Andine tengah berjalan disepanjang koridor sembari memegang dahinya, kepalanya masih terasa nyeri, itu semua karena Ranti geng bullying itu, Andine merasa kesal jadinya. Andine melongos ketika rerintikan hujan turun di hadapannya, walaupun hanya gerimis tapi perjalanan ia ke jalan raya cukup jauh untuk mencari angkot. Andine akhirnya memutuskan berjalan kedepan gerbang, barangkali ada yang mau nebengin Andine.
Gadis tersebut berdiri sembari celingak-celinguk, Padipura bahkan sudah tampak sepi, mungkin karena ia kelamaan ketiduran di UKS tadi. Suara deruan motor yang bising berhenti tepat di hadapan Andine.
Gadis itu mendongak, mendapati Ardhan yang sudah membuka helmnya sembari menyengir ke arah Andine, menunjukkan sederet gigi putihnya yang rapih.
"Naik," perintah Ardhan namun Andine tak mendengarkan perkataan Ardhan. Ia sedang kesal dengan laki-laki tersebut, karena fans Ardhan ia jadi bahan bullying.
"Gak, gue nunggu jemputan," Andine menolak sembari menatap-natap kearah depan gerbang. Ardhan terkekeh kecil, laki-laki itu kemudian meraih tangan Andine.
"Tangan lo dingin, sama kayak hati lo yang enggak pernah cair sama gue, udah enggak usah bohong, di sini enggak bakal ada angkot, lo harus jalan cukup jauh buat kejalan raya, hari mau hujan deras, entar kalau ada yang ngapa-ngapain lo gimana?"
Andine mendelik sejenak kearah Ardhan, gadis itu masih ingin mempertahankan gengsinya yang tinggi, Andine tetap bersikeras dengan pendiriannya.
Kemudian Ardhan menghela napasnya sejenak,"Yaudah gue anterin sampai depan."
Andine akhirnya naik keatas motor Ardhan, sedangkan Ardhan sudah tersenyum kecil dibalik helmnya. Andine hanya diam dan Ardhan sudah melajukan motornya menelusuri jalanan.
Ada rasa sedikit lega ketika ia menjadi dekat dengan Ardhan, karena Andine merasa dirinya terlindungi sekarang, siapa yang berani dengan Ardhan? Bahkan guru BK sekalipun tidak bisa menghentikan tingkah laku Ardhan yang sudah sangat keterlaluan itu. Ardhan dengan sikap possesive dan overprotective-nya yang membuat Andine sedikit risih, ditambah lagi dengan murid pembuat onar, terbilang badboy dan juga playboy.
Cewek mana yang suka di-duain? Dan Andine tau, cepat atau lambat pasti Ardhan akan bosan kepadanya, menyelingkuhinya, kemudian meninggalkannya, seperti mantan-mantan Ardhan yang lainnya. Makanya Andine harus berhati-hati dengan Ardhan, jangan sampai terlanjur jatuh hati agar sakitnya patah hati diakhir nanti tidak pula terasa begitu menyakitkan.
"Lo bilang mau nganterin gue sampai depan jalan raya?" Andine mengerutkan dahinya ketika motor Ardhan terus melaju memacu jalan.
Ardhan tersenyum menyeringai, lalu melirik sekilas wajah lucu milik Andine ketika lagi kesal melalui spion motornya.
"Kata mama, kalau nolongin itu jangan setengah-setengah.
Andine melototkan matanya merasa kesal,"Tapi lo udah bohongin gue."
Laki-laki itu menghela napasnya,"Gue pacar lo Andine, enggak mungkinlah gue ninggalin lo di jalanan."
"Tapi gue enggak pernah nerima lo," sela Andine, Ardhan malah tertawa atas tanggapan Andine.
"Itu urusan lo, yang gue taunya lo itu punya gue," Andine berdecak kesal.
"Gue jadi kepengen salat tahajud, terus berdoa sama tuhan buat nanyain atas dasar apa tuhan nyiptain manusia nyebelin kayak lo."
Ardhan tersenyum samar mendengar celotehan receh milik gadis itu, lalu Ardhan menggelengkan kepalanya pelan,"Enggak perlu nanya sama tuhan kok. Lo bisa nanya ke orangnya langsung, atas dasar apa gue diciptain adalah buat nyari tulang rusuk gue, yaitu lo."
Andine turun dari motor Ardhan dengan dahinya yang sudah mengkerut,"Kenapa ke Mall?" Bukannya menjawab Ardhan malah menggengam jemari-jemari Andine untuk menuntun gadis itu masuk ke Mall.
"Kata mama kalau ada orang nanya itu dijawab."
Ardhan melirik gadis yang sudah memasang wajah kesal disampingnya itu, kemudian Ardhan menarik sudut bibirnya keatas.
"Gue rasa enggak terlalu sore buat kita nge-date?"
"Gue enggak mau," tolak Andine mentah-mentah.
Ardhan selalu ngelakuin hal sesukanya, tanpa harus bertanya terlebih dahulu kepada Andine, apakah gadis itu mau atau enggak, apakah gadis itu suka atau tidak, yang Ardhan tau, mau tidak mau Andine harus tetap menjalaninya. Ardhan tak mendengarkan Andine, laki-laki itu masih tetap membawa Andine untuk masuk kedalam Mall.
"Lo laper enggak?"tanya Ardhan kepada Andine.
Andine menggigit bibir bawahnya sejenak, lalu gadis itu mengangguk,"Laper sih."
"Gue traktir," potong Ardhan.
Andine hanya mengikuti langkah Ardhan yang sudah menapaki salah satu lapak restoran elegant di salah satu stand Mall tersebut.
"Mau makan apa?" Ardhan menautkan alisnya bertanya kepada Andine.
Andine hanya diam, ia tidak tau harus makan apa, yang pasti ia sangat lapar dan porsi makannya pasti sangatlah banyak, kalau dalam saat-saat seperti ini.
"Apa aja."
"Gini kalau jalan sama cewek, ditanya mau apa pasti jawabnya apa aja, emang ada makanan yang namanya apa aja?"
Andine hanya diam, mengetuk-ngetuk meja tersebut dengan jarinya sembari menengok ke arah lain, untuk mengalihkan pandangannya dari tatapan Ardhan yang sedari tadi tiada henti menatap gadis tersebut.
"Gue pesen steak aja ya?" Ardhan bertanya sehingga gadis tersebut menggeleng dengan cepat dengan wajah cemberutnya.
"Gue enggak mau gemuk."
Ardhan lalu mengacak pelan rambut milik Andine,"Yaudah biarin, biar enggak ada orang yang suka sama lo selain gue," Ardhan langsung pergi untuk memesankan makanan, sedangkan Andine sudah mencibir,"Tai kuda lah."
Tak lama berselang waktu Ardhan datang dengan beberapa pelayan yang sudah membawa makanan yang lumayan banyak.
"Kok banyak banget, lo mau sedekahan?"
Andine menaikkan sebelah Alisnya, Ardhan hanya tersenyum kecil.
"Porsi makan lo enggak sedikit kalau lagi laper apalagi badmood, sedikitnya yang gue tau tentang cewek sih gitu."
Andine tertawa,”apa karena lo terlalu banyak mantan, sampai lo tau kebiasaan-kebiasaan cewek?”
“Iya, tapi lo satu-satunya yang gue perlakuin kayak gini.”
seketika Andine diam, kedua pipinya serasa memanas saat ini, Ardhan selalu saja membuat dirinya merasa jengkel, malu dan juga baper dalam waktu yang bersamaan.
"Sok gombal," sinis Andine sembari menyuapkan steak kedalam mulutnya.
T angan Ardhan terulur untuk membersihkan pinggiran bibir Andine yang sudah belepotan,"Apa yang enggak gue tau tentang lo?"
Gadis itu langsung menatap Ardhan serius, terjadi kontak mata diantara keduanya dalam beberapa detik,"Ardhan berhenti buat ngebaperin, kalau di ending nanti gue juga tetap bakalan jatuh dan ngerasain sakitnya patah hati."
"Patah hati kenapa?" Laki-laki beralis tebal dan berhidung mancung itu menatap Andine tak mengerti.
Andine memutar bola matanya jengah, bahkan Ardhan seolah-olah tidak tau akan apa yang di katakannya.
"Lo punya banyak pacar, lo juga playboy, apa itu yang pantes lo sebut dengan cinta? Pacar? Lo kira hubungan itu suatu permainan, mau lo apasih? Lo tiba-tiba mengklaim gue, ngatur gue seenaknya. Lo kira gue suka?"
Andine kemudian bungkam ketika menatap Ardhan yang hanya menunduk diam, ketika Andine melontarkan kata-kata tersebut, Andine sedikit merasa bersalah akan kata-kata yang kurang mengkondisikan tadi, pastinya ada kata-kata yang sangat menohok hati Ardhan.
"Apa seorang b******n enggak bisa ngerasain yang namanya jatuh cinta?"
Kini giliran Ardhan yang bersuara, gadis yang tadinya berceloteh panjang lebar tak tau akan kalimat apa yang bisa menyanggah perkataan Ardhan.
"Gue emang enggak ngerti yang namanya cinta, makanya gue minta tolong sama lo, ajarin gue apa itu arti dari cinta, yang gue tau sih itu cuma nama makanan ringan." Laki-laki itu menatap Andine dengan raut wajah kecewanya, Andine menggeleng lalu memperbaiki posisi tas yang ia sandang.
"Gue mau pulang," Andine berdiri dan dikuti dengan cekalan tangan Ardhan, Ardhan langsung mengeluarkan beberapa lembar uamg puluhan dari sakunya lalu meninggalkanya di atas mejadi di sana.
"Gue anter."