Rahasia Marissa

971 Words
Di halaman rumah Marissa, suara mesin mobil Armand terdengar, disusul langkah kaki masuk ke dalam. Marissa yang sedang merapikan belanjaan di kulkas tertegun sesaat. “Tumben, udah pulang?” tanyanya dengan kening berkerut. Armand tersenyum tipis, mencoba bersikap santai. “Iya, aku izin pulang cepat. Badanku lagi enggak enak,” jawabnya. Suaranya terdengar lesu. “Oh... Kamu pasti kecapeakan, Mas. Kebanyakan lembur.” Marissa menatap khawatir. “Kamu udah makan siang?” Armand mengangguk. “O ya, gimana tadi belanjanya?” tanyanya, mencoba tetap terdengar santai, tapi matanya mencermati setiap gerak Marissa. Ia tahu Marissa tak hanya ke supermarket. Pak Wisnu memberitahunya bahwa Marissa mengunjungi Rosetta Hotel bersama Emma tadi pagi. Tapi ia tak ingin menanyakannya. Ia ingin Marissa mengakuinya sendiri. Namun Marissa malah mengangguk santai. “Udah beres. Baru aja pulang.” Armand terkejut dengan jawaban Marissa. Ia tak mengerti mengapa istrinya harus bohong. "Oh, lama juga belanjanya? Cuma ke supermarket aja?” Armand mencoba memancing. Marissa tersenyum tipis, sama sekali tak terpancing. “Iya, supermarket penuh banget. Antrean kasir panjang, makanya jadi lama,” jawabnya tenang. “Kamu mau teh jahe?” Armand mengangguk pelan. Marissa lalu menyalakam kompor, merebus air dalam teko. Namun, hati Armand dipenuhi kebingungan. Kebohongan Marissa yang begitu lancar membuatnya bertanya, apakah Emma yang memintanya berbohong?—pikirannya dipenuhi tuduhan. Armand kembali ke ruang tengah. Ia membuka ponsel dan mengetik sebuah pesan. Ditunggunya balasan dengan gelisah. “Minum dulu, Mas.” Suara Marissa membuat Armand buru-buru menutup ponsel. "Makasih, sayang." Marissa meletakkan segelas teh jahe dan sepiring buah potong di meja, lalu duduk di samping suaminya. Armand menyesap tehnya. Di saat bersamaan ponselnya bergetar oleh pesan balasan yang masuk. Ia melirik sekilas, berusaha agar Marissa tak curiga. “Hm, kayaknya aku harus ke apotek...” ucapnya tiba-tiba. “Ke apotek?” Marissa menatap heran. “Iya. Mau beli obat aja biar cepet sembuh. Di apotek depan.” “Oh...” Meski sedikit heran, namun Marissa mengangguk. Ia memandangi wajah Armand. Ia merasakan gerak-geriknya yang tak biasa. Biasanya kalau cuma kecapeakan, ia cukup beristirahat dan minum jahe hangat—tak pernah minum obat. Armand beranjak bangun. “Kamu mau titip sesuatu?” tanyanya, seolah ingin menghilangkan curiga. Marissa menggeleng pelan. "Ok. Aku pergi sebentar, ya," pamit Armand, melangkah cepat keluar. Saat mobilnya menghilang dari halaman, Marissa bangkit, berdiri di balik tirai jendela, menatap rumah di seberang. Menunggu. Tak lama kemudian, Emma keluar dari rumahnya—tergesa, berjalan kaki. Jantung Marissa berdebar kencang. Saat Emma menghilang dari pandangan, ia lalu menutup tirai dengan tangan gemetar. Dengan langkah tertatih ia kembali duduk. Tubuhnya lemas. Dadanya terasa sesak. Di luar, angin siang berembus pelan, menggoyangkan tirai jendela yang setengah terbuka. Cahaya matahari menembus masuk, menimpa wajah Marissa yang kini tampak datar. Tatapannya kosong, tapi di balik ketenangan itu ada sesuatu yang sulit dibaca — antara cemas, curiga, dan entah apa lagi. Ia masih menatap ke arah rumah di seberang. Berharap Emma hanya pergi sebentar ke rumah tetangga. Namun, sudah lebih dari sepuluh menit, Emma belum juga kembali. Wajahnya berubah dingin. *** Sudah hampir tengah malam. Emma membeku di meja makan, mengaduk-aduk gelas susunya. Ia tak bisa tidur, bukan karena Fandi dinas luar kota, tapi karena ucapan dingin Armand siang tadi. "Tolong jangan temui Marissa lagi. Dia sedang tidak stabil. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, dia sering stres dan depresi. Dia butuh sendiri dulu, sampai keadaannya membaik." Pikiran Emma menolak mentah-mentah alasan itu. Marissa stres? Depresi? Itu tidak masuk akal. Di matanya, Marissa sangat tenang, lembut, bahkan jauh lebih waras dari suaminya. Tidak. Armand pasti berbohong. Ini adalah cara kotornya untuk menjauhkan ia dari Marissa agar rahasia mereka tidak terbongkar. Dia mengira ia sengaja mengajak Marissa ke Rosetta Hotel untuk menguak kebenaran. Tapi kenapa dia merencanakan pesta di sana jika dia ingin menyembunyikannya? Sebuah pikiran dingin merayap, membekukan darahnya. Ia teringat ucapan lirih Marissa di kafe Rosetta Hotel—"Aku pernah ke sini." Bukan, ini bukan soal sakit mental. Ini adalah obsesi. Armand mengisolasi Marissa karena Marissa sebatang kara. Tapi bagaimana dengan mobil mewah, cincin berlian, dan gelang berlian yang selalu dipakai Marissa? Jangan-jangan, semua itu milik Marissa? Dan jangan-jangan hotel itu juga sebenarnya milik Marissa? Emma mengerutkan keningnya, menarik benang-benang kecurigaannya selama ini. Marissa terlihat familiar dengan hotel itu, seolah ia telah kehilangan memori masa lalunya. Ia juga tidak mengingat masa kecilnya, bahkan ia tidak pernah membicarkan kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. Seolah ia tidak mengenal dirinya. Lalu, siapa Marissa Clara sebenarnya? Dengan hati gelisah, Emma mengambil laptopnya, membawanya ke meja makan, dan memulai pencarian. Dengan cepat jari-jari Emma mengetik nama 'Marissa Clara' di mesin pencarian, berharap menemukan satu jejak. Namun, layar hanya menampilkan hasil yang tidak relevan. Halaman demi halaman, Marissa Clara seolah tidak pernah ada di dunia. Hati Emma berdebar kencang, tangannya gemetar saat ia kembali menelusuri jejak Marissa di mesin pencari. Namun, layar laptop memancarkan cahaya dingin yang hanya menampilkan ketiadaan. Nihil. Emma menggelengkan kepalanya tak percaya. Selama ini ia mengira Marissa memang tak menyukai media sosial. Tapi kini ia meyakini, Armand sengaja membuat Marissa terisolasi. Ucapan Marissa tentang Armand yang posesif terasa masuk akal, tapi ia tahu ini bukanlah sekadar posesif biasa—ini adalah isolasi total. Armand sengaja menghapus jejak Marissa, bukan hanya dari dunia nyata tetapi juga dari dunia maya. Bahkan, ia tak menemukan satu pun foto Marissa di seluruh akun media sosial Armand. Mengapa Armand menyembunyikan istrinya dari dunia luar? Rahasia apa yang ia coba tutupi? Tiba-tiba saja darah Emma berdesir dingin. Pikirannya dipenuhi prasangka dan kontradiksi yang membingungkan. Kalau Armand begitu marah ia membawa Marissa ke Rosetta Hotel, lalu untuk apa ia merencanakan pesta kejutan ulang tahun di tempat itu? Bukankah itu berarti ia sengaja membawa Marissa kembali ke sana? Emma terus termenung, tatapannya menembus kegelapan di luar jendela. Malam melewati puncaknya, dan s**u di gelasnya menjadi dingin. Ia tak beranjak, terjebak dalam teka-teki rahasia yang semakin dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD