"Pa, enggak bisa dia harus keluar."
Ardhan tetap bersikeras dengan pendiriannya, ia ingin Ranti keluar dari Padipura, tapi Aldi menolaknya, Ranti sudah kelas XII SMA, bukanlah hal yang gampang untuk mengeluarkan begitu saja murid kelas XII.
"Papa enggak bisa Ardhan," tekan Aldi tak ingin kalah telak, Ardhan menatap Aldi serius, matanya menyiratkan bahwa kali ini ia benar-benar kecewa. Ardhan memukul balkon, lalu laki-laki itu menempelkan dahinya dibalkon sembari menutup matanya rapat. Ardhan menjadi sangat merasa bersalah dengan Andine saat ini. Ia tak akan ingin tinggal diam jika orang terdekatnya diganggu apalagi disakitin, siapapun itu.
Ardhan akhirnya memutuskan untuk kembali ke UKS.
Ardhan ingin menemui gadis yang sedari tadi pingsan karena kelakuan cabe-cebean kering tersebut. Dengan langkah panjang Ardhan langsung membanting keras pintu UKS, semua yang berada disana kaget akan kehadiran Ardhan.
Ardhan dengan seragamnya yang sudah acak-acakan itu, langsung memasang wajah amarahnya, ketika ia melihat salah seorang petugas UKS laki-laki tengah mendekati Andine dan memberi gadis itu segelas air putih. Dengan sigap Ardhan langsung mendorong laki-laki tersebut.
"Lo kenapa dekat-dekat sama cewek gue? Ha?!" teriak Ardhan kepada laki-laki yang sudah terjatuh dilantai karena dorongan Ardhan.
Andine membelalakkan matanya kaget atas tingkah Ardhan,"Ardhan! Lo ngapain? Masya allah dia cuma ngobatin gue doang."
Ardhan tak menghiraukan perkataan Andine. Laki-laki yang di didorong Ardhan langsung berdiri dengan lututnya yang gemetaran, karena takut akan kekalapan Ardhan. Ardhan melemparkan tatapan tajam dan tidak sukanya,"Dengar! Barangsiapa yang berani dekat sama cewek gue terkhusus cowok, gue bakal ngasih pelajaran ke dia, apalagi nyakitin cewek gue, gue enggak jamin itu orang yang nyakitin masih hidup."
Andine mengusap wajahnya kasar, gadis yang tengah berbaring di matras UKS tersebut hanya bisa diam saat ini. Ardhan kemudian menghampiri Andine, lalu duduk disebelah gadis itu.
"Lo kenapa sih? Lo kenapa harus ngatur hidup gue gitu? Gue bukan pacar lo, lo aja asal mengklaim gitu." Ardhan langsung menggengam tangan Andine, lalu laki-laki itu meletakkan tangan Andine di dadanya. Andine terdiam ketika suara detakan jantung yang bergemuruh dapat ia rasakan disana.
"Gue enggak tau kenapa, lo orang pertama yang mampu ngebuat jantung gue berdetak kencang kayak gini."
Semua yang berada disana menatap keduanya dengan senyum sumringah, bahkan para siswi sudah terlonjak kebaperan.
Andine mengerutkan dahinya,"Maksud lo gue penyebab lo jantungan?"
Ardhan meringis, ternyata Andine terlalu polos atau mungkin terlalu bego,"Bukan jantungan, tapi lo penyebab gue jatuh."
Andine langsung menarik tangannya yang sedari tadi berada di d**a bidang milik Ardhan,"Apaan sih."
Andine memasang wajah kesal dan badmood-nya.
"Gue enggak suka lo dekat sama cowok lain."
Gadis tersebut menaikkan sebelah alisnya, apakah Ardhan se-protective dan possesive gitu?
"Ihhh ngapain lo ngatur-ngatur gue ."
"Gue enggak suka Din, gue enggak mau lo dekat sama cowok lain, cukup gue aja."
"Terus gue enggak boleh dekat sama bokap gue? Abang gue? Sepupu laki-laki gue? Paman gue? Oom gue? Kakak gue?"
"Yaelah, bukan gitu juga longor."
Andine mengerucutkan bibirnya,"Ihh enggak suka dipanggil longor."
Ardhan tersenyum jahil,"Kalau dipanggil sayang mau?"
"Ihhh apaan sih!"
Ardhan hanya terkekeh ketika melihat sembraut semu merah memenuhi kedua pipi Andine. Karena malu, atau karena baper, entahlah hanya hati yang tau kemana tujuan perasaanya.
Ardhan lalu menatap gadis itu dengan wajah kesalnya,"Gue kesal karena bokap gue enggak mau ngeluarin Ranti."
Mata Andine langsung membulat, apakah Ardhan sekhawatir itu terhadapnya, petugas UKS juga bilang kalau Ardhan yang membawa Andine ke UKS, Ardhan bahkan sempat marah-marah enggak jelas karena petugas UKS menyeh-menyeh.
"Yaiyalah, dia itu udah kelas XII dan entar lagi ujian."
"Tapi gue takut dia bakal nyakitin lo lagi."
Andine memiringkan senyumanya,"Makanya jangan asal mengklaim anak orang."
"Pokoknya, lo harus sama gue terus, biar lo enggak diganggu sama para fans gue." Andine memutar bola matanya malas, susah dekat sama cogan most wanted, memang kayak gini sepertinya, hidup enggak tenang, punya banyak haters dan juga musuh. Andine tak ingin semua ini, tapi Ardhan malah mengubah semuanya, padahal biasanya sebelum kehadiran Ardhan, Andine sangat tenang. Tidak ada yang mengganggunya, menerornya ataupun mem-bullynya.
Ardhan menatap lengan Andine yang masih ada bercak darah kecil disana, tampak beberapa goresan kuku tajam di pergelangan tangan Andine. Tanpa aba-aba, Ardhan langsung menarik lengan Andine lalu mencium lengan yang tergores itu.
"Ihhh apaan sih!"Andine langsung menarik lengannya.
Alhasil itu membuat Ardhan kesal dan memanyunkan bibirnya.
"Biar cepat sembuh gue kasih kecupan manja ya."
"Enggak!" tolak Andine menggeleng cepat.
Kelakuan Ardhan memang sering di luar batas, Andine langsung menyembunyikan tangannya, sedangkan Ardhan hanya menahan tawanya. Mata Ardhan kemudian beralih kearah dahi Andine yang sudah di balut dengan plester. Ardhan mendekatkan wajahnya kewajah Andine, laki-laki itu kemudian meniup pelan luka Andine.
"Perih enggak?"tanya Ardhan kepada gadis yang sudah terdiam sembari menutup matanya itu.
"Hmm."
"Gue tiup ya biar lukanya cepet kering."
Andine hanya mengangguk pelan, ia lelah untuk melarang Ardhan karena dilarang sekalipun ia tidak akan goyah.
"Lo enggak ke markas lo?"
Ardhan terkekeh,"Gue juga udah di markas ni."
"UKS markas lo?"tanya Andine.
Ardhan kemudian mengacak pelan rambut Andine.
"Lo lucu gue suka."
"Gue serius Ardhan."
"Hati lo kan markas gue Din."
"Lo tu yah, ahh serah deh!"