Bab 03 - Kilasan Kenangan

1172 Words
03 Matahari belum naik sepenggalah, ketika Biantara meminta diantarkan jalan-jalan di seputar rumah sakit. Warshif memegangi lengan kanan bosnya hingga Biantara bisa duduk di kursi roda. Warshif mendorong pria berbaju hijau, sambil meladeni Biantara berbincang tentang urusan PCD. Sepuluh tahun silam, Artio Laksamana Pramudya membentuk Perusahaan Gabungan yang disingkat PG. Bersama 9 rekannya, Artio yang akrab dipanggil Tio, berhasil mengembangkan PG. Selanjutnya Tio menambah anggota PG, hingga genap 50 orang. Namun, karena banyaknya permintaan untuk membuat koalisi baru, akhirnya Tio membentuk Perusahaan Cabang yang disingkat PC, dengan Zafran Behzad sebagai direkturnya, dan total anggotanya mencapai 100 orang. Selanjutnya Tio membangun PCD, alias PC Dua, dan PCT atau PC Tiga. Biantara, Yushar dan Lainufar tergabung di PCD. Biantara yang belakangan bergabung, mengikuti beberapa proyek besar di dalam dan luar negeri. Biantara menanyakan beberapa hal tentang kesehariannya, pada Warshif yang menjawabnya dengan lugas. Meskipun baru setahun lebih menjadi ajudan Biantara, Warshif sudah sangat hafal dengan kehidupan sang bos. Sementara di belakang Warshif, Arista dan Rifda jalan sambil berbincang mengenai bisnis spa, yang ditekuni Arista sejak 5 tahun silam. Rifda mendengarkan celotehan perempuan yang usianya lebih muda 2 tahun darinya, sambil manggut-manggut. Rifda sama sekali tidak membenci Arista. Justru dia menyukai istri Biantara tersebut, yang ramah dan sangat cerdas. Tanpa sadar Rifda membandingkan sosok Arista dengan Nora, mantan kekasih Biantara, yang menjadi biang keladi hancurnya rumah tangga Rifda dan Biantara. Rifda sangat membenci Nora, dan dia turut senang ketika Biantara akhirnya berpaling dari Nora, ke Arista, yang merupakan Kakak sepupu dari teman bisnis Biantara, yakni Zijl Narthana. Rifda mengetahui hubungan antara Biantara dan Arista yang berlangsung cepat. Keduanya berpacaran hanya 5 bulan, sebelum akhirnya menikah. Rifda dan keluarganya bisa menerima Arista, karena perempuan tersebut sangat sopan dan baik. Bahkan, saat pesta pernikahan Biantara dan Arista, Rifda turut hadir bersama keluarganya. "Sudah berapa lama, Mas gabung di PC?" tanya Rifda. "PCD, Kak. Alias PC Dua," terang Arista. "Oh, beda, ya?" "Hu um. PC, anggotanya 100 orang. Kebanyakan adalah anak pemilik perusahaan yang sudah lama berkecimpung dalam dunia bisnis," jelas Arista. "Kalau PCD, anggotanya juga 100 orang. Itu lebih banyak dari perusahaan baru bentukan para bos PG dan PC," lanjutnya. "Hmm, ternyata begitu." "Mas gabung ke PCD baru 8 bulanan. Dia sedang mengerjakan 3 proyek penting, waktu kecelakaan itu terjadi." "Terus, gimana dengan proyeknya?" "Tetap dilanjutkan. Nidhana yang gantiin Mas untuk sementara waktu. Dia dibantu teman-teman yang ikut proyek itu. Terutama Mas Yushar dan Lainufar." "Aku kenal Mas Yushar, karena dia dan Mas Bian adalah teman seangkatan saat kuliah sarjana. Lalu, Mas Yushar melanjutkan pascasarjana di Amerika." "Ya. Mas Yushar lumayan lama di sana. Sekitar 7 tahun. Dia pulang ke sini, karena dipanggil ayahnya yang tengah sakit." "Sudah nikah belum dia?" "Belum. Ibunya sampai capek nyariin jodoh buatnya." "Luka hatinya dalam sekali." "Banget, Kak. Ditinggal calon istri beberapa hari sebelum menikah, pasti luar biasa sedihnya hati Mas Yushar." "Beda memang sakitnya orang ditinggal kekasih wafat, dengan orang yang ditinggal karena diselingkuhi. Lebih mendalam yang pertama. Kalau yang kedua, bisa disembuhkan setelah mendapatkan cinta yang baru." "Aku senang dengar Kakak mau menikah. Kapan-kapan, kita ketemuan sama calon suami Kakak." Rifda mengangguk mengiakan. "Tunggu Mas Harimurti pulang dinas dari Salatiga." "Profesinya apa, Kak?" "Area manajer farmasi. Dia sedang mengusahakan buat pindah tugas ke Bandung. Supaya kami nggak LDR setelah menikah." Panggilan Biantara menghentikan perbincangan itu. Arista mendekati suaminya, yang meminta dibelikan roti abon di toko dekat apotek. Arista mengajak Rifda untuk ikut bersamanya. Kedua perempuan yang sama-sama bergaun panjang, melenggang ke lobi utama sambil bergandengan tangan. Biantara memandangi keduanya hingga tidak terlihat lagi. Pria berkemeja biru tua, berusaha mengingat sepenggal kenangannya bersama Arista. Namun, yang teringat justru kilasan kedekatannya dengan Rifda. Biantara mendengkus pelan. Makin kuat usahanya untuk mengingat Arista, justru ingatannya akan kembali pada Rifda. Hal itu menyebabkan Biantara gundah dan terkadang kepalanya akan berdenyut. *** Sore itu, ruang perawatan Biantara terlihat ramai orang. Meskipun ruangan itu cukup luas, tetapi tidak bisa menampung semua tamu. Hingga banyak yang berpindah ke teras dan bercakap-cakap di sana. Sementara di dalam ruangan, Biantara tengah berbincang dengan kedua sahabatnya, yang datang bersama beberapa orang lainnya. Benigno Griffin Janitra, mentor Biantara, nyaris tidak ikut dalam perbincangan itu, karena tengah sibuk membaca detail keterangan kondisi Biantara. Benigno menengadah ketika mendengar gelakak rekan-rekannya. Kemudian dia kembali memfokuskan pandangan pada laporan tersebut. "Mas Ben lagi serius. Jangan diganggu," cakap Andri Kaushal, direktur PCD, sekaligus komisaris 9 PBK. "Kalau lagi pakai kacamata, gitu, Mas Ben gayanya jadi beneran kayak dokter," sahut Zulfi Hamizhan, direktur utama BPAGK dan komisaris 7 PBK. "Jangan salah. Itu cuma kamuflase. Sebetulnya Mas Ben lagi akting," kelakar Wirya Arudji Kartawinata, direktur utama GUNZ, dan komisaris 2 HWZ, serta komisaris 6 PBK. "Kapan ada pertunjukan lagi, Bang?" tanya Yushar Mahasura, direktur utama Mahasura Grup. "Nunggu ada yang nikahan," jawab Wirya, sambil mengamati kedua pria di seberang. "Kalian, atur jadwal menikah dari sekarang. Supaya Ari bisa nyiapin naskah drama," lanjutnya. "Aku masih lama. Mas Yushar duluan," kilah Lainufar Suwardana. "Kamu yang sudah punya pacar, Far. Aku, belum ada," sanggah Yushar. "Kalian mesti buru-buru nikah. Sebelum dilewati adikku," timpal Biantara. "Loh, Nidhana sudah mau nikah?" tanya Andri sambil mengamati pria yang dimaksud. "Enggak, Bang. Pacar aja aku nggak punya," keluh Nidhana. "Kenapa yang muda-muda ini pada susah cari pacar, ya?" tanya Yoga Pratama, direktur utama SHEHHBY dan komisaris 8 PBK. "Mereka kebanyakan milih," ledek Axelle Dante Adhitama, presdir Adhitama Grup, yang juga Kakak ipar Wirya dan Zulfi. "Ko, bisa nggak? Ngomongnya jangan sambil melototin aku?" desak Samudra Adhitama, Adik sepupu Dante. "Aku nggak melotot. Mataku memang begini!" sungut Dante. "Sam, jangan cari kokomu ngamuk. Nanti kamu dibantingnya," celetuk Arrivan Qaiz Latief, yang duduk berdampingan dengan Benigno di sofa panjang. Pria yang akrab dipanggil Ivan itu merupakan presiden direktur Latief Grup. "Koko Dante lagi PMS," goda Hadrian Danadyaksha, owner Danadyaksha Company dan beberapa restoran terkenal di Indonesia. Hadrian adalah Adik ipar Ivan. "Baru juga ditinggal istri mudik 2 hari. Dante sudah kesambet," cibir Baskara Gardapati Ganendra, owner Ganendra Grup. "Stop! Kalian habis saling ledek itu, ujung-ujungnya berantem. Aku bosan lihatnya!" desis Benigno sambil meletakkan berkas di meja. "Mas, mau es teh?" bujuk Wirya. "Ya. Es batunya yang banyak," jawab Benigno. "Siap." Wirya memanggil asiatennya yang segera muncul dari luar. "Fai, pesankan es teh buat semua orang. Khusus Mas Ben, es-nya sebaskom," terangnya. "Pak Dokter mau mandi es?" tanya Faidhan, kemudian dia cepat-cepat menjauh sebelum diomeli pria berkumis tipis itu. "Enggak bosnya, asistennya pun sama, edan!" sungut Benigno. "Percuma ngomel-ngomel. Kamu makin dikerjain Wirya," tukas Ivan. "Tingkat komedi di otaknya lagi tinggi. Semua orang dikerjain," imbuh Baskara. "Termasuk Akong," celoteh Dante. "Akong, diapain Bang W?" tanya Lainufar. "Akong bilang, mau ngadain acara pas Imlek nanti. Terus Akong minta Wirya bikin drama. Dia ngusulin Barongsai, tapi Akong yang bagian megang kepalanya," terang Dante. "Enggak kebayang aku. Akong lompat-lompat," sela Yushar. "Terus gelindingan," imbuh Biantara. "Geal-geol depan penonton," tutur Andri. "Beres acara, Akong pasti langsung digotong ke rumah sakit," cakap Hadrian. "Kalau nggak, shinse langsung dipanggil, karena Akong sakit seluruh badan," timpal Yoga. "Habis itu, Wirya dipecat jadi cucu angkat," canda Samudra, yang menyebabkan Wirya melengos. Sedangkan yang lainnya terbahak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD