Malam itu, setelah meninabobokan Sava, Marissa menghampiri Armand di ruang keluarga. Cahaya biru dari layar ponsel memendar di wajah Armand. Ibu jarinya bergerak lincah, mengabaikan tayangan di televisi.
"Mas..."
Armand menoleh, seolah ditarik paksa dari fokusnya. "Sava sudah tidur?" tanyanya lembut.
Marissa mengangguk, lalu duduk canggung di sampingnya. Ia menatap suaminya, keraguan membelenggu lidahnya. Sebenarnya, ia tidak ingin mengungkapkannya - tapi pertanyaan-pertanyaan di kepalanya terus berputar sejak ia pergi ke Rosetta Hotel. Ia harus mengetahui kebenarannya, agar bayangan itu tak lagi mengganggunya.
Menyadari kegelisahan Marissa, Armand meletakkan ponselnya di sofa. "Kenapa?" tanyanya.
"Aku mau bicara sesuatu," ucap Marissa, suaranya pelan dan penuh kehati-hatian.
"Bicara apa?" Armand mendekat, menatap Marissa serius. Tatapannya membuat Marissa semakin gugup.
"Kemarin siang, aku ngajak Emma ke Rosetta Hotel, cuma buat minum kopi di sana..." Marissa berhenti sejenak, mengepal erat tangannya, menunggu badai yang ia duga akan datang.
"Oke..."
Marissa terkejut. "Kamu... enggak marah?" tanyanya, heran dengan reaksi Armand yang begitu tenang.
Armand tersenyum tipis, sebuah ketenangan yang dipaksakan, lalu menggeleng. Ia sama sekali tak marah pada Marissa, bahkan menghargai kejujurannya. Tapi ia yakin, kejujuran ini diarahkan oleh Emma untuk mengorek informasi. Sejak awal ia memang sudah ragu pada Emma.
"Kamu ingin menanyakan sesuatu?" tanya Armand, melihat keraguan masih menyelimuti Marissa.
Marissa mengangguk. "Apa kamu yakin, Mas, belum pernah mengajakku ke sana?" tanyanya, nyaris berbisik.
Kini, giliran Armand yang terkejut. Senyum tipisnya lenyap. "Maksudmu ke Rosetta Hotel?"
Marissa kembali mengangguk.
Armand menggelengkan kepala. Keningnya berkerut. "Apa kamu merasa sudah pernah ke sana?"
Marissa mengangguk ragu.
Armand tersenyum tipis, menganggap Marissa hanya lupa. "Kita sering ke hotel, Sayang. Mungkin Rosetta Hotel mirip dengan hotel-hotel lain yang pernah kita kunjungi," lanjut Armand, meyakinkan.
Kata-kata Armand memicu logika Marissa. Ia mencoba mengingat detail yang lain, tapi hanya ada kabut. Mungkinkah perasaannya salah? Logika Armand terasa lebih masuk akal. Rosetta Hotel baru tiga tahun berdiri, tak mungkin ia ke sana sendirian. Mungkin itu hanya perasaannya saja.
"Mungkin hanya perasaanku saja." Marissa mengakhiri keraguan dengan sebuah senyuman kecil yang dipaksakan. Ia beranjak ke kamar, meninggalkan Armand yang masih mematung di ruang tengah.
Begitu pintu kamar tertutup, wajah hangat Armand luruh seketika. Rahangnya mengeras, matanya menajam menatap kegelapan. Ia meraih ponsel, jari-jarinya bergerak.
Namun, tanpa Armand sadari, Marissa berdiri diam di balik celah pintu yang dibiarkan sedikit terbuka. Ia menatap suaminya yang sibuk mengetik.
Jantung Marissa berdesir. Buru-buru ia meraih ponselnya, membuka aplikasi pesan, dan kembali melihat status Armand dan Emma yang online pada saat bersamaan. Marissa menahan napasnya yang sesak, tangannya bergetar. Ia beralih ke jendela, menatap rumah di seberangnya
Di seberang, ponsel Emma menyala. Pesan dari Armand masuk seperti sebuah ancaman yang dibungkus bantuan:
"Aku akan menceritakan semuanya saat waktunya tiba. Tapi untuk saat ini, menjauhlah dari Marissa. Pergilah berlibur sampai pesta itu tiba. Aku yang tanggung biayanya."
Emma menatap layar itu dengan hati dingin. Suap. Armand sedang mencoba membeli diamnya. Bukannya takut, insting detektif Emma justru terbakar. Ia membuka laptop, menembus lapisan demi lapisan informasi digital tentang Rosetta Hotel, hingga matanya menangkap sebuah nama kecil di pojok situs hotel: PT. Pelita Hati.
Jantungnya berdebar. Nama itu membawanya pada satu foto bangunan tua terbengkalai, dengan papan nama usang: MARINA HOTEL.
"Pemiliknya sama..." Emma berbisik.
Malam itu berlalu dengan sunyi yang panjang. Namun, pagi berikutnya, sesuatu di hati Emma terasa tak tenang.
***
Pagi itu, dari jendela, Emma diam-diam mengintip rumah Marissa. Jantungnya berdebar, menunggu mobil Armand menjauh. Begitu suaranya menghilang, Emma meraih piring berisi pastel goreng yang masih hangat, lalu melangkah cepat ke rumah seberang.
Marissa, yang baru saja akan menutup pintu sedikit terkejut melihat Emma menerobos masuk.
"Aku bawain pastel, mumpung masih anget," ucap Emma, mengulurkan piring pada Marissa.
"Oh, makasih," ucap Marissa pelan, menerima piring itu dan meletakkan di meja makan tanpa menyentuhnya.
Emma tersenyum kikuk. Ia merasa sikap Marissa sedikit berubah, tak sehangat biasanya. Ada apa dengannya? Namun, ia mencoba mengabaikannya, mungkin lagi pms, pikirnya. Ia tak ingin berlama-lama memikirkannya; saat ini ia harus fokus pada tujuannya.
"Oh ya. Hm, kamu sudah cerita soal Rosetta Hotel ke suamimu?" Tanyanya, mencoba terdengar santai.
Marissa mengangguk. "Aku penasaran, jadi aku tanya semalam."
"Oh. Terus, apa katanya?" Emma mendekatkan wajahnya. Matanya menatap tak sabar.
"Mas Armand enggak percaya aku pernah ke sana. Katanya mungkin cuma perasaanku aja," jawab Marissa, dengan nada yang sudah dipengaruhi keraguan suaminya.
"Oh... hmm.... tapi kamu yakin kan, pernah ke sana?" tanya Emma memastikan.
Marissa mengangguk ragu. "Aku jadi enggak yakin. Mungkin benar kata Mas Armand, cuma mirip sama hotel yang pernah kami kunjungi."
"Ris..." Emma menatap sahabatnya lekat-lekat. "Aku mau tanya sesuatu..."
"Tanya apa?"
Emma mengeluarkan ponselnya. Perlahan ditunjukkannya gambar sebuah bangunan tua di layar. "Apa kamu ingat tempat ini?" tanyanya, suaranya tercekat oleh harapan dan kecemasan.
Marissa mengerutkan keningnya, mencoba fokus pada layar ponsel. Tatapannya nanar, seolah melihat sesuatu yang jauh, sesuatu yang samar-samar terasa familiar namun sulit dijangkau. Diraihnya ponsel Emma, kedua tangannya kini memegangnya erat, mendekatkannya ke wajah, berusaha memperjelas setiap sudut foto. "Marina..." ucapnya lirih.
"Marina hotel. Apa kamu mengingatnya?" Wajah Emma kini depenuhi rasa penasaran yang membuncah.
Marissa tak menjawab. Namun, tiba-tiba matanya membulat, wajahnya berubah pucat, dan nafasnya tercekat. Ia seperti sedang menatap sesuatu yang menakutkan di gambar itu. Tangannya yang memegang ponsel mulai bergetar. Bibirnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Ponsel itu lalu terlepas dari jemarinya, jatuh membentur lantai. Tubuhnya gemetar, lalu ambruk di lantai.
"Ris, kamu kenapa?!" Emma menatap panik, berusaha meraih tubuh Marissa yang kini tampak linglung.
"RISSA?!"
Tiba-tiba Armand masuk, menyambar tubuh Marissa, memeluknya erat-erat. "Rissa sayang..." ditepuk-tepuknya pipi istrinya, mencoba menyadarkannya. Tapi Marissa hanya diam. Tatapan matanya kosong.
Mata Armand beralih pada Emma yang kebingungan. "Kenapa Marissa?!" Tanyanya tajam.
"Aku... aku cuma mau pamit untuk pergi liburan," dusta Emma gugup, sambil menyembunyikan ponselnya di belakang punggung.
Armand kembali menatap Marissa. "Ris..." panggilnya pelan.
Marissa menoleh. Ia menatap Armand dengan kebingungan dan ketakutan yang membekas di matanya. Bibirnya bergerak, namun tak ada satu pun kata yang keluar. Hanya air mata yang perlahan menetes.
Emma hanya dapat mematung, menatap tak percaya pemandangan di depannya. Ia merasakan ada sesuatu yang sangat gelap dan menakutkan yang baru saja bangkit dari masa lalu Marissa.