BAB 7 | Antara Cinta dan Nafsu

1374 Words
“Maaf, kamu siapa?” Dewi menelisik pria di hadapannya itu dengan seksama. Dari penampilannya seperti laki-laki mapan, pikir Dewi. “Aku pikir kamu harusnya sudah mengenalku,” ujar Reza. Dewi tersenyum. “Apa ... kita pernah bertemu?” Sepertinya pesona Reza mulai membuat hatinya melembut. “Aku suami saudara tirimu.” Reza mengungkapkan dengan tegas. “A-apa?” Dewi terbeliak kaget. Tapi sedetik kemudian dia tertawa. “Kamu pasti anak dari suaminya Aluna, maksudnya begitu kan?” ujar Dewi, masih sulit untuk percaya. Tidak mungkin Aluna seberuntung itu dinikahi pria tampan kaya raya. “Salah. Kamu salah besar. Aluna itu istriku, bukan ibu tiriku,” jelas Reza. Mulut Dewi ternganga. “Enggak mungkin,” lirihnya. “Serius kamu suami Aluna?” Bu Lastri tiba-tiba mendekat. Dia juga syok melihat sosok Reza sebagai suami anak tirinya. Bodohnya dia tidak pernah bertemu langsung dengan Reza ketika mengurus berkas-berkas pernikahan, selama ini dia hanya bertemu dengan Erik sebagai tangan kanan Reza. “Mama gimana sih. Mama bilang suaminya Aluna laki-laki tua,” gerutu Dewi, terlihat tidak senang dengan keberuntungan yang Aluna dapatkan. Bisa-bisanya Aluna mendapatkan suami tampan, kaya raya dan berwibawa. Sial, pikir Dewi. “Mama juga enggak tahu kalau suami Aluna ternyata dia,” ujar Bu Lastri. “Dulu mama cuma lihat foto laki-laki tua sama istri dan anak laki-lakinya di rumah itu. Mama pikir laki-laki tua itu yang mau nikahin Aluna,” tuturnya. Reza tersenyum miring mendengar obrolan ibu dan anak itu. “Foto yang Tante lihat itu foto mendiang orang tuaku. Dan anak laki-laki di foto itu adalah aku saat umur sepuluh tahun,” jelas Reza. “Enggak mungkin. Kamu pasti nikahin Aluna karena kamu punya kelainan kan? Kamu mungkin cacat atau apa gitu,” terka Bu Lastri. “Oh, jangan-jangan kamu punya kelainan seksual ya, makanya kamu beli Aluna untuk jadi istrimu,” timpalnya. Erik terlihat kesal mendengar tuannya di cemooh seperti itu, apalagi hinaan itu terurai di depan banyak orang. Saat Erik hendak mendekati Bu Lastri untuk memberinya pelajaran, Aluna sudah lebih maju ke depan, dia berdiri di hadapan Bu Lastri dengan raut kesal. “Jangan asal bicara,” ujar Aluna. “Dia suamiku. Menghinanya sama saja menghinaku. Ingat. Aku punya banyak alasan dan bukti untuk memasukkanmu dan anakmu itu ke penjara. Kalau kamu berani mengusikku atau mengganggu kenyamanan orang-orang di sekitarku, aku enggak akan segan-segan lagi sama kalian berdua,” tegasnya. Aluna kemudian berbalik, dia meraih lengan Reza dan menarik Reza keluar dari restoran itu. “Ayo pergi, udara di sini sudah tercemar,” cakap Aluna, dia berjalan sambil memegang tangan Reza. *** “Tristaaaan.” Dewi berlari menghambur ke pelukan tunangannya, dia mendekap pria itu sampai Tristan memaksanya untuk melepaskan pelukan itu. “Sejak kapan kamu ada di sini?” tanya Tristan, dia cukup kaget mendapati Dewi ada di ruangannya. Tristan baru saja kembali dari ruang rapat, dan saat masuk ke dalam ruangannya, tiba-tiba saja sudah ada Dewi yang entah sejak kapan datang menunggunya di sini. “Belum lama kok. Tadi sekretarismu bilang kalau kamu lagi ada rapat, makanya aku tunggu kamu di sini,” ujar Dewi. “Lain kali beritahu aku dulu kalau mau datang ke sini. Kamu tahu ini kantor, tempat kerja, jangan sembarangan datang berkunjung ke sini kalau aku enggak izinkan,” cakap Tristan, terlihat sedikit kesal dengan kehadiran Dewi yang tanpa pemberitahuan. “Iya maaf, sayaaang. Kamu jangan marah,” ucap Dewi dengan nada manjanya. Tristan menghela napas. “Enggak, aku enggak marah,” ujarnya sambil mengusap kepala Dewi. “Kamu kenapa datang ke sini? Enggak biasanya kamu datang tanpa bilang-bilang dulu sama aku.” “Tadi aku makan siang dekat kantor kamu, jadi sekalian aku mampir ke sini,” kata Dewi. “Itu aku bawain kamu makanan juga,” imbuhnya, sambil menunjuk ke arah paper bag berisi makanan. “Makasih,” ucap Tristan. Dewi tersenyum. “Sama-sama, Sayangku.” Tristan kemudian menjauh dari Dewi, dia duduk di kursi kerjanya, meletakkan berkas yang dia bawa dari ruang rapat. “Oh ya, sebenarnya aku datang ke sini karena mau tanya sesuatu sama kamu,” kata Dewi. Dia melangkah mendekati Tristan, berdiri di belakang Tristan yang sedang duduk. “Kamu sama Aluna... apa kamu masih punya perasaan sama dia?” tanyanya. Gerakan tangan Tristan tiba-tiba berhenti, dia segera meletakkan bolpoinnya dan menghela napas pelan. “Kenapa bertanya seperti itu?” “Mira kirim foto kamu sama Aluna lagi berduaan,” cakap Dewi. “Bukannya aku sudah bilang sama kamu, jangan berteman sama Mira, dia itu wanita ular.” “Dia temanku, Tristan.” Tristan mendengus kesal, ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. “Kenapa diam? Kamu enggak bisa jawab? Atau jangan-jangan kamu beneran masih punya perasaan sama Aluna?” desak Dewi. “Cukup, Dewi. Aku lagi pusing sama pekerjaanku, jangan kamu tambah beban pikiranku lagi,” hardiknya. Dewi kaget dengan sikap Tristan yang kasar. Sebelumnya Tristan tidak pernah seperti ini. “Kamu bahkan berani bentak aku, Tristan.” Mata Dewi berkaca-kaca. Tristan mengusap wajahnya, dia bangkit dari duduknya dan menghadap ke arah Dewi. Dia lantas memeluk Dewi dengan lembut, menenangkan amarah wanita itu. Tak butuh waktu lama, pelukan Tristan berhasil membuat emosi Dewi luntur. “Aku minta maaf, aku enggak bermaksud bentak kamu. Aku lagi pusing aja sama urusan pekerjaanku, dan kamu tiba-tiba datang tuduh aku ini itu, makanya aku jadi ikut kebawa emosi,” jelas Tristan, mencoba untuk mengalah dan menurunkan egonya. “Maaf ya?” ucapnya. “Aku juga minta maaf karena udah tuduk kamu punya perasaan sama Aluna lagi. Sekarang aku percaya kalau kamu enggak mungkin cinta lagi sama w************n itu,” kata Dewi. “Cinta kamu cuma buat aku. Iya kan?” Tristan terdiam. Dulu saat dia masih panas-panasnya berselingkuh dengan Dewi, dia akan menjawab pertanyaan itu dengan mudah, tapi semenjak dia menjalin hubungan resmi dan putus dengan Aluna, entah kenapa Tristan merasa ada yang salah. Hatinya seperti berada di ambang keraguan, antara yakin dan tidak yakin dengan keputusannya yang lebih memilih Dewi sebagai calon istrinya. “Tristan?” Dewi mendesak, menunggu Tristan untuk segera menjawab. “Iya, sayang.” Tristan menjawab dengan hati yang terasa hampa, kata itu muncul tanpa getaran ataupun keyakinan yang kuat. *** Reza menatap Aluna yang diam memandang keluar jendela mobil. Saat ini mereka sudah sampai di halaman rumah mewah milik Reza, dan tampaknya Aluna tidak menyadari itu karena terlalu sibuk melamun. “Aluna.” Suara Reza mengalun lembut, Aluna yang sibuk melamun langsung tersadar saat mendengar suaminya memanggil. “Ya?” “Kita sudah sampai,” ujar Reza. Aluna langsung melihat sekitar. Dia sedikit kaget karena dirinya sama sekali tidak sadar kalau mereka sudah sampai di rumah. “Diam sebentar di sini, biar aku buka pintu mobil untukmu,” kata Reza. Aluna tidak menganggapi, tapi dia menuruti apa yang Reza perintahkan. Reza pun keluar dar mobil, dia berjalan menuju sisi kiri mobil dan membukakan pintu untuk Aluna. “Istirahatlah di rumah. Aku harus kembali ke kantor pusat karena masih ada pekerjaan yang belum selesai aku urus,” cakap Reza. “Minta pelayan untuk memasakkan makanan untukmu. Tadi kita belum sempat makan, aku khawatir kamu lapar.” “Kamu juga belum makan, Mas.” “Aku bisa makan di kantor.” “Apa kamu enggak punya waktu sebentar untuk makan di rumah?” tanya Aluna. Reza terdiam sejenak. Dia lantas menatap arlojinya. Beberapa menit lagi dia harus rapat. “Erik.” “Ya, Tuan.” “Undur rapat selama satu jam ya.” “Baik, Tuan.” Erik menerima perintah itu tanpa protes. Walau padahal selama ini tuannya tidak pernah mengundurkan jadwal rapat. Reza kemudian menggandeng tangan Aluna, mengajak istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah. Di ruang makan, keduanya menunggu dalam diam. Para pelayan tampak sedang sibuk menyiapkan makan siang sederhana untuk mereka. Tumis ayam kecap, Aluna tiba-tiba merindukan masakan itu. Sekitar dua puluh menit. Makanan itu tersaji sempurna di hadapan Reza dan Aluna. Reza pun mempersilakan Aluna untuk menyantapnya. Namun, ada yang aneh dengan gelagat Aluna, dia tampak seperti terganggu dengan aroma masakan yang baru saja dihidangkan oleh kepala pelayan. “Ada apa, Aluna?” tanya Reza. “Kamu enggak suka sama masakannya?” “Enggak, bukan begitu. Aku cuma... hueeek–” Aluna berlari menuju kamar mandi di area dapur, dia merasa mual dan seolah semua isi di dalam perutnya memaksa untuk keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD