36. Penenang

783 Words

Rifky menatap kedatangan Aksa dengan bingung. Jika sebelum pergi senyum pria itu terpampang diwajahnya, kini hanya ada rasa frustasi diwajah laki-laki itu. "Ada apa?" tanya Rifky tanpa basa-basi. Aksa menoleh, matanya memicing tajam. Namun masih jelas ada kesedihan dan kemarahan dari mata pria itu. Aksa berjalan mendekati Rifky yang tengah duduk tenang di mejanya. Laki-laki bermata tajam itu duduk berhadapan dengan Rifky. "Apa memang saya sudah ditakdirkan tidak akan pernah dicintai seseorang?" Aksa mengusap rambutnya kasar. "Apa salah jika saya berharap orang yang saya cintai juga mengharapkan saya?" Rifky sudah mengenal Aksa dari kecil, dia tau semua yang dialami laki-laki itu. Dia bahkan tau semua penyebab Aksa memiliki emosi tidak terkendali seperti saat ini. "Semua orang ber

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD