banyak duit, sekali - skali Lo lah yang beli banyak oleh - oleh." Jawab ardya.  "Hahahah aamiin dehh yahh."  Sembari teman - temannya berbincang - bincang , Raka menyiapkan mengeluarkan kopernya dari dalam kamarnya.  Zara, Prilly, dan Bella membersihkan semua sampah - sampah bekas makanan mereka. Dan juga membersihkan meja yang telah mereka pakai. Karena sebelum mereka semua ada di apartemen Raka,  apartemen Raka benar - benar bersih.  "Sudah semuanya?" Tanya Zara ke Raka yang melihat Raka sedang berfikir.  "Iya sudah kok." Jawab Raka.  "Kalau gitu, kita pamit yahh.. makasih jamuannya Raka, dan makasih kita sudah di perbolehkan masuk ke rumah Lo." Kata Bella.  "Iya makasih yah Pak Raka bos muda yang paling keren sejagat raya." Kata Prilly.  "Sama - sama. Makasih juga karena kalian sudah repot - repot datang ke sini." Kata Raka. "Hati - hati yah kalian semua " Seru Zara.  "Iya Zara, Lo juga hati - hati. And good luck yahh, semoga meeting pertama Lo berjalan lancar dan Lo dapat memberikan yang terbaik." Kata Prilly lalu merangkul Zara.  Satu persatu dari Adrya, Prilly dan Bella berjalan keluar dari apartemen Raka.  "Bye guys." Kata Bella lalu melambaikan tangannya saat sudah di depan pintu.  Saat semunya keluar dari apartemen Raka, Raka memeriksa semua barang - barang di rumahnya untuk memastikan tidak ada sesuatu yang menyala saat Raka meninggalkan apartemennya.  "Okeyy lets go to Balliiiii !!!!" Teriak Andika.  "Hahahah.. apaan sih Lo." Seru Zara.  Tepat setengah sepuluh, Zara, Raka dan Andika berangkat ke Bandara dengan satu mobil saja. Raka ikut di mobil Andika bersama Zara.  Setelah tiba di bandara, Zara sebagai sekertaris mengurus check in Raka dan Andika yang ikut di belakang Zara. Selesai check in, tidak lama mereka menunggu penerbangan mereka. Andika yang tidak tahan lapar, akhirnya mengajak Raka dan Zara makan makanan yang tidak menunggu lama.  "Raka Zara kita makan dulu yuk, gue laper banget nih." Kata Andika. "Hah? Makan?" Tanya Zara.  "Iya makan, kenapa sih? Ada yang salah sampai Lo kaget kayak gitu?" Tanya balik Andika.  "Iyalahh.. kita kan tadi udah makan di apartemen Raka, kok sekarang Lo bilang laper banget sih? Lo tadi kan juga makan." Jelas Zara. "Ya iyaaa.. tadikan cuma sarapan, sekarang waktunya makan siang kan? Tuh liat jam berapa sekarang?" Kata Andika sambil menunjuk jam tangan berwarna rose gold yang melingkar di tangan Zara.  "Iya juga yah." Kata Zara sambil melihat jam tangannya.  "Nahh.. ayo buruan, sebelum kita di panggil. Masih ada waktu untuk makan sebelum penerbangan." Kata Andika.  "Ya udah, Raka ayoo kita makan dulu yukk." Kata Zara mengajak Raka yang dari tadi asyik mengutak - atik tablet yang berukuran sedang di tangannya.  Raka melihat jam tangannya, kemudian berdiri mengikuti Zara dan Andika yang berjalan menuju restoran tanpa sepatah katapun.  "Nihh Raka menunya." Kata Zara lalu memberikan buku menu untuk Raka.  "Oh iya." Raka kemudian membuka satu demi satu dari lembaran buku menu yang ada di tangannya.  Raka, Zara dan Andika memesan makanan untuk makan siang mereka sebelum ke Bali. Dan saat makan tiba - tiba ponsel Andika berdering.  “Aaahhhh. Belum juga sampai, udah nelvon aja.” Seru Andika sambil menepuk pelan meja makannya.  “Kenapa sih? Ih ngagetin aja.” Seru Zara.  “Ini nih.. anaknya Pak Handoko udah nelvon, pasti udah nyariin Raka.” Kata Andika.  “Hah? Memangnya kenapa anaknya?” Tanya Zara.  “Iyaaa dia tuh suka sama Raka, dan kalau dia tau kita mau meeting sama Papanya pasti ada aja caranya untuk ketemu sama Raka. dan gue jadi sasarannya, karena Raka nggak mau angkat telvonnya.” Kata Andika lagi.  Zara kemudian melihat ke Raka yang biasa saja dengan hal itu.  “Hahahha, gue kirain kenapa.” Seru Zara setelah melihat ekspresi Raka.  “Hah? Lo bilang kenapa? Lo belum tau aja nih gimana Cindy.” Ujar Andika.  “Raka emangnya kamu kenapa nggak mau angkat telvon dari Cindy?” Tanya Zara ke Raka sambil mengaduk nasi goreng yang sudah datang.  “Untuk apa saya angkat? Nggak ada apa - apa juga kan yang penting.” Jawab Zara.  “eeeerrrrgggg.. Ahhh sumpah yahh, Lo emang bisa santai karena bukan Lo yang di telvonin.” Seru Andika yang mulai badmood.  “Ehh tapi tunggu. Kayaknya bukan gue lagi deh yang bakalan dia hubungin.” Kata Andika.  Seketika Andika tersadar akan dirinya, yang sekarang bukan lagi sekertaris Raka. Zara sudah menjadi sekertaris Raka.  Raka juga akhirnya tersadar, kalau sudah ada Zara yang menjadi sekertaris Raka.  “Andika gimana kalau kita batalin aja meetingnya sama Pak Handoko?” Kata Raka.  “Loh kenapa tiba - tiba di batalin?” Tanya Zara.  “Lo nggak mau kan kalau Zara di ganggu sama Cindy?” Tanya Andika.  “Ihh kenapa sih? Kenapa sekarang malah tiba - tiba hanya karena gue meetingnya di batalin?” Tanya Zara lagi. Zara sudah tidak melanjutkan makannya karena penasaran dengan alasan Andika dan Raka.  “Gini yahh Zara. Raka.. biar gue yang jelasin ke Zara.” Kata Andika.  “Zara gini ya.. Lo itu nggak tau Cindy, dia kalau tau Raka masih di Bali, dia akan terus - terusan nerror Lo sampai dia ketemu sama Raka. Dan dia orangnya kasar banget, dia bakalan marah - marah nggak jelas sama Lo. Haduuhh pokoknya gue kesel banget sama dia.” Jelas Andika. “Ihh apasih kalian berdua ini. Masa cuma kayak gitu doang kita nggak ngelanjutin meetingnya? Kalau Pak Handoko nggak mau menyutujui kerjasama kita gimana?” Tanya Zara.  “Nggak papa Zar, kita masih ada kontrak dengan perusahaan lain kok. Tenang aja.” Kata Raka pelan.  “Aduhh nggak - nggak.. Raka nggak usah peduliin aku, aku bisa kok ngatasin orang seperti Cindy. Kalian berdua tenang aja okeyy?” Kata Zara meyakinkan Raka dan Andika.  Tidak lama kemudian, panggilan penerbangan Raka, Andik dan Zara sudag terdengar.  “Tuh kan? Nggak ada waktu lagi untuk berdiskusi, ayo cepetan, nanti kita ketinggalan pesawat.” Seru Zara lalu berdiri mengambil kopernya.  Raka, Andika dan Zara segera berlari untuk boarding. Akhirnya mereka semua terbang menuju Bali, Zara tetap kekeh kalau meetingnya di lanjutkan saja. Zara tidak memikirkan bagaimana nasibnya nanti setelah bertemu dengan Cindy. Yang Zara fikirkan hanyalah meetingnya berjalan lancar, dan kontrak pekerjaannya di setujui oleh perusahaan Pak Handoko.  ====
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD