Semburat sinar matahari mengusap lembut wajah Aluna. Dia menggeliat, kelopak matanya terbuka perlahan.
Saat mencoba bangun, dia merasakan tubuhnya ada yang berbeda, rasanya aneh. Beberapa bagian terasa ngilu dan itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
“Selamat pagi.” Suara itu membuat kelopak mata Aluna terbuka lebar. Dia bahkan langsung terduduk dengan tatapan waspada.
“Apa yang terjadi?” Aluna merasa linglung, dia sedikit panik, apalagi saat mendapati dirinya terbangun tanpa busana.
“Tenanglah, Aluna,” ucap Reza.
“Gimana aku bisa tenang, tubuhku ....” Aluna mendekap erat tubuhnya dengan selimut yang membungkus. “Apa kamu memperkosaku semalam?” tudingnya.
Reza menggaruk kepalanya. “Coba kamu ingat-ingat lagi apa yang terjadi semalam. Aku harap kamu tidak lupa dengan apa yang sudah kita lakukan,” ujar Reza.
Otak Aluna seketika bekerja, dia mengingat kembali setiap detik kejadian semalam. Tangan Reza yang merayapi seluruh tubuhnya, dan juga tubuhnya yang merespons dengan penuh hasrat.
“Kamu bahkan mendesahkan namaku berulang kali,” kata Reza.
Aluna tak bisa menyangkal. Itu benar. Semalam Aluna seperti orang yang kehilangan akal sehat, dia seakan menyerahkan dirinya dengan suka rela, bahkan seperti menginginkan lebih dan menikmatinya dengan senang hati.
“A-aku ....”
“Aku mau mandi dulu,” sela Reza. Pria itu meraih celana boxernya, memakai celana itu dan berjalan menuju kamar mandi.
Aluna hanya diam memperhatikan, tatapannya masih seperti orang linglung.
***
Reza POV
Aku berusaha mengulum senyumku. Sejak tadi Erik memergokiku tersenyum sendiri. Saat dia bertanya ada denganku, aku langsung mengubah ekspresiku dan bersikap normal seperti biasa.
Menahan gejolak bahagia ternyata tidak mudah, rasanya sama seperti air mata yang memaksa tumpah ketika sedang ingin menangis. Aku tidak bisa menahan ledakan bahagiaku.
Mengingat apa yang terjadi semalam. Ugh! Itu luar biasa. Seolah aku ingin mengulangnya setiap malam. Tapi, apakah Aluna bersedia?
Tapi, yang membuatku lebih bahagia adalah noda darah yang membekas di seprai, itu darah keperawanannya. Aku merasa beruntung karena akulah laki-laki pertamanya.
“Tuan Reza.” Erik kembali memergokiku yang sedang mesam-mesem sendirian. “Apa Anda sungguh baik-baik saja?” tanyanya dengan raut khawatir. Mungkin dia pikir aku sedang sakit jiwa ya?
“Sudah aku bilang aku baik-baik saja. Harus berapa kali aku menjawab pertanyaanmu itu,” tukasku. Lama-lama aku merasa kesal dengannya. Aku tahu dia khawatir, tapi tidak harus bertanya terus kan.
Saat ini kami masih berada di ruang rapat, biasanya setelah rapat, aku dan Erik akan tetap berada di ruangan ini selama sekitar tiga puluh menit untuk membahas kesimpulan rapat hari ini, juga mendiskusikan hal lain yang dapat aku jadikan sebagai bahan untuk hasil rapat atau pembahasan di rapat selanjutnya.
Kali ini diskusiku dengan Erik kurang memuaskan, bukan salah Erik, tapi karena pikiranku sedang tidak bisa fokus.
“Tidak biasanya Anda senyum-senyum sendiri, Tuan. Saya khawatir Anda terlalu stres belakangan ini dan itu mempengaruhi otak Anda. Jadi....”
“Maksud kamu aku gila? Stres?”
“Tidak, Tuan. Tidak. Saya hanya khawatir.”
Aku menghela napas. “Sudahlah, Erik. Kamu tidak perlu khawatir. Aku hanya merasa ....” Berpikir sejenak, aku terdiam memikirkan kalimat yang tepat untuk menjelaskannya. “Kamu tahu, rasanya seperti ada popcorn yang meletup-letup di dadaku.” Aku menjelaskan tanpa berharap dia mengerti apa yang kukatakan, karena sulit menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini.
“Apa karena Nyonya Aluna?”
Aku tersenyum sambil mengangguk singkat.
Setelah itu Erik tidak memberikan tanggapan lagi.
***
Aluna meringis memegangi bahunya yang terhantam dinding.
Saat menoleh, Aluna mendapati Mira, dia adalah teman Dewi—saudara tiri Aluna.
“Ya ampun, Aluna. Ternyata kamu. Maaf ya, aku enggak sengaja.” Mira berkata dengan wajah sinisnya.
Aluna sudah tidak heran dengan raut tidak suka yang selalu ditunjukkan oleh wanita itu. Sejak masa sekolah, Aluna selalu menjadi korban pembullyan yang dilakukan oleh Mira dan Dewi. Mira yang bertindak, Dewi yang menjadi dalangnya.
Aluna bukannya tidak berani melawan, dia hanya terlalu malas mengurusi orang-orang yang kurang kerjaan seperti mereka. Selama pembullyan itu tidak kelewatan, Aluna tidak akan pernah mempermasalahkannya. Walau terkadang rasanya Aluna ingin membalas para wanita itu, tapi kesabaran Aluna selalu setebal buku skripsi.
“Lain kali hati-hati,” ucap Aluna, acuh tak acuh.
Mira yang merasa tanggapan Aluna terlalu cuek seketika membuatnya kesal.
“Aku dengar kamu udah nikah ya,” cakap Mira. “Katanya kamu nikah sama pria tua kaya raya,” imbuhnya, dengan suara yang sengaja dilantangkan, agar semua orang di kantor itu mendengar.
Ya, saat ini Aluna berada di kantor tempatnya bekerja, dia datang ke sana untuk mengurus surat pengunduran diri sesuai yang diperintahkan Reza. Tapi apesnya dia malah bertemu Mira yang memang juga bekerja di perusahaan tersebut.
“Jaga bicaramu, Mira,” tukas Aluna, ketegasan tampak tergurat di wajahnya, dia memberi Mira sebuah tatapan penuh peringatan, berharap wanita itu tidak mencari masalah dengannya.
“Kenapa? Kamu malu semua orang tau kalau kamu nikah sama laki-laki tua. Kamu nikahin dia pasti demi harta kan?” cibir Mira sembari tertawa mengejek.
Karena ucapan Mira barusan, orang-orang mulai menatap ke arah Aluna, tatapan menghujat dan meremehkan tertoreh di wajah beberapa orang yang melewatinya.
“Jangan cari masalah denganku, Mira. Aku sedang tidak ingin ribut dengan siapa pun,” cakap Aluna, kembali memperingatkan dengan tatapan tajamnya. Tapi Mira malah tertawa mengejek.
“Benar kata Dewi, kamu itu memang perempuan murahan. Sok cantik.” Dia kembali mencibir.
Tangan Aluna sudah terkepal kuat, dia siap kapan saja menonjok wajah Mira, tapi Aluna bukan wanita yang mudah terbawa emosi, sumbu kompornya tidak sependek yang diharapkan Mira. Aluna masih bisa menahan diri untuk tidak terpancing dengan kata-kata Mira yang sangat provokatif.
Helaan napas berat Aluna terdengar. Dia memilih untuk pergi dari hadapan Mira. Berbicara dengan wanita itu tidak akan ada habisnya, menanggapi Mira hanya akan menjadi bumerang untuknya.
Namun, tindakan Aluna yang pergi tanpa memberikan komentar apa pun membuat beberapa orang percaya bahwa yang ditudingkan Mira tadi benar. Gosip tentang Aluna yang menikah dengan laki-laki tua kaya raya pun seketika menjadi topik terhangat di kantor.
Setelah selesai mengurus pengunduran dirinya, Aluna memutuskan untuk segera pulang. Dan saat itulah Aluna sadar bahwa gosip tentang dirinya sudah tersebar ke hampir penjuru kantor.
Sungguh hebat mulut orang-orang ini, hanya dalam waktu kurang dari setengah jam gosip itu tersebar luas.
“Aluna.” Seseorang memanggil namanya, membuat Aluna menoleh.
“Pak Tristan.”
“Saya dengar kamu mengundurkan diri,” ujar pria itu, dia melangkah lebih dekat ke arah Aluna. “Kenapa?”
“Tidak ada alasan khusus.”
“Bukankah gajimu bulan ini dinaikkan, bahkan kamu masuk daftar promosi jabatan.”
Aluna diam tak menanggapi, dia terlalu malas menjawab.
Tristan, pria itu sebenarnya adalah mantan pacarnya. Dia laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengan Aluna selama dua tahun. Tapi, hubungan itu kandas karena Dewi.
Kini Tristan menjadi tunangan Dewi. Dan itu adalah hal yang selalu Dewi banggakan di hadapan Aluna.
“Aku juga mendengar kabar kalau kamu sudah menikah.” Tristan kembali bicara saat Aluna tak memberinya tanggapan apa pun. “Apa itu benar? Kamu menikah dengan laki-laki tua, apa semua itu demi harta? Kenapa kamu jadi seperti ini, Aluna?”
Aluna menghela napas. “Pak Tristan menemui saya hanya untuk mengatakan itu?” tukas Aluna.
“Aku khawatir sama kamu, Aluna.”