5. Hatiku Hancur Kini Mulai Pulih

1394 Words
Dua Tahun Kemudian Mina sedang berada di cafe depan kampusnya, ia tengah duduk sendiri menikmati kopi pagi ini sambil menunggu jadwal mengajar nya yang tersisa dua puluh menit lagi. Dia sengaja datang pagi ini untuk menikmati kopi di depan kampus ini ketimbang di rumah. Cafe ini tidak jauh dari kampus tempat dia berkerja jadi dia tidak perlu memakan waktu untuk kembali ke kampus nanti. Tiba-tiba dia merasa ngantuk pagi ini akibat tadi malam dia mengalami insomnia. Hari pahit dalam hidupnya sudah mulai Mina lupakan, dan meninggalkan semua kenangan itu di Jakarta. Kenapa Mina sampai disini karena saat kejadian yang menimpa dirinya, dia memohon sama Papa dan Mama nya untuk pindah dari Jakarta rasa malu dan kecewa bersamaan menghantui hidupnya selalu walaupun orang-orang perihatin kepadanya tetap saja dia lah peran utama cerita tersebut yang akan diomongin sana sini. "kasian ya di tinggalkan oleh calon suaminya yang pergi entah kemana." Terdengar sederhana ucapan ini rasa simpati kepada ku tapi kata tersebut berhasil mengingatkan kembali kejadian yang ia alami. Mina mengalami stres dan sering menyendiri. Setelah dia menjalankan konseling dengan psikolog tentang masalah yang dia hadapi, akhirnya hatinya pun mulai merasa nyaman, meluapkan sisa-sisa yang terpendam di dalam hatinya kepada psikolog kini ia berhasil keluarkan dari zona yang menyakitinya itu. Permintaan Mina kepada Mama dan Papanya langsung dikabulkan begitu saja waktu itu dengan memutuskan untuk meninggalkan semua kenangan di Jakarta ini. Disinilah keluarganya sekarang berada di Tanggerang Selatan, kota kelahiran Mama ku. Setelah mama memikirkan dan mengingat mereka akan mulai dari nol kembali maka pilihan yang tepat hanya disini. Orang-orang di lingkungannya tempati ini bukan orang-orang yang tonic jadi Mina dan keluarga sangat bersyukur sekali. Kami melakukan renovasi rumah peninggalan rumah nenek ku ini yang sudah lama tidak di tinggali ini. Beberapa bulan keluarga ku lebih memilih ngontrak hingga rumah ini selesai di bangun kembali. Mina juga sudah pindah ke kampus Negeri di sini. Pihak kampus sangat menerima kehadiran Mina disini melihat. Papanya juga pindah kantor di Tangerang demi sang putri tercinta. Mina benar meninggalkan semua kenangan di kota Bandung itu tepatnya Mina sudah mulai bisa mengikhlaskan semua yang terjadi pada hidupnya. Dua tahun berlalu itu bukan sekadar hitungan hari proses yang dia harus lewati. Hari-harinya penuh perjuangan, diperlukan jiwa untuk beranjak dari reruntuhan yang sedang menimpanya. Mina masih mengingat rasa getir dari janji yang berkhianat, ingat suara tawa yang begitu seirama di antara dia Mas Aqsa tiba-tiba berbalik menjadi belati untuk dirinya sendiri. Kini Pelajaran itu datang dengan harga yang sangat mahal, diukir dalam palung kesakitan yang dalam untuk Mina untuk jangan terlalu percaya kepada orang lain lagi. Kadang orang yang kamu cintai setulus hati mu bisa menjadi orang yang banyak memberikan luka untuk mu sendiri karena Mina sudah merasakan bagaimana pengkhianatan itu terasa sangat menyakitkan sekali. Bahwa cinta yang paling murni sekalipun bisa menjadi luka yang paling dalam. Mina lebih memilih untuk melanjutkan hidupnya dengan berkarir dan memperhatikan dirinya sendiri dan tidak lagi memikirkan tentang Mas Aqsa si pengkhianat itu dan Mina juga tidak peduli dengan keluarga Aqsa lagi semuanya sudah selesai. Selama proses pemulihan hatinya ini tidak cuma Mama dan Papanya saja yang memberikan kekuatan dan dukungan untuknya tapi sahabatnya selalu memberikan dukungan untuknya bahkan Dua tahun berlalu saja mereka masih bersamai dengannya. Ajakan berkencan dengan teman kantor mereka bahkan teman satu kerjanya selalu menjadi obrolan mereka untuk Mina agar bisa membuka hatinya kembali untuk orang lain. Bahkan Mama menawarkan Mina berkencan dengan orang-orang yang Mama tahu. Mama memiliki teman banyak disini hingga aku sering diajak ikut kegiatan yang Mama lakukan. Papa juga tidak mau kalah bahkan mengajak bertemu dengan anak dari rekan kerjanya. "Ting.. " Ponsel Mina bergetar seketika dia tersadar dari lamunannya itu. Ada pesan masuk dari benda pipih tergeletak di atas meja cafe ini. Lagi-lagi isi pesan ini menawarkan Mina untuk bertemu dengan temannya yang berada di Tanggerang Selatan ini. Mina menghela napasnya, napas yang membawa serta beban ekspektasi dan kekhawatiran orang lain terhadap dirinya ini, dia ingin melepaskannya perlahan. Dengan segera Mina membalas tidak tertarik dengan tawaran itu. Pesan itu terkirim dengan kata yang singkat dan jelas. Tetapi mendapatkan balasan lagi dari temannya dengan emoji sedih. Dia mengembalikan kembali ponselnya ke meja dia