Stefan berhasil mendarat pada batas dalam kota dengan mulus. Ben mengawasi sekeliling; memastikan bahwa dinding batas kota memang tidak dimata-matai siapa atau apa pun, termasuk kamera-kamera pengawas yang menunduk lesu. Ini miris. Apakah tidak ada warga pribumi yang mampu melompati dinding lagi, atau melakukan sebuah bentuk perlawanan, sampai-sampai kamera pengawas saja dinonatifkan? Ini konyol. Mana mungkin ada situasi yang begitu depresi hingga mencapai titik ini. Stefan baru saja menyampirkan tas di bahu ketika jam tangannya bergetar samar. Ia bergegas membuka pesan dan matanya seketika melotot. Ekspresi sesederhana itu sudah cukup untuk mengalihkan perhatian sang Patron. “Ada apa, Stef?” “Kita harus bergegas,” kata Stefan. Ia meneliti lekat-lekat macam pilihan kata yang dipakai L

