Penjaga

1008 Words
Pagi itu, suasana meja makan yang biasanya tenang berganti menjadi tegang antara Armand dan Marissa. Marissa mengernyit, pisau roti di tangannya berhenti bergerak. “Nginap di rumah Ibu? Kok mendadak?” tanyanya, curiga. Armand mengangguk ringan, menyunggingkan senyum kecil, seolah itu hal biasa. “Iya, seminggu aja, sampai weekend. Aku udah minta Ayah buat sementara antar jemput Sava ke sekolah,” jawabnya santai — terlalu santai. “Tapi kenapa mendadak, Mas?” Nada Marissa menurun, tapi sorot matanya menyala. Ia tahu Armand sedang menyembunyikan sesuatu. “Masak ke rumah orang tua sendiri harus pakai rencana?” Armand terkekeh kecil, tapi tawa itu segera padam saat melihat wajah Marissa yang kaku. “Yaa, biasanya juga kita ke sana dua minggu sekali, kan?” “Iya, tapi enggak sampai nginap selama itu,” balas Marissa. Tatapannya tajam. “Terus rumah kita siapa yang jagain?” “Kan ada satpam komplek? Kamu enggak perlu khawatir." Armand mencoba meyakinkan. "Lagian Emma mau liburan panjang. Daripada kamu sendirian di rumah, mending ke rumah orang tuaku. Sava juga pasti senang. Udah lama dia enggak nginap di rumah oma opanya. Anggap aja liburan kecil.” Marissa terdiam sejenak. Ia merasa ada sesuatu yang direncanakan Armand diam-diam—dan ia yakin ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin dan Emma. Tapi ia juga tahu, ia tak bisa menentang keinginan suaminya. Akhirnya, ia mengangguk. Armand tersenyum lega, lalu meneguk kopinya cepat-cepat, seolah ingin segera mengakhiri percakapan. Marissa menatap rotinya yang belum habis; selera makannya mendadak menguap. Ia bangkit dari duduknya. “Aku siap-siap aja sekarang,” ucapnya, meninggalkan meja makan. Di kamar, Marissa memasukkan pakaian ke koper, tapi pikirannya melayang pada Armand dan Emma. Apa yang mereka sembunyikan darinya? Deru mesin mobil di seberang rumah menghentikan lamunan Marissa. Ia menoleh ke jendela. Dari balik tirai, ia melihat Emma keluar dari rumahnya — berpakaian rapi, membawa koper besar. Taksi sudah menunggu di depan pagar. Marissa tertegun. Kok enggak pamitan? gumamnya pelan. Ia membuka ponselnya, mencari pesan dari Emma. Kosong. Tak ada apa pun. Taksi itu perlahan melaju, meninggalkan kompleks. Marissa berdiri memandangi bayangan mobil yang kian mengecil di ujung jalan. Rasa janggal di dadanya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap — sebuah prasangka. Liburan Emma. Rencana mendadak Armand. Semuanya terjadi bersamaan. Ini bukan kebetulan. Kecurigaannya kini berubah menjadi keyakinan. Ia mengintip Armand di meja makan. Menerka-nerka apa yang disembunyikannya. Membuka ponsel? Tidak. Armand masih duduk tenang, menikmati kopinya. Tapi matanya tak bisa berbohong. Marissa memejamkan mata, mencoba menepis pikiran buruk. Tapi setiap kali ia menolak, bayangan Emma dan Armand justru semakin jelas. Rasa cemburu yang pernah padam kini menyala kembali — menyakitkan dan menyesakkan. --- Setelah mengantar Marissa dan Sava ke rumah orang tuanya, Armand melaju ke kantornya. Dengan langkah berat, ia masuk ke ruangan Pak Wisnu. Pria itu langsung menoleh. “Gimana? Marissa mau tinggal di rumah orang tuamu?” tanyanya. Armand menjatuhkan diri di kursi, mengangguk. “Sampai kapan mereka harus dipisahkan, Pak? Kalau terlalu lama, dia bisa curiga.” “Sampai dokternya datang,” jawab Pak Wisnu datar. Armand