07
Senin pagi, Biantara telah berada di ruang rapat di gedung kantor Balasena Grup, di kawasan Jakarta Selatan. Sang presdir mendengarkan laporan dari semua divisi, sambil sekali-sekali mencatat hal yang belum ada di berkas, yang telah dibacanya sejak beberapa hari lalu.
Seusai rapat, Biantara bergegas kembali ke ruang kerjanya. Denyutan di kepala yang muncul di tengah-tengah rapat, menjadikan Biantara terpaksa mengonsumsi obat pereda nyeri dari dokter.
Lelaki berkemeja biru muda, menyandar ke belakang. Biantara meletakkan siku kanan ke pegangan kursi, lalu dia menumpangkan dahi ke telapak tangan.
Biantara tengah mengurut kening, ketika kedua adiknya memasuki ruangan bersama Vidya, sekretaris direksi. Ketiga orang tersebut duduk di sofa yang melingkari meja. Kemudian mereka mengamati Biantara yang tengah berpindah ke kursi tunggal.
"Muka Mas pucat," tutur Rania.
"Ehm, kepalaku agak pusing," terang Biantara.
"Sudah minum obat?"
"Ya." Biantara memandangi ketiga orang di sekitarnya, kemudian dia bertanya, "Kenapa kalian ke sini?"
"Ada kabar kurang bagus. Baru diterima beberapa menit lalu," papar Nidhana.
"Tentang apa?" desak Biantara.
"Beberapa klien lama, memutuskan untuk tidak melanjutkan kerjasama dengan kita, setelah kontrak kerjasama itu usai."
"Klien yang mana?"
"Tara Wesley, Luigi Kiano Sabda, Pasha Lokajaya dan Keandra Paksi."
Biantara mengerutkan dahinya. "Alasannya, apa?"
"Mereka telah bergabung dengan Lyon King Aswanta. Jadi mereka nggak bisa ngasih proyek ke luar anggota kelompok itu."
"Oh, ternyata Lyon berhasil membuat grup untuk menandingi PCD." Biantara memandangi adiknya saksama. "Banyakkah anggota grup mereka?" tanyanya.
"Informasi yang kudengar, belum nyampe 20 orang."
"Pasti itu dari orang-orang yang nggak bisa masuk PCD. Jadi mereka bikin grup sendiri."
"Kenapa mereka nggak lolos, Mas?" sela Rania.
"Aku pernah dengar, dulu, Lyon pernah berselisih dengan HWZ. Sejak itu, Lyon dan keluarganya membenci HWZ dan anggota PC lainnya," jelas Biantara.
"Mereka salah cari lawan. HWZ memang perusahaan yang baru beroperasi beberapa tahun, tapi di belakangnya banyak pengusaha top," timpal Nidhana.
"Ya. Sulit menandingi Pramudya Grup. Ditambah lagi dengan Adhitama, Ganendra, Janitra, Aryeswara dan Pangestu. Belum lagi perusahaan dari luar negeri yang mendukung penuh tim HWZ," ungkap Biantara.
"Bapak nyebut nama perusahaan besar itu, aku merinding," celetuk Vidya.
"Merinding katanya. Tapi, pipinya yang memerah," ledek Rania.
"Vidya ingat mantan pacarnya di sana," goda Nidhana.
"Belum pacaran, Mas. Baru pedekate, tapi akhirnya aku ditinggal," keluh Vidya.
"Kalian ngomongin siapa?" tanya Biantara.
"Bang Dimas," jelas Rania.
"Loh, nggak jadian-kah?" Biantara mengamati sekretarisnya yang sedang menggeleng.
"Dia tiba-tiba ngilang, Pak. Jadi bingung aku," ujar Vidya.
"Mungkin dia lagi sibuk. Bang W lagi nekan semua mantan asistennya, supaya mimpin perusahaan sendiri dengan baik," tukas Biantara.
"Aku sebetulnya nggak masalah kalau memang kami nggak jadian. Tapi, seenggaknya kasih info, gitu," beber Vidya.
Biantara manggut-manggut. "Kamu sudah coba nanya ke dia?"
"Belum. Kagok aku."
"Coba aja chat. Basa-basi nanya kabar. Kegiatannya apa. Lalu, tembak dengan pertanyaan itu."
"Malu."
"Enggak apa-apa. Daripada kamu nungguin tanpa kepastian. Mending langsung dor, biar jelas."
***
Biantara tiba di rumahnya beberapa saat sebelum waktu isya. Dia memasuki kamar depan dan mempercepat proses pembersihan diri. Kemudian Biantara menunaikan ibadah empat rakaat dengan khusyuk.
Belasan menit berlalu, Biantara keluar dari kamar dan jalan menuju ruang makan. Dia meminta dibuatkan teh hangat pada Diah. Lalu Biantara duduk di kursi ujung kanan.
"Ibu ke mana?" tanya Biantara saat Diah mengantarkan minumannya.
"Belum pulang, Pak," jawab Diah.
"Dari kantor?"
"Ya."
Biantara terdiam sesaat. Lalu dia meneruskan bersantap sambil menebak-nebak keberadaan Arista. Biantara terkejut, saat menyadari bila dia bisa mengingat pekerjaan istrinya, yang merupakan pemilik spa.
Setelah makan, Biantara kembali ke kamar untuk menelepon Arista. Namun, perempuan tersebut tidak mengangkat panggilan itu.
Detik berganti menjadi menit. Hingga jam bergeser, Arista tidak juga muncul. Hal itu menyebabkan Biantara kesal dan terus-menerus menelepon sang istri. Namun, Arista tetap tidak mengangkat telepon.
Bunyi kendaraan di luar rumah, menjadikan Biantara penasaran. Dia mengintip dari celah gorden, kemudian menyipitkan mata saat melihat mobil asing.
Biantara bergegas keluar. Dia membuka pintu depan bertepatan dengan gelakak Arista, dengan seorang pria yang tidak dikenali Biantara.
Pria berkaus biru itu mendatangi pasangan yang sedang berbincang di dekat pagar yang terbuka separuh. Biantara mengamati lelaki berkemeja putih, yang langsung mengulurkan tangan kanannya.
"Malam, Mas," sapa Sigit dengan ramah, sembari berjabatan dengan Biantara.
"Malam. Maaf, saya belum mengenal Anda," tukas Biantara sembari menarik tangannya.
Sigit tertegun, lalu dia melirik Arista yang balas menatapnya saksama. "Ehm, saya teman lama Rista," jelasnya.
"Oh, begitu. Silakan masuk. Kita lanjutkan obrolan di dalam."
"Mohon maaf, tapi saya masih ada keperluan. Lain kali saya mampir."
Biantara manggut-manggut. Dia kembali bersalaman dengan Sigit, lalu dia mundur sedikit untuk menyamakan posisi dengan Arista.
Sigit memutari kendaraan dan membuka pintu kanan. Dia memasuki bagian pengendara, lalu menyalakan mesinnya. Sigit memasang sabuk pengaman terlebih dahulu, sebelum mengucapkan salam, lalu melajukan kendaraannya menjauhi area itu.
"Apa kamu sudah lama berteman dengannya?" tanya Biantara, sesaat setelah dia dan Arista berpindah duduk ke sofa ruang tamu.
"Ya, lebih dari 5 tahun lalu," jawab Arista.
"Aku sama sekali nggak ingat dia."
"Tidak perlu diingat, karena kalian memang cuma ketemu dua kali. Dulu, dan tadi."
"Hmm, aku kayak pernah lihat wajahnya di beberapa videomu."
Arista terkesiap. "Ehm, ya. Dia ada di video wisuda sarjana dan pascasarjana. Sama beberapa video lainnya."
"Panras aku familiar lihat mukanya." Biantara mengamati istrinya. "Kalian sangat akrab, ya?" desaknya.
"Dulu, iya. Sekarang, biasa saja."
"Kenapa bisa begitu?'
"Dia pindah ke luar negeri. Kami lost contact lebih dari 2 tahun. Dia baru pulang sebulanan ke sini."
"Lost contact?'
"Ya."
"Kalian bertengkar?"
"Enggak. Ponselnya rusak. Sedangkan hapeku dicuri orang. Kami sama-sama nggak nyimpan nomor telepon di drive."
"Zaman sekarang, nggak ingat nomor hape, masih bisa inbox, kan."
Arista tidak menyahut. Dia tidak bisa menerangkan semua kebenaran pada Biantara. Arista hanya tidak ingin suaminya gusar, jika mengetahui bila Sigit adalah mantan kekasihnya.
Perempuan berblazer oren itu akhirnya memutuskan untuk menghindari Biantara. Supaya pria tersebut tidak mendesaknya lagi.
Tanpa mengatakan apa pun, Arista berdiri dan jalan menuju tangga. Biantara memandangi hingga Arista menghilang di belokan tangga. Kemudian dia memfokuskan pandangan pada ponselnya.
Tiba-tiba tebersit ide dalam benak Biantara. Dia menggulirkan jemari menuju aplikasi i********:. Biantara mencari akun istrinya, lalu mengecek nama followersnya.
Biantara mengernyit kebingungan, ketika tidak bisa menemukan nama Sigit di daftar pengikut akun Arsita. Biantara berpikir cepat, sebelum meng-klik akun-akun bernama laki-laki.
Kala menemukan foto Sigit di salah satu akun itu, Biantara menelusuri aktivitas pria tersebut. Dia terus menggulirkan jemari ke unggahan lama, hingga menemukan banyak foto Sigit dan Arista. Lengkap dengan caption yang mencerminkan kemesraan keduanya.