“Kamu masih ingat dengan kejadian itu?”
“Bagaimana bisa aku lupa! Kamu bersenang-senang dengan temanmu untuk mengolok-olok aku. Kamu mengatakan aku jelek, gendut, dekil bahkan kamu juga pernah mendorongku hingga lututku luka dan meninggalkan bekas. Kamu selalu menggangguku, kamu sangat menyebalkan asal kamu tahu!” Lia mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini dipendamnya.
“Maaf aku enggak tau kalau kamu masih dendam sama aku. Aku minta maaf, aku menyesal. Tapi aku bersumpah kalau aku enggak ada niatan buruk padamu. Aku hanya ingin bertanggungjawab atas perbuatan yang telah aku lakukan.”
“Sudahlah enggak usah dibahas. Aku pergi kerja sendiri aja, makasih atas tawarannya.” Evan menatap sendu pintu kamar yang baru saja tertutup itu. Sebuah helaan napas kasar keluar dari bibirnya.
“Ma, aku pamit pergi kerja ya,” ucap Lia saat melewati Mia yang sedang duduk bersantai di ruang tamu.
“Hm,” Mia hanya menjawab dengan deheman. Setelah mencium tangan Mia dan mengucap salam, Lia bergegas keluar rumah dan tak lama kemudian Evan datang.
“Lia mana Ma?” tanya Evan.
“Barusan pergi.” jawab Mia, “Eh, kamu mau ke mana Van?” tanya Mia ketika melihat Evan hendak mengejar Lia, membuat Evan menghentikan langkahnya.
“Mau kejar Lia, Ma.”
“Ngapain dikejar? paling dia udah berangkat ke tempat kerjanya.”
“Tapi aku harus mengantarkan dia Ma.”
“Enggak perlu. Dia ‘kan udah dewasa, dia bisa mandiri.” Mia menutup majalah yang dibacanya lalu menatap anaknya serius. “Mama heran deh sama istri kamu itu. Padahal dia udah jadi istri CEO, jadi istri orang kaya masa enggak malu kerjanya cuma jadi kasir minimarket. Minimal cari kerjaan baru gitu loh biar sepadan.”
“Mah. Mama kok ngomongnya gitu? Kalau Lia denger pasti dia bakal sedih.”
“Biarin aja, biar dia tahu diri. Dia hamil juga bukan salah kamu doang tapi salah dia juga enggak bisa jaga diri dengan baik jadi kamu enggak harus—“
“Udah Ma, cukup.” Evan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak sanggup mendengar celotehan mamanya lebih lama lagi, “Aku berangkat kerja dulu, assalamualaikum!”
“Waalaikumussalam.”
"Dikasih tau, kok malah gitu responnya," gumam Mia seraya melirik punggung anaknya yang semakin menjauh.
***
Sementara itu di perusahaan Adisetya Property Tbk. Perusahaan peninggalan almarhum papa Evan. Tepatnya di lobi perusahaan terlihat seorang wanita berwajah kecil dengan mata besar dan bibir merah merona sedang berbincang-bincang dengan resepsionis.
“Eh, kamu udah dengar engga sih kabar kalau Pak Evan udah nikah baru-baru ini?”
Sang resepsionis memajukan tubuhnya, merasa tertarik dengan topik pembicaraan. “Hah, emang bener? kok kayak enggak rame gitu beritanya? padahal yang nikah Pak CEO loh.”
“Kabarnya sih nikah diam-diam gitu, enggak banyak yang tau. Kayak masih di rahasiakan gitu.” Riska, si resepsionis mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengar gosip dari Kayla, sekretaris Evan Keenan Adisetya.
“Lagi ngomongin apa sih? kayaknya seru banget.” Kayla sontak menjauh beberapa cm dari pria yang sudah berdiri di sebelahnya itu lalu menggigit bibirnya gugup. “Eh, Pak Evan. Selamat pagi Pak.”
“Selamat pagi Pak.” timpal Riska tak kalah gugup.
“Jangan kebanyakan gosip kalau lagi kerja,” tegur Evan seraya melirik keduanya bergantian dengan tatapan tajam lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Kayla menghela napas lega. “Huhh untung saja enggak kena amuk. Aku pergi dulu ya Ris,” Riska hanya mengangguk. Kayla pun mengejar Evan untuk mengingatkan jadwalnya hari ini.
“Pagi Pak. Mau mengingatkan kalau 30 menit lagi bapak akan ada meeting dengan klien dari Forest company di ruang meeting.”
“Iya, siapkan saja semuanya. Sebentar lagi saya akan ke sana.”
“Baik Pak. Saya permisi,”
Setelah menyiapkan semua perlengkapan, Evan pergi menuju ruang meeting.
Setelah perwakilan dari forest company datang, meeting pun di mulai. Terlihat dua orang pria dewasa perwakilan dari forest company, Evan, Kayla dan Eri, seorang manajer proyek telah berkumpul di sana.
“Selamat datang di Adisetya property. Perkenalkan saya Evan Keenan Adisetya selaku pimpinan perusahaan ini.”
“Perkenalkan saya Rudi bersama dengan Tio perwakilan dari Forest company.” Mereka saling berjabat tangan dan menyapa.
“Silakan duduk Pak Rudi, Pak Tio.”
“Terima kasih Pak Evan.”
“Kami sangat senang dapat kunjungan dari forest company dan kami selalu terbuka untuk melakukan kerja sama dengan siapa pun.”
“Kami juga senang akhirnya bisa berkunjung ke sini dan alangkah senangnya lagi kalau perusahaan kami bisa bekerja sama dengan perusahaan bapak.” Evan tersenyum seraya mengangguk pelan. “Jadi begini Pak, perusahaan kami memiliki lahan kosong namun kami kekurangan modal untuk mengelolanya maka dari itu kami datang ke sini berencana menjalin kerja sama dengan perusahaan Pak Evan untuk mengelola lahan kosong tersebut bersama.” jelas Rudi seraya menyerahkan berkas yang berisi penjelasan mengenai lahan kosong yang dimaksud.
“Baiklah. Sebelumnya saya mau memberikan penjelasan mengenai syarat dan ketentuan serta keuntungan bila menjalin kerja sama dengan kami.” Evan melirik Eri yang sudah siap dengan laptopnya. “Silakan Pak Eri,”
Eri lalu mempresentasikan semua yang berhubungan dengan perusahaan dan syarat dan ketentuan kerja sama serta keuntungan yang didapat bila melakukan kerja sama agar calon klien makin tertarik untuk berkerja sama.
“Dan ini untuk kontraknya. Boleh dibaca dulu Pak Rudi, Pak Tio.” Evan memberikan berkas kontrak kerja sama setelah Eri selesai menjelaskan.
Setelah diskusi panjang, Pak Rudi dan Pak Tio akhirnya menyetujui. “Baiklah, kami setuju.”
“Terima kasih. Senang berbisnis dengan anda.” Evan menjabat tangan rekan bisnisnya dengan senyum cerah.
***
Sore ini, setelah shiftnya berakhir Lia pulang ke rumah. Sebenarnya ia malas pulang cepat-cepat ke rumah pasalnya ia malas bertemu dengan mertuanya yang tidak ramah dengannya itu.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikumussalam!” seorang ART membukakan pintu. “Eh, non Lia udah pulang?”
“Iya Bi,”
“Non sudah makan siang?”
“Sudah kok Bi. Hmm Mama mana Bi?” Lia memperhatikan sekitar rumah yang sunyi, tak ada tanda-tanda Mama Evan di sana.
“Nyonya masih tidur siang non.”
“Ohh ya udah kalau gitu aku ke kamar dulu ya Bi,” Bi Siti, ART tersebut mengangguk lalu mengunci pintu.
Saat melangkah menuju kamarnya, Lia tak sengaja berpapasan dengan Mama Evan yang sepertinya sudah bangun.
“Eh, Mama.” Lia dengan cepat menyalim tangan Mia.
“Kok udah pulang?” tanya Mia acuh tak acuh.
“Shift Lia cuma sampe jam 3 sore aja Ma. Kalau masuknya pagi, pulangnya jam 3 sore,” jawab Lia dengan senyum kecil menghiasi wajahnya.
“Ohh ....” respon Mia dingin lalu melengos pergi meninggalkan Lia yang memasang wajah sedihnya.
TBC