"Dikara!" panggil Arkian mencari putranya karena sudah pukul delapan malam, tetapi belum juga masuk ke dalam kamar. Pria itu berdiri dari kursi kerjanya. Dia berjalan keluar kamar dan melewati lorong di lantai dua hingga keluar ke mezanin kemudian menuruni tangga. "Dikara!" panggil Arkian lagi. Tak terdengar suara putranya menjawab panggilan.
Pria itu mencoba mencari ke ruang main yang sebenarnya ruang keluarga hanya dialih fungsikan agar Dikara tak main terus di kamar. Tiba-tiba terdengar suara anak kecil tertawa. Arkian berlari menghampiri sumber suara. Arah suara itu di dekat kolam. Begitu sampai di pintu keluar halaman belakang, terlihat Dikara berdiri di samping kolam.
"Dika, kamu lagi ngapain?" tanya Arkian.
"Papa! Dika lihat kelip-kelip!" tunjuk Dikara ke arah kolam. Arkian mencoba mengecek apa yang putranya itu lihat. Rupanya ada selembar alumunium foil tenggelam ke dasar kolam.
"Papa ambil kertanya, ya?" Arkian berjongkok di sisi kolam. Dia ambil benda itu dan mengangkatnya ke atas. Terkena cahaya lampu kolam, benda itu kembali memantulkan cahaya.
"Wah! Cantiknya!" puji Dikara.
"Iya, tapi ini sebenarnya sampah. Kita tanya Bi Nah siapa yang buang ke sini. Mungkin terbang tertiup angin."
"Untuk apa itu, Papa?" tanya Dikara.
"Untuk masak kue, panggang daging, bikin cokelat supaya enggak mudah meleleh."
Mulut Dikara terlihat membulat. "Ouh, untuk masak!" Anak itu mengangguk. Hari ini Dikara memakai piyama bergambar beruang kesukaannya.
"Ayo kita sikat gigi, Nak. Baca buku lalu tidur, ya? Sudah jam delapan," ajak Arkian.
Dikara terlihat kaget. "Ya Allah, Dikara telat tidur," ucapnya terlihat begitu kecewa dengan dirinya.
"Tak apa. Kita mungkin akan melakukan kesalahan. Hanya berusaha itu tak terulang. Maafkan Papa juga yang baca email sampai lupa ingatkan Dikara untuk tidur," ucap Arkian.
"Kalo gitu, sikat gigi, yuk! Maaf Dika, Papa. Dika tak tahu." Dikara menarik tangan Arkian. Anak itu melangkah kembali ke kamar untuk sikat gigi. Hari ini dia tidur di kamar Arki lagi akibat peristiwa melihat makhluk tak kasat mata yang Arkian alami.
Dikara membaca doa masuk kamar mandi. Dia buka pintu kamar mandi sendiri. Arkian hanya mengikuti putranya dari belakang dan memastikan anak itu benar menyikat gigi dengan baik.
Selesai menyikat dan berkumur, Dikara membuka mulutnya di depan Arkian. "Bersih," puji Arkian. Karena motorik anaknya belum berkembang optimal, Arkian masih membantu menyikat bagian yang agak sulit dijangkau putranya.
"Sekarang baca buku, ya?" pinta Dikara.
"Bagaimana kalau langsung tidur? Ini sudah sangat malam. Memang kamu enggak ngantuk?" tanya Arkian.
"Ngantuk. Ya sudah bobo saja, Papa. Kapan Dika bobo kamar sendiri?" tanya Dikara.
"Besok, ya? Soalnya Papa masih khawatir," jawab Arkian.
Mereka melangkah keluar kamar mandi. Arkian tak lupa menutup pintu ruangan itu. Dikara lari dan naik ke atas tempat tidur. Dia sempat mengambil foto ibunya dan mencium foto wanita itu. "Mama, Dika sayang Mama Laras," ucap Dikara.
Setelah itu Dikara berbaring di atas tempat tidur. Arkian susul putranya. Dia berbaring di samping Dikara dan tak lupa menarik selimut.
"Papa, Mama Laras sekarang mana?" tanya Dikara.
"Mama Laras sekarang ada di alam kubur. Ditemani malaikat," jawab Arkian.
"Semua meninggal temenin malaikat?" Dikara semakin penasaran. Arkian balas dengan anggukan. "Mama Laras baik? Galak, enggak?"
Mendengar itu membuat Arkian tertawa. Dalam hati ia ingin sekali mempertemukan putranya dengan Laras. Ingin Dikara tahu betapa lembut dan perhatian ibunya itu.
"Mama Laras itu, baik banget. Waktu dulu Ateu Raya suka nangis kalau di kampus. Sering dijahilin sama orang. Mama Laras pasti bantu belain Ateu Raya," jawab Arkian.
"Wah, Mama Laras keren. Ateu Raya sayang Mama?"
"Iya, Ateu Raya sayang sama Mama. Karena Mama itu kayak kakaknya."
"Papa sayang Ateu Raya juga?"
"Sayang, dong. Ateu Raya juga adiknya Papa, 'kan? Nenek Liris juga sayang Ateu Raya."
"Tapi Dika ketemu Mama, galak!" celetuk anak itu.
"Ketemu siapa?" tanya Arkian.
"Yang marahin Dika. Eh, tapi bukan Mama. Orang lain. Galak!" jawab Dikara.
"Kok bisa kamu pikir itu Mama?" Arkian mengerutkan kening. Dia tidur menghadap Dikara.
"Sama. Beda tapi. Mama Laras baik. Itu galak!" tegas Dikara.
"Jadi Tante yang marahin kamu mirip Mama Laras?" tanya Arkian sekali lagi memastikan.
"Enggak sama. Itu galak!" ralat Dikara. Dia tak terima ibunya disamakan dengan Tante galak yang memarahinya tadi pagi.
"Ya sudah, beda. Mama Laras baik." Arkian tersenyum. Dia usap kepala putranya. "Cepat tutup matanya. Kamu sudah kelihatan lelah. Tadi jalan-jalan lama sekali. Kakinya pasti pegal dan badannya sakit. Mudah-mudahan hilang setelah tidur."
"Baik. Doa dulu, Papa. Karena Allah sayang. Terus enggak doa temenin sama jin bobonya," tambah anak itu.
***
Mobil Arkian menepi di parkiran salah satu makam keluarga. Dia tertegun melihat tanda tanah dijual di depan pagarnya. Pria itu menggelengkan kepala. "Enggak habis pikir. Padahal masih tahap sidang, kenapa sudah berani tempel?" protes pria itu.
"Kenapa Papa?" tanya Dikara yang bingung Papanya tiba-tiba bicara sendiri dengan nada marah. Dia merasa tadi tak membuat kesalahan apa pun.
"Enggak. Ini ada yang mau jual rumah Mama Laras," jawab Arkian dengan wajah yang kecewa. Perih rasa hatinya. Dia sudah sangat berat harus kehilangan wanita yang dia cintai dan kini tempat istrinya terbaring akan diusik oleh orang-orang yang tamak akan harta.
Dikara memutar topinya ke belakang. "Kasian, Mama. Harus lindungin Mama, Pa," pinta Dikara.
"Iya, Papa mau lindungin Mama."
Keduanya masuk ke dalam sambil bertuntunan. Butuh melewati beberapa makam hingga Arkian tiba ke makam istrinya. Pria itu simpan keranjang bunga di sisi batu nisan. Diusap nisan wanita yang melahirkan seorang putra untuknya.
"Laras, Aku datang. Sama Dikara, anak kita. Lihat, dia sudah besar, ya?" tanya Arkian. Meski tak ada jawaban, Arki tetap tersenyum. Katanya kalau keluarga datang, arwah orang yang meninggal akan muncul menemui keluarga di makam dan akan kembali setelah keluarganya pulang. Arkian percaya itu, makanya dia bicara dengan Laras.
"Mama! Dika bawa bunga buat Mama. Terus Dika bikin gambar. Mama mau lihat gambar, Dika?" tawar Dikara. Dia buka buku gambarnya.
"Lihat, ini ada Papa, Dika sama Mama. Terus ini Ateu Raya sama Oom Bara, Oom Aril juga. Ada Nenek Liris, Nenek Sofi. Terus ini Bi Nah sama Pak Parno. Ada rumah, ada mobil." Dikara absen apa yang dia gambar.
Arkian usap rambut putranya. "Dikara rajin sekali gosok gigi. Dia suka baca buku. Dia juga makan sayur dan anak yang mandiri. Kalau mau pipis, dia bangun dan ke kamar mandi sendiri. Anak kita hebat, ya?"
Tak jauh dari makam Laras ada barisan pohon bambu. Daun tanaman itu menimbulkan suara khas saat tertiup angin. Sedang makam Laras ditumbuhi rumput yang rapi karena dipangkas oleh penjaga makam.
"Laras, tenang di sana, ya? Anak kita baik-baik saja. Aku juga. Aku memang rindu kamu, tapi aku tahu Allah sudah memilihkan jalan yang jauh lebih baik. Maafin aku yang enggak bisa jadi suami yang baik. Tapi aku janji akan selalu jadi ayah yang baik."
Arkian minta Dikara taburkan bunga di makam Laras. Anak itu terlihat senang. "Kenapa taburin bunga?" tanya Dikara.
"Supaya indah dan wangi," jawab Arkian. Dikara mengangguk. "Bunga juga tanda sayang. Artinya kita sayang sama orang yang dikubur di dalam sini."
"Mama Laras! Dika sayang. Makanya Dika taburin bunga banyak sekali. Mama Laras, Dika mau ke dokter gigi. Kapan, Pa?" Anak itu melanjutkan ceritanya.
"Minggu depan. Periksa setiap enam bulan sekali," jawab Arkian.
"Iya, terus Dika mau minta Mama baru."
Di sana Arkian tertegun. "Kata Ateu Raya, Papa mau kasih Mama baru. Hore!" seru anak itu.
"Enggak apa kalau aku nikah lagi? Tapi aku masih akan terus sayang sama kamu, Laras," batin Arkian.
Kini giliran Arkian menyiramkan air di atas makam. Beberapa kali balikan hingga botolnya habis. "Itu minum Mama Laras?" tanya Dikara.
"Bukan, Nak. Orang sudah meninggal tidak minum, tidak makan lagi. Yang minum dan makan hanya makhluk hidup," jawab Arkian.
"Ouh. Dikara juga makhluk hidup?"
Arkian balas dengan anggukan. "Buktinya Dika napas. Sekarang coba Papa pegang perutnya," pinta Arkian. Saat Dikara bernapas perut putranya naik turun. "Aduh, perutnya gerak-gerak," komentar Arkian. Dikara tertawa dengan renyahnya.
"Laras, kamu lihat? Dikara dan aku baik-baik saja. Tolong jangan khawatir. Kami akan hidup dengan baik. Walau sulit dapat pengganti kamu. Aku harap orang itu tak jauh beda sama kamu. Aku cinta kamu, Ras."
***
"Pak Arkian ke mana? Baru kemarin masuk, kok pergi lagi?" tanya Sufi.
"Hari ini istrinya ulang tahun," jawab Raya.
"Istrinya 'kan sudah meninggal?"
"Rayainnya di makam. Dikara juga ikut, makanya enggak dititip sama aku," jawab Raya. Wanita itu berdiri di antara meja untuk membuat roti.
Hari ini Sufi kembali ke dapur untuk memanggang roti karena petugas depan sudah kembali lagi masuk. "Kamu enggak diajak?" tanya Sufi.
"Emang harus diajak? Itu 'kan urusan keluarga Kak Arki. Aku enggak boleh ikut campur," jawab Raya bijak.
Sufi tersenyum. Saat masuk ruangan ini, mereka harus memakai pakaian khusus, sarung tangan dan masker. "Raya, kamu kenal sama teman Pak Arki yang namanya Aril?" Sufi mencoba memastikan pria tempo hari tak berbohong.
"Benar, dia sama kayak Kak Arki, sudah aku anggap kakak sendiri. Kenapa?"
"Aku ketemu dia eh dia yang datang ke toko. Tampan, ya?" komentar Sufi.
Seketika Raya langsung tertawa. "Astaga! Kamu emang enggak ada lagi lelaki. Masa Kak Aril dipanggil tampan?"
"Ih, itu sih mata kamu saja siwer, Ra. Buktinya sama Pak Arki saja kamu biasa-biasa. Pegawai lain sudah deg-degan kayak naik rollercoaster setiap liat dia."
"Jelas lah. Apalagi sama Kak Arki yang aku sudah tahu dari kecil banget. Pokoknya cari cowok lain. Kak Aril itu playboy." Raya memberi Sufi peringatan.
"Pacarnya banyak?" Sufi makin penasaran.
"Gebetannya banyak. Tiap tikungan ada kali. Pokoknya sekali lihat, suka langsung dia deketin. Kalau dia godain kamu, percaya kalau ke cewek lain juga begitu," jelas Raya.
"Yah, aku pikir cowok setia. Emang ya jago gombal itu bukan cuman sama pacar, juga sama selingkuhan." Sufi ambil salah satu loyang lalu dia masukan dalam oven satu per satu.
"Nah itu pinter." Raya memberikan jempol sahabatnya itu. "Eh, aku mau bagiin gaji. Mau sekarang apa nanti jam pulang?"
"Nanti saja jam pulang, Ra. Aku masih bakar ini dulu."
"Ya sudah, aku keluar dulu kalau gitu." Raya berjalan ke arah pintu melewati rak-rak roti. Di depan, dia buka pakaian khusus dan dia gantung benda itu. Setelah selasai, baru Raya keluar.
Gadis itu melihat banyak pembeli yang datang. Dia perhatikan karyawan di depan dapat melayani konsumen dengan baik. Kalau ada kekeliruan, Raya biasa ikut bantu.
"Teh, stock roti croissant abis. Kayaknya lagi banyak peminat, viral katanya," ucap salah satu karyawan.
"Minta sama Sufi buat isi lagi, ya? Ouh iya, roti tawar di rak ke tiga tolong ambil yang tanggal kadaluarsanya paling dekat. Kasih selai dan jual dengan diskon. Kalau enggak salah tadi aku cek ada lima," titah Raya.
"Baik, Teh."
Kini Raya melihat ke arah meja kasir. Karyawan tadi memanggil temannya. "Padahal Teh Raya bisa urus Dikara sama toko. Kenapa Pak Arkian enggak nikahin Teh Raya saja, ya?" bisik karyawan itu pada temannya.
"Bukannya Teh Raya adiknya Pak Arkian?" Rupanya banyak yang menilai begitu. Soalnya wajah Raya dan Arkian sepintas memang mirip.
"Bukan. Adik angkat. Aku tahunya dari Teh Sufi. Pokoknya mereka serasi banget. Pengen banget liat mereka nikah."
"Banget!"
Setiap pembeli yang selesai transaksi di kasir, Raya sambut dengan senyuman. "Terima kasih sudah datang," ucap gadis itu. Sikap baik Raya memang disenangi karyawan Arkian. Maka dari itu, Raya banyak didukung karyawan untuk menikah dengan Arkian. Sayang, Arkian tak menganggap Raya lebih dari seorang adik.