Rahasia Menakutkan

1101 Words
Armand menatap punggung Pak Wisnu yang berjalan cepat meninggalkan kantor, suara langkah pria itu masih terpantul di lorong ketika pintu tertutup di belakangnya. Kalimat terakhir Pak Wisnu terus terngiang, membuat tengkuk Armand meremang: “Saya akan menemui Marissa dan Emma. Saya akan membereskannya hari ini.” Membereskan apa? Armand bisa memahami jika Pak Wisnu ingin mengecek kondisi Marissa—itu masuk akal. Tapi menemui Emma…? Untuk “membereskan” sesuatu? Armand menelan ludah. Semakin ia memikirkannya, semakin jelas satu hal: Pak Wisnu sedang menyembunyikan sesuatu. Dan Emma mungkin sudah terlalu dekat untuk mengungkapnya. Pak Wisnu tiba di rumah orang tua Armand. Melihat Marissa menyambutnya di teras, ia mengatur ekspresinya, memaksakan senyum ramah di wajahnya. "Apa kabar Rissa?" sapanya. "Baik, Pak Wisnu," jawab Marissa, menyambut uluran tangan Pak Wisnu. Wajahnya dipenuhi pertanyaan. Sejak Armand memberitahukannya bahwa Pak Wisnu mendadak ingin menemuinya ia sudah gelisah. Ini di luar kebiasaan Pak Wisnu. "Bisa kita ngobrol di sini saja?" ucap Pak Wisnu saat Marissa mengajaknya masuk ke dalam rumah. "Lebih enak di sini, lebih privasi," tambahnya, lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi rotan. Ia tidak ingin pembicaraan mereka didengar oleh orang lain. Marissa mengangguk, lalu ikut duduk di hadapan Pak Wisnu dengan wajah yang tegang. "Ada apa, Pak Wisnu? Kok, tumben?" tanyanya, tak bisa menyembunyikan rasa penasaran. Pak Wisnu tersenyum tipis. Ia berusaha terlihat santai, padahal jantungnya berdetak kencang. "Saya cuma mau menengok kamu. Sudah lama kita enggak ketemu," jawabnya. "Oh..." Marissa tersenyum, namun senyumnya seperti dipaksakan. "Kata Mas Armand, Pak Wisnu mau menanyakan sesuatu sama saya?" "Ehm... iya..." Pak Wisnu berdeham, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Memang ada yang mau saya tanyakan juga..." "Tentang apa, Pak?" Marissa mengerutkan keningnya, tatapannya kini berubah serius. Sejenak Pak Wisnu terdiam, menatap ragu Marissa. "Hm... Saya cuma mau menanyakan kondisi kesehatan kamu. Armand bilang beberapa hari lalu kamu sakit…?" tanyanya hati-hati. Ditunggunya reaksi Marissa, berharap bisa membaca kebenaran di wajahnya. "Oh..." Marissa kembali tersenyum. Namun, kali ini senyumnya terlihat lega. "Saya kirain mau tanya apa," jawabnya. "Iya, cuma kecapean aja," tambahnya. "Kecapean?" Pak Wisnu mengulang jawaban Marissa, seolah ingin memastikan kembali. Marissa mengangguk. Pak Wisnu kembali terdiam, bingung untuk melanjutkan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya direndahkan. "Saya juga dengar dari Armand, katanya kamu... sempat ketakutan waktu dengar Emma akan liburan?" ucapnya hati-hati, seperti seorang dokter yang menanyakan gejala pada pasiennya. "Takut…?" Senyum Marissa memudar, keningnya berkerut lebih dalam, seolah mendengar kata yang asing. "Kamu menjerit ketakutan, Rissa. Kamu tidak ingat?" imbuh Pak Wisnu, mencoba mengingatkan. Marissa menatap Pak Wisnu dengan tatapan mata yang kosong. Sorot matanya begitu datar, seolah ia benar-benar tak mengingat apa pun. "Ris…" Pak Wisnu menyentuh bahu Marissa, seolah ingin menyadarkannya dari lamunan. Marissa tersentak. Senyumnya kembali. Namun kini, senyum itu terasa aneh. Senyum yang menyimpan kekosongan dan rahasia, namun terasa familiar bagi Pak Wisnu. "Ris… apa kamu mengingat sesuatu?" tanyanya, suaranya bergetar. "Sesuatu...?" Marissa memiringkan kepalanya, suaranya mengambang. "Apa kamu ingat apa yang diucapkan Emma padamu waktu itu?" tanya Pak Wisnu lagi, matanya menatap tajam, mencoba membaca jiwa Marissa. Marissa lalu menggeleng. "Tidak ada.." jawabnya, berbisik. Namun tatapan matanya menusuk tajam, membuat Pak Wisnu menarik wajahnya menjauh. Kekhawatiran dan rasa takut terpancar di mata Pak Wisnu. Lalu, tak lama kemudian, dengan terburu-buru ia pamit pergi, meninggalkam Marissa yang menatap kepergiannya dengan seulas senyum samar. Di dalam mobil, Pak Wisnu membuka ponselnya. Jari-jarinya gemetar saat ia menekan sebuah nomor. Setelah tak ada sahutan, ia dengan cepat mengaktifkan fitur pesan suara. "Dia mengingatnya," bisiknya ke ponsel. Suaranya penuh kepanikan. Pak Wisnu melajukan mobilnya dengan cepat ke jalan raya, menuju alamat yang dikirimkan Armand padanya. Jantungnya berdebar kencang, menyaingi deru mesin mobil. Di otaknya hanya ada satu nama: Emma. Ia harus bertemu wanita itu, sekarang juga. Mobilnya memasuki halaman sebuah hotel. Dengan cepat ia melangkah masuk ke lobi, matanya menyapu sekeliling, mencari sosok Emma. Dan sesaat kemudian Emma datang menghampirinya. "Apa kabar, Emma?" sapa Pak Wisnu, mengulurkan tangannya sambil tersenyum, mencoba bersikap tenang. Emma menyambut uluran tangan Pak Wisnu dengan wajah tegang, matanya penuh waspada. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa, di hadapan Pak Wisnu. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya, tanpa basa-basi. Pak Wisnu sedikit terkejut melihat sikap Emma yang diluar ekspektasinya, namun ia buru-buru menguasai diri. "Saya tahu kamu mencurigai Armand dan Marissa..." Ucapnya, berhenti sejenak, mengamati setiap inchi wajah Emma, menunggu reaksinya. Namun, tidak ada apa pun. Wajah Emma tetap datar. Ia lalu meneruskannya. "Dan saya juga tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang membuat Marissa ketakutan waktu itu." "Sepertinya Pak Wisnu sudah tahu?" tanya Emma, matanya kini dipenuhi selidik. Pak Wisnu menarik napasnya yang berat, lalu mencondongkan wajahnya ke depan, menatap Emma lebih dekat. "Apa yang sebenarnya kamu katakan pada Marissa?" tanyanya, suaranya tercekat. Emma tersenyum samar, senyum yang begitu dingin dan penuh makna. Ada kilatan kemenangan di matanya. "Saya tidak mengatakan apa pun," jawabnya, tenang, seolah menikmati setiap detik kepanikan Pak Wisnu. "Hanya menunjukkan sebuah gambar..." "Gambar apa?!" tanya Pak Wisnu tak sabar, suaranya berubah menjadi desisan tajam. "Gambar yang akhirnya membuka mata saya, dan membuat saya mengetahui rahasia yang kalian sembunyikan," jawab Emma, tatapannya menusuk tajam. Jantung Pak Wisnu berdebar kencang, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Rahasia...?" tanyanya, keningnya berkerut. Namun, saat melihat Emma mengangguk, sebuah senyum tiba-tiba mengembang di wajahnya. Senyum dingin yang penuh ejekan. "Kamu tidak tahu apa-apa," jawabnya, sengaja memancing Emma untuk mengatakan semuanya. "Saya tahu kalian membohongi Marissa," balas Emma, tatapannya tak gentar. Pak Wisnu kembali menghela napas, sedikit lega. Jawaban Emma tak seperti yang ia bayangkan. "Saya adalah wali Marissa. Saya pelindungnya, menggantikan kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia," jawabnya, suaranya kini kembali tenang, penuh wibawa. Namun, Emma menggelengkan kepalanya. Senyumnya tersungging tipis. "Ibunya masih hidup..." bisiknya, suaranya pelan, tetapi mampu membuat Pak Wisnu tersentak. "Kalian membohonginya," bisiknya lagi, kali ini diiringi dengan tatapan tajam yang menusuk telak jantung laki-laki di hadapannya. Wajah Pak Wisnu berubah tegang. Senyumnya luntur, digantikan oleh ekspresi panik yang tidak bisa ia sembunyikan. Matanya membesar, tak bisa menutupi ketakutan yang tiba-tiba melandanya. Emma tersenyum penuh kemenangan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekat pada Pak Wisnu, seolah ingin membelai ketakutan pria itu. "Dia tidak gila. Mungkin hanya sedikit terluka. Dan kalianlah yang membuatnya tetap seperti itu." "Kamu tidak tahu apa pun, Emma." Pak Wisnu berbisik, suaranya dipenuhi amarah yang tertahan. Wajahnya yang tegang kini berubah, matanya menatap tajam, penuh peringatan. "Jauhi dia! Jauhi Marissa. Atau..." Emma bergeming. Ia balas menatap Pak Wisnu, senyum sinisnya semakin jelas. "Atau...?" tantangnya, suaranya tetap tenang, seolah tak ada satu pun ancaman yang bisa mengguncangnya. Pak Wisnu menarik napas berat. Ia kembali mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya pada Emma, suaranya berubah menjadi lirihan dingin yang menusuk. "Kamu akan menyesalinya..." bisiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD