Sekarang Nani, Lia dan Roy, papa Lia sudah berada di ruang tamu. “Jadi, kamu beneran hamil?” tanya Roy, menatap putri satu-satunya itu dengan tatapan tajam. Lia masih menunduk dalam, masih takut untuk berkata jujur.
Roy menghela napas berat ketika tak kunjung mendapatkan jawaban. “Jawab Papa, Lia!”
Lia memejamkan matanya rapat, sebuah kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
“Lia, tolong jujur sama kami,” timpal mama Lia, masih berusaha untuk menahan emosinya.
Perlahan Lia mengangkat kepalanya, menatap mata kedua orangtuanya takut lalu mengangguk pelan sebagai jawaban. Roy sontak mengusap wajahnya kasar, menggertakan giginya, sementara Nani hanya bisa menutup matanya seraya menghela napas berat.
Lia sontak bangkit dari duduknya, bersimpuh di depan kedua orangtuanya. “Pa, Ma. Maafin aku, aku benar-benar minta maaf.” Lia mulai terisak, ia mencoba meraih tangan mamanya namun mamanya reflek menarik tangannya menjauh.
“Maafin aku Ma, Pa.”
“Siapa yang udah hamilin kamu?” tanya Roy dengan tatapan datar, tanpa melirik Lia sedikit pun.
Lia merapatkan bibirnya, ia tidak mungkin mengatakannya karena bila mengatakannya, orangtuanya pasti akan memaksanya untuk menikah dengan pria itu. Pria yang tidak ingin Lia temui lagi di hidupnya.
“Kenapa diam?” tanya Roy setelah beberapa saat ketika tak juga mendapatkan jawaban dari anaknya. Lia masih diam membisu. Lagi-lagi Roy menghela napas kasar. Ia sontak berdiri. “Kalau kamu enggak mau jawab, angkat kaki dari rumah ini sekarang juga.” Lia mendongak, tak percaya papanya akan berbicara seperti itu.
“Pa, jangan bicara seperti itu,” kata Nani yang berusaha untuk menenangkan suaminya.
Tangis Lia pecah, ia memeluk kaki papanya, memohon. “Pa, tolong jangan usir aku. Aku minta maaf.”
“Papa enggak butuh kata maaf Lia! Papa butuh kamu jujur.”
“Lia, tolong jujur nak. Biar kita bisa cari jalan keluarnya juga.”
“A-aku ... Aku dihamili sama Evan Keenan Adisetya, Pa.” akui Lia setelah mendapatkan desakan dari orangtuanya.
Mata Roy seketika terbelalak ketika mendengar nama tersebut. “Evan? Bukannya dia CEO Adisetya properti?” Lia mengangguk.
“Huh! CEO macam apa dia? dia pikir karena dia kaya dan berkuasa bisa seenaknya melakukan ini padamu? Papa enggak terima anak papa diginiin. Papa akan menemui dia besok.”
“Pa, Papa mau ngapain?” Lia menjadi panik.
“Papa akan menemui dia besok untuk meminta pertanggungjawaban dari dia. Kalian berdua harus menikah sebelum anak dalam perutmu lahir.”
Mata Lia membola, sesuatu yang tidak diinginkannya kembali terjadi. “Tapi Pa, aku enggak mau nikah sama dia.”
“Kamu ini bagaimana sih Lia?! terus kamu maunya gimana?! kamu mau melahirkan dan merawat anak kamu sendirian? kamu udah siap nanggung cemoohan tetangga kalau sampai mereka tahu kamu hamil di luar nikah? dan bagaimana dengan masa depan anak di dalam perut kamu? apa kamu enggak kasihan sama dia? tumbuh tanpa sosok seorang papa.”
Lia terdiam, ia mulai merenungkan perkataan papanya. Semua perkataan papanya ada benarnya juga.
“Sudahlah. Papa capek lihat kelakuan kamu. Pokoknya besok Papa tetap temuin laki-laki yang bernama Evan itu.” Roy akhirnya pergi meninggalkan Lia dan istrinya yang sedari tadi diam.
“Lia,” panggil Nani pelan. “Sini duduk sebelah Mama.” Nani menepuk tempat kosong di sebelahnya. Lia segera berdiri kemudian mengambil duduk di sebelah mamanya.
Lia menatap mamanya dengan berlinang air mata. “Ma, aku minta maaf.”
“Udah enggak ada gunanya lagi untuk minta maaf Lia. Jujur Mama shock, kecewa ketika mendengar semua ini. Tapi apa lagi yang mau diperbuat, nasi sudah menjadi bubur. Kamu harus terima segala konsekuensinya.” Lia menunduk dalam, merasa sangat berdosa karena telah membuat orangtuanya sedih dan kecewa.
Sebuah kristal bening akhirnya lolos dari pelupuk mata Nani, pertahanan yang sedari tadi ia buat akhirnya runtuh hingga akhirnya dirinya pergi meninggalkan anaknya yang masih terisak di keheningan malam yang sunyi ini.
***
Keesokan harinya, setelah istirahat makan siang. Roy keluar dari kantor, tempat ia bekerja. Bergegas membawa motornya menuju suatu tempat.
Setibanya di sebuah perusahaan. Ia berdiri, menatap gedung perusahaan yang berdiri megah di hadapannya. Dengan langkah tegas nan pasti ia memasuki perusahaan tersebut kemudian langsung menghadap meja resepsionis.
“Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?”
“Siang. Saya ingin bertemu dengan CEO perusahaan ini, Pak Evan Keenan Adisetya yang terhormat.” Roy menekan kata ‘yang terhormat’.
“Apa Bapak sudah membuat janji sebelumnya?”
“Belum.”
“Kalau boleh tahu Bapak siapa dan ada keperluan apa ya Pak dengan Pak Evan?”
“Saya Papa Lia Putri Callista ingin bertemu dengan Pak Evan untuk membahas tentang Lia. Beritahu saja begitu, dia pasti tahu dengan nama itu dan saya mau bertemu dengannya hari ini juga.”
“Baik. Sebentar ya pak, saya hubungi Pak Evan dulu.” Sang resepsionis lalu menghubungi Evan.
“Halo, selamat siang Pak Evan. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Bapak?”
“Siapa? Tapi saya sedang di luar, mungkin sore baru kembali ke perusahaan.”
“Beliau adalah Papa Lia Putri Callista Pak, katanya ingin membahas tentang Lia dengan Bapak.”
“Apa?! Papa Lia?”
“Benar Pak. Beliau bilang ingin bertemu dengan bapak hari ini juga.”
“Tolong bilang kepadanya kalau saya ada urusan sampai sore di luar. Kalau berkenan, datang langsung ke rumah saja nanti malam. Berikan saja alamat saya kepada beliau.”
“Baik Pak. Selamat siang.”
Roy menatap serius si resepsionis setelah sambungan terputus. “Hari ini Pak Evan ada urusan di luar sampai sore Pak. Bapak bisa datang langsung ke rumahnya nanti malam. Jika bapak mau, saya akan memberikan alamatnya.”
“Ya udah Mbak saya minta alamatnya saja.” Wanita itu mengangguk lalu tak lama kemudian memberikan secarik kertas yang berisi alamat rumah bosnya. “Ini Pak,”
“Terima kasih.”
“Sama-sama Pak.”
***
Malamnya
Ting! Ceklek!
“Malam Bu, apa benar ini rumahnya Evan Keenan Adisetya?” tanya Roy kepada seorang perempuan yang mengenakan pakaian hitam putih khas maid.
“Iya betul. Ini keluarga Lia ya Pak?”
“Iya Bu.”
“Ohh ... Bapak dan keluarga sudah ditunggu di ruang tamu. Silahkan masuk,” asisten rumah tangga itu mempersilahkan keluarga Lia masuk lalu menuntun mereka menuju ruang tamu.
Sementara itu Evan dan mamanya yang sudah keluar dari rumah sakit telah menunggu di ruang tamu.
“Pak Evan, Keluarga Lia sudah datang.”
“Terima kasih Bi,” asisten rumah tangga yang disebut Bibi itu mengangguk lalu meninggalkan mereka.
“Silakan duduk,” Evan mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa depannya.
“Sebelumnya saya mau minta maaf karena siang tadi saya ada urusan jadi saya tidak bisa menemui Bapak langsung.” Roy hanya menarik sedikit ujung bibirnya, merasa kurang senang.
“Ehem.” Semua pasang mata sontak menaruh atensi ke arah sumber suara. Mama Evan yang berdehem. “Sepertinya enggak perlu basa-basi ya, ada perlu apa ya ke sini?”
Roy tersenyum, namun tersenyum yang seperti dipaksakan. “Kami juga enggak akan lama-lama kok di sini. Saya cuma mau minta pertanggungjawaban dari anak Ibu saja.”
Mia, mama Evan sontak mengerutkan dahinya, sedangkan Evan sontak melirik Lia yang tiba-tiba menunduk. “Tanggung jawab? Tanggung jawab apa maksudnya ya?” Mia melirik anaknya.
“Oh, jadi Ibu belum tahu? anak Ibu ini sudah menghamili anak saya.”
Mata sang pemilik rumah terbelalak kaget, keduanya terkejut mendengar fakta tersebut. “Apa?! Enggak mungkin. Anak saya enggak mungkin seperti itu.” Mia melirik Evan di sebelahnya. “Benar ‘kan Evan? Kamu enggak mungkin begitu ‘kan Nak?” tanya Mia, namun Evan hanya diam.
“Memangnya apa bukti anak saya yang menghamili anak anda?” tanya Mia ketika tidak mendapat jawaban dari anaknya.
Roy menatap Evan. “Evan, seharusnya kamu enggak kaget ‘kan dengar berita ini? Ingat-ingat apa yang kamu lakukan dengan Lia sebelumnya. Jangan kamu pura-pura lupa.” Evan terdiam, membasahi bibirnya gugup.
“Evan? Kamu—“
“Maafkan aku Ma,”
Mia sontak menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa sesak hingga membuatnya sulit bernapas.
“Ma, Mama kenapa?” semua orang ikut panik termasuk beberapa asisten rumah tangga yang ikut menghampiri. “Tolong! tolong hubungi Dokter Renaldi.” perintah Evan lalu membawa mamanya ke kamar meninggalkan keluarga Lia.
“Pa, bagaimana itu mamanya Evan?” bisik Nani pada suaminya.
“Papa enggak tahu Ma, Padahal Papa enggak ada maksud apa-apa. Papa cuma mau Evan bertanggungjawab.”
“Semoga mamanya Evan enggak apa-apa ya Pa,”
“Aamiin ....”
Tak berapa lama kemudian, Evan kembali menemui keluarga Lia. “Maaf, saya—“
“Kamu urusin saja Mama kamu dulu. Tapi, besok saya mau kamu kasih keputusan mengenai masalah ini. Saya harap kamu bersedia bertanggungjawab. Berani berbuat, berani bertanggungjawab.” Evan hanya mengangguk.
“Ya sudah kalau begitu, kami pamit pulang. Jujur saya enggak ada maksud apa-apa, saya minta maaf kalau sudah membuat kekacauan. Saya hanya ingin kamu tanggung jawab.”
Evan kembali mengangguk. “Saya juga minta maaf Pak, Bu.”
Lia sontak memalingkan wajahnya ketika tak sengaja bertemu pandang dengan Evan sebelum akhirnya mengikuti orangtuanya keluar dari rumah Evan yang besar nan mewah itu.
‘Ternyata dugaanku benar. Dia hamil anakku.’ batin Evan seraya menatap punggung Lia yang semakin menjauh.
TBC