tidak berminat lagi untuk membalasnya. Mina hanya takut berujung dengan paksaan dari sahabatnya itu. Mina kembali memilih menikmati kopi panas ini yang tersisa seperempat lagi sebelum dia kembali ke kampus beberapa menit lagi waktu tersisa. Mina benar ingin fokus dengan dirinya sendiri dan perlahan kesendirian ini menjadi teman dalam hidupnya, kesendirian itu perlahan menjelma menjadi teman setia dalam hidupnya, bukan lagi ruang kosong yang harus diisi orang lain. Binar mata yang tenang ini benar sungguhan, bukan lagi dengan mata yang selalu mengalir begitu deras setiap harinya. kemudian senyum tipis ini pun tidak dipaksakan lagi. Ia telah melewati badai dan menemukan pelabuhan dalam dirinya sendiri. Tak perlu lagi tangan-tangan yang berusaha menjangkaunya hanya sekedar ingin singah dalam upaya menyelamatkan dirinya. Pikirnya, ia sudah tidak perlu lagi orang sibuk mengkhawatirkan dirinya ini. "Pagi Bu Yasmine.." "Hah, Iya Pagi." Mina menoleh ke sumber suara seketika dia tersadar dari lamunannya dan memberikan senyuman kepada mahasiswanya. Di kampus ini dia di panggil dengan sebutan Yasmine mereka ingat dengan kartun yang populer itu Putri Jasmine yang anggun dan cantik. "Bu Yasmine sebelas dua belas dengan putri Jasmine jadi cocok dengan panggilan itu." Jadi Mina di panggil dengan sebutan Yasmine oleh mahasiswa-mahasiswinya disini. Mina tidak mempersoalkan panggilan itu. Terserah mereka mau manggil Mina asal sopan. "Sudah lama Buk ?" "Sudah, ini mau masuk kelas lagi." "Oke buk, itu pesanan aku udah dibikin. Mari Buk Yasmine." Mina mengangguk. Mahasiswa mulai berdatangan di cafe ini persis sama seperti dirinya hanya untuk menikmati secangkir kopi. Agar mata bisa melek kembali. Dengan segera Mina meninggalkan Cafe menuju ke kampus dan kembali ke ruangannya. Mina mulai kembali ke stelan awalnya menjadi wanita yang berjuang untuk dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa perjalanannya adalah miliknya, dan satu-satunya pahlawan yang ia butuhkan untuk berjuang adalah dirinya sendiri. *** "Jihan... !" Teriaknya dari ruangan tersebut. Jihan tentunya kaget, lagi-lagi Jihan akan mendengarkan omelan dari Bosnya kali ini apa lagi. Dengan segera Jihan berlari menuju ruangan Bosnya. Dia sudah biasa menghadapi semua ini. "I-iya Pak kenapa ?" "Jihan tolong semua kegiatan meeting untuk satu Minggu kedepan ini di tiadakan." "Kenapa Pak .. ?" "Kamu tahu kan maksudnya saya barusan ?" "Maksudnya batalkan semuanya." "Good." "Tapi, Pak gimana dengan janji bertemu dengan orang yang dari Jawa itu Pak, kan jadwalnya hari ini." "Termasuk jadwal ku hari ini. Saya ada halangan penting harus ke luar kota." "Baik Pak." Jihan meninggalkan ruangan Bos nya ini dia bisa apa, Jihan pengen menangis mendengarkan instruksi dari Bos nya ini kenapa jadi mendadak begini sih. Apa yang harus aku katakan kepada mereka Pak Bos selalu seenaknya nyuruh ini itu, seketika dia membatalkan pula ini itu. Lama-lama perusahaan ini nggak ada lagi yang mau berkerja sama lagi. Gumam Jihan pelan. "Aku harus segera menghubungi mereka biar mereka tidak kecewa lama menunggu terutama yang dari Jawa itu duh kasian sekali sudah jauh-jauh datang ke Batam. Huh sabar Jihan kali ini kamu akan buat alasan lagi." Dia melepaskan jas nya dengan mengantikan bajunya dengan baju kemeja. Yang tadinya berpakaian formal kini sudah berganti dengan pakaian santai. Nak, tolong kita bertemu di restoran Arch Alley, Akhir-akhir ini kamu sulit banget diajak bertemu ini soal calon istri mu. Mama sudah merencanakan semuanya. Pesan dari Mamanya ini tadi membuat dia menjadi emosian bagaimana tidak dia dengan santai Mama nya menjodohkan dia dengan seorang wanita yang tidak dia kenal. Siang ini juga Mamanya mengajak untuk makan siang di luar, sedangkan hatinya ini masih menjadi pemilik sang kekasihnya. "Jihan ?" "Hah iya Pak, kenapa Pak ?" "Kalau ada yang menelpon saya, atau mencari saya tolong kasih tahu mereka saya tidak bisa di ganggu. Kamu atur semuanya sendiri." "Iya Pak." Dia meninggalkan Jihan yang mematung dan menuju ke lift untuk mengambil mobilnya di parkiran. "Kalau dia bukan Bos aku, buugh mungkin udah aku maki-maki tuh Bos seenaknya dia bikin perintah seperti ini. Tapi dia masih sayang dengan pekerjaannya ini dia butuh uang untuk bertahan hidup. Duh, matilah aku harus minta maaf sama mereka yang sudah terlanjur janji sama Bos." Jihan kembali ke kubikelnya dan segera menghubungi klien-kliennya yang merencanakan bertemu Minggu ini. Sepertinya dia akan terlambat lagi makan siang hari ini. "Bos mau saya yang nyetir ?" "Nggak usah saya akan nyetir sendiri hari ini." "Oke Bos." "Iya Ma, ini mau otw ke tempat restoran nya. " ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD