“Tuan Reza.” Erik menghampiri Reza yang baru saja selesai berbincang dengan direktur perencanaan.
“Ada apa, Rik?”
“Eva baru saja menghubungi saya.”
Reza langsung menatap Erik dengan wajah serius. “Apa terjadi sesuatu pada Aluna?”
“Sejak siang tadi Nyonya Aluna belum kembali.”
“Apa? Maksudnya bagaimana? Bukankah seharusnya Eva mengikuti ke mana pun Aluna pergi. Bagaimana bisa dia kehilangan Aluna?! Lagian kenapa dia izinkan Aluna pergi tanpa tahu di mana tujuannya?” Reza terlihat gelisah, tentu saja dia mengkhawatirkan Aluna. “Kalau sampai terjadi sesuatu pada Aluna, jangan salahkan aku jika aku harus menghukum adikmu itu. Dia sudah tidak becus menjadi asisten pribadi istriku,” tegas Reza.
Eva adalah adik perempuan Erik, beberapa hari lalu Erik merekomendasikan adiknya untuk menjadi asisten pribadi Aluna. Reza yang percaya pada Erik pun langsung setuju dan mempekerjakan Eva tanpa seleksi.
“Dia pantas mendapatkan hukuman jika dia salah, Tuan,” ujar Erik.
Reza tak menanggapi. Dia hanya mendengus kesal.
“Siapkan mobil.”
“Ke mana Anda akan pergi, Tuan?”
“Rumah orang tua istriku,” jawab Reza. “Seorang istri tiba-tiba pergi, ke mana lagi tujuannya kalau bukan rumah orang tuanya,” cakap Reza sambil melangkah menuju lift.
Erik mengangguk paham. “Saya akan menyetir untuk Anda.”
***
Aluna menghela napas pelan. Saat ini dia sedang melangkah sendirian di trotoar sambil merenung memikirkan nasib ayahnya.
Walaupun dulu Aluna jengkel dengan ayahnya karena memilih menikah lagi setelah ibunya meninggal, Aluna tetap tidak bisa mengabaikan ayahnya yang saat ini sedang sakit keras. Bahkan satu tahun ini hidupnya hanya terfokus pada kesehatan sang ayah. Dia juga sampai rela menikah dengan pria asing demi mendapatkan uang untuk ayahnya. Namun, ibu tirinya malah menghabiskan uang itu untuk hal lain.
Persetan dengan ibu tirinya.
Aluna merasa kesal. Walau dia mendapatkan tamparan keras itu, dia tidak pernah takut untuk menghadapi ibu tirinya lagi. Jika saja tadi ayahnya tidak melerai, mungkin Aluna sudah balas menampar Bu Lastri.
“Nyonya Aluna.” Seruan itu membuat Aluna tersadar dari lamunan. Dia mendongak dan mendapati sosok Erik keluar dari mobil.
Tak lama kemudian, Reza juga keluar dari pintu belakang mobil.
Pria itu berlari mendekatinya, menatapnya dengan raut khawatir.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Reza.
Aluna sedikit kaget dengan kehadiran Reza yang mendadak. Dia tidak menyangka akan bertemu pria itu di jalan, atau ... pria itu mungkin mencarinya.
“Aku ... aku baik-baik saja,” ujar Aluna.
Reza menghela napas lega. “Syukurlah kalau kamu baik-baik saja,” ucapnya sambil merengkuh tubuh Aluna ke dalam pelukan.
Aluna membeku mendapatkan pelukan itu, dia heran kenapa Reza terlihat begitu khawatir padanya.
“Maaf, aku enggak bisa napas. Bisa tolong....”
Reza yang paham langsung melepaskan pelukannya. Dia mundur satu langkah dari Aluna.
“Pipi kamu kenapa?” Tatapan Reza seketika tertuju pada pipi Aluna yang tampak sedikit merah. Itu adalah bekas tamparan Bu Lastri beberapa jam lalu. Aluna tidak tahu kalau bekas tamparan ibu tirinya masih membekas di pipinya. “Siapa yang tampar kamu, Aluna?” tanya Reza.
“Enggak, ini cuma....”
“Ibu tiri kamu yang melakukannya? Atau adik tirimu?” tebaknya.
Aluna tak bisa mengelak, akhirnya dia memilih untuk tidak memberikan jawaban apa pun.
Sebenarnya bisa saja Aluna mengadukan perbuatan ibu tirinya. Tapi Aluna merasa itu tidak perlu. Dia tidak mau merepotkan pria itu. Reza sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya, dan Aluna bukan tipe wanita yang suka mengadukan masalahnya pada orang lain. Dia sudah terbiasa menghadapi semuanya sendirian.
Reza menghela napas berat. Dia menatap Aluna melas.
“Ayo pulang,” ajaknya, kemudian dengan lembut dia menarik lengan Aluna, membawa wanita itu ke dalam mobil.
“Lain kali kalau kamu mau pulang ke rumah orang tuamu, bilang dulu sama aku. Jadi aku bisa menemanimu. Jangan pergi sendirian.”
Aluna diam tak menjawab, ia sibuk memandang keluar jendela, menatap mobil yang berlalu lalang.
***
“Aluna.”
“Ya?”
“Sudah mandi?”
“Sudah.”
“Bisa kita bicara sebentar?”
“Iya.”
“Sini.” Reza menepuk kasur, menyuruh Aluna untuk duduk di sisi kosong di sampingnya.
Aluna sempat ragu untuk duduk di samping pria itu. Walau terlihat polos tapi Aluna juga paham tentang hal-hal yang berbau dewasa. Karena itu Aluna duduk dengan cemas. Dia takut Reza tiba-tiba meminta haknya.
“Ada apa, Tuan Reza?” tanya Aluna.
“Tuan?” Reza mengernyit. “Aku suamimu. Jangan panggil aku seperti itu.”
“Kalau begitu ... aku panggil kamu apa?” Aluna bertanya dengan nada kikuk. Saat ini hatinya berdebar tak karuan, antara cemas dan takut bercampur menjadi satu.
“Terserah. Silakan pilih panggilan apa pun yang kamu suka,” ujar Reza.
“Mas?”
“Mas.” Reza tampak berpikir sejenak. “Boleh,” ucapnya kemudian.
Setelah itu keduanya saling diam.
Sampai akhirnya Reza merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
“Malam ini aku tidak sibuk. Proyek baruku sudah berhasil ditandatangani. Jadi sekarang aku punya banyak waktu untuk kita berdua.”
Jari jemari Aluna beradu, rasa gugupnya semakin menjadi-jadi.
“Sini, Aluna. Kamu enggak capek duduk terus,” ujar Reza.
Aluna menoleh. Sejenak dia menatap sisi kosong di samping Reza. Dia tidak pernah membayangkan akan berbaring di samping pria itu. Jika dia melakukannya, jantungnya pasti akan berdebar lebih kencang. Bukan karena debaran cinta, tapi—ini soal laki-laki dan perempuan berada di satu ruangan yang tertutup, hanya berdua. Pasti ada gejolak yang membara walau belum ada cinta di antara mereka.
“Ayo sini,” ucap Reza, sedikit mendesak.
Mau tidak mau, Aluna akhirnya merebahkan tubuhnya di samping Reza.
Saat tubuh keduanya tanpa sengaja saling bergesekan, debaran itu semakin keras. Bukan hanya Aluna yang merasakan getaran aneh, Reza pun mulai bergerak gelisah.
“Aluna.”
“Iya, Mas?” Aluna menoleh, membuat wajahnya dan wajah Reza saling berhadapan, sangat dekat, benar-benar hanya beberapa sentimeter saja.
Keduanya saling diam, sibuk memandangi wajah satu sama lain dalam keheningan. Yang terdengar hanya debaran jantung keduanya yang saling bersahutan.
Beberapa detik kemudian, keberanian itu muncul dalam diri Reza. Dia memegang tengkuk Aluna dan langsung menghapus jarak di antara mereka.
Bibir keduanya bertaut. Seperkian detik tak ada pergerakan. Keduanya sama-sama kikuk. Tapi, lagi-lagi Reza dibuai oleh hasratnya, perlahan ia mulai memperdalam ciuman itu, hingga akhirnya Aluna terasa membalas ciumannya.
Pergulatan itu semakin intens dan penuh gairah. Tangan Reza mulai bergerak bebas menyentuh setiap inci tubuh Aluna.
“Mas....” Suara desahan itu menjadi titik awal dari malam yang penuh gairah. Hasrat mereka beradu menjadi tetesan air keringat yang dipadu dengan desahan memabukkan.