“Kamu belum mau tidur?” tanya Evan yang baru saja memasuki kamar dan mendapati istrinya masih duduk bersandar di tepi ranjang.
“Hm, sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu,”
“Mau ngomongin apa?” Evan mengambil duduk di sebelah Lia, menatapnya lekat.
“Hmm ....” Lia menggerakkan bola matanya ke arah lain asal tidak menatap sang lawan bicaranya. Sebenarnya ia agak ragu untuk mengatakannya, “Kalau aku minta kita keluar dari rumah ini terus tinggal berdua aja, kamu mau?” Lia menatap Evan ketika mengatakan kata terakhirnya.
“Kenapa? Kamu enggak nyaman ya tinggal di sini?”
“Hm, bukan begitu. Tapi—“
“Aku pikirkan dulu ya, sekarang kamu tidur, udah malam.”
“Kamu sengaja mengalihkan pembicaraan ya?”
Evan berhenti dari kegiatannya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Enggak. Aku ‘kan udah jawab, kalau aku bakal pikirin dulu.”
“Oh ya udah,” balas Lia acuh lalu berbaring dengan posisi membelakangi Evan.
“Kamu marah ya?” tanya Evan yang sepertinya menyadari bila istrinya itu sedang ngambek. Lia hanya diam, memejamkan matanya rapat-rapat. Evan menghela napas lalu ikut tidur, tak ambil pusing.
Paginya Lia pergi kerja lebih awal dari biasanya, ia juga tidak pergi dengan Evan, sepertinya ia masih dalam mode ngambek dengan Evan, karena itu pagi ini Evan mengajak mamanya bicara untuk membahas pasal permintaan Lia semalam.
“Ma, aku kayaknya mau cari rumah buat aku sama Lia?”
“Maksudmu? kamu mau keluar dari rumah ini?”
“Iya Ma, aku ‘kan udah dewasa dan juga udah nikah. Udah waktunya aku keluar dari rumah ini. Aku juga enggak mungkin bergantung sama Mama terus.”
“Pasti istri kamu ‘kan yang minta? Kamu tega mau ninggalin Mama sendirian?”
“Bukan begitu Ma, tapi—“
“Tapi apa? Kamu memang udah enggak sayang sama Mama. Kamu lebih prioritasin istri kamu yang mungkin aja ada niatan jahat untuk memanfaatkan kamu.”
“Siapa bilang aku enggak sayang sama Mama? Aku sayang banget sama mama tapi aku juga udah nikah Ma. Mama dan Lia adalah prioritas utamaku sekarang. Mama juga tolong jangan suudzon gitu sama Lia. Aku mau hubungan Mama sama Lia baik. Memangnya ada bukti kalau Lia mau memanfaatkan aku?”
“Udah lah, Mama males ngomong sama kamu.”
“Ma! Mama!” Evan berusaha menahan mamanya namun Mia tidak mendengarkan dan meninggalkan anaknya sendiri di ruang tamu. Evan akhirnya hanya bisa menghela napasnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Susah juga berbicara dengan mamanya.
***
Setelah shiftnya selesai, Lia segera membereskan bawaannya. “Tin, kamu mau balik juga ‘kan? barengan ya ke depannya.”
“Iya, ayo!”
Saat keluar minimarket, Lia dibuat kaget ketika melihat Evan sudah berada di depan, berdiri di dekat mobil.
Evan yang mendapati Lia sudah keluar dari minimarket sontak menghampirinya. “Pulang yuk,” ajak Evan.
Tina yang berada di sebelahnya sontak melirik Lia dan Evan bergantian, namun tin tin!
“Eh, jemputanku udah datang. Aku balik duluan ya Lia.”
Lia mengangguk. “Hati-hati ya Tin,”
Setelah Tina pergi, Lia kembali menatap Evan. “Kamu ngapain ke sini?”
“Mau jemput kamu.”
“Emang kamu enggak sibuk?”
Evan menggeleng lalu meraih pergelangan tangan Lia. “Ayo pulang,” Lia hanya menurut mengikuti Evan. Ia malas berdebat di depan umum.
Sebelum menjalankan mobilnya, Evan mengambil sesuatu dari jok belakang mobil. “Ini buat kamu,” Evan menyodorkan sebuah buket bunga mawar merah.
“Untukku?” tanya Lia seraya menunjuk dirinya sendiri dengan jarinya.
Evan mengangguk. “Hadiah buat kamu,” jawabnya lembut.
“Hadiah? Tapi hari ini bukan ulang tahunku.”
“Aku tahu. Memberikan hadiah enggak harus pas ulang tahun aja ‘kan?” Lia mengangguk-anggukan kepalanya setuju sebelum akhirnya menerima buket bunga itu dengan malu-malu. “Makasih.”
“Sama-sama.” Evan tersenyum senang, memperhatikan Lia menerima bunga tersebut lalu menghirupnya dengan wajah sumringah. “Hm, kamu lapar enggak? kita cari makan dulu yuk,” ujarnya setelah beberapa saat.
“Boleh.”
Evan dan Lia akhirnya mampir ke sebuah restoran untuk makan. Mereka kini tengah menunggu makanan datang, tidak ada yang memulai pembicaraan pasalnya Lia tengah sibuk memperhatikan ke sekitar sementara Evan sedang memainkan ponselnya seperti sedang berbalas pesan dengan seseorang sampai akhirnya, “Oh iya aku tadi udah ngomong sama Mama,”
Lia mengalihkan atensinya pada suaminya, “Tentang?”
“Permintaanmu semalam.”
“Terus apa kata Mama?” tanya Lia penasaran.
“Mama enggak ngebolehin. Mama enggak mau aku tinggal. Jadi, mungkin agak susah wujudin permintaanmu. Maaf kalau aku selalu minta pengertian dari kamu.”
Lia terdiam. Ia bingung bagaimana harus menyikapi. Ia mengerti di satu sisi Evan harus menuruti kata orangtuanya tapi di satu sisi Lia benar tidak tahan dengan mulut pedas mertuanya itu. Apa dia harus disuruh untuk lebih bersabar lagi?
“Terus aku harus gimana biar hubunganku dan Mamamu baik? Apa aku harus sabar terus sampai Mamamu menerimaku?”
“Hmm gimana kalau kita coba berusaha nyenengin mama?”
“Caranya?”
Evan tampak berpikir, “Gimana kalau kamu buatin kue kesukaan Mama? Mama suka banget sama kue lapis. Siapa tahu Mama senang terus akhirnya hubungan kalian jadi lebih baik.”
“Boleh, ide bagus. Semoga setelah ini hubungan aku dan Mama menjadi lebih baik.”
“Aku pasti akan membantumu, jadi kamu tenang aja ya,” Evan mengusap punggung tangan Lia pelan sebelum akhirnya menarik tangannya ketika makanan mereka datang.
***
Malam ini, Evan pergi mengunjungi bar yang biasa ia kunjungi dikala suntuk atau stres melanda, bar yang pemiliknya adalah sahabatnya sendiri.
“Woy bro! udah lama juga lo enggak ke sini. Apa kabar lo?” tanya seorang pria berwajah tirus, hidung mancung bertubuh tegap seraya melakukan tos andalan mereka.
“Iya gue sibuk. Gue baik. Lo gimana?”
“Gue juga baik. Lo mau minum apa?”
“Gue enggak mau minum apa-apa. Gue lagi enggak mau mabuk.”
“Terus lo ke sini mau ngapain, kalau enggak minum? mau nyewa kamar lagi lo?”
“Sembarang aja lo. Gue udah nikah.”
“Hah! Lo kapan nikahnya? Kok gue enggak diundang?”
“Gue nikah enggak ngundang banyak orang, mama gue yang minta.”
“Eh, bentar deh Bro. Kita ke atas aja yuk biar ngobrolnya lebih enak. Di sini berisik.” Iqbal, sahabat Evan akhirnya mengajak Evan ke lantai 2 di mana ada tempat yang lebih nyaman untuk mereka bisa mengobrol lebih santai.
Saat tiba di lantai dua, ada satu ruangan yang cukup luas tempat di mana Dion, pemilik bar tersebut biasanya bersantai. Ruangan tersebut terdapat sofa panjang yang empuk dilengkapi dengan meja kaca, pantry dan juga toilet.
“Jadi lo udah nikah? sama siapa?”
“Sama temen gue yang waktu itu pernah gue ceritain.”
“Temen lo yang salah masuk kamar itu?”
“Iya ternyata dia hamil. Jadi, gue harus tanggung jawab.”
“Buset langsung jadi dong. Selamat ya bro,”
“Thanks.”
“Terus sekarang apa masalahnya? Bukannya lo suka sama dia?”
"Iya, tapi yang jadi masalahnya sekarang tuh mama gue. Mama gue kayaknya enggak suka sama dia karena keluarganya yang biasa-biasa aja."
"Maksudnya enggak selevel gitu?" Evan mengangguk. "Waduh susah juga ya kalau udah masalah kasta gini. Menurut gue, Mama lo harus nerima kenyataan deh. maksudnya ini kenyataannya, udah enggak bisa diubah. Lo yang harus sadarin gitu karena enggak mungkin istri lo."
"Berarti gue harus melawan orangtua gue dong?"
"Enggak juga. Lo bisa kasih tahu dulu baik-baik, tapi kalau enggak bisa juga ya terpaksa lo abaikan demi kebahagiaan lo sama istri lo karena enggak semua sikap orangtua itu baik, mereka juga manusia biasa, mereka juga pernah buat salah. Nanti lama-lama pasti dia bakal terima."
TBC