Semalam Adara tidak dapat tidur. Banyak pertanyaan dan spekulasi tentang pesan yang ia dapatkan kemarin. Adara mengunyah sarapannya dengan pelan, Rasha menatapnya lama lalu bertanya. "Kenapa?" Gadis itu hanya menggeleng pelan. "Nggak," Rasha mengernyit. Lalu memilih diam. "Dar?" "Ya?" "Kapan kamu lulus?" "Belum pasti, bang, kenapa emang?" Rasha menambah nasi gorengnya. "Cepet kamu urus masalah kuliahan, selesai kuliah, kita bakal pindah ke Jepang secepatnya. Udah lama kita nggak ngumpul bareng-bareng sama orang tua," "Iya, bang, Adara usahain." Adara menghela nafas beberapa saat. Ia melirik jam dinding disana. Pukul 12 tepat seseorang akan menunggunya di alamat yang tertera di pesan. Adara kebingungan untuk melakukan apa. Apa dia harus kesana atau waspada. Mana tau itu penculika

