"Ini apa?" tanya Dikara.
"Keperluan Dika kayak biasanya," jawab Arkian.
Dikara mengangguk. Hari ini begitu Dikara bangun, Arkian langsung memandikan putranya. Dia carikan baju terbaik. "Dika mau topi banana," pinta Dikara menunjuk topi minion di dalam lemari.
"Bajunya warna biru, masa pakai topi kuning?" keluh Arkian.
"Halusnya walna biru juga?" Dikara sedikit memiringkan wajahnya dan langsung diiyakan oleh Arkian.
"Benar, harusnya warna yang cocok dengan biru muda. Mungkin yang ini." Ada topi berbahan jeans yang bergambar kucing.
"Baik. Itu saja. Kacamata?" Sepertinya Dikara mulai punya selera fashionnya sendiri.
"Mau pakai kacamata? Kan enggak naik motor."
"Kelilip, Papa." Dikara menunjuk matanya.
"Baik. Mana kacamata Dika?" Arkian berdiri dan membuka laci lemari. Dikara punya lima kacamata. Hanya saja yang warna bening ada satu. Rangkanya sendiri berwarna abu-abu agar cocok dengan pakaian warna apa pun. "Ini?" Arkian pakaian kaca mata pada Dikara kemudian topi. Anak itu berjalan ke depan lemari dan bergaya di sana.
"Bagaimana? Papa semakin hebat dandanin kamu, 'kan?" tanya Arkian.
Dikara memberi jempol pada Papanya. Kamar Dikara cukup luas. Ada sebuah lemari dengan bahan kayu dan dicat putih. Dan dindingnya dilapisi wallpaper bergambar angka, tanaman dan binatang karakter lucu. Kasur Dikara sendiri bergambar beruang dan berukuran nomor tiga, lumayan luas untuk anak itu bisa berguling.
"Sekarang sudah siap main sama Ateu Raya?" Arkian kembali menanyakan kesiapan putranya. Dikara langsung menganggukan kepala. "Ingat, karena Papa enggak ikut, sebaiknya Dikara bersikap mandiri. Kalau mau pipis atau BAB harus bilang. Satu lagi, jajan secukupnya dan jajan makanan sehat."
"Baik, Papa," jawab Dikara. Dia sudah mulai bisa diajak berdiskusi. "Tapi kenapa Papa enggak ikut?" Kembali Dikara mengeluarkan pertanyaan itu dan jujur untuk menjawabnya sangat berat bagi Arkian.
"Papa mau ketemu dengan teman. Bukannya Papa enggak mau ajak Dika. Cuman Dika sendiri mau pergi sama Ateu Raya, 'kan? Terus di tempat Papa ketemu membosankan," jelas Arkian.
"Baiklah, hati-hati Papa," pesan anak itu. Jujur, itu sangat menyayat perasaan Arkian hingga bagian terdalam. Pria itu mengangguk dan mengusap pipi Dikara.
Arkian keluar kamar Dikara sambil menuntun anak itu ke meja makan. Bi Nah sudah masak sarapan. Ayah dan anak itu biasanya hanya sarapan roti dan s**u setiap pagi. Kalau tidak itu, pasti sereal dengan buah di dalamnya.
"Wah, ada setowbeli." Dikara terlihat begitu antusias dengan sarapan pagi ini.
"Kamu suka strawberry, ya? Kalau gitu, makan yang banyak, ya? Tetapi makannya tak berlebihan." Arkian menaikan Dikara ke meja makan.
"Kalau sudah kenyang belhenti dulu," tambah Dikara sudah mengerti apa yang dimaksud Papanya.
Bi Nah menuangkan air putih ke dalam gelas. "Hari ini Tuan Dika mau jalan-jalan sama Neng Raya?" tanya Bi Nah.
"Ateu Laya," tegas Dikara.
"Bi Nah 'kan lebih tua dari Tante Raya, jadi manggilnya Neng," jelas Arkian.
