Trauma Marissa

1280 Words
Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Armand menatap punggung Marissa yang berbaring kaku di atas ranjang. Sejak kejadian pagi tadi, istrinya seolah kehilangan seluruh energinya. Nafasnya pelan, tubuhnya nyaris tak bergerak. Ada sesuatu yang padam di dalam dirinya. Armand menjatuhkan diri ke sofa. Pikirannya kacau. Sejak pagi, Marissa tak bicara sepatah kata pun, hanya menatap kosong, seolah pikirannya tersesat di tempat yang jauh. Armand yakin Emma penyebabnya. Tapi ia tak bisa memaksanya mengaku—apalagi saat wajah Emma tadi juga tampak terkejut dan ketakutan. Untung saja ia sempat kembali ke rumah untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, kalau tidak, ia takkan tahu apa yang terjadi di antara mereka. Sementara itu, di rumah seberang, Emma duduk di depan laptop. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard, mengetik berbagai kombinasi kata kunci. “Marina Hotel,” “Rosetta Hotel,” “PT Pelita Hati.” Tak ada hasil berarti. Ia bersandar di kursi, mengusap wajahnya lelah. Pikirannya tak bisa diam. Apa sebenarnya hubungan Marissa dengan hotel itu? Kenapa reaksi Marissa begitu hebat—seperti melihat sesuatu yang tak seharusnya diingat? Suara notifikasi ponsel memecah lamunannya. Dari Fandi. “Kamu sibuk?” Emma memandang layar itu lama. Tak biasanya Fandi menghubunginya lebih dulu. Ada senyum tipis yang nyaris getir di bibirnya. Ia terlalu sibuk memikirkan Marissa sampai lupa bahwa hidupnya sendiri sedang retak. Tapi tiba-tiba, ingatan lama muncul—Fandi pernah bekerja sebagai jurnalis lapangan, meliput berbagai kasus di masa lalu. Mata Emma membulat. Mungkin Fandi tahu sesuatu tentang Marina Hotel. --- Malam itu udara begitu sunyi. Marissa berbaring di ranjangnya, memandangi langit-langit kamar yang gelap. Angin malam berembus pelan dari celah jendela, menimbulkan suara desir lembut seperti bisikan samar. Tapi matanya sulit terpejam. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya — sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Ketika akhirnya kantuk menyeretnya ke dalam tidur, dunia di sekelilingnya mulai kabur. Dan di antara kabut itu, sebuah tempat muncul — Hotel Marina. Ia berdiri di lorong panjang dengan karpet merah tua dan lampu gantung kristal yang bergoyang pelan. Dindingnya berlapis cermin, memantulkan bayangannya yang kecil dan gemetar. Tangannya menggenggam boneka beruang lusuh. Di ujung lorong, sebuah pintu terbuka sedikit, menembus cahaya kuning dari dalam kamar yang luas. Suara-suara terdengar samar— suara keras Laki-laki. Lalu suara perempuan, memohon, menangis. Kemudian... bentakan keras. “Kau tidak tahu apa-apa! Semua ini gara-gara kamu!” “Tolong hentikan, jangan di sini…” Jeritan itu menusuk jantungnya. Marissa kecil terpaku di tempatnya, tak berani bergerak. Dari celah pintu, ia melihat bayangan tubuh ayahnya yang tinggi, mengguncang bahu ibunya. Suara tamparan terdengar keras, membuatnya menjerit pelan — tapi hanya di dalam hati. Air matanya menetes tanpa suara. Ia ingin berlari keluar, tapi kakinya seolah menancap di lantai. Ia mundur perlahan ke kamarnya sendiri, menutup pintu rapat-rapat, dan bersembunyi di bawah selimut. Di balik selimut itu, dunia seakan berguncang oleh suara kaca pecah dan teriakan. Ia menutup telinga dengan kedua tangan, memeluk bonekanya sekuat mungkin. “Berhenti… berhenti… jangan lagi…” Suara kecilnya tercekat, tenggelam dalam tangis yang tertahan. Lalu... Ia terbangun. Napasnya terengah. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Matanya menatap sekeliling — kamar tidurnya sendiri, bukan hotel. Suaminya tertidur pulas di sampingnya. Ia menatap jam di meja samping tempat tidur. Pukul 03.07. Tangannya gemetar saat menyentuh dadanya. Di antara debaran itu, satu kalimat berputar di benaknya: “Hotel Marina…” Kini ia tahu mimpinya selama ini bukan ilusi — itu bukan hanya sekedar mimpi. Itu adalah kenangan masa lalunya. --- Pagi itu Armand terbangun oleh aroma kopi yang menyeruak dari dapur. Ia melirik jam dinding—pukul tujuh. Terlambat. Ia bangkit tergesa, lalu keluar kamar. Marissa berdiri di meja makan dengan senyum lebar. Terlalu lebar hingga membuat Armand berhenti di tempat. “Kamu sudah bangun?” sapanya riang. “Iya, kesiangan,” jawab Armand, masih setengah bingung. “Kok enggak bangunin aku?” Senyum Marissa perlahan memudar. “Oh… maafin aku,” ucapnya lirih, suaranya seperti ada sesal yang tak jelas. Armand menatapnya, mencoba membaca wajah itu. Sesuatu terasa janggal. “Enggak apa-apa. Sekali-sekali,” katanya cepat, lalu beranjak ke kamar mandi. Begitu terdengar suara air mengalir, Marissa bergerak pelan, melangkah keluar rumah—menyeberangi halaman menuju rumah di seberang. Mengetuk pintu. Emma membuka pintu, kaget melihat Marissa berdiri di depannya. “Mas Armand lagi mandi,” ucap Marissa cepat, seolah tahu apa yang dipikirkan Emma. “Aku cuma mau bicara sebentar.” “Oh… tentu, masuk.” Emma menyingkir memberi jalan, mempersilakan Marissa duduk di ruang tamu. “Kamu sudah baikan?” Marissa tersenyum samar. “Aku baik-baik saja." Tapi senyumnya terasa kaku, asing. “Oh, syukurlah. Aku sempat khawatir sekali—” “Apa yang kamu tahu tentang aku?” potong Marissa tiba-tiba. Suara itu datar, tapi menegang. Tatapannya menusuk. Emma terdiam. “Maaf… aku cuma tahu sedikit. Aku hanya penasaran,” jawabnya pelan. “Cuma itu?” Nada Marissa terdengar seperti ujian. “Iya… cuma itu,” sahut Emma. Tapi rasa takut dan penasaran beradu dalam dirinya. “Ris, sebenarnya kenapa kamu ketakutan waktu lihat foto itu?” tanyanya hati-hati. Marissa tersenyum lagi. Senyum tenang yang justru membuat Emma bergidik. “Aku cuma teringat sesuatu. Kenangan buruk… waktu aku kecil.” Jawabannya singkat, terlalu sederhana untuk trauma sebesar itu. “Oh…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Emma. “Aku pulang dulu, ya. Selamat berlibur,” ujar Marissa datar, lalu melangkah pergi. Emma menatap punggungnya yang menjauh. Ada sesuatu yang dingin dan asing pada tatapannya, cara bicaranya, bahkan cara jalannya. Mata itu seperti menyimpan rahasia yang gelap. --- Dengan langkah tergesa, Armand menembus koridor kantor, langsung menuju ruang Pak Wisnu. Ia tak sempat mengetuk. “Maaf, Pak, saya perlu bicara penting.” Pak Wisnu mendongak dari balik tumpukan berkas. Wajahnya tenang, tapi matanya awas. “Ini tentang Marissa?” Armand mengangguk cepat, napasnya masih tersengal. “Marissa… sepertinya kambuh lagi.” “Kambuh?” alis Pak Wisnu terangkat. “Maksudmu traumanya?” Armand mengangguk. “Kemarin pagi dia panik sampai jatuh. Emma yang ada di sana waktu itu. Tapi katanya cuma bicara soal liburan.” “Marissa tidak cerita apa pun?” “Tidak. Dia diam saja.” Pak Wisnu termenung lama. “Pasti ada sesuatu yang dikatakan Emma. Saya curiga, itu bukan kebetulan.” “Pak, Emma kelihatannya jujur…” “Tidak.” Nada Pak Wisnu berubah tegas. “Dia sudah lama mengawasi kalian.” Armand menatapnya, bingung. “Mengawasi?” “Dia memata-matai kamu, Armand. Dan sekarang dia membuat Marissa mengingat sesuatu yang seharusnya tidak diingat.” Pak Wisnu mencondongkan tubuh. “Dia harus disingkirkan.” “Disingkirkan?” Armand terkejut. “Bukan begitu,” sanggah Pak Wisnu cepat. “Maksud saya, dia harus pergi—menjauh dari Marissa. Selamanya.” Armand menelan ludah. “Saya sudah memintanya berlibur, sesuai perintah Bapak.” “Itu tidak cukup.” “Tidak cukup?” Pak Wisnu menatapnya lama. “Kalau dia terus di sini, semuanya bisa terbuka.” “Terbuka apa, Pak?” tanya Armand, nyaris berbisik. Pak Wisnu terdiam lama. Akhirnya, dengan suara serak, ia berkata, “Pesta itu harus batal.” Armand menatapnya heran. “Kenapa, Pak?” Pak Wisnu mengalihkan pandangan, wajahnya menegang. “Ikuti saja perintah saya. Batalkan semuanya. Dan jangan tanya apa-apa.” Ia meraih ponsel di mejanya. Tangannya bergetar ketika menekan layar. Armand melangkah keluar ruangan dengan d**a sesak. Kata-kata Pak Wisnu terngiang di kepalanya— "Dia memata-matai kamu… Dia membuat Marissa mengingat sesuatu yang seharusnya tidak diingat." Langkah Armand berhenti di lorong. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut. Ia tahu Emma sering memperhatikan dirinya, dan rumahnya, tapi ia menganggap itu hanya sekedar rasa iri. Emma selalu membandingkan hidupnya dengan Marissa. Tapi bukan Emma yang ia takuti saat ini, tapi pada apa yang disembunyikan oleh Pak Wisnu—masa lalu Marissa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD