7. Pilihan Mama

1443 Words
Pagi ini, cahaya matahari menyapa dan memancarkan sinarnya yang hangat ke ruang kelas. Mina melangkah masuk dengan senyum lebar, energinya seolah mengisi setiap sudut ruangan kelas ini. Dia yakin pagi ini masih ada Mahasiswanya masih ketempelan bantalnya di rumah, terlihat masih ada mahasiswa-mahasiswinya masih terdiam, sebagian dengan raut wajah mengantuk, sebagian lagi sibuk dengan ponsel mereka. Mina tidak lantas memulai menyampaikan materi perkuliahannya pada pagi ini. Ia berdiri di depan mengambil posisi di tengah, menyebarkan aura positifnya, seolah berkata tanpa suara. 'Ayo, bangun !' Perlahan, senyum Mina menular kepada mereka. Satu per satu, kepala-kepala yang tadi tertunduk mulai terangkat. Merasa merasa malu kegeep sama Mina. Mata-mata yang tadinya sayu mulai berbinar. Suasana kelas yang tadinya hening, kini mulai diisi bisik-bisik kecil serta dengan tawa kecil untuk memulai kelas pada pagi ini. Mina tahu, semangat adalah kunci. Jika ia bisa membangkitkan semangat di pagi hari ini, nyalain semangat itu akan terus menyala sepanjang pelajaran nanti, bahkan mungkin seharian. Ia memulai kelasnya bukan dengan teori, melainkan dengan semangat yang tulus. Dan pagi ini ia berhasil membuat semua orang di ruangan itu, termasuk dirinya, siap untuk belajar dan tumbuh bersama dengannya. Bagi Mina, mengajar bukan hanya sekadar menyampaikan materi di kelas saja. Ia percaya bahwa pemahaman muncul dari pengalaman itu sendiri. Malam tadi ia menyusun materi tentang morfologi tumbuhan, merangkai kata-kata dan gambar untuk menjelaskan berbagai bentuk daun, tepi, dan ujungnya agar mereka paham yang mereka temui disekitarnya ternyata memiliki keunikan sendiri untuk di pelajari. "Apakah sudah siap untuk belajar tanya Mina ?" "Siap.."jawab mereka kompak. Pagi ini, di dalam kelas mata para mahasiswanya berbinar penuh antusias. Mereka menyerap setiap penjelasan yang disampaikan Mina, seolah setiap kata yang keluar dari bibir Mina adalah sebuah petunjuk menuju harta karun. Namun, ia tahu pemahaman mereka akan jauh lebih dalam jika mereka bisa melihat harta karun itu secara langsung. "Apakah kalian sudah paham apa yang saya sampaikan tadi ?" "Paham Buk" "Bagaimana jika kita pindah kelas?" ajaknya, sebuah senyum merekah di bibirnya. "Wah seru ini.. Ayo buk. " Ucap mereka bersorak gembira. Taman kampus menjadi tujuan mereka. Di sana, di antara hijaunya dedaunan dan semilir angin, kelas yang sebenarnya baru dimulai. Mahasiswa-mahasiswinya mina tengah berbaur, menyebar, menunduk, dan mengamati. Mereka bukan lagi sekadar pendengar, melainkan penjelajah yang baru saja berpetualang mengumpulkan tumbuhan. Mereka sangat antusias sekali menemukan daun-daun tersebut ada yang bentuk bertepi bergerigi, ada yang berujung runcing, dan ada pula yang berbentuk jantung. Mereka saling berdiskusi, jari-jari mereka menunjuk, mata mereka berbinar penuh rasa ingin tahu. Mina berdiri di dekat mahasiswa yang sedang mengamati pemandangan indah itu. Senyumnya semakin lebar. Ia melihat kekompakan, semangat, dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah-wajah mahasiswanya, Mereka belajar bukan karena kewajiban, melainkan karena cinta pada alam yang baru saja mereka temukan. Momen itu adalah pengingat bagi Mina, bahwa keberhasilan seorang Dosen bukanlah seberapa banyak materi yang ia sampaikan, melainkan seberapa besar rasa ingin tahu yang berhasil ia nyalakan. Setelah mengamati Mina memilih untuk duduk di taman, dia paling suka kegiatan berbaur dengan alam seperti ini sambil memantau Mahasiswa-mahasiswinya sedang sibuk observasi. Sesekali Mina tersenyum melihat Mahasiswanya bersemangat ingin tahu mereka tentang apa yang ada disekelilingnya sesekali terlihat mereka mengerutkan keningnya sambil berpikir dengan tanaman yang di pegangnya. Mina tersentak saat ponselnya berbunyi memecah lamunannya. Ia meraih ponselnya, merasakan getaran tipis di ujung jarinya. Layar menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk yang langsung membuat napasnya tertahan. "Mina jangan lupa nanti jam dua belas ya, Mama tunggu lho." Pesan berikutnya Mama mengirim alamat restorannya. "Huh," Mina menghela napas, matanya menerawang ke taman kampus tempat para mahasiswanya sedang sibuk. "Mama, sepertinya benar-benar ingin melihat ku bersanding di pelaminan secepatnya. Apa Mama mulai merasa malu pada teman-temannya memiliki anak gadis yang tidak laku-laku ini ?" Sampai sekarang aku benar belum menemukan tambatan hati ku, aku tidak tahu salah ku dimana? kriteria bagaimana yang mereka inginkan hingga aku bukanlah seorang yang mereka diinginkan untuk jadi istri salah satu dari mereka yang sempat disodorkan kepada ku. Apakah mereka tahu kalau aku ini wanita yang di tinggalkan kekasihnya sebelum hari pernikahan ku ? Mina terlihat menghela napasnya kembali. Kadang orang tua memiliki keinginan kuat untuk melihat anak-anaknya menikah, entah karena kekhawatiran, tradisi, atau bahkan tekanan sosial dari lingkungan mereka. Pikiran itu berputar-putar di benaknya Mina, menambah beban di pundaknya yang sudah terasa berat. Hiruk pikuk di taman itu terasa begitu jauh, tak mampu menjangkau kekalutan hatinya lagi. Apakah benar sebentar lagi aku akan merasakan duduk di pelaminan, menyaksikan seseorang mengucapkan ijab kabul di hadapan Papa ku ? Suara itu akan lantang di ucapkan saya terima nikah dan kawinnya Yasmina Claudya untuk menjadi istriku dengan mahar. apakah benar aku bisa merasakan euforia seperti ini nanti ? Apakah aku juga akan segera bertumbuh seperti teman-teman ku berada dalam satu atap bersama dengan suami ku, yang sudah Tuhan takdirkan untuk ku ? Apakah aku juga akan segera mengandung dan melahirkan seperti teman-teman ku ? pertanyaan-pertanyaan itu bertubi-tubi menghantam pikiran Mina dia saja tidak tahu kejutan apa yang Tuhan berikan untuknya. "Bu Yasmin.. " "Hah ?! Kenapa Ratna ?" "Ayo Bu Yasmin, sedang melamun apa ?" Ratna tersenyum dan menatap wajah Dosen cantiknya ini. "Nggak ada melamun apa-apa kok. Gimana udah selesai ?" "Udah Bu, ini di tugasnya di taruh di meja ibu saja atau gimana ?" "Iya Ratna minta tolong ya, di taruh di meja Ibu ya, Ratna." "Iya Bu Yasmin ". Ratna meninggalkan Yasmina menuju ke ruangan Mina. Oke semua nya, kelas kita sampai disini dulu dan silahkan kembali ke kelasnya ya, sampai ketemu di pertemuan berikutnya. "Siap Bu.." Yasmina pun kembali ke ruangannya dan sebentar lagi dia akan melanjutkan mengajar di lantai atas lagi. *** "Maaf Mina terlambat tadi ada kelas." Mina langsung menyalami Tante Selly dan Mama nya ini teman Mama nya yang sempat menjadi perdebatan antara aku dan Mama tadi malam. Akhirnya Mina memilih datang ke restoran ini setelah berpikir sejak dari kampus tadi, Mina tidak mau mempermalukan Mamanya yang sudah janji dengan temannya ini. Soal iya atau tidak nya nanti tentang perjodohan ini bisa dibicarakan baik-baik sejujurnya Mina tidak setuju dengan rencana perjodohan ini. "Ya ampun ini Mina ya.. ? " "Iya Tante." "Cantik sekali Mina sekarang, Ti." "Sebelas duabelas sama Mama nya kan ?" Ujar Mama lagi. "Lebih cantik anaknya." Mama dan Tante Selly tertawa. Aku langsung senyum kepada Tante Selly untuk berbasa Basi. "Dulu aku lihat Mina waktu masih bayi ya sekarang udah tumbuh dewasa saat aku bawa anak ku dalam rangka kita kumpul-kumpul waktu dulu itu Ti, yang waktu itu anak ku masih umur tiga tahun kalau nggak salah udah lama sekali kita tidak bertemu kebetulan lagi Mas Frans ada kegiatan di sini dan kamu pun pindah kesini suatu rencana yang tidak kita duga kan Ti." "Iya Sell, aku nggak menyangka juga." "Tadi macet nggak di jalannya Mina ?" tanya Selly kepada Mina. "Iya Tante karena udah waktunya makan siang juga kan, Mama dan Tante Pasti lama ya nunggu Mina ? Maaf ya tadi Mina ada urusan sedikit di kampus di tambah tadi kena macet di jalan juga." "Nggak papa kami orang tua ya begitu semangat empat limanya masih menyala jadi datang lebih awal biasa Min cerita-cerita udah lama juga nggak ketemu cuma ngobrol lewat ponsel aja. Lagian anak Tante juga belum sampai nih Mina, katanya dalam perjalanan, Mina pesan aja dulu pasti lapar kan ini kan jam makan siang." "Iya Tante." Mina benar lapar, setelah pesanannya di antar Mina makan siang, dia tidak peduli omongan Mamanya dan Tante Selly bicarakan. Sesekali Mina menjawab saat obrolan itu mengarah ke Mina. Mina tahu hari ini mereka benar akan memuji anaknya satu sama lain. Setelah berbincang beberapa menit akhirnya yang di omongin para Mama ini dari tadi akhir pun datang. "Itu Sabil baru datang". Ucap Selly. Aku melihat Dia dengan tubuh tegap dan sekilas terlihat ganteng membuat orang-orang yang sedang menikmati hidangannya terhenti untuk menoleh ke arahnya saat dia berjalan ke arah kami. "Maaf Ma, macet di jalan tadi." ucap pria ini kepada Tante Selly sudah pasti ini dia orang yang Mama bicarakan tadi malam. "Selamat siang Tante Rianti dan ini Mina ya ?" Dia menyalami Mama dan aku Deg..! Tiba-tiba nama ku disebutkan, jantung ku jadi menggila Aku mengangguk dan tersenyum. Dia menyalami Mama dan aku Seketika aku jadi kikuk saat dia memilih tempat duduk di sampingku. "Hallo Mina, aku Sabil Anugrah." "Aku Yasmina biasa di panggil Mina." "Oke semuanya sudah berkumpul Mama dan Tante Rianti ingin memberi tahu kepada kalian berdua. Kami akan menjodohkan kalian berdua, ini sudah kita pikirkan baik-baik. Mungkin ini terdengar konyol tapi waktu kalian masih kecil Mama dan Tante Rianti sudah memiliki rencana ini menjodohkan kalian kalau sudah dewasa kebetulan pas sekali Mina belum menikah begitu juga dengan Sabil." "Apakah Mina mau menerima Sabil untuk menjadi Suami Mina ?." "Ma.. !" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD