Hari Rabu siang tiba dengan cuaca yang sangat terik. Sesuai perintah Evelyn, Ardi sudah berada di depan pintu kamar nomor 405 sebuah hotel butik pukul satu siang. Tangannya yang memegang kunci kartu magnetik terasa dingin. Ia menempelkan kartu itu ke sensor hingga lampu hijau menyala. Ardi mendorong pintu kayu berat itu dan melangkah masuk. AC kamar sudah menyala, menyemburkan udara dingin yang langsung menerpa kulitnya. Di atas ranjang, Evelyn sudah menunggu. Wanita itu hanya mengenakan handuk putih longgar yang sengaja dibiarkan terbuka di bagian d**a, memperlihatkan kulit leher hingga belahan dadanya yang matang. Di tangan kanannya, ada segelas anggur merah yang tinggal setengah. "Kamu tepat waktu, Ardi. Aku suka pria yang patuh," kata Evelyn sambil meletakkan gelasnya. Ia berja