"Iya, Bi Nah. Dika mau jalan-jalan sama Ateu Laya. Ke taman. Bi Nah ikut?" tawar Dikara.
Bi Nah melirik ke arah Arkian sambil tersenyum. "Ya sudah, Bibi siap-siap dulu. Bibi ikut saja biar ada yang jagain Dikara. Habis aku enggak enak kalau ninggalin dia sama Raya saja. Ngerepotin," pinta Arkian.
Bi Nah terlihat senang. "Makasih banyak Tuan Arki. Ya Allah, Bi Nah senangnya bisa jalan-jalan ke taman. Katanya taman di Kota Bandung cakep-cakep," ucap Bi Nah. Setelah menuangkan air, wanita itu izin untuk siap-siap.
Selesai sarapan Arkian dan Dikara langsung berjalan ke garasi. Bi Nah ikut dengan memakai pakaian rapi, gamis dan kerudung. "Pak Parno, titip rumah," pinta Arkian.
"Siap, Tuan. Insyaallah saya jagain. Hati-hati di jalan. Semoga sukses tujuannya," doa Pak Parno.
"Aamiin. Makasih banyak, Pak."
Arkian naikan kaca mobilnya. Tak lama kendaraan itu langsung keluar dari garasi. Pak Parno lekas menutup gerbang rumah. Mobil Arkian melaju menuju tempat di mana dia janjian dengan Raya.
"Ketemu di toko sama Neng Raya, Tuan?" tanya Bi Nah.
"Enggak, di depan gang mau ke rumahnya," jawab Arkian.
"Memang Neng Raya rumahnya di mana?"
"Di daerah Suci. Katanya mau main ke taman Lansia. Dikara mau lihat dinosaurus. Dia senang banget kayaknya. Sudah lama aku enggak ajak jalan-jalan. Walau aku enggak ikut, yang penting dia bisa jalan-jalan."
Perjalanan panjang dari rumah Arkian menuju rumah Raya. Akhirnya mobil itu menepi di depan gang sebuah perkampungan yang tak jauh dengan pasar. Raya sudah berdiri di bawah pohon mahoni. Gadis itu tampak cantik dengan dress merah dan tas hitam.
Arkian turunkan kaca mobil. "Mau ke mana? Kencan?" ledek pria itu.
"Kak Arki, rese!" omel Raya. Dia buka pintu mobil. Seperti biasa Raya naik ke pintu depan dan menggendong Dikara di pangkuan.
Mobil Arkian berputar menunggu jalan agak lengang. Di sini kendaraan sering mengebut, apalagi ketika jalan kosong seperti pagi ini. "Tante, Dika sudah mandi," laporan Dikara.
"Pantesan wangi sekali. Wah, ini parfum wangi apa?" tanya Raya.
"Wangi tutipuluti," jawab Dikara.
"Tutti frutti?" ralat Raya.
"Iya, benar itu!" Dikara mengangguk. Dia menepuk dashboard mobil. Anak itu sudah tak sabar tiba di taman. Akhirnya mobil Arkian bisa berhenti di sisi taman. Ia turunkan Raya, Dikara dan Bi Nah di sana. "Dadah Papa, hati-hati di jalan!" salam Dikara sambil mencium punggung tangan Papanya. Arkian cium kening putranya. Ini pertama kali Arkian meninggalkan Dikara. Biasanya walau ada seminar, dia bawa anak itu.
Dikara turun dibantu Raya. Pintu mobil kembali Raya tutup. Dikara melambai dan dibalas Arkian. Tak lama kaca mobil Arkian naik dan mobilnya meninggalkan sisi jalan itu.
"Ayo masuk!" ajak Dikara. Raya langsung menuntun anak itu untuk masuk ke dalam.
Dikara memperbaiki kacamatanya. Anak itu melangkah dengan penuh semangat. Masuk ke dalam taman, Dikara langsung membuka kaca mata karena begitu terpukau dengan pemandangan di sana.
"Waw! Cantiknya