mengerutkan dahi. “Dokter? Dokter siapa?” “Dokternya Marissa.” “Dokternya Marissa?” Armand menegakkan tubuhnya. “Maksud Bapak... dia masih dalam perawatan?” “Dokter itu yang merawatnya sejak kecil. Dan Marissa masih dalam pengawasannya. Dia akan datang minggu ini, dari Jerman.” “Jerman?!” suara Armand meninggi. “Marissa pernah dirawat di sana?” Pak Wisnu menghela napas. “Sejak kecil,” jawabnya pelan, hampir berbisik. Armand menatapnya tak percaya. “Kenapa Pak Wisnu baru kasih tahu saya sekarang?! Kenapa fakta sepenting itu disembunyikan dari saya?” “Kamu tidak perlu tahu segalanya, Armand.” “Tapi saya suaminya, Pak!” Emosi Armand pecah. “Saya berhak tahu masa lalunya!” “Dan saya walinya!” bentak Pak Wisnu, suaranya menggelegar. “Saya pengacara keluarganya. Saya yang bertanggung jawab atas keselamatannya. Semua ini demi kebahagiaannya, kamu dan Sava.” Armand menatapnya membeku. “Kebahagiaannya… atau hartanya?” Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Armand—menggantung dalam keheningan. Pak Wisnu menatap tajam bagai elang. “Jaga ucapanmu. Kamu tidak tahu apa-apa. Dan ingat, tanpa kami, kamu tidak punya apa-apa.” Kata-kata itu menampar Armand keras. Mengingatkannya, bahwa semua fasilitas dan kenyamanan yang ia terima selama ini bukan hadiah—tapi rantai yang mengikat. Ia memang bukan siapa-siapa. Ia hanyalah penjaga seorang perempuan yang bahkan tak tahu bahwa dirinya masih dikurung oleh masa lalu dan harta yang belum benar-benar menjadi miliknya. Pak Wisnu menarik napas panjang. Wajahnya tampak lelah. “Tolong jaga Marissa. Jangan biarkan siapa pun mendekatinya. Terutama Emma,” ucapnya tajam. “Sampai dokter tiba, dia harus tetap tenang.” Armand menunduk. Ia ingin melawan, tapi ingatan pada wajah Marissa menahannya. Demi menjaga Marissa — ia meyakinkan dirinya sendiri. Tanpa bicara lagi, ia keluar dari ruangan. Pak Wisnu memandangi punggungnya yang menjauh, wajahnya menegang — antara penyesalan dan ketakutan. --- Di sebuah hotel di Jakarta, cahaya matahari menembus tirai, menimpa wajah Emma yang sejak tadi menatap layar laptopnya tanpa berkedip. Kamar itu sunyi; hanya dengung lembut pendingin ruangan yang terdengar. Secangkir kopi di meja sudah dingin. Emma menggulir layar laptopnya. Setiap klik membuka potongan masa lalu—laporan investigasi, transkrip wawancara, dan catatan dengan tulisan Fandi di ujung file: “Perlu izin lanjut. Nama besar terlibat.” Ia berhenti pada dokumen berjudul “Pelita Group – Internal Note.” Laporan itu menjelaskan kematian tragis pendiri grup, Lukman Ciptadi, yang ditemukan tewas di Villa Marina. Di bawah laporan itu, tercantum dua nama anggota keluarga: Rosita dan Marina. “Rosita... Marina...” gumamnya pelan. Nama-nama itu menari di benaknya, hingga huruf-hurufnya menyatu: Marina + Rosita = Marisa. Tubuhnya menegang. Nafasnya tertahan. Sesuatu yang dingin merayap di punggungnya. Dengan tangan gemetar, Emma meraih ponselnya dan mengetik cepat: “Armand, aku perlu bicara. Penting.” Beberapa menit kemudian, balasan datang. “Maaf, aku tidak bisa hari ini. Ada rapat mendadak dengan klien.” Emma menatap pesan itu lama. Di luar, matahari pagi menembus tirai, tapi pikirannya terasa semakin gelap. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, ia merasa takut pada apa yang akan ia temukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD