Andine tengah menatap malas laki-laki di hadapanya kini, yang tak lain adalah Ardhan. Rasanya seperti di penjara oleh Ardhan, kemana-mana saja Ardhan selalu menanyai bahkan mengikuti Andine, tidak nyaman pastinya. Andine menopang dagunya dengan sebelah tangannya, gadis itu meniup-niup poninya.
Kemudian tersbesit di pikiran Andine untuk terlepas dari jam istirahat yang membosankan bersama Ardhan, yang hanya sibuk bergelut dengan ponselnya.
“Gue pengen ke toilet,” gadis itu berdiri menghadap Ardhan.
Ardhan menaikkan sebelah alisnya sembari mendongak untuk menatap wajah Andine.
“Gue temenin,” Ardhan ikut berdiri dan sudah berjalan mendahului Andine.
Andine menghentakkan kedua kakinya sembari menahan lengan Ardhan, Ardhan menghentikan langkahnya,”Ayok! Lo bilang mau ke toilet, gue temenin.”
“ Ya kali ke toilet harus berdua juga sama lo,” Protes Andine tak terima.
Menurutnya sikap Ardhan sangat berlebihan, Andine jadi enek.
“Gue mau sendiri Ardhan, buat apa sih berdua mulu.”
Ardhan menghela napasnya sejenak, laki-laki itu kemudian mengusap pipi Andine,”Gue Cuma takut, para fans gue yang notabene-nya cewek itu ngeganggu lo Andine.”
Andine memutar bola matanya,”Astaga, gue gak papa mending lo tunggu aja di sini.”
Ardhan akhirnya pasrah, ternyata Andine cukup keras kepala, padahal Ardhan cuma ingin meenjaga Andine, tak sedikitpun terjadi banyaknya pem-bullyan yang terjadi di Padipura, maupun itu berasal dari geng cewek atau bahkan cowok. Ardhan hanya ingin berjaga-jaga saja.
Ardhan duduk kembali di meja kantin, lalu laki-laki tersebut menatap punggung gadisnya yang sudah menjauh dari hadapannya.
Andine akhirnya dapat bernapas lega, karena tidak ada laki-laki gila di hadapannya sekarang.
Gadis tersebut melangkahkan kakinya cepat ke toilet, lalu membasuh wajahnya di wastafel, Andine menatap wajahnya di kaca, berbagai pertanyaan-pun mulai mecuat di kepala Andine.
Kenapa Ardhan bisa menyukainya?
Hanya karena sebuah topi?
Ah tidak, jikapun Ardhan benar-benar menyukai Andine ia tidak akan mungkin jatuh secepat ini, bahkan hanya dalah hitungan jam. Mana mungkin bisa! Andine memang cantik, tapi ia bukan salah satu dari daftar list cewek yang famous di sekolah.
Andine tau Ardhan punya banyak pacar, saat ini pun Ardhan kayaknya masih berpacaran dengan Ranti ketua geng bullying terkenal galak di sekolah.
Apa mungkin Ardhan selalu menemaninya karena ia takut Andine di bully para fans-nya?
Gebrak....
Pintu toilet didobrak begitu saja, siswi Padipura yang lainnya segera berlari keluar ketika melihat siswi yang berdiri di hadapannya kini. Sedangkan Andine hanya menatap mereka penuh dengan tanda tanya.
Ranti, Indah dan Suci berjalan mendekati Andine. Ranti memasang wajah sombongnya. Baru saja Andine memikirkan tentang kakak kelas yang galak itu, mereka bahkan sudah datang dan berdiri di hadapan Andine. Tatapan mereka tajam seolah-olah hendak memakan Andine sekarang juga.
Pintu toilet di tutup oleh Indah dan Suci, Ranti langsung mencekal lengan Andine lalu meemojokkan gadis tersebut.
“Lo pacarnya Ardhan kan?” sinis Ranti.
Tangan Ranti langsung meraih lengan Andine dengan kasar, Andine meringis kesakitan saat kuku tajam milik Ranti bisa saja menembus dagingnya saat ini.
“Jawab!” Teriak Ranti, Indah ataupun Suci yang melihat kejadian tersebut hanya tersenyum tanpa ada niat untuk memisahkan keduanya.
“gue gak mau tapi dia maksa,” jawab Andine sedikit gemetaran karena lenganya semakin terasa sakit, dan cengkraman Ranti semakin kuat pada lengaannya.
“Putusin dia!” perintah Ranti kepada Andine.
Andine malah tertawa,”Hahah, gue bahkan gak pernah mau buat jadi pacar dia, lo aja mungkin yang kurang perhatian makanya pacar berpaling,” remeh Andine yang tak mau kalah.
Amarah Ranti semakin besar, ia menusukkan kuku panjang dan tajam tangannya pada lengan Andine, tidak peduli Andine sudah meringis kesakitan ataupun lengan Andine sudah berhasil ia lukai, sampai sedikit-sedikit tusukkan itu mngeluarkan darah.
“Balasan buat lo, yang udah ngerebut pacar gue!” pelotot Ranti.
“Kalau lo tau Ardhan tukang selingkuh kenapa enggak lo putusin? Enggak emua cewek mau jadi selingkuhan ataupun di selingkuhin, kalau dari awal niat Ardhan udah baik sama lo dia enggak bakal nyakitin lo kok.”
Andine memberanikaan dirinya untuk melontarkan kata-kata tersebut, walau mautnya sekarang sudah di penghujung tanduk.
Ranti menjambak rambut sebahu milik Andine, sehingga gadis itu berteriak kesakitan.
“Lepasinnn!”
“Gue mau ngelepasin tapi gue sayang!”
Plakkk....
Satu tmparan mendarat begitu saja di pipi kiri Andine, ia tak bisa memberontak karena kekuatan Ranti sangatlah kuat, ia juga tak yakin Indah dan Suci bakalam diam saja kalau Ranti di lawan.
Bukkk....
Ranti menghantukkan kepala Andine di pinggir wastafel. Andine merintih kesakitan, seharusnya ia tadi mendengarkan perkataan Ardhan.
Andine terduduk lemah di lantai, gadis tersebut sekarang dalam posisi duduk di kaki Ranti, Ranti beserta teman-temannya tertawa puas, sedangkan Andine sudah tak kuat dan akan kehilangan kesadaran.
Bruk....
Pintu toilet sudah terbuka, semuanya menatap Ardhan yang sudah datang dengan seragamnya yang acak-acakkan. Ardhan langsung membuang rokoknya dan menghampiri Andine yang sudah terkulai lemas.
“Andine, lo denger gue kan?” tanya Ardhan sembari menepuk pelan kedua pipi Andine, Andine membuka matanya perlahan sedangkan tubuhnya sudah gemetaran dan melemas.
“Sa ... sakit.”
Mata Ardhan langsung menatap ketiga perempua di hadapannya itu tajam,”Lo kenapa ngelakuin semua ini?!” pekik Ardhan sehingga ketikanya sontak kaget.
Semua murid Padipura mulai berdatangan untuk melihat adegan itu seketika kaget, begitu juga dengan Ranti dan kawan-kawan. Bahkan toilet saat ini hampir terpenuhi oleh murid Padipura.
“Bang! Andine kenapa?” tanya Athaya seraya menatap gadis yang sudah tak sadarkan diri itu.
Ardhan tak menjawabnya, laki-laki itu langsung menggendong Andine,”Kita putus!” perkataan Ardhan yang tajam mampu menghunus hati Ranti.
“Ardhan enggak bisa!” teriak Ranti yang menghalangi jalan Ardhan untuk membawa Andine ke UKS.
Ardhan langsung mendorong tubuh Ranti untuk menjauh darinya dengan sebelah tangannya, sehingga Ranti terpental cukup jauh. Setelah itu Ardhan melangkahkan kakinya cepat menuju UKS. Ke-khawatiran mendalam begitu mendera perasaan Ardhan saat ini.