Siang itu, langit kota tampak panas dan terang, cahaya matahari menembus jendela mobil yang ditumpangi Marissa. Ia duduk di samping Ayah Mertuanya yang tengah mengemudi menuju sekolah Sava.
Marissa memandangi jalanan yang ramai, tapi pikirannya jauh ke tempat lain. Ada firasat aneh menyusup ke dalam dadanya sejak pagi, sejak ia membaca pesan-pesan Pak Wisnu di ponsel Armand.
Ia menggigit bibir. Nafasnya naik turun lebih cepat dari biasanya. Dibukanya ponsel, memeriksa kembali pesan yang ia kirimkan sejak pagi pada Emma. Pesan itu tak sampai. Ia menghilang begitu saja, seolah sengaja bersembunyi darinya.
Armand pun tidak tahu keberadaanya. Meski ia meragukan kejujurannya, tapi ia tak bisa memaksa. Dan itu membuatnya makin gelisah.
Mobil berhenti di depan sekolah. Sava sudah menunggu dengan wajah ceria. "Kita jadi makan humburger, kan?" Tanyanya antusias.
Marissa mengangguk. "Jadi, dong, sayang. Tapi kamu ditemani Opa aja, ya. Mama mau ke supermarket, biar enggak kelamaan nunggu."
"Kamu enggak mau Ayah antar jemput saja?" Tanya Opa.
"Enggak usah, Yah. Kan, dekat," elak Marissa. Tak ingin merepotkan.
Setelah Sava dan Ayah mertunya turun di restoran, Marissa mengendarai mobil menuju supermarket.
Namun, baru beberapa menit berjalan...
Ponsel berdering.
Dengan cepat Marissa mengangkatnya.
Detik berikutnya wajahnya memucat. Ponsel terlepas dari tangannya, jatuh ke pangkuan.
Seketika ia menginjak rem. Mobil berhenti mendadak. Mengagetkan mobil di belakangnya.
Marissa membeku. Degup jantungnya serasa berhenti. Tatapan matanya penuh ketakutan. Beberapa saat ia hanya terdiam, sebelum kemudian memutar balik mobilnya.
Sementara itu di kantornya Armand duduk gelisah. Tangannya mengetuk-ngetuk meja. Kedua kakinya bergerak tak beraturan. Ditatapnya arlojinya, lalu memandang ruangan Pak Wisnu yang masih kosong. Kemana dia? Kenapa tak ada kabar sampai siang begini?
Ia melirik layar ponselnya. Pesan untuk Emma belum terkirim. Tak sabar, ia beranjak dari kursi, melangkah pergi keluar kantor dengan langkah cepat.
Di parkiran sebuah hotel, Emma duduk di balik kemudi mobilnya yang belum menyala. Udara panas siang hari seolah tidak mampu mengusir dingin yang melingkupinya. Nafasnya memburu, tidak beraturan, seolah tubuhnya menahan untuk tetap diam. Namun tekadnya sudah bulat. Ia harus melakukannya.
Ia menutup mata sejenak, menahan gemetar halus di bibirnya. Ada ketakutan di sana. Namun ada pula tekad yang enggan padam. Kebenaran harus diungkapkan, meski itu pahit.
Emma menelan ludah. Ia meraih setir dengan tangan gemetar, menguatkan dirinya.
“Demi kebenaran…” bisiknya, menguatkan hati.
Dengan tarikan napas panjang, ia memutar kunci. Mesin mobil menyala, menambah getar pada ketegangan yang sudah menumpuk di d**a. Ia melirik kaca spion— memastikan tidak ada yang mengawasinya.
Lalu mobil itu bergerak, keluar dari parkiran hotel, menuju seseorang yang sedang menunggunya.
Di jalan tol, mobil Emma melaju. Tubuhnya tegang. Tangannya memegang setir dengan kuat.
Tiba-tiba, firasat aneh menyelinap.
Ia melirik spion tengah. Pada sebuah mobil hitam yang sedari tadi mengikutinya.
Ia memperlambat laju mobil. Mobil hitam itu ikut melambat.
Ia mempercepat. Mobil itu ikut melaju, menjaga jarak yang sama.
Jantung Emma berdegup kencang.
Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Ia menekan sebuah nomor. Tidak diangkat. Ia menelepon lagi.
Masih tidak diangkat. "Tolong angkat..." Bisiknya dengan suara bergetar.
Ponselnya tiba-tiba berdering. Emma mengangkat dengan cepat. Namun, wajahnya seketika memucat. Matanya melebar bagai melihat hantu. Tangannya gemetar hebat, membuat ponsel jatuh ke lantai.
Ia menoleh ke kaca spion samping—
Mobil hitam itu sudah sangat dekat.
Terlalu dekat. Wajahnya semakin ketakutan. Dalam kepanikan ia menginjak pedal gas lebih kencang, namun tiba-tiba...
BRAAAAAK!!!
Mobil menghantam pagar pembatas dengan keras—terguling—terbalik.
Hingga akhirnya berhenti.
Dalam setengah kesadaran, Emma merintih. Darah menetes dari pelipisnya. Pandangannya kabur.
Dan dari balik serpihan kaca yang pecah…
Sosok itu mendekat. Wajahnya dingin.
Menatapnya tanpa emosi. Lalu tangannya terulur, menyentuh wajahnya pelan—pelan sekali. Dan tiba-tiba tangan itu membekapnya dengan kuat.
Di antara helaan nafas yang tercekik, ia mencoba melawan sekuat tenaga… tapi tubuhnya terlalu lemah. Napasnya terputus-putus. Hingga akhirnya ia tak lagi bernafas. Tangannya terkulai. Dan semuanya gelap...
...
Malam itu Armand pulang ke rumah dengan langkah berat. Wajahnya tampak kusut dan lelah.
“Papaaa!”
Namun suara Sava yang berlari menyambutnya di depan pintu memaksa bibirnya tersenyum.
Sava langsung memeluknya, bergelayut manja di pinggangnya. Celotehnya langsung mengisi ruangan. Dengan penuh semangat ia bercerita riang tentang ayam goreng dan hamburger yang disantapnya tadi siang di restoran cepat saji.
Armand tersenyum melihat keceriaan putrinya. “Makannya sama Mama dan Opa?”
"Cuma sama Opa. Mama ke supermarket."
"Oh, Mama enggak ikut?"
"Mas..."
Marissa tiba-tiba muncul dengan wajah pucat. Suaranya tertahan. Tangannya gemetar, menunjukkan ponsel yang menyala di tangannya. Layar ponsel menunjukkan nama: Fandi.
"Ada apa, Ris?" Armand menyambar ponsel dari tangan Marissa. Menempelkannya di telinga.
“Ada apa, Fan?”
Hening.
Beberapa detik kemudian Armand membatu. Tangannya yang memegang ponsel bergetar.
“Emma… kecelakaan…?” Suara Armand tercekat di tenggorokan. Ia menoleh pada Marissa yang menatapnya dengan tatapan penuh ketakutan.
Telepon lalu putus.
"Ris..." Armand mendekat perlahan. Lidahnya terasa kelu saat kata-kata itu akhirnya terucap, "Emma... meninggal..." suaranya tercekat di tenggorokan.
Marissa menggeleng-gelangkan kepala, menolak untuk percaya. Matanya menatap Armand dengan bingung. "Enggak mungkin..?" Bisiknya, nyaris tak terdengar.
Armand mengangguk pelan. Ia memeluk Marissa tepat saat tubuh itu limbung, jatuh dalam pelukannya.
"Mamaaa!" Sava menubruk Marissa, memeluknya sambil menangis.
"Rissa..." Bisik Armand, mencoba menyadarkan.
Namun Marissa tak merespons.
Wajahnya kosong. Tangisnya turun tanpa suara, seperti seseorang yang jatuh ke ruang paling sunyi dalam dirinya.
---
Dua minggu kemudian...
Dalam kesunyian rumahnya. Fandi duduk, menatap selembar kertas, laporan medis yang menyatakan Emma hamil enam minggu.
Air matanya jatuh, membasahi kertas itu. Tangannya bergetar. Lalu suara tangis yang ditahannya sejak tadi akhirnya keluar, menggema ke seluruh ruangan. Mengisi kesunyian dengan suara yang justru lebih menyesakkan dari sunyi itu sendiri.
Ia kehilangan Emma...
Ia kehilangan buah hati yang tak sempat lahir...
Ia kehilangan segalanya.
Kini, yang ada hanyalah penyesalan yang tak akan pernah berhenti.
Dan ingatan tentang Emma terus mengejarnya. Bayangannya tak berhenti menghantuinya, seolah ingin menghukumnya. Menyiksa batinnya.
Fandi meremas rambutnya. Ia terisak dalam kepedihan. Meratap dalam penyesalan.
Hingga kemudian suara mobil terdengar dari seberang.
Mobil SUV hitam Armand baru saja masuk halaman rumahnya.
Seperti sebuah firasat, Fandi mengikuti nalurinya. Ia mendekat ke jendela, menyibak sedikit tirainya, dan mengamati diam-diam.
Nafasnya tercekat. Ingatannya kini kembali pada penyelidikan Emma sebelum kematiannya. Kecurigaan yang ia anggap mengada-ngada. Tapi kini keraguan itu muncul. Pikiran yang selama ini ia tekan mulai merayap kembali… pikiran yang membuatnya bergidik hanya dengan membayangkannya.
Bagaimana kalau Emma benar? Dan bagaimana kalau kecelakaan itu disengaja untuk membungkamnya?
Polisi menyebut kecelakaan itu tunggal. Tak ada bukti dan saksi yang melihat mobilnya ditabrak seseorang.
Emma mengebut—menabrak pembatas jalan. Kasus ditutup.
Tapi ia merasa janggal.
Ia tahu Emma tidak mungkin mengebut. Emma selalu berhati-hati, apalagi dengan mobil tua mereka yang sering rewel.
Namun jika hari itu ia melaju begitu cepat… pasti ada sesuatu. Ada alasan yang membuatnya panik. Membuatnya merasa harus kabur dari seseorang — atau sesuatu.
Dan di tengah kepanikan itu, Emma meneleponnya. Ia melihat panggilan itu… tapi ia terlambat. Terlambat mengangkat. Terlambat menyelamatkannya...
"Maafkan aku, sayang… kamu pasti sangat ketakutan waktu itu…”
Kata-kata itu pecah menjadi isak yang makin keras. Fandi merunduk, kembali terjerembab dalam penyesalan yang tidak akan pernah bisa ia tebus.