Bab 3 - Malam Itu

1058 Words
Setelah sampai di rumah, Lia masuk ke kamar dan menguncinya. Ia terduduk lemas dibalik pintu, menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya. “Aku enggak mau nikah dengannya. Aku enggak mau.” Ia mengacak rambutnya frustasi, rasanya ingin teriak sekencang mungkin namun sangat sulit seperti ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya. Perlahan ia mengangkat kepalanya, menatap ke depan dengan tatapan kosong. Matanya merah dan pipinya basah karena air mata. “Aku sangat menyesal. Kalau saja malam itu aku enggak mabuk, semua ini enggak akan terjadi.” Lia menyesali perbuatan bodohnya beberapa bulan yang lalu. Flashback Lia terlihat berdiri di depan sebuah bar ternama dengan berurai air mata. Ia tampak ragu memasuki tempat yang seumur hidupnya belum pernah ia kunjungi, namun akibat stres setelah putus dari pacar yang sangat ia cintai, ia nekat masuk ke dalam tempat itu berniat untuk menghilangkan stres yang sebenarnya bisa saja malah memicu masalah baru. Ia menghapus air matanya kasar, melangkahkan kakinya dengan berani memasuki tempat tersebut. Saat berada di dalam, ia bisa mendengar musik dj yang keras memenuhi ruangan, lampu kelap-kelip dan juga aroma alkohol yang menguar hingga menusuk indra penciumannya. Ia juga dapat melihat orang-orang menari dengan penuh gairah dan intim, bahkan ada yang beradu ciuman panas tanpa memperdulikan sekitar seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua. Dengan ragu ia mengambil duduk di kursi konter bar, diam-diam memperhatikan orang-orang di sampingnya yang meneguk cairan berwarna merah, kuning bening atau putih itu hingga bergelas-gelas. Sedetik kemudian, ia mengalihkan atensinya pada seorang bartender yang berbadan besar, berambut undercut dan memiliki brewok. Pria itu terlihat lihai meracik minuman untuk pelanggan-pelanggannya. Tanpa Lia duga, pria itu meliriknya hingga membuat Lia sontak mengalihkan pandangannya, malu. “Mau pesan apa nona?” Lia sontak kembali menatap pria itu yang kini sedang menatapnya juga dengan sebelah alis dinaikkan. “Hah?” Lia tiba-tiba ngeblank. “Mau pesan apa?” ulang sang bartender. Lia tampak berpikir, ia tidak terlalu tahu nama-nama minuman disini. “Hmm ... red wine?” dia sedikit ragu untuk mengatakannya. Ia mengetahui nama minuman itu dari drama yang pernah ia tonton. “Okey.” Dengan cekatan bartender itu menuangkan anggur merah dari botol ke dalam gelas kemudian memberikannya pada Lia. “Silahkan nona manis.” Bartender itu tersenyum miring atau lebih tepatnya disebut smirk. Lia memperhatikan cairan merah tua itu, cairan memabukkan yang belum pernah ia cicipi sebelumnya. Dengan keberanian tinggi, ia meneguk minuman yang ia pesan tersebut sedikit demi sedikit. Ia mencap lidahnya berkali-kali, seperti ada rasa asam, sedikit manis dan juga sepat yang terasa di minuman tersebut, karena penasaran ia mencoba meneguk kembali minumannya. ‘Enggak buruk juga,’ batinnya sembari menatap minuman yang hampir habis tersebut lalu kembali meneguknya hingga habis. “Aku mau tambah!” pinta Lia dengan wajah yang mulai memerah dan memanas, tapi entah kenapa minuman itu membuatnya ketagihan, padahal ia baru pertama kali mencicipinya, apakah karena faktor stres membuat minuman yang sekalipun tidak enak itu menjadi enak? Sang bartender menyunggingkan smirknya. “Tentu saja boleh nona manis,” ujarnya seraya menambahkan minuman beralkohol itu ke dalam gelas Lia. Setelah meneguk habis gelas keduanya, Lia memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Ia bangkit dari duduknya, melangkah dengan sempoyong memasuki lautan manusia yang asik bergoyang. Ia menyunggingkan senyum lebarnya dengan mata yang setengah terbuka kemudian mulai ikut menari random mengikuti irama musik seperti orang yang lagi bahagia, ke sana kemari sampai tak sengaja menabrak seorang pria. “Eh, maaf-maaf,” kata Lia seraya menundukkan kepalanya. Pria berbadan tinggi besar itu hanya diam, manik matanya sibuk menelusuri lekuk tubuh Lia dengan pandangan nakal. Tanpa izin, tangan besarnya menarik pinggang Lia hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa cm saja. Lia sontak mendongak, menatap pria yang lebih tinggi darinya itu kini tengah mendekatkan wajahnya padanya sampai akhirnya seorang wanita yang entah datang dari mana menarik lengan si pria, “Jangan mencoba selingkuh dariku ya!” lalu menariknya pergi. Lia menyentuh dahinya setelah sepasang kekasih itu pergi menjauh. Kepalanya terasa berat dan perutnya juga mual. Ia mulai melangkah menerobos orang-orang yang menari, berniat mencari kamar mandi. Saat melihat ada tangga yang menghubungkan ke lantai 2, ia segera naik dengan berpegang pada pegangan tangga. *** Sementara itu seorang pria yang terlihat hanya mengenakan baju kimono mandi putih, terlihat sedang duduk di tepi ranjang sebuah kamar sembari memainkan ponselnya. Jari-jarinya terlihat sibuk menari-nari di atas layar ponselnya, membalas pesan seseorang. Namun, tiba-tiba ia mengalihkan atensinya ketika suara pintu kamar terbuka. Ia sepertinya lupa mengunci pintu tadi, ia pun meletakkan ponselnya ke nakas lalu menghampiri seorang wanita yang baru saja masuk dengan sempoyong. “Aldi,” Lia, wanita itu tiba-tiba menangkup wajah pria di hadapannya yang sedang mengangkat sebelah alisnya dengan dahi yang mengkerut. “Kenapa kamu selingkuh Aldi? padahal aku sangat mencintaimu.” “Lia, kamu mabuk?” tanya pria itu. Pria itu sepertinya mengenali wanita yang salah masuk kamar itu. “Aku tidak mabuk, aku sayang banget sama kamu.” Lia sontak mengalungkan tangannya ke leher pria itu, “Jangan tinggalin aku ya.” Lia berbicara dengan nada memelas seraya menatap pria yang ia anggap mantan pacarnya itu dengan mata sayu dan bibir maju ke depan hendak mencium. ‘Apa dia baru pertama kali mabuk? atau dia banyak minum? bagaimana bisa dia tidak mengenali orang?’ “Sayang, kenapa kamu diam saja?” tanya Lia. Pria itu masih diam dan hanya mengedip-ngedipkan matanya, entah kenapa ia merasa gugup. Merasa diabaikan Lia berjinjit, melakukan sesuatu yang membuat pria di hadapannya sukses membulatkan matanya. Benda kenyal kemerahan itu menempel sempurna dengan miliknya Deg! Jantung pria itu berdegup kencang ketika Lia mulai menggerakkan bibirnya, memaksa pria itu untuk membuka mulutnya. Lia menikmatinya sambil terus bergerak maju hingga mereka berdua jatuh ke atas ranjang. Merasa tidak ada balasan dari lawan, Lia merasa tidak puas. Ia seperti menikmatinya sendiri, ia pun mengarahkan tangannya menuju sesuatu yang tegang di bawah sana, mencengkeramnya pelan hingga membuat pria itu mengerang tertahan. Pertahanan pria itu akhirnya runtuh dan akhirnya membalikkan keadaan hingga kini wanita itu berada dalam kukungannya. “Maafkan aku Lia, aku sudah tidak tahan lagi. Kamu yang memulainya,” Malam panjang dengan hawa panas yang dibuat oleh sepasang insan yang tidak terikat hubungan apa pun itu akhirnya berakhir saat keduanya kelelahan dan akhirnya tertidur dalam posisi berpelukan. Paginya, Evan, pria itu membuka matanya kemudian melihat ke sekeliling. Dahinya mengernyit ketika tidak menemukan seseorang sedang bersamanya. ‘Ke mana Lia pergi? Apa semalam aku hanya bermimpi?’ Flashback end TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD