Bab 09

1025 Words
09 Pagi menjelang siang itu, Biantara tiba di kantor Janitra Grup. Dia bergegas memasuki lift yang akan mengantarkannya ke lantai 15, di mana ruang rapat besar berada. Biantara yang keluar dari lift bersama Warshif, disambut seorang penjaga keamanan dengan penghormatan yang dibalas Biantara dengan senyuman. Warshif membalas dengan anggukan, lalu menepuk pelan lengan kanan juniornya di PB itu. Semua pengawal PBK, dulunya merupakan satpam PB. Itu sesuai dengan aturan ketat dari kedua perusahaan yang berasal dari 1 panji tersebut. Pembedanya hanya dari masa dinas menjadi sekuriti, yang juga menjadi persyaratan mutlak. Bila saat pendidikan dan pelatihan sekuriti, anggota bisa menembus 20 besar, maka mereka hanya akan bertugas 3 bulan sebagai satpam. Kemudian mereka ikut pelatihan khusus pengawal level 1, yang disebut Gada Pratama. Buat sekuriti PB lainnya yang tidak masuk 20 besar, juga diberikan kesempatan guna mengikuti Gada Pratama. Namun, mereka harus dinas sebagai satpam minimal 1 tahun, dan lulus seleksi. Selama puluhan menit berikutnya, Biantara mengikuti rapat dengan serius. Dia mencatat banyak hal penting di buku agenda, karena otaknya masih belum bisa digunakan secara maksimal. Jika dipaksakan menerima informasi secara berlebihan, maka kepala Biantara akan pusing hebat. Seusai rapat, Biantara memenuhi ajakan Benigno untuk menuju restoran di lantai bawah gedung itu. Biantara jalan berdampingan dengan Alvaro Gustav Baltissen, komisaris 4 PB dan PBK, serta Harry Adhitama, direktur utama Adhitama Grup cabang Kelapa Gading. Selain ketiga orang tersebut, beberapa bos PG, PC dan PCD juga menuju tempat yang sama. Warshif bergabung dengan rombongan ajudan dan para asisten, yang mengikuti langkah bos mereka ke deretan banyak lift. Tidak berselang lama, rombongan puluhan orang itu telah memenuhi area kanan rumah makan Padang. Biantara menempati kursi di meja yang sama dengan Benigno, Alvaro, Harry, Brayden Raffles, Mark Dhananjaya, Sebastian Anargya, Hendri dan Ethan Janitra, Adik Benigno. "Ada kabar dari grup 8 PC, Danapati mau married," terang Hendri, seusai membaca pesan di grup utama PC. "Adik iparnya Nandito?" tanya Benigno. "Ya, Mas. Adik bungsu istrinya," jelas Hemdri. "Alhamdulillah. Akhirnya nikah juga dia," cakap Harry. "Nandito dan istrinya yang jadi Mak Comblang," cetus Alvaro yang merupakan sahabat Nandito, sekaligus pemilik saham terbesar kedua di SAG, perusahaan buatan Nandito. "Aku nggak ngeh calon istrinya Dana itu yang mana," tukas Brayden. "Aku ingatnya, dia manajer keuangan di RPG. Benar, kan?" tanya Sebastian. "Betul. Namanya, Hana," ungkap Alvaro sembari mengutak-atik ponselnya dan memperlihatkan foto sekumpulan perempuan yang tengah berfoto, di acara akikahan putra kedua Fairel Atthariz Calief, minggu lalu. "Orqngnya yang jilbab putih," terangnya. "Cantik," puji Biantara. "Tapi, cantikan yang jilbab ungu," lanjutnya. "Siapa, sih?" tanya Harry sembari mengambil ponsel Alvaro. "Ini, Avreen, kan?" desaknya. "Ya," jawab Alvaro. "Pangling aku," ungkap Ethan yang turut melihat foto itu. "Bang, dari semua perempuan di foto ini, siapa yang masih single?" tanyanya. "Kalau nggak salah, yang dua ujung kanan," lontar Alvaro. "Yang baju hijau, manis juga. Punya nopenya?" "Minta ke Aditya. Dia bosnya." "Siap." "Sebelum merayu, tanyakan dulu, dia beneran free atau nggak," sela Benigno. "Jangan kayak yang dulu. Kamunya semangat pedekate, tahunya dia sudah mau nikah. Bikin heboh," ledeknya. "Mas, bisa, nggak? Kejadian 3 tahun lalu, jangan diungkit lagi?" rengek Ethan. "No. Sampai kapan pun akan kuceritain. Itu bisa jadi pelajaran buat yang lainnya. Supaya jangan coba-coba pedekate tanpa tahu posisi!" kukuh Benigno. "Inggih, Ndoro," seloroh Ethan. "Aku tersentil," kelakar Mark. "Nah, ini, satu lagi. Bikin kesal," canda Sebastian sambil melirik lelaki berkulit putih di samping kirinya. "Sampai sekarang, aku masih bingung. Masa kamu nggak tahu kalau dia penjaja cinta?" tanya Brayden. "Beneran nggak ngeh, Mas. Dia memang nggak mau dipeluk atau dicium. Kupikir, dia perempuan alim. Tahunya, pemain profesional," keluh Mark. "Kamu meluk dan ciumnya gratis, sih. Kalau bayar, beda perkara," goda Hendri. "Jangan sok nasihatin. Akang juga punya bini 2," balas Mark. "Ehh, aku baru dengar. Beneran, Kang?" tanya Biantara. "Enggak," tutur Hendri. "Tapi, aku memang punya satu perempuan spesial, dan istriku nggak cemburu ke dia," sambungnya. "Kok, bisa?" "Jelas bisa. Yang itu, jurig." Biantara membulatkan matanya. "Hantu?" "Hu um." Hendri memperlihatkan wallpaper ponsel ketiganya yang bercashing hijau. "Ini, namanya Sartika, alias Nyai Centini," akunya. "Cantik juga, dan rada montok." "Bukan montok lagi, demplon itu," celetuk Harry. "Demplon, apa artinya?" tanya Biantara. "Montok berlekuk, cantik dan seksi," jelas Harry. "Sesuai tipe kesukaan Hendri," selorohnya. "Kalian tahu? Kalau Nyai itu manusia, pasti sudah dikawinin Hendri," celoteh Alvaro, sebelum dia ikut tertawa bersama yang lainnya. *** Biantara tiba di rumahnya beberapa saat menjelang jam 7. Dia bergegas mandi dan berganti pakaian. Kemudian dia berwudu, lalu menunaikan ibadah. Kala Biantara turun ke lantai 1, aroma harum memguar dari pantry. Biantara mendekati tempat itu dan duduk di kursi tinggi dekat meja. "Kamu bikin apa?" tanya Biantara. "Bolu ketan hitam plus keju," jawab Arista, sembari mengeluarkan kue dari cetakan. "Aku mau." "Nanti, Mas. Makan dulu." "Kamu masak?" "Enggak. Aku beli iga bakar, sate dan sop." "Loh, kok, kamu tahu, aku mau makan itu?" "Mas ada ngomong itu kemarin. Lupa?" Biantara tertegun, lalu menggeleng pelan. "Kayaknya otakku masih level bawah. Sulit banget mengingat percakapan kita. Padahal kalau urusan kerjaan, aku bisa ingat." "Itu karena Mas masih menutup bagian tentangku. Kalau nggak dibuka, apa pun yang kita lakukan dan katakan, nggak akan membekas." Biantara tidak sanggup menyanggah dan hanya bisa diam. Dia memandangi Arista yang telah berpindah ke meja makan, sambil membawa piring kue. Arista memanggil Warshif dan Diah yang segera muncul dari kamar masing-masing di lantai 2. Biantara berpindah duduk ke kursi seberang istrinya, sambil mengamati perempuan berbaju krem, yang tengah berbincang dengan Diah. Sepanjang acara bersantap, Biantara memikirkan perkataan Arista. Pria berkaus merah itu benar-benar bingung, karena selalu gagal mengingat kenangannya bersama sang istri. Biantara tidak menampik jika dia menyayangi Arista. Namun, Biantara juga tahu jika itu bukanlah cinta, seperti yang masih disimpannya buat Rifda. Mengingat sosok perempuan tersebut menjadikan Biantara merindukannya. Rasa itu masih menguat, padahal mereka sudah sebulan lebih tidak bertemu. Seusai bersantap, Biantara berdiri dan jalan ke teras belakang. Dia mengambil ponsel dari saku celana, lalu membaca semua pesan yang masuk. Satu pesan dari nomor tidak terdaftar menjadikan Biantara penasaran. Dia meng-klik pesan itu dan seketika terhenyak, menyaksikan beberapa foto dan satu video. Biantara mengeraskan rahang sambil terus menonton video itu hingga usai. Kemudian dia berdiri dan jalan menuju ruang makan, sambil berteriak memanggil Arista.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD