08
Jalinan waktu terus bergulir. Biantara masih belum menemukan cara untuk mengorek informasi tentang Sigit, dari Arista.
Perempuan bermata besar itu seolah-olah sengaja menghindari Biantara. Arista tidak pernah lagi sarapan bersama sang suami. Makan malam pun, mereka tetap terpisah.
Terdorong rasa penasaran, akhirnya Biantara mendatangi Arista di kantor spa. Kehadirannya mengejutkan banyak pegawai di tempat itu, karena Biantara jarang sekali berkunjung.
Pria berkemeja cokelat muda, berhenti di depan pintu bercat merah muda. Biantara sengaja tidak mengetuk pintu, dan langsung membuka gagangnya.
Biantara terpaku menyaksikan sepasang manusia tengah duduk di sofa yang berseberangan. Tatapannya beralih ke meja, di mana banyak makanan tersaji.
"Mas, kenapa nggak ngabarin kalau mau ke sini?" tanya Arista sembari berdiri.
"Memangnya aku harus ngasih info buat ketemu istriku?" Biantara balas bertanya dengan nada suara sedikit tinggi.
"Bukan begitu. Aku cuma kaget," balas Arista. "Kita makan bareng, yuk," ajaknya.
"Enggak. Aku sudah kenyang!" ketus Biantara. "Kalian lanjutkan saja, aku mau pergi," lanjutnya sembari berbalik dan jalan keluar.
Arista bergegas mengejar suaminya, sedangkan Sigit terdiam di tempat. Pria berbadan jangkung itu merasa tidak enak hati, karena sepertinya Biantara tengah cemburu padanya.
Sigit mempercepat menyelesaikan bersantap. Kemudian dia menyambar tas kerja dari samping kiri. Lalu mengayunkan tungkai keluar.
Sigit sempat tertegun sembari mendengarkan perdebatan antara Arista dan Biantara, di ruangan samping kiri. Sebab tidak ingin memperkeruh suasana, Sigit meneruskan langkahnya menuruni tangga. Agar bisa pergi dari tempat itu.
"Jelaskan. Siapa dia sebenarnya!" titah Biantara.
"Dia temanku," jawab Arista.
"Kamu pikir aku bo-doh? Aku sudah mengecek akun IGnya, dan banyak foto mesra dan video kalian!" sentak Biantara sembari memelototi istrinya.
Arista tercenung sesaat. Dia kaget, karena ternyata Biantara telah menyelidiki Sigit. Arista menjengit, ketika Biantara menggebrak meja dengan kencang.
"Jawab, Rista!" hardik Biantara.
"Ehm, dia ... mantan pacarku," terang Arista dengan jujur.
"Mantan?"
"Ya. Sebelum kita bertemu, dulu."
"Berapa lama kalian pacaran?"
"Sekitar 5 tahun."
"Lama juga."
"Ya, dari masih kuliah. Dia, Kakak kelasku. Beda 2 angkatan."
"Lalu, kalian putus, kenapa?"
"Dia ditempatkan perusahaannya di Amerika. Dia bilang, nggak mau memaksaku buat nunggu, karena mungkin saja kami tidak jodoh. Dan dia benar tentang itu."
"Apa kamu masih mencintainya?"
Arista menggeleng. "Enggak ada cinta yang tersisa buatnya, karena semuanya sudah jadi milik Mas."
Biantara terpegun. Dia tidak menyangka jika jawaban Arista akan seperti itu. Selama beberapa saat suasana hening. Keduanya tetap diam dan larut dalam pikiran masing-masing.
"Mas masih marah?" tanya Arista sembari menatap suaminya lekat-lekat.
"Enggak tahu," balas Biantara.
"Maaf."
"Hmm."
"Aku nggak akan ketemu dia lagi."
"Hmm."
Bunyi perut Biantara mengejutkan keduanya. Pria itu meringis malu, sedangkan Arista mengulum senyuman.
"Mas pasti belum makan," cakap Arista.
"Ya, aku sengaja ke sini buat ngajak kamu makan," tukas Biantara. "Tapi, karena ada dia, aku jadi emosi," lanjutnya.
"Sorry. Dia tiba-tiba muncul sambil bawa makanan. Aku mau nolak, tapi nggak enak hati."
Biantara mengamati perempuan yang balas menatapnya dengan intens. "Menjauh darinya, Ta. Aku tengah berusaha mengingat kenangan kita. Kehadirannya membuat semua makin sulit buat diingat."
"Ya, Mas."
Biantara berdiri. "Ayo, kita berangkat. Aku lapar banget."
Arista turut berdiri. "Bentar, aku ambil tas dulu."
***
Rinai hujan mengiringi menggelapnya malam. Seusai salat Magrib, Biantara keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan.
Warshif menyusul dan duduk di kursi ujung. Diah mempercepat menyajikan aneka lauk yang tadi dipesan dari rumah makan kesukaan Biantara.
"Panggil Rista, Diah," pinta Biantara sembari menuangkan nasi ke piringnya.
"Ibu tadi sudah makan, diantarkan, Pak," jawab Diah.
"Dia lagi sibuk?"
"Bukan. Tadi Ibu ngeluh perutnya sakit."
"Sakit?"
"Iya. Ehm, lagi dapat, Pak."
Biantara tertegun sesaat, sebelum dia mengangguk paham. Biantara bersantap sambil bercakap-cakap dengan Warshif.
Puluhan menit terlewati. Biantara telah berada di depan kamar utama. Dia mengetuk tiga kali. Namun, karena tidak ada jawaban, akhirnya Biantara membuka pintu dan memasuki ruangan.
Pria berkaus putih itu memerhatikan sekeliling. Sebab tidak ada lintasan kenangannya dengan tempat itu, menjadikan Biantara mengeluh dalam hati.
Dia mengalihkan pandangan pada Arista yang tengah meringkuk di kasur. Biantara menyambangi sang istri dan duduk di tepi kanan.
Biantara mengamati perempuan yang telah terlelap. Dia terus memerhstiksn Arista, sembari membatin jika perempuan tersebut sepertinya kelelahan.
Biantara mengulurkan tangan kiri untuk merapikan rambut Arista yang tergerai ke depan wajah. Tanpa sengaja jemarinya menyentuh pipi Arista yang ternyata halus.
Biantara mengulangi membelai lembut pipi kanan Arista. Biantara memajukan badan, lalu berbaring miring ke kanan.
Pria berkulit kecokelatan itu kembali mengusap pipi dan rambut Arista. Biantara merasa bersalah, karena belum bisa mengingat kisah mereka di masa lalu.
Biantara menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia memejamkan mata yang memberat. Sebelum akhirnya benar-benar terlelap.
Arista terbangun, karena hendak menuntaskan panggilan alam. Dia terkejut menyaksikan Biantara berada di samping kiri dan tengah mendengkur halus.
Arista bangkit duduk, lalu menjejakkan kaki ke sandal lembut. Dia berdiri dan jalan menuju kamar mandi, sembari mengeluh dalam hati, karena lupa mengunci pintu.
Tidak lama kemudian, Arista telah keluar dari toilet. Dia menyalakan 4 lampu kecil, lalu memadamkan lampu utama. Arista bergeser ke dekat meja rias untuk meneguk minuman.
Arista kembali duduk di tepi kasur. Dia menarik selimut, sebelum merebahkan badan memunggungi lelakinya.
"Ta, ngadap sini," panggil Biantara.
"Ehm, Mas, kapan bangun?" tanya Arista sembari memutar tubuh.
"Waktu kamu masuk ke toilet, aku kebangun."
"Ya, udah, tidur lagi."
"Aku pengen ngopi."
Arista melirik jam dinding. "Ini sudah jam 2 subuh. Masa ngopi jam segini?"
"Lagi mau itu."
"Hmm."
"Tolong buatin, ya."
"Hu um."
"Kalau ada kue, aku juga mau."
Belasan menit berikutnya, pasangan tersebut telah berada di ruang santai lantai 2. Mereka menyeruput minuman masing-masing tanpa urun suara sedikit pun.
Biantara meletakkan cangkir ke meja, lalu mengubah posisi duduknya hingga bisa melihat Arista lebih jelas.
"Minggu depan, ada libur panjang. Aku mau ngajak kamu liburan," tukas Biantara.
"Ke mana?" tanya Arista tanpa menoleh.
"Terserah kamu mau ke mana."
Arista berpikir cepat. "Aku lagi butuh suasana tenang dan hening. Bukan pantai, karena aku lagi malas panas-panasan. Mas ada ide tempatnya?"
"Resor BPAGK di Lembang."
"Enggak, ahh. Sudah beberapa kali ke sana. Rada bosan."
"Ehm, yang di Pangalengan. Mau?"
Arista mengangguk mengiakan. "Ya, itu pilihan yang bagus."
"Besok aku telepon Bang Zulfi. Mau minta diskon."
"Jangan bikin malu. Mas itu presdir. Masa minta diskon?'
"Sekali-sekali aku mau memanfaatkan teman."
"Orang buka usaha itu mau cari untung. Biasanya yang merusak bisnis memang orang-orang terdekat. Alias asas manfaat," ungkap Arista sambil memasang raut wajah serius.
"Iya, deh. Aku nggak jadi minta diskon."
"Good."
"Tapi, kalau dikasih gratis, aku nggak nolak."