02
Hari berganti. Kedatangan Rifda dan kedua orang tuanya, menjadikan Biantara senang. Sudut bibirnya tidak berhenti mengukir senyuman, dan matanya pun memancarkan binar kerinduan.
Rifda menyadari hal itu dan benar-benar tidak enak hati pada Arista. Rifda bisa melihat luka di mata perempuan yang lebih muda tersebut, dan dia makin tidak nyaman berada di sana.
Suasana kian tegang, ketika Biantara tidak mau Rifda pergi. Pria berbaju putih itu, bahkan menarik tangan kanan Rifda dan menahan perempuan tersebut yang hendak menjauh.
"Kamu tetap di sini," pinta Biantara sembari memandangi Rifda lekat-lekat.
"Maaf, Mas. Tapi jam besuk sudah selesai," kilah Rifda.
"Kamu tetap dampingi aku. Supaya Mama bisa pulang."
Rifda menggeleng. "Aku nggak bisa begitu, karena sekarang sudah ada Arista yang merawat Mas."
Wajah Biantara seketika berubah masam. "Aku nggak ingat apa pun tentang dia. Yang aku ingat, saat ini kamulah istriku."
"Hubungan kita sudah tamat sejak 2 tahun lalu. Mas juga telah menikah dengan Arista selama 6 bulan. Aku pun bentar lagi akan menikah."
"Kamu masih istriku, Da. Mana mungkin kamu bisa menikahi pria lain?"
Rifda membuka baugette bag hitamnya dan mengeluarkan lembaran kertas. "Ini bukti sah dari pengadilan, jika kita sudah cerai. Ada tanggalnya di sana. Mas bisa lihat sendiri."
Rifda meletakkan lembaran kertas itu ke paha kiri Biantara yang langsung mengambil dan membacanya. Rifda menarik tangannya agar terlepas, lalu dia bergeser menjauh.
Biantara membaca detail dalam kertas itu hingga dua kali. Dia menggeleng kuat, kala melihat tanggal putusan pengadilan agama Bintaro, tempat rumah lamanya dan Rifda berada.
Biantara mengerjap-ngerjapkan matanya. Kenyataan itu menghantam kesadarannya. Denyutan yang tiba-tiba muncul di kepala, membuat Biantara meringis.
Arista yang menyaksikan suaminya kesakitan, berdiri untuk mengambil obat dari tas khusus. Dia memberikan butiran obat pada Biantara, yang segera mengambil dan mengonsumsinya.
Selama beberapa saat, suasana hening. Semua orang mengawasi Biantara yang tengah memijat dahinya, sambil bergumam tidak jelas.
"Kak, lebih baik Kakak tetap di sini," bisik Arista yang telah berpindah duduk ke samping kiri Rifda. "Pelan-pelan jelaskan pada Mas. Supaya dia paham," lanjutnya.
"Aku nggak mau mengganggu kalian, Ris," ungkap Rifda.
"Aku nggak merasa terganggu. Justru aku senang Kakak datang. Mas jadi ceria. Dari tadi dia senyum-senyum terus."
"Itu karena dia lupa dengan penyebab perceraian kami. Kalau ingat, wajahnya pasti ditekuk."
"Kalian ngomongin apa?" tanya Biantara sambil menoleh ke kiri. Dia penasaran karena kedua perempuan tersebut berbisik-bisik.
"Ini rahasia perempuan. Mas nggak boleh tahu," terang Arista.
Biantara berdecih. "Aku mau rebahan."
Arista bergeming. Dia memandangi Rifda yang balas menatapnya saksama. "Kak, bisa tolong bantu antarkan Mas ke kasur?"
"Aku nggak punya hak untuk itu," cakap Rifda.
"Aku izinin."
Rifda mendengkus pelan. "Kita berdua saja yang bantuin dia."
"Hmm, oke."
Kedua perempuan berbeda tampilan itu sama-sama berdiri. Arista berpindah ke sebelah kanan Biantara, lalu dia memegangi lengan pria tersebut. Begitu pula dengan Rifda yang memegangi lengan kiri pria berkulit kecokelatan, dan membantu Biantara jalan ke tempat tidur.
Julianto dan Inayah, kedua orang tua Rifda, yang tengah bercakap-cakap dengan Nimas Ajeng, sama-sama memerhatikan Rifda dan Arista yang tengah berbincang serius di sofa panjang.
Tidak berselang lama, Chandrakanta datang bersama Rania. Seusai bersalaman dengan mantan besannya, Chandrakanta berpindah untuk menyalami Rifda.
Pria tua berkemeja krem, mengusap rambut Rifda yang tengah menyalaminya dengan takzim. Meskipun Rifda bukan lagi menantunya, tetapi Chandrakanta tetap menyayangi perempuan tersebut.
Rania turut mendekati mantan Kakak iparnya. Kedua perempuan tersebut saling mendekap untuk menyalurkan kerinduan, setelah sekian lama mereka tidak berjumpa.
Selama puluhan menit berikutnya, ketiga perempuan yang duduk berdampingan di sofa panjang, meneruskan perbincangan dengan beragam topik.
Biantara yang mengantuk akibat pengaruh obat, akhirnya tertidur. Hal itu dimanfaatkan Rifda untuk berpamitan. Kemudian dia dan kedua orang tuanya segera keluar dari ruang perawatan.
***
Awal malam itu, Rifda terpaksa kembali ke rumah sakit, setelah dijemput Warshif yang menyusulnya ke hotel. Rifda juga membawa pakaian ganti, karena dia diminta Arista untuk menginap.
Selama perjalanan itu, Rifda berbincang dengan calon suaminya melalui sambungan telepon. Harimurti yang tengah berada di Salatiga, tidak bisa memprotes tindakan Rifda, yang memang diminta Arista dan kedua orang tua Biantara.
Setibanya di ruang perawatan, Rifda langsung mendatangi Biantara yang tengah duduk menyandar ke tumpukan banral di ranjang pasien.
Tanpa banyak bicara, Rifda mengambil tempat makanan khusus pasien dari meja, lalu dia duduk di tepi kasur. Rifda mencampur nasi dengan sayur, kemudian menyuapi Biantara yang sejak tadi siang melakukan mogok makan.
Arista tertegun menyaksikan pemandangan itu. Walaupun dia tidak cemburu pada Rifda, tetapi hatinya tercubit, karena Biantara langsung mau makan setelah disuapi Rifda. Padahal Arista sudah membujuk pria itu sejak beberapa jam lalu. Namun, Biantara tidak menghiraukannya.
Arista mendengkus pelan, lalu dia berdiri dan mengayunkan tungkai keluar ruangan. Nidhana segera mengejar, karena dia khawatir Arista tengah bersedih.
Tebakan Nidhana benar. Dia menemukan perempuan berbadan cukup tinggi itu, tengah duduk di bangku pojok lorong khusus VIP.
Nidhana mengamati Arista yang tengah terisak-isak. Kemudian dia menyambangi perempuan berbaju abu-abu, dan duduk di sebelah kiri Arista.
Pria berparas manis, meraih saputangan dari saku jaket jin-nya, dan memberikan benda itu pada Arista, yang segera mengambil saputangan untuk mengusap lelehan air di pipinya.
"Dhan, besok aku mau di rumah saja. Istirahat," tutur Arista setelah lebih tenang.
"Ya, memang sebaiknya begitu," jawab Nidhana. "Kak Rifda juga harus kembali ke hotel," lanjutnya.
"Jangan. Biar dia yang mengurus Mas Bian."
"Mereka bukan suami istri lagi, Kak. Nggak boleh terus deketan."
"Mas maunya begitu."
"Kakak istrinya."
"Dia terus menolakku, Dhan. Aku harus gimana, lagi?"
"Tetap bertahan. Aku yakin, Mas sebentar lagi akan ingat sama Kakak."
"Kalau nggak, gimana?"
Nidhana terdiam sejenak. Dia memaksa otaknya untuk berpikir cepat. Sekian detik selanjutnya, Nidhana menjentikkan jemari seraya tersenyum.
"Besok, aku gantiin Mas rapat di kantor PG. Aku mau ngedatangin mentornya Mas, dan minta bantuan beliau untuk meyakinkan Mas," ungkap Nidhana.
"Ehm, kamu mau nemuin Pak Benigno?" tanya Arista.
"Ya. Mas Bian pernah bilang ke aku, jika dia segan dengan Pak Benigno."
"Hmm, ya. Itu memang benar. Karena Mas dari dulu sudah mengidolakan beliau."
"Pak Ben, kan, dokter. Mungkin dia bisa lebih memahami Mas. Siapa tahu, Pak Ben punya tips, untuk memancing ingatan Mas kembali," pungkas Nidhana.
Arista mengangguk paham. Dia merasa sedikit tenang, karena ada orang yang bisa diharapkan bantuannya. Supaya Biantara bisa segera sembuh dari penyakit amnesia temporary yang dideritanya.