Bab 10 - Kue Lapis Spesial

1135 Words
Sore ini, setelah pulang kerja, Lia langsung pergi ke dapur yang sedang kosong, mengeluarkan semua bahan-bahan untuk membuat kue lapis yang dibelinya di tempatnya bekerja. Ia ingin membuat kue lapis spesial untuk mama mertuanya, seperti kata suaminya yang mengatakan kalau mertuanya itu sangat menyukai kue lapis. Ia berharap dengan perhatian dan usaha yang dia lakukan ini akan membuahkan hasil. Dengan pengetahuan yang didapatnya setelah menonton video membuat kue lapis dari youtube, ia memberanikan diri untuk membuatnya sendiri. Pertama, ia mengambil wadah lalu menuangkan tepung beras, tepung tapioka, gula, garam, vanili dan air kapur sirih. Setelah itu ia mengaduknya hingga menjadi adonan yang licin dan tidak bergerindil. Sementara Lia bersemangat membuat kue, Mia datang ke dapur. Ia diam-diam memperhatikan Lia sampai akhirnya berdiri di sebelahnya. “Lagi ngapain kamu?” “Eh, Ma. Aku lagi coba-coba buat kue nih. Tadi, lihat resepnya dari youtube, kayaknya enak jadi langsung aku praktekkin. Mama mau ngapain?” “Mama mau minum air hangat,” jawab Mia seraya mengambil panci yang tergantung. “Aku aja yang masakin airnya Ma. Mama tunggu aja di depan.” “Enggak usah, biar mama aja.” Mia meletakkan panci ke atas kompor lalu mengisinya dengan air. “Nanti kalau udah mendidih, matiin. Mama mau ke depan dulu.” “Oh iya Ma,” sudut bibir Lia sontak turun, mertuanya masih saja bersikap acuh padanya. Namun, ia tak mau ambil pusing lalu kembali membuat kuenya. Tak berapa lama kemudian, Mia kembali ke dapur. “Airnya udah masak?” “Udah barusan Ma,” jawab Lia. Mia lalu mengambil gelas, hendak menuangkan sedikit air panas ke dalam gelas. Ia melirik Lia di sebelahnya yang tengah memanaskan kukusan. Entah ide jahat yang datang dari mana, Mia sengaja mengangkat panci yang berisi air panas, melirik tangan putih Lia lalu, “Mama!” Evan yang baru datang, memanggil mamanya hingga membuat Mia tersentak dan sontak mengurungkan niatnya untuk mencelakai Lia. Ia tadinya ingin pura-pura terpletok agar panci yang berisi air panas dipegangnya tumpah mengenai tangan Lia. “Mama lagi ngapain?” tanya Evan seraya melirik panci yang dipegang mamanya. “Mama mau minum air hangat ini. Kamu kok udah pulang?” “Aku lagi pengen cepat pulang aja. Kerjaanku juga udah selesai hari ini.” “Ohh ....” Mia menuangkan sedikit air panas tersebut ke gelas lalu menambahkannya dengan air biasa agar tidak terlalu panas. “Ma, aku pengen ngomong berdua sama Mama,” “Ya udah ayo ke depan.” Mia mendahului Evan menuju ruang tamu dengan langkah santai. Evan kemudian mengikutinya sementara Lia menatap mereka dengan dahi yang mengernyit. “Ma, aku mau ngobrolnya di kamar aja,” “Kamu emangnya mau ngobrolin apa sih Evan?” Evan tak menjawab, ia meraih pergelangan tangan mamanya lalu membawanya ke kamar mamanya. “Mama tadi mau ngapain? Mama mau coba mencelakai Lia?” “Kamu ngomong apa sih? pulang-pulang malah nuduh mama sembarangan.” “Aku liat sendiri gerak-gerik Mama. Kalau aku enggak datang, pasti mama udah lakuin niat jahat mama itu ‘kan? Mama kok sekarang gini. Mama yang aku kenal enggak pernah ada niat jahat untuk mencelakai orang lain.” “Apa-apaan kamu Evan?! kamu sekarang mau jadi anak durhaka huh?!” Mata Mia melotot dengan alis yang menukik menandakan emosi yang membuncah. “Aku bukan mau jadi anak durhaka Ma. Aku cuma heran kenapa Mama sbegitunya sama Lia padahal Lia enggak pernah jahat sama Mama. Dia selalu berusaha untuk membuat Mama bisa menerima dia. Hari ini dia belain bikin kue lapis kesukaan Mama setelah pulang kerja padahal aku tau pasti dia capek tapi Mama malah mau mencelakai dia? aku enggak habis pikir sama Mama.” Mia terdiam, tatapan matanya mulai turun, tidak berapi-api seperti tadi. “Aku udah sangat merasa bersalah karena pernah membulinya saat SD dulu ditambah aku juga yang merenggut keperawanannya, tolong jangan tambah membuatnya sedih, aku mohon Ma.” Mia hanya diam, menghela napas pelan, matanya berkedip-kedip. “Aku harap Mama mengerti maksudku,” ucap Evan akhirnya sebelum keluar dari kamar. Evan kembali ke dapur untuk menemui istrinya. “Udah selesai masaknya?” “Belum. Sebentar lagi.” Lia terlihat sedang sibuk menuangkan adonan untuk lapisan terakhir ke dalam kukusan namun reflek, ia menoleh ketika suaminya menyeka keringat di dahinya dengan tisu. Mereka berpandangan selama beberapa detik sampai akhirnya Lia mengambil alih tisu yang Evan pegang. “Aku bisa sendiri.” “Iya tadi aku liat kamu berkeringat banget.” “Iya emang panas banget kalau lama di depan kompor gini.” “Ada yang perlu aku bantu?” tanya Evan mencoba menawarkan bantuan. “Enggak. Ini udah mau selesai kok. Kamu duduk di depan aja sama Mama nanti aku bawain kuenya.” “Ya udah kalau gitu.” Setelah kue matang, Lia membawanya ke depan bersama dua gelas es teh. Tampak Mia dan Evan sudah menunggu di ruang tamu. “Ini kue lapisnya udah jadi. Maaf ya kalau enggak enak, aku baru belajar membuatnya.” “Wah, kelihatannya enak. Aku coba ya.” Lia mengangguk. Evan mengambil sepotong kue lapis buatan istrinya itu lalu mencicipinya. “Emm enak banget. Ini serius kamu baru pertama kali buat? kok udah seenak ini.” Lia reflek menyunggingkan senyumnya, suaminya terlalu berlebihan memujinya. “Ma cobain deh, enak kok. Ini ‘kan kue kesukaan Mama.” Evan menawarkan pada Mamanya. Mia yang sedari tadi hanya memperhatikan akhirnya ikut mencicipi. Lia menunggu dengan cemas, serasa seperti sedang mengikuti acara lomba memasak dan makanannya sedang dicicipi oleh chef terkenal. “Enak. Ini kamu belajar buatnya dari mana?” Lia akhirnya bisa bernapas lega, "Mama suka?" Mia mengangguk, ia tidak bisa bohong karena kue lapis buatan Lia emang enak adanya. “Alhamdulillah kalau Mama suka. Aku belajarnya dari youtube Ma. Kalau Mama mau nanti kapan-kapan aku bikin lagi.” Mia mengangguk seraya mengambil potongan kedua, sepertinya ia memang benar-benar menyukai kue buatan menantunya itu. “Nanti kapan-kapan Mama minta ajarin ya,” “Oh iya boleh-boleh Ma. Boleh banget.” Lia dan Evan saling memandang dengan senyum cerah yang terukir di wajah mereka. Semoga ini menjadi pertanda yang baik untuk hubungan mertua dan menantu tersebut. *** “Besok Mama sama Papaku mau ke rumah.” kata Lia setelah mengakhiri sambungan dengan kedua orangtuanya. “Iya enggak apa-apa. Besok aku juga libur. Apa besok pagi mau belanja?” “Iya. Aku mau masak buat Mama, Papa. Katanya mereka bakal datang siang.” Evan mengangguk paham. "Hm, gimana kalau besok kita jalan-jalan bersama? sekalian ajak Mama sama Papa kamu." "Mau jalan-jalan ke mana?" "Jalan-jalan dekat sini aja. Ke taman kota, Mall atau kebun binatang gitu?" "Ya udah besok coba kita diskusikan lagi aja." "Oke. Kalau begitu, cepat tidur gih biar besok bisa bangun lebih pagi." Lia mengangguk. Sebenarnya ada yang ingin ia tanyakan lagi tapi melihat Evan yang sudah mengambil posisi berbaring, ia pun akhirnya memilih untuk ikut tidur. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD