Bab 4 - Pernikahan

1233 Words
Hari demi hari berganti, Minggu demi Minggu berganti, kedua belah pihak akhirnya menyetujui untuk menikahkan Evan dan Lia setelah melewati proses yang panjang walaupun nyatanya Ibu Evan masih belum bisa menerima fakta tersebut. Pernikahan keduanya akhirnya akan dilaksanakan hari ini. Hari ini di sebuah masjid di Jakarta, tempat dilangsungkannya akad nikah Evan dan Lia. Kedua belah pihak sepakat untuk melaksanakan pernikahan secara kecil-kecilan dan tertutup. Mereka hanya mengundang beberapa kerabat dekat saja sesuai permintaan Ibu Evan dan semuanya menyetujui sebab yang ada di pikiran orangtua Lia saat ini hanya ingin anaknya cepat mendapatkan pertanggungjawaban. Ibu Evan juga meminta tidak ada pesta atau resepsi pernikahan setelah akad. “Baiklah ananda Evan, apakah kamu sudah siap?” tanya Roy Fuadi, sang Ayah dari Lia Putri Callista yang berada di hadapannya. Evan mengangguk mantap, “Saya siap Pak.” Roy selaku ayah dari Lia, mempelai wanita itu sendiri yang akan turun tangan untuk menikahkan anak semata wayangnya itu. Lia sontak melirik Evan yang duduk di sebelahnya ketika Evan menjawab dengan lantang seperti tidak ada keraguan dari perkataan maupun sorot matanya. ‘Apakah dia serius dengan pernikahan ini?’ begitulah kira-kira isi pikiran Lia saat ini. Semua pasang mata spontan menaruh atensi ketika ijab qabul akan dimulai. “Baiklah ananda Evan, tolong jabat tangan saya.” Evan melakukan instruksi yang diperintahkan Ayah Lia. “Pelan-pelan saja, jangan gugup," ucap Roy namun itu malah membuat Evan sedikit gugup ketika Roy mengatakan kata-kata tersebut tapi dengan tatapan tajam. “Ananda Evan Keenan Adisetya bin Almarhum Santo Adisetya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya Lia Putri Callista dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan emas 5 gram tunai.” “Saya terima nikah dan kawinnya Lia Putri Callista binti Roy Fuadi dengan mas kawinnya yang tersebut tunai.” ucap Evan dengan lantang dalam satu tarikan napas. Lia sontak menunduk. “Bagaimana? Sah?” “Sah!” “Alhamdulillah.” Semua orang akhirnya mengucap syukur kecuali Ibu Evan yang hanya diam dan malah memalingkan wajah, seperti tidak tertarik dengan acara akad nikah anaknya sendiri. Semua orang pun memanjatkan doa pada Allah SWT sebagai rasa syukur mereka atas kelancaran acara hari ini. Setelah itu Evan melayangkan kecupan singkat di dahi Lia, dan Lia mencium tangan Evan walaupun sedikit ragu pada awalnya namun sesuai perintah dari ayahnya, keduanya mau melakukannya di depan semua orang sekaligus menandakan bila mereka sudah sah sebagai pasangan suami istri. *** Acara tidak berlangsung lama, setelah acara selesai, tepatnya malam hari Lia berpamitan dengan kedua orangtuanya, Lia akhirnya akan tinggal di rumah Evan. Kini mereka sedang berada di perjalanan menuju rumah Evan. Sejak berpamitan dengan Orangtuanya, Lia tiba-tiba diam seribu bahasa. Evan sesekali melirik Lia yang duduk di sebelahnya. Rasa bersalah kembali datang ketika melihat wajah Lia yang tidak menunjukkan keceriaan sedikit pun. Bagaimanapun juga ia salah atas perbuatannya dan ia menyesalinya. “Aku tau mungkin pertanyaanku ini bodoh tapi apa kamu baik-baik saja?” Evan akhirnya mengeluarkan suaranya. Lia melirik Evan sejenak lalu kembali menunduk, enggan untuk menjawab. “Aku menyesali perbuatanku. Aku minta maaf.” Lia kembali melirik Evan, mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya berbicara, “Aku juga menyesali perbuatanku. Aku sangat menyesal. Kalau saja aku tidak mabuk hari itu, semua ini tidak akan terjadi.” “Aku mengerti. Susah memang menerima kenyataan pahit tapi hidup harus terus berjalan. Walaupun kamu belum menerimaku tapi aku sudah menerimamu di hidupku.” Keduanya bertemu pandang sejenak sebelum akhirnya Lia memutus kontak, membasahi bibirnya gugup, enggan untuk membalas. Terlintas kebingungan di pikiran Lia ketika mendengar perkataan dari Evan namun ia enggan untuk menyuarakannya. Sesampainya di kediaman Evan. Seorang ART membukakan pintu. “Mama mana Bi?” tanya Evan. “Nyonya sudah tidur Tuan,” Evan mengangguk paham. “Kamar udah dibersihkan?” “Sudah Tuan,” “Oke. Makasih Bi,” Evan lalu menggapai pergelangan tangan Lia hingga membuat si empu tersentak. “Ayo, ikut aku.” Lia hanya mengangguk mengikuti Evan. Setelah tiba di depan kamar dengan pintu kamar berwarna coklat, Lia menarik tangannya dari genggaman Evan, membuat Evan sontak menoleh. “Hmm kita tidur berdua?” tanya Lia. “Iya. Bukannya kita udah sah? Jadi enggak masalah ‘kan?” Lia tidak menjawab, ia tampak berpikir. “Tenang aja, aku enggak akan apa-apain kamu. Kamu ‘kan juga lagi hamil.” ujar Evan lagi seperti tahu isi pikiran Lia. “Enggak bukan gitu. Aku hanya belum terbiasa." “Iya, aku ngerti kok.” Evan tersenyum kecil lalu mereka memasuki kamar atau tepatnya kamar Evan. *** Keesokan paginya, Lia bangun pagi seperti biasa. Ia sudah bersiap untuk pergi kerja namun sebelumnya dia sudah membuatkan sarapan khusus untuk Evan dan mamanya hitung-hitung untuk mengambil hati mama Evan yang sepertinya belum menerima kehadirannya di dalam keluarga Adisetya. Sebenarnya Lia tidak perlu repot-repot masak sebab di rumah Evan terdapat 3 pembantu yang mempunyai tugas masing-masing salah satunya memasak untuk keluarga. “Kenapa kamu yang masak? ‘kan ada bibi Siti. Kamu enggak perlu repot-repot,” tutur Evan ketika mendapati Lia, istrinya sedang sibuk menghidangkan makanan ke atas meja. Evan mengambil duduk di kursi utama. “Oh enggak apa-apa. Lagipula ini juga tugasku sebagai istri. Aku ingin membuat makanan spesial untuk Mama.” Evan mengangguk paham dengan mata yang melirik ke makanan yang berada di atas meja. Tak lama kemudian mama Evan datang. “Pagi Tan— Eh, Mama maksudnya.” Mia, Mama Evan hanya mengangguk lalu duduk di kursinya. Evan yang berada di tengah melirik keduanya bergantian dengan tatapan khawatir. “Ini semua kamu yang masak?” tanya Mia. “Iya Ma, spesial untuk Mama.” jawab Lia sambil membasahi bibirnya. “Bagus untuk dimakan ‘kan ini? udah kamu coba?” “Ma,” timpal Evan. Evan merasa pertanyaan seperti itu tidak perlu dipertanyakan. “Kenapa Evan? Mama cuma nanya kok. Ya, mungkin aja nasi gorengnya keasinan atau terlalu pedas. Kamu ‘kan tau Mama enggak bisa makan pedas makanya mama tanya gitu.” Lia sontak menelan ludahnya, matanya mulai berkaca-kaca, sakit mendengar pertanyaan dari mama mertuanya itu namun ia mencoba untuk tetap tersenyum. “InshaAllah enak kok Ma. Aku udah cobain tadi. Setiap masak aku selalu cobain masakannya dan ini nasi gorengnya enggak pedas kok jadi enggak perlu khawatir.” “Ohh. Ya udah kalau gitu,” Mia akhirnya mencicipi makanan yang dibuat Lia. “Gimana Ma?" tanya Evan mewakilkan Lia. “Ya lumayan lah. Enggak buruk-buruk banget.” Lia menjadi tak selera makan setelah mendengar kata-kata frontal yang keluar dari mulut mertuanya itu. Setelah sarapan, Lia dan Evan kembali ke kamar bersiap-siap untuk pergi kerja. “Kata-kata Mama tadi jangan dimasukin ke hati ya, Mama memang begitu orangnya,” celetuk Evan yang tampak sedang memakai jasnya. “Apa Mamamu enggak mau nerima aku?” “Kok kamu ngomong gitu. Bukan enggak mau, mungkin belum.” Lia mengangguk, ia malas melanjutkan pembahasan tentang mama Evan. “Kamu pergi kerja biasanya naik apa?” Evan membuka topik pembicaraan baru. “Naik ojek soalnya motor di rumah biasanya dibawa Papa.” “Ya udah mulai sekarang aku yang antarin kamu.” “Enggak usah repot-repot.” “Enggak apa-apa. Aku ini suami kamu, udah kewajibanku untuk mengantar kamu kemana pun.” “Kamu lagi enggak merencanakan sesuatu yang buruk untukku ‘kan?” tanya Lia to the point. “Apa maksudmu? Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” “Kenapa sekarang kamu baik padaku? apa kamu enggak ingat apa yang telah kamu lakukan padaku saat SD dulu?” TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD