“Aluna. Kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Reza dengan raut cemasnya. “Bagian mana yang sakit?”
Aluna mengatur napasnya yang terengah-engah. Rasa mual itu perlahan hilang. Dia menyeka wajahnya dengan air, lalu mengelapnya dengan tisu.
“Aku baik-baik saja, Mas,” ucap Aluna. “Tadi tiba-tiba mual. Tapi sekarang udah enggak,” jelasnya.
“Beneran enggak kenapa-kenapa? Atau kita coba periksa kondisi kamu ke rumah sakit,” anjur Reza.
Aluna menggeleng, dia berjalan keluar dari kamar mandi. Reza mengikutinya dari belakang dengan raut cemas.
“Aku khawatir, Aluna.” Reza mengungkapkan.
Aluna menoleh dan tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja. Serius,” ucapnya.
Reza menghela napas pelan. Dia tidak bisa memaksa Aluna untuk pergi ke rumah sakit.
“Ya sudah, ayo makan dulu. Mungkin asam lambung kamu naik,” kata Reza.
Aluna menuruti perkataan suaminya, dia berjalan menuju meja makan, duduk di tempatnya tadi.
Namun, saat Aluna baru saja ingin menyendok ayam kecap itu, entah bagaimana aroma kecap yang bercampur bumbu-bumbu dapur membuat perut Aluna kembali merasakan mual. Aluna seketika langsung menutup mulutnya.
“Kenapa, Aluna? Perut kamu mual lagi?” tanya Reza.
Aluna mengangguk.
Reza merasa cemas kembali. Dia khawatir Aluna kenapa-kenapa.
“Kita ke rumah sakit ya?” bujuknya.
“Enggak, Mas. Aku enggak pa-pa. Aku mual karena aroma ayam kecap ini. Nyium baunya buat perut aku enggak nyaman,” terang Aluna.
Reza langsung mengendus ayam kecap itu, tapi dia merasa tidak ada yang salah dengan aromanya. Ayamnya juga terlihat masih segar. Bahkan aromanya membuat Reza tergiur untuk menyantap masakan itu.
“Bibi.” Reza memanggil Bi Asti sang kepala pelayan.
“Iya, Tuan muda?”
“Ambil saja makanan ini untuk bibi dan yang lainnya,” ujar Reza.
“Loh, kenapa, Tuan muda? Apa masakannya kurang enak? Kurang bumbu ya? Kurang asin atau mungkin terlalu asin?” tanya Bi Asti.
Reza menggelengkan kepalanya. “Saya sudah cicip, rasa pas. Tapi Aluna enggak bisa cium aroma masakan itu. Mual katanya,” jelas Reza.
Bi Asti sontak langsung menatap ke arah Aluna. Perempuan itu terlihat tidak enak hati, dia sebenarnya tidak bermaksud menolak makanan itu, hanya saja perutnya tidak bisa diajak kerja sama.
“Wah, jangan-jangan Nyonya Aluna lagi ngidam ya?” celetuk Bi Asti.
“Ha? Ngidam? Maksudnya apa, Bi?” Reza mengernyit heran.
Aluna yang mengerti tampak diam dengan raut syoknya, seketika dia teringat bahwa dirinya dan Reza sudah pernah melakukan hubungan suami istri, dan itu bisa saja membuatnya hamil. Apalagi minggu ini adalah masa suburnya. Tapi, apakah secepat ini.
“Tuan muda Reza sebentar lagi bakalan punya anak,” kata Bi Asti.
Kini Reza yang terdiam. Dia juga syok seperti Aluna. Tentu dia ingat dengan apa yang telah dia perbuat bersama Aluna malam itu.
“Nyonya Aluna coba bilang sekarang lagi pengen makan apa? Nanti biar pelayan buatkan untuk Nyonya,” ujar Bi Asti kemudian.
“Eh, anu, saya....” Aluna tiba-tiba terbayang sate Madura, bahkan aroma daging yang dibakar seolah sudah tercium di hidungnya, lidahnya juga seakan merasakan makanan itu walau padahal Aluna baru membayangkannya saja. “Sate,” ucap Aluna.
Bi Asti tersenyum. “Baik, akan segera saya siapkan untuk Nyonya Aluna,” tuturnya, penuh semangat.
Bi Asti kemudian pergi, dia bergegas memberitahu para pelayan untuk menyiapkan hidangan itu.
“Aluna.” Reza memanggil, membuat Aluna menatap padanya. “Kamu hamil?” tanyanya.
Aluna merasa seperti tersedak air liurnya sendiri. Pertanyaan Reza terlontar begitu saja tanpa basa basi.
“Aku enggak tahu, Mas,” jawab Aluna. “Apa aku coba cek aja buat pastiin aku hamil atau enggak?” tanyanya kemudian.
Reza mengangguk setuju. Itu usulan yang bagus. Dengan begitu mereka bisa tahu pasti kebenarannya dan tidak hanya menduga-duga saja.
***
“Dewi.” Pak Agus mengarahkan kursi rodanya ke hadapan Dewi, sang anak tiri yang selama ini sudah dia anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Bahkan dia tidak pernah membeda-bedakan Dewi dengan Aluna.
“Ada apa?” Dewi menanggapi dengan malas. “Kalau Ayah suruh aku bantu angkat Ayah ke kasur, aku enggak bisa, aku capek, Ayah suruh Mama aja nanti,” tukasnya.
“Enggak, bukan itu,” kata Pak Agus. “Ayah cuma mau minta tolong, boleh enggak kamu hubungi Aluna, ayah kangen.”
Dewi mengembuskan napas berat. “Ayah kan punya handphone sendiri, bisa kan hubungi dia pakai handphone Ayah sendiri, kenapa harus minta tolong sama aku,” dumelnya.
“Handphone ayah kan sudah dijual sama Mama kamu waktu itu, jadi sekarang ayah enggak punya handphone. Makanya ayah minta tolong sama Dewi,” kata Pak Agus. Nada suaranya masih halus, dia sama sekali tidak pernah membalas omelan Dewi dengan bentakan apa pun.
“Haduuuh, Ayah. Handphone aku itu baterainya mau habis, aku harus charge dulu. Nanti deh kalau udah penuh baru aku telepon Aluna,” cakap Dewi. Dia langsung pergi dari hadapan Pak Agus.
Melihat kepergian Dewi, Pak Agus hanya bisa menghela napas panjang. Untuk yang kesekian kalinya dia berusaha sabar. Lagi pula, mungkin ini sudah menjadi sebab akibat atas keputusannya beberapa tahun lalu. Andai dulu dia tegas menolak ajakan Bu Lastri untuk menikah, pasti kehidupannya akan jauh lebih baik daripada saat ini.
***
Negatif.
Aluna menatap hasil testpack itu cukup lama. Tidak ada garis lain yang muncul, hanya ada satu garis saja.
“Mungkin aku lagi enggak enak badan aja, makanya tadi mual,” gumam Aluna. “Lagian enggak mungkin aku hamil secepat ini, aku dan Mas Reza kan baru melakukannya satu kali kemarin malam, masa iya langsung jadi,” tuturnya.
Aluna kemudian keluar dari kamar mandi.
Saat ini pukul delapan malam. Reza belum pulang dari kantor. Aluna berjalan menuju jendela, dia menutup tirai dan melangkah menuju sudut kamar, dia membuang hasil testpack-nya ke dalam kotak sampah, lalu melangkahkan kakinya lagi menuju ranjang.
Hari ini rasanya banyak sekali yang sudah Aluna lewati. Bertengkar dengan Mira, berdebat dengan Tristan dan terakhir dia harus berhadapan dengan Dewi dan ibunya.
Aluna menarik napas panjang, dia merebahkan tubuhnya ke atas kasur, rasa empuk kasur itu terasa memanjakan tulang punggungnya.
Saat Aluna baru saja ingin memejamkan mata, pintu kamar terdengar dibuka oleh seseorang.
Reza, pria itu melangkah masuk ke dalam usai menutup kembali pintu kamar.
“Belum tidur?” tanya Reza saat mendapati Aluna beranjak dari atas kasur.
“Belum,” jawab Aluna.
Reza tak menanggapi. Dia sibuk melepaskan dasi dan jas kerjanya, lalu meletakkannya di dalam keranjang baju kotor.
“Mas.” Aluna bersuara. Dia berdiri dengan jari jemari yang beradu, seperti ingin memberitahu sesuatu tapi takut kena marah.
“Kenapa, Aluna?” Reza bertanya dengan nada lembut. Kakinya melangkah mendekati Aluna yang berdiri di dekat ranjang.
“Itu ... aku ....” Mulut Aluna terasa kaku, padahal dia hanya ingin memberitahu Reza tentang hasil testpack-nya.
“Jangan takut, Aluna. Kamu mau bicara apa hm? Ngomong aja. Aku enggak mungkin marah sama kamu,” tutur Reza, senyumnya terukir tipis.
“Itu, Mas. Aku udah testpack,” kata Aluna.
“Tes kehamilan?” terka Reza.
“Iya.”
“Hasilnya gimana? Kamu beneran hamil atau....”
“Negatif. Masih garis satu,” sela Aluna. “Aku belum hamil,” jelasnya. “Enggak masalah kan? Aku ingat waktu itu kamu bilang mau punya anak laki-laki dari aku. Maaf, aku belum bisa kasih kamu keturunan.” Aluna berbicara dengan kepala tertunduk.
Reza menghela napas pendek. Dia maju satu jengkel lebih dekat di hadapan Aluna, lalu ia merengkuh tubuh istrinya itu dalam pelukan.
“Jangan terlalu dipikirkan. Aku mungkin ingin punya anak denganmu. Tapi aku juga tidak akan memburu-burumu untuk segera memiliki anak, Aluna,” cakap Reza sambil mengusap puncak kepala Aluna penuh kasih sayang.
Sikap dan perkataan Reza cukup membuat Aluna merasa tenang. Setidaknya Reza tidak mengharuskannya untuk segera hamil, itu membuat Aluna lega.
“Sudah ya, jangan takut lagi sama aku. Aku enggak suka lihat wajah ketakutanmu itu, seolah-olah aku akan berbuat kasar padamu,” kata Reza.
Aluna mengangguk, senyumnya tanpa sadar terukir manis di hadapan Reza.
Senyum itu....
Itu adalah senyum yang Reza rindukan selama belasan tahun ini.
“Ehem.” Reza berdehem. Dia menjadi salah tingkah karena senyum Aluna. Bahkan tubuhnya bereaksi parah. Sesuatu di dalam dirinya mulai bergejolak, rasanya dia ingin menyentuh istrinya itu.
Sial. Aku menginginkannya malam ini.