Bab 06

1077 Words
06 Sabtu pagi menjelang siang, kediaman Biantara dipenuhi banyak orang. Acara selamatan buat Biantara, dimulai dengan lantunan ayat suci oleh Fikri, manajer umum PBK. Sementara Rania menjadi saritilawahnya. Seorang Ustaz memberikan tausiah yang menyejukkan hati. Biantara manggut-manggut sambil mengingat berbagai petuah sang ustaz. Biantara memandangi Arista yang berada di seberang. Perempuan bergamis sage tersebut, terlihat sangat serius mengamati Ustaz berkopiah hitam. Hingga tidak menyadari jika dirinya dipandangi sang suami. Biantara merasa bersalah pada Arista, karena hingga detik itu dia belum bisa mengingat tentang kebersamaan mereka. Padahal, setiap malam Biantara akan menonton video pernikahan mereka di laptop, ataupun mengamati banyak foto kenangan mereka. Pria berbaju koko sage, benar-benar bingung, karena dia kesulitan mengingat kisahnya bersama Arista. Padahal orang-orang yang baru dikenal Biantara, bisa cepat diingat pria tersebut. Biantara tertegun ketika melihat Arista mengusap sudut matanya dengan tisu. Biantara pernah beberapa kali menyaksikan air mata sang istri, dan itu menyebabkannya kian merasa bersalah pada Arista. Puluhan menit terlewati. Acara utama telah usai. Banyak tamu yang meninggalkan lokasi. Hingga hanya keluarga Biantara dan Arista yang masih bertahan di sana. "Gimana kondisi suamimu, Neng?" tanya Rukmini, Ibu Arista. "Fisiknya, sih, sudah sembuh, Bu. Tinggal ingatannya aja yang belum balik sepenuhnya," terang Arista sambil mengaduk-aduk isi piringnya dengan tidak semangat. "Apa kalian ada bertengkar? Maksud Ibu, sebelum dia berangkat itu." "Ehm, iya. Bukan berantem, sih, cuma berdebat dikit." "Tentang apa?" "Dia mau aku ikut, tapi karena lagi sibuk banget, aku nggak jadi nyusul dia ke dermaga. Kami berdebat lewat telepon. Kemudian dia matiin ponselnya, yang akhirnya rusak total karena tenggelam." "Pantas saja dia melupakanmu, Neng. Ternyata saat terakhir itu, dia lagi marah ke kamu." Arista mengerjap-ngerjapkan mata. Dia tidak menduga jika hal kecil itu bisa membuat sosoknya dan kenangan indah bersama sang suami, akan diblokir pria itu di dalam otaknya. Arista berdebat dalam hati, lalu dia cepat-cepat menghabiskan makanan. Arista bangkit dan jalan menaiki tangga untuk mengambil tas kecil serta dompetnya. Setelah kembali ke lantai satu, Arista berpamitan pada ibunya. Beralasan hendak membeli tambahan kue, Arista kemudian keluar dari rumah dan menaiki motor maticnya. "Rista ke mana, Bu?" tanya Biantara, setelah celingukan mencari istrinya. "Tadi dia bilang mau beli kue," jawab Rukmini sembari merapikan meja makan. "Kue? Bukannya masih banyak?" "Tinggal dikit, Mas. Neng beli tambahan buat dikasih ke keluargamu." "Oh, gitu." Rukmini mengamati menantunya yang tengah mengambil piring. "Mas, kata Neng, sebelum kejadian itu, kalian sempat berdebat. Beneran?" tanyanya. "Ehm, aku nggak ingat tentang itu, Bu." Rukmini menghela napas berat dan melepaskannya perlahan. "Dicoba untuk memaafkan Neng, Mas. Walaupun masih belum ingat, tapi mungkin itu yang benar-benar terjadi." Biantara mengangguk mengiakan. "Aku mau menemui psikolog yang direkomendasikan Mas Ben. Kalau memang diperlukan, aku juga akan mendatangi psikiater." Sementara itu di tempat berbeda, Arista sedang menyedot jus alpukat di gelas tinggi. Dia duduk di salah satu kursi di kafe sekaligus toko kue milik Falea, yang tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan. Arista membutuhkan waktu sendirian, sekaligus keluar dari rumah. Tekanan batinnya kian bertambah berat, karena mengingat percakapannya dengan Rukmini. Perempuan bermata besar itu mengalihkan pandangan, pada seorang perempuan yang mengantarkan kue-kue pesanannya. Arista memberikan tips pada pegawai toko, yang terlihat semringah. Perempuan berambut panjang tersebut, masih bertahan di tempatnya untuk menghabiskan minuman. Arista terkejut ketika mendengar namanya dipanggil dan dia spontan menengadah. "Mas, kok, bisa ada di sini?' tanya Arista, sembari berjabatan tangan dengan pria berparas manis tersebut. "Aku mau pulang ke apartemen. Mampir dulu ke sini buat beli cemilan. Tahunya, ketemu kamu," balas Sigit Wisakha, mantan kekasih Arista. "Boleh aku duduk di sini?" desaknya. "Boleh." Arista menatap pria yang nyaris tidak mengalami perubahan sejak 2 tahun silam. "Kapan pulang dari Amerika?" tanyanya. "Hampir sebulanan." Sigit mengamati perempuan yang pernah menjadi ratu di hatinya, dulu. "Aku baru tahu, kalau kamu sudah nikah," lanjutnya. Arista melengos. "Aku ada ngirim undangan ke rumah Mas, tapi kembali lagi ke aku, karena rumahnya kosong." "Ehm, ya. Eyangku sakit keras waktu itu. Semua anaknya kembali ke Yogyakarta. Sampai sekarang, orang tuaku masih di sana untuk mengurus rumah dan usaha Eyang, yang wafat bulan lalu." Arista terkesiap. "Maaf, aku nggak tahu tentang itu." "Enggak apa-apa, Ris. Sudah lewat," cakap Sigit. "Aku pulang juga karena permintaan Eyang. Mungkin beliau sudah merasa akan berpulang, jadi ingin mengumpulkan semua anak dan cucunya, serta cicit." Arista manggut-manggut. "Di sini, tinggal di mana?" "Apartemen Rafflesia. Setelah perempatan itu." Sigit menunjuk ke kanan. "Gedung biru?" "Yups, tepat sekali." Sigit memandangi perempuan di kursi seberang. "Kamu, tinggal di mana?" tanyanya. "Perumahan BKR." Arista menunjuk ke kiri. "Gapuranya yang gede itu," jelasnya. "Oh, yang banyak clusternya?" "Ya. Rumahku di cluster 7. Agak ke belakang." "Aku nggak pernah masuk ke sana, tapi yang kudengar, itu perumahan mewah." "Cluster 1 sampai 5 saja yang elite, Mas. Rumahku, biasa aja." "Mana ada rumah biasa di pusat kota gini?" "Banyak, kok. Mas belum masuk ke jalan-jalan kecil. Tahunya cuma apartemen, kan?" Sigit meringis. "Kamu tahu aja, kalau aku cuma hafal jalan ke kantor dan rumah. Selebihnya, blank." "Makanya, ada waktu libur itu jalan-jalan. Bukannya tidur atau main games." Sigit terkekeh sambil memamerkan deretan giginya yang rapi. Arista tersenyum melihat pria tersebut tertawa. Sejak dulu, dia sangat menyukai gelakak Sigit yang renyah. "Minta nomor ponselmu, Ris," ucap Sigit setelah tawanya lenyap. "Hampir sama dengan nomor yang lama. Beda di ujungnya aja. Yang dulu, belakangnya 89. Yang ini, 78," ungkap Arista. "Ehm, nomor lamamu juga aku nggak ingat. Hape baru ini." Sigit mengangkat ponsel keluaran terbaru yang harganya fantastis. "Sombong!" desis Arista. "Dari dulu aku memang angkuh." "Yeah, dan itu yang membuatku kesal." "Sstt! Jangan ngomel-ngomel." Sigit memberikan ponselnya pada Arista. "Kamu yang saved sendiri. Nanti aku misscall," ungkapnya. Arista mengetikkan nomor ponselnya dan menyimpan di bagian kontak. Kala layar kembali ke wallpaper utama, Arista terkesiap, karena mengenali foto itu. "Ehm, ini, foto waktu kita jalan-jalan ke Gunung Kidul, kan?" tanya Arista sembari mengembalikan ponsel pada pemiliknya. "Betul. Ternyata kamu masih ingat dengan foto ini," jawab Sigit. "Ingatlah, karena itu liburan terakhir kita sebagai ... ehm ... pasangan. Sebelum Mas berangkat, dulu." Sigit mengangguk mengiakan. "Itu sebabnya, foto itu kujadikan wallpaper. Supaya aku bisa mengingat masa-masa indah kita. Sebelum aku mendadak be-go dan melepaskanmu." "Mas nggak be-go, cuma rada to-lol aja." Sigit berdecih. "Sifat frontalmu itu masih ada rupanya." "Ini karakterku yang paling kuat. Suamiku juga, kadang kesal, kalau aku lagi kumat tunjek poinnya." Sigit mengulaskan senyuman. "Dia pria yang sangat beruntung, bisa mendapatkan mutiara sepertimu." Arista tertegun sesaat. Ucapan Sigit seolah-olah mencubit sisi hatinya yang terdalam. Terutama karena saat itu kondisi batinnya tengah kacau. Begitu pula dengan rumah tangganya bersama Biantara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD