Kontradiksi

1378 Words
Hari menjelang malam. Langkah Armand terasa berat menapaki rumah orang tuanya, seolah setiap langkah menambah tekanan di dadanya. Perintah mendadak dari Pak Wisnu terus bergema di kepalanya-ia harus menahan Marissa lebih lama di sini sampai dokter dari Jerman itu tiba. Alasan itu sebenarnya tidak terlalu ia pikirkan, hanya saja perintah itu datang setelah Pak Wisnu bertemu Emma pagi tadi. Dan yang paling mencurigakan-Emma tiba-tiba menghindarinya. Teleponnya tak diangkat. Pesannya tak dibalas. Padahal pagi tadi, justru Emma sendiri yang meminta bertemu, seolah ada hal mendesak yang ingin ia sampaikan. Kini semuanya terasa janggal, seperti potongan puzzle yang sengaja disembunyikan darinya. Armand menarik napas dalam. Ada sesuatu yang sedang bergerak di balik layar, dan ia tidak tahu harus memercayai siapa. ​Pintu rumah terbuka, senyuman hangat Marissa menyambut Armand. "Kelihatan lemas banget? Capek, ya?" sapanya, menatap ketegangan di wajah suaminya. ​Armand memaksakan senyum yang terasa kaku. "Biasa... banyak kerjaan," jawabnya. ​Marissa mengambil tas Armand, namun Armand menahannya. "Nanti aja. Aku mau bicara sebentar, Ris?" Ia menjatuhkan diri di sofa. ​"Bicara apa, Mas?" tanya Marissa, ikut duduk di samping Armand. ​Armand menghela napas. "Kayaknya kita harus tinggal di sini lebih lama..." "Lebih lama?" ​Marissa mengerutkan kening. "Berapa lama?" ​Armand mencari kata yang tepat. Ia tak bisa mengatakan tentang alasan sebenarnya: sampai dokter itu tiba. "Sampai Emma kembali dari liburan, kira-kira dua minggu," dustanya, memilih alasan yang paling masuk akal. ​"Tapi memangnya Emma liburan ke mana, Mas? Kok dia enggak kasih tahu aku? Dan enggak bisa dihubungi?" tanya Marissa, kerutan di keningnya semakin dalam. ​Armand menelan ludah. "Mungkin ke luar kota, sinyalnya lagi jelek di sana?" jawabnya, berusaha santai. Ia tak mungkin memberi tahu Marissa yang sebenarnya, Emma masih di Jakarta. ​Marissa menatap Armand, penuh selidik. "Mas juga enggak tahu dia liburan ke mana?" Armand menggeleng. Ia buru-buru membuang pandangannya, menghindari tatapan mata Marissa. "Papaaa?!" Tiba-tiba saja, suara melengking Sava memecah ketegangan, sekaligus menyelamatkan Armand. Sava dengan riang melompat dan merangsek ke dalam pelukan Armand. "Katanya kamu habis bikin pizza sama Oma tadi sore? Papa ditinggalin, enggak?" Tanya Armand, dengan nada menggoda. Sava mengangguk, matanya berbinar. "Sava bikin pizza sosis keju, enaaak banget, deh, Pah! Yuk, cobain!" Sava menarik tangan Armand ke meja makan. Dari arah dapur, Oma muncul dengan membawa hidangan makan malam. "Sava sudah pintar masak sekarang. Tadi bantuin Oma di dapur," ucapnya, penuh kebanggaan. Ia meletakkan piring berisi ayam goreng bersalut tepung di meja makan. Harumnya menguar memenuhi ruangan. Opa muncul dengan semangkuk sup. Ia terkekeh, menatap Sava dengan mata berbinar. "Malam ini kita makan semua yang dimasak sama cucu Opa yang paling pintar dan cerewet," sambungnya, disambut oleh tawa ceria Savannah yang bergelayut manja pada Armand. Suasana rumah terasa hangat dan penuh cinta. Namun dari ruang tengah, Marissa berdiri mematung-seperti bayangan yang tertinggal di belakang kebahagiaan orang lain. Suara tawa Savannah yang melengking riang bukan lagi musik di telinganya, melainkan gema yang memantul di dinding kaca yang mulai retak. Ia melihat keluarganya seperti melihat sebuah foto tua yang warnanya mulai pudar-indah, tapi ia tak lagi merasa menjadi bagian di dalamnya Wajah Marissa berubah pucat. Matanya berkaca-kaca. Dan tangannya mulai bergetar. "Ris!" Armand langsung menghampiri. Suaranya cemas. "Kamu kenapa?" Marissa membuka mulutnya, namun suaranya keluar seperti bisikan pecah. "Aku... ingat Mama..." Armand tersenyum, mencoba menenangkan Marissa dan dirinya. ​"Nanti kita ziarah lagi ke makamnya, ya?" Namun kata-katanya justru memukul sesuatu dalam diri Marissa. Seperti memecahkan kaca tipis. "Makam...?" Marissa menatap Armand. Mata itu kosong, tapi ketakutan berputar di sana. "Mama... sudah mati?" Armand terpaku. Seketika ucapan Pak Wisnu bergaung di kepalanya-Marissa mengalami amnesia. Ia mengangguk pelan, menatapnya lembut. "Sayang..." bisiknya. "Mamamu meninggal waktu kamu kecil." Marissa menggeleng. "Enggak mungkin..." Air matanya menetes deras. "Enggak mungkin..." Bisiknya. "Mama enggak mati," lirihnya, penuh keyakinan yang membingungkan. ​Armand membuka ponselnya, memperlihatkan foto saat mereka berziarah tahun lalu. "Ini makam Mamamu." Marissa menyentuh layar itu, seperti menyentuh sesuatu yang tak pernah ia ketahui selama ini. Dunia seolah berhenti berputar. Kata 'Mati' terasa begitu asing, seperti sebuah kosa kata dari bahasa yang tak ia kenal. Baginya, Mama bukan sebuah nama di atas batu nisan, tapi sebuah aroma dan sentuhan yang masih hangat dalam ingatannya. Dan gambar itu bukanlah bukti atas ketiadaan, tapi sebuah pengkhianatan visual. Air mata Marissa jatuh-tubuhnya limbung, roboh dalam pelukan Armand. *** Pagi itu, Armand terbangun dengan hati berat. Dilihatnya Marissa sudah di meja makan, menata piring. Wajahnya cerah, senyumnya mengembang, seolah tak ada sisa tragedi tadi malam. Pasti ini efek obat penenang dari Pak Wisnu, batin Armand. ​Ia berjalan mendekat, mencoba mengendalikan perasaannya. "Wah, sarapan apa hari ini, kok wangi banget?" sapanya, mencoba terdengar riang. ​Marissa menoleh. "Nasi goreng seafood," sahutnya, suaranya dipenuhi keceriaan yang sempurna. ​"Pasti request-nya Sava?" ​Marissa mengangguk. "Tadi dia juga minta bekalnya dibanyakin." ​Armand tertawa lepas. Namun, ia menatap Marissa dari samping. Di balik senyumnya yang sempurna, ia merasakan ada sesuatu yang disembunyikan. Senyum itu terlalu lebar, terasa dipaksakan. Dan matanya... mata Marissa tak berubah, masih seperti tadi malam-hampa, seolah menyimpan luka yang tak terjamah. Ia menyadari sebuah kontradiksi yang menyesakkan-seolah ia sedang melihat sebuah topeng bahagia yang dikenakan oleh jiwa yang sedang hancur. "Kamu mau bawa juga buat bekal?" Suara Marissa menyadarkan Armand. Ia tersenyum. "Boleh," sahutnya. "O ya, Mas. Apa aku boleh pinjam mobil Ayahmu?" "Pinjam mobil? Untuk apa?" Dahi Armand mengernyit, curiga. "Aku mau belanja ke supermarket nanti siang." Marissa menjawab santai, tak menyadari kecurigaan Armand. "Kamu diantar Papa aja, ya? Sekalian jemput Sava?" Jawab Armand, mengingat pesan Pak Wisnu untuk tidak membiarkan Marissa pergi sendirian. "Atau aku suruh supir kantor antar kamu?" Marissa menggeleng. Wajahnya sedikit kecewa. "Sama Ayahmu aja deh," sahutnya, tersenyum samar. "Ok. Aku mandi dulu, ya." Armand tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian suara dering telepon yang tak berhenti memaksa Marissa masuk kamar. Dari dalam kamar mandi suara gemericik air terdengar-Armand masih mandi. Ia lalu mengambil ponsel yang menyala, menampilkan nama: Pak Wisnu. Namun, dering itu mati sebelum ia sempat mengangkatnya. Tak lama, notifikasi pesan singkat masuk. Nama Pak Wisnu muncul kembali. Penasaran, ia membaca pesan itu: "Jaga Marissa, jangan sampai bertemu Emma." Darah Marissa seketika membeku. Kalimat itu bukan sekadar peringatan, tapi sebuah jeruji besi yang baru saja dikunci. Ia menyadari satu hal: rumah ini bukan tempat perlindungan, melainkan sebuah karantina yang sangat sopan Ia tersentak saat suara gemericik air berhenti. Dengan napas tertahan, ia meletakkan ponsel itu di tempatnya semula, lalu secepatnya keluar dari kamar. Di kursi makan Marissa duduk dengan tegang. Sorot matanya penuh kebingungan dan ketakutan. Ia terdiam, menunggu. Tak lama kemudian Armand muncul. Wajahnya tampak kaku, seperti ada sesuatu yang menekannya. Marissa yakin, pesan itulah penyebabnya. Ia menyambut suaminya dengan senyuman, lalu menunggunya mengeluarkan kata. Ia ingin mendengar tentang pesan itu dan pesan-pesan lainnya. Ia ingin mengetahui rahasia apa yang mereka tahu tentangnya? Apa yang coba mereka sembunyikan darinya? Namun, Armand tak berkata apa-apa. Ia hanya diam, larut dalam pikirannya, seolah tak melihat kehadiran istrinya. Keheningan yang panjang dan berat mengisi ruangan. Di bawah meja, kaki Marissa bergerak gelisah. Ia bingung mengapa Armand tak mengatakan tentang pesan itu. Tapi ia juga tak berani bertanya. Kini ia yakin: kepergian Emma, pesan-pesan Pak Wisnu, dan pengasingan ini-semuanya adalah bagian dari konspirasi untuk menutupi sesuatu darinya. Sebuah rahasia yang mereka sembunyikan. Dan Emma mengetahuinya. Hingga sarapannya selesai, Armand tak bersuara. Setelah mengucap kata pamit yang singkat, ia pergi begitu saja. Pintu rumah tertutup. Suaranya pelan. Namun bagi Marissa, suara itu seperti retakan yang membelah hatinya. Punggungnya tegak, kedua tangannya mengatup erat di pangkuan. Tatapannya kosong, namun pikirannya bergerak liar-menghubungkan serpihan-serpihan yang selama ini terasa janggal. Emma menghilang. Armand tampak tertekan. Pak Wisnu memberi perintah. Marissa memegang dadanya. Ada rasa sesak-bukan hanya karena bingung, tetapi karena merasa dikhianati oleh orang-orang yang justru selama ini paling ia percaya. "Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku...?" Perlahan, ia bangkit dari kursinya. Kakinya terasa berat. Di kepalanya, satu tekad kecil mulai tumbuh, seperti titik hitam yang membesar. Ia tidak bisa terus berada dalam kegelapan. Dan ia tidak bisa membiarkan mereka menentukan hidupnya. Nasibnya. Jika mereka berusaha menjauhkannya dari Emma... maka Emma satu-satunya orang yang tahu kebenarannya. Ia menatap keluar jendela. Matahari pagi memantul pada kaca, menciptakan pantulan dirinya yang kini tampak asing. Ia mengusap pipinya yang dingin, memejamkan mata sejenak, lalu membukanya perlahan. Tatapannya kini tajam, penuh tekad. Ia akan mencari Emma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD