04
Jalinan waktu terus bergulir. Biantara akhirnya diperbolehkan pulang oleh tim dokter yang menanganinya. Meskipun ingatannya belum kembali, tetapi kondisi fisiknya telah pulih.
Sepanjang jalan menuju rumah, Biantara bingung, karena dalam ingatannya masih tinggal di Bintaro. Namun, Biantara tetap diam dan mengamati sekeliling sambil mengingat-ingat.
Kala Warshif membelokkan kemudi ke gapura besar di sisi kiri jalan, Biantara samar-samar mengingat gerbang kompleks perumahan utama.
"Ini, kompleks rumahnya Mas Ben, kan?" tanya Biantara yang mengejutkan Arista dan Warshif.
"Ya. Mas bisa ingat ini?" desak Arista yang berada di sebelah kanan suaminya.
"Sekilas, gitu. Aku ingat gerbangnya."
Arista menunjuk ke kanan. "Itu blok pertama. Ada rumah Mas Heru, Mas Ivan dan Mas Harry," jelasnya. "Blok dua, ada rumah Koko Dante dan Mas Baskara," lanjutnya.
"Ini, blok tiga. Rumah Kang Ian, Mas Endaru, Kang Fairel dan Mas Arman, letaknya di sini," papar Arista sembari menunjuk gerbang biru.
"Blok empat, rumah Mas Ben," sela Biantara.
"Betul. Blok lima, rumah Mas David. Blok enam, rumahnya Mas Trevor. Itu blok terakhir cluster utama ini," balas Arista.
"War, pelan-pelan aja. Aku lagi ngingat-ngingat," pinta Biantara yang segera dikerjakan sang sopir.
"Ini cluster B. Banyak rumah teman Mas di sini," cakap Arista. "Rumah cat biru itu, punya Bang Zulfi. Cat abu-abu, rumah Bang W, sama dengan yang sebelah kirinya," sambungnya.
"Seberang, berderet rumah Bang Yoga, Bang Andri, Bang Galang dan Bang Aswin. Belakangnya, rumah Mas Yono, Bang Said, Bang Salman dan Bang Mardi."
"Blok kiri, ada rumah Mas Satrio, Bang Jaka, Bang Fajar, dan Mas Nugraha," imbuh Arista. "Belok kiri lagi, rumahnya Bang Varo dan Bang Yanuar. Tiga deret itu dijadikan mess pengawal muda yang baru gabung," akunya.
"Sekarang, masuk ke gerbang kompleks kita," tutur Arista sambil menunjuk gapura besar bercat hitam. "Blok pertama sampai 4, rumahnya para pengawal lapis tiga, empat dan lima. Rumah Mas Edwin juga di situ. Beradu tembok belakang dengan rumah Bang Qadry," bebernya.
"Blok 5, ada deretan rumah Kang Hendri, Mas Sebastian, Mas Luthfan, Mas Brayden dan Bang Zainal. Seberangnya, rumah Mas Damsaz, Mas Lainufar, Bang Rangga, lalu 4 rumah lagi punya pengawal. Lupa aku namanya," cakapnya.
"Blok 6, rumah Mas Arya, Maa Anto, Bang Riko, Bang Bram, Mas Ghael dan Kenzo," ungkap Arista. "Blok 7 dan 8, rumah Bang Samudra, Kak Fritz, Mas Atalaric, Calvin, Zavian dan Zachley Brijaya, sama beberapa orang yang aku lupa namanya," akunya.
"Blok 9, ini paling besar tanahnya. Ada rumah Babah Gustavo, Mbak Sekar, Mas Bryan, Mas Rylee, Mas Jourell dan lain-lain." Arista menunjuk area di sisi kanan yang tanahnya lebih tinggi dari blok lainnya.
"Blok 10, ini letter T. Rumah kita berbatasan tembok dengan rumah Mas Galuh Tamtama, dirut FACT. Sederet dengan kita, ada rumah Mas Yushar, Mas Nurryyan Balapati, Mas Ghazaar Maitreya,dan Rafaizan Mahadri," lontar Arista.
"Dua deretan depan belakang di atas sana, itu diborong ketujuh Power Rangers. Paling banyak, Bang W. Beli 6 unit dia.
Ada 2 rumah kosong di ujung. Katanya, sih, dibeli sama Mas Bryan. Buat kedua anaknya," pungkas Arista.
"Kamu hafal banget," ujar Biantara.
"Jelaslah. Aku, sekretaris RT di cluster kita."
Biantara menaikkan alisnya. "Beneran?"
"Hu um."
"Ketuanya, siapa?"
"Mas Arya. Wakilnya, Bang Zainal. Bendahara, Utari."
"Ehm, aku lupa siapa Utari."
"Istrinya Bang Hisyam."
Biantara manggut-manggut. "Mungkin kalau lihat wajahnya, aku bisa ingat."
"Mas bisa ketemu dengan semua penghuni cluster, saat acara selamatan, tiga hari lagi."
Warshif menghentikan mobil di depan rumah dua lantai bercat biru muda. Seorang perempuan berjilbab hitam muncul dari dalam rumah dan bergegas membukakan pagar, agar mobil MPV hitam itu bisa memasuki pekarangan.
Setelah mobil terparkir sempurna, Biantara membuka pintu dan keluar. Dia memindai sekitar sambil berusaha mengingat tempat itu. Namun, semuanya hanya samar-samar.
Biantara menoleh ke kiri dan beradu pandang dengan Arista. Dia membiarkan lengan kirinya dipegangi perempuan berbaju krem itu. Lalu keduanya jalan memasuki bangunan.
"Untuk sementara waktu, Mas tidur di sini," tutur Arista sambil membukakan pintu kamar terdekat dengan ruang tamu.
"Ini kamar siapa?" tanya Biantara, seusai melangkah ke bagian dalam ruangan bernuansa biru muda.
"Kamar tamu."
Biantara menatap perempuan bermata besar yang balas menatapnya saksama. "Kamarmu, di mana?"
"Di atas, paling belakang." Arista berpikir sesaat, lalu dia melanjutkan perkataan. "Mas Ben yang menyarankan agar kita pisah kamar. Supaya Mas bisa menenangkan diri. Tanpa terganggu dengan kehadiranku."
"Hmm, ya. Aku memang butuh waktu sendirian."
Arista mengangguk mengiakan. "Karena itulah, aku mengikuti saran Mas Ben. Sampai Mas benar-benar ingat tentang kita, barulah kita bisa tinggal sekamar lagi."
"Pakaianku sudah dipindahkan?'
"Hanya sebagian. Sisanya tetap di atas."
Biantara mengamati perempuan berbibir tipis yang tengah merapikan bantal. "Maaf, Ris. Aku belum bisa mengingatmu dan semua kisah kita."
"Aku paham, Mas. Nggak apa-apa."
"Apa ada foto dan video pernikahan kita? Aku mau lihat."
"Ada. Nanti diantarkan ke sini," balas Arista. "Sekarang, Mas istirahat. Kalau mau makan, bisa minta sama Diah," sambungnya yang dibalas anggukan sang suami.
Puluhan menit terlewati. Biantara yang kesulitan untuk tidur, akhirnya menyambar ponselnya yang tengah diisi daya di meja rias Biantara mencabut kabelmya, lalu berpindah duduk di sofa panjang dekat jendela.
Pria berkulit kecokelatan itu, menggulirkan jemari untuk membaca semua pesan di puluhan grup yang diikutinya. Dia hanya membaca, tanpa ikut berbincang.
Biantara membaca pesan-pesan di grup PCD utama. Dia mengulum senyuman menyaksikan perang kata rekan-rekannya di grup berjumlah 100 orang itu.
***
*Grup PCD Utama*
Andri Kaushal : Senin, kita rapat jam 2, Gaes.
Fawwaz Priyatama : Jam 2 subuh?
Ibrahim Kripala : Kamu, doang, @Fawwaz.
Nanang Rahardja : Fawwaz mungkin masih berasa jadi satpam.
Robi Ardiandi : Jadi pengawal pun, kadang tetap harus stand by 24 jam.
Frank Hastono : Jadi ingat perang pertama, antara klan Adhitama dan klan Han. Kita nggak tidur 2 hari.
Valdi Risdanta : Aku lebih ingat waktu perang kedua, yang di Taiwan.
Jeffrey Ekadanta : Yups. Di situlah terbongkar sisi sadisnya Bang W.
Qadry Muharram : Kalau ingat itu, aku pasti nahan napas.
Chairil Fahrezi : Aku masih terbayang jelas, saat dar-ah muncrat dari leher Hao-ran.
Yusuf Haridra Bhranta: Stop! Aku merinding.
Jauhari Devanka : Aku justru lebih ingat waktu Bang W nus-uk musuh saat perang di proyek Adelaide.
Hisyam Fayadh : Banyak-banyak perang yang kita jalani, favoritku, yang di pabrik Bandung.
Aditya Bryatta : Ya. Karena strateginya sukses di situ.
Harun Danakitri : Aku jadi pahlawan di sana. Sekaligus bisa balas dendam sama anak buahnya Paul ma-fia.
Santos Rahmadi : Ke mana, ya, itu, si Paul?
Kenzo Darka : Lagi jadi tukang kebun.
Martin Ragnala : Salah. Dia lagi nyetrika di tempat laundry.
Chumaidi : Paul lagi magang jadi tukang potong rambut.
Yushar Mahasura : Mamang bakso.
Andre Darmawan : Mamang siomay.
Kayana Aldari : Mamang batagor.
Damsaz Qalbi Dewawarman: Mamang ketoprak.
Muammar Basyar : Mamang bubur ayam.
Nirpataka Dewawarman : Mamang roti.
Lainufar Suwardana : Mamang donat.
Ozora Pasaga : Mamang tahu bulat.
Harlan Vergard : Digoreng dadakan.
Layyin Olasyar : Lima ratusan.
Zayeed Mahasura : Apa? Mamangnya digoreng?
Sherwin Vergard : Zayeed matanya siwer.
Shafwan Olasyar ; Mungkin dia lapar.
Riordan Anargya : Lagi eror memang dia. Rapat tadi, sampai dipelototi Mas Tio.
Presley Mallory : Aku paling ngeri sama beliau.
Raffertha Mahadri : Bos PG nomor satu paling disegani, memang Mas Tio.
Qushai Pasaga : Nomor dua, Mas Benigno.
Freddy Hanafi : Nomor tiga, Mas Heru.
Shawqi Musyaraf : Nomor empat, Mas Elang.
Carloy Mallory : Nomor lima, Mas Bryan.
Rafaezya Mahadri : Nomor enam, Mas Linggha.
Liam Mallory : Nomor tujuh, Mas Tristan.
Rafaizan Mahadri : Nomor delapan, Mas Ivan.
Zafar Qashash : Nomor sembilan, Mas David.
Jauzan Nayottama : Nomor sepuluh, Mas Andra.
Prada Razfhan : Koko Calvin nomor berapa?
Ubaid Abdullah : Enggak masuk hitungan dia.
Casugraha Janardana : Anak bawang.
Gandana Baladitya : Sama dengan Bro Satria, Bro Reinar, Bro Myron dan Argan.
Larry Dirk : Mereka itu, genk rese. Kalau Koko Dante, Hadrian, Alvaro dan Yanuar, genk biang rusuh.
Dharvan Kagendra : Di PC, geng biang keroknya banyak.
Tamawijaya Diratama : Dirut kita masuk ke grup itu.
Imran Maulana : Di PC, semua grup ada oknum pengganggu.
Rashif Najandra : Terutama tim PBK.
Filbert Zhiao : Aku nggak ikutan ngomongin tim PC. Abang iparku ada empat di sana.
Bayu Hendrawan : Satu lagi Abang iparmu di sini, @Fillbert.
Jianzhen Rui Cheung : Aku, Adik ipar. Umurku baru 25 tahun.
Santos : Kirain baru 5 tahun, @Jianzhen.
Jianzhen : Gendong! @Santos.
Santos : Puyao!
Jianzhen : Wò aì nì.
Santos : Huek!