Kepingan Memori

994 Words
Suara televisi yang samar terdengar dari ruang tengah. Emma duduk di sofa, menatap layar tanpa benar-benar memperhatikan acara yang tayang. Di tangannnya, secangkir teh mengeluarkan uap tipis. Ia menatap jam dinding — hampir jam sembilan malam. Fandi belum juga pulang. Entah lembur, entah ke mana lagi. Ia menarik napas, meski di depan Fandi ia pura-pura tak peduli, tapi ia tak bisa memungkiri bahwa ia masih peduli. Suara mesin mobil yang familiar di seberang rumah membuat Emma bergegas ke ruang tamu. Ia menyingkap sedikit tirai, menatap ke luar dengan debar aneh di d**a. Dari balik kaca, ia melihat Armand keluar dari mobil—kemejanya masih rapi, langkahnya tenang, wajahnya tampak teduh dan begitu tampan. “Dia memang laki-laki sempurna,” gumam Emma pelan. Rasa iri menjalari hatinya, perlahan namun pasti. Betapa beruntungnya Marissa. Meski sering mengeluh Armand terlalu posesif, kenyataannya pria itu selalu memanjakannya dengan kemewahan yang tak semua wanita bisa miliki. Tanpa sadar, tatapan kagum Emma terus mengikuti setiap gerak Armand. Namun tanpa ia sadari, dari seberang jalan, sepasang mata lain tengah memperhatikannya. Dari balik celah tirai rumah itu, Marissa memandangi bayangan Emma yang diam-diam mengintip ke arah suaminya. Matanya menyipit, diliputi rasa tak nyaman yang sulit dijelaskan. Pikiran buruk sempat melintas, tapi segera ia gelengkan kepalanya pelan—berusaha menepis bayangan itu dari benaknya. Malamnya, saat Armand sudah terlelap di sampingnya, Marissa tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya terus berputar. Bayangan Emma yang mengintip dari balik tirai kembali muncul, menyeruak bersama kepingan-kepingan kecurigaan yang beberapa hari ini ia rasakan. Sikap Emma dan Armand yang terasa berbeda. Kepergian keduanya beberapa hari ini yang nyaris berbarengan, dan sikap mereka yang seperti menyembunyikan sesuatu, semua itu sulit untuk ia abaikan. Perlahan Marissa bangkit dari tempat tidur, memastikan Armand sudah tertidur, sebelum kemudian ia meraih ponsel Armand yang tergeletak di nakas, lalu membukanya. Ditelusurinya daftar panggilan keluar dan masuk, lalu mengecek aplikasi perpesanan. Namun, nihil. Ia tidak menemukan jejak apa pun di sana. Marissa menghela nafas. Ia lalu meletakkan kembali ponsel itu di tempatnya semula, dan kembali membaringkan tubuhnya. Namun, tanpa Marissa sadari, Armand tidak benar-benar tertidur. Ia memang tak pernah melarang Marissa membuka ponselnya. Tapi malam ini, sikap Marissa yang membuka ponselnya secara diam-diam, membuatnya bertanya-tanya, apa yang membuat ia curiga? Apakah ia sudah tahu tentang rencana kejutan itu? Ataukah diam-diam Emma sudah memberitahunya? .... Pagi itu, Emma kembali melangkah ke rumah Marissa. "Pagi, Ris!" sapanya riang, menghampiri Marissa yang sedang sibuk di dapur dengan piring dan gelas kotor bekas sarapan pagi. "Pagi! Cerah banget mukanya?" tanya Marissa, tersenyum. "Kamu kan, tahu kalau akhir bulan mukaku selalu cerah," sahut Emma, seraya membantu Marissa meletakkan piring dan gelas kotor ke dalam mesin pencuci piring. "Makanya aku mau ngajak kamu sekalian belanja bulanan." Marissa mengerutkan keningnya. "Tapi, aku belum minta Mas Armand uang bulanan," sahutnya. "Loh, memangnya harus minta juga? Bukannya tinggal gesek?" seloroh Emma. Marissa tersenyum. "Aku enggak berani kalau enggak bilang dulu. Memangnya mau belanja hari ini?" tanyanya penuh semangat. Emma mengangguk. "Iya, kalau bisa, kita pergi sekarang aja, sekalian ngopi di kafe. Sekali-kali..." Emma mengedipkan matanya, membuat Marissa tersenyum lebar. "Boleh, juga tuh, udah lama kan, kita enggak ke kafe!" Mata Marissa berbinar, semangatnya meluap. "Kamu bilang sama Armand kita mau pergi belanja ke supermarket, tapi jangan bilang pergi ke Kafe," ucap Emma, sedikit berbisik. "Ok, siap!" Jawab Marissa, seraya membuka ponselnya. Emma tersenyum geli melihat tingkah Marissa yang kegirangan. Ia bukannya ingin melarang, tapi ia ingin agar Marissa sedikit memiliki kebebasan, melakukan hal kecil tanpa harus selalu meminta ijin Armand. Di dalam taksi yang melaju, Emma menatapi Marissa, ia baru menyadari jika sahabatnya itu selalu terlihat gembira saat pergi bersamanya. Mata Marissa menatap pemandangan di jalanan dari kaca jendela, seperti anak kecil yang baru melihat dunia. Namun, saat taksi melewati Hotel Rosetta, tiba-tiba saja Marissa berteriak. "Masuk ke sana, Pak!" ucapnya pada sang supir. "Rosetta Hotel?" tanya supir taksi, memastikan. "Hah?" Emma terbelalak. "Ke Rosetta?" tanyanya, panik. "Iya, kita ngopi di sana aja," jawab Marissa, wajahnya terlihat gembira. "Tapi..." "Sssttt... jangan bilang-bilang Mas Armand," ucap Marissa seraya meletakkan telunjuknya di bibir, membuat Emma semakin panik. Sesampainya di depan lobi hotel, Marissa melompat keluar, langkahnya gembira seperti anak kecil. Ia lalu masuk ke dalam lobi. Dan di sana ia terpaku, tertegun menatapi rangkaian bunga mawar di atas meja kaca. Matanya berbinar takjub. Emma, yang sudah menduga reaksi itu, hanya tersenyum. Ia tahu Marissa akan menyukainya. Namun, saat Marissa mulai berjalan menyusuri setiap sudut lobi—menatap lukisan, menyentuh relief dinding, dan mengagumi lampu kristal—Emma merasakan ada sesuatu yang aneh. Gerakan Marissa terlalu santai, seolah ia sudah familiar dengan tempat itu, padahal ia mengaku tidak pernah masuk ke dalamnya. Jiwa detektif Emma kembali bekerja. Ia membiarkan Marissa terus berjalan, perlahan mengikutinya, beberapa langkah di belakangnya. Langkah Marissa terasa ringan, tak ada keraguan saat ia menyusuri seluruh lobi, hingga kemudian ia melangkah menaiki anak tangga berkarpet merah. Namun sesampainya di atas, langkah Marissa terhenti. Seoang laki-laki berseragam hotel, menghampiri dan menyapa Marissa. "Selamat Pagi, Bu! Bisa saya bantu, mau ke mana?" tanyanya ramah. Marissa menatap bingung, tangannya menunjuk ragu. "Saya mau ke..." "Mau ke kafe, Pak!" Emma cepat-cepat memotong. Marissa menoleh, terkejut melihat Emma ternyata mengikutinya. "Oh, kafe ada di bawah, Bu. Di sebelah kiri lobi," jawab pria itu, menunjuk arah dengan tangannya. "Terima kasih, Pak!" Ucap Emma. Ia dengan cepat menggandeng tangan Marissa menuruni anak tangga, lalu berjalan masuk ke dalam kafe. Di tengah langkahnya, Marissa menatap Emma. Tatapannya sulit dimengerti. "Maaf..." Ucapnya. Emma hanya tersenyum. Ia sedikit bingung melihat sikap Marissa. Namun, saat mereka sudah duduk di kafe, Marissa hanya terdiam. Pandangannya kosong, menatap ke arah jendela. Emma kembali bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Perasaan lega yang sempat ia rasakan seketika menguap, digantikan oleh kegelisahan yang baru. "Ris... Kamu kenapa?" tanya Emma, tak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Marissa menatap Emma seperti orang kebingungan. Tatapan matanya sulit diartikan. "Kayaknya aku... pernah ke sini," jawabnya, lirih, mengambang di udara. Seketika, Emma mematung. Jantungnya berdegup kencang. Ternyata kecurigaannya selama ini memang beralasan. Armand menyembunyikan sesuatu dari Marissa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD