Bayangan Yang Tak Pernah Pergi

1042 Words

Marissa duduk di ruang makan, membatu di kursinya. Di depannya, hidangan makan siang masih mengepulkan asap tipis, namun aroma hangatnya tak mampu mengusir hawa dingin yang merayap di ruangan itu. Tatapannya menembus kaca jendela yang buram oleh embun siang, tertuju pada taman mawar di belakang rumah. Di sana, sosok itu kembali muncul- duduk mematung, menunggunya seperti hari-hari sebelumnya. Ada keheningan aneh yang menyelubungi tempat itu, keheningan yang membuat d**a Marissa terasa berat, seolah waktu berhenti hanya untuk menyaksikan keberadaan yang tak seharusnya ada. Empat bulan telah berlalu sejak kematian Emma. Rumahnya tetap tampak sama, tertata rapi, namun suasana di dalamnya kini berbeda. Setiap sudut ruangan terasa hening; bahkan suara langkah kaki pun terdengar seperti gema as

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD