15

1075 Words

"Rumah sebesar ini, kenapa sepi sekali?" seru Freya setelah menginjakkan kakinya ke dalam rumah Axel. "Hehe, nanti, kalau kita punya anak, rumah ini pasti tidak akan sepi lagi," kata Axel dengan senyum manis. "Apa-apaan itu?" ucap Freya gusar. Jantungnya berdebar kencang mendengar ucapan Axel tersebut. "Haha, memangnya kau tidak mau ya punya anak yang tampannya seperti aku?" Axel menarik tangan Freya, membawanya ke ruangan lain. "Aku tidak merasa kalau kau tampan," Freya  berkata dengan bibir mencebik. "Oh, begitu, ya. Baiklah." Axel menyenggol bahunya dan berkata lagi, "Tapi, Frey, aku ingin sekali punya anak yang lucu dan cantik sepertimu." Freya menatap Axel dengan jantung berdegup kencang.  Entah kenapa, ucapan Axel selalu mampu membuatnya kehabisan kata-kata. "Jangan menatapk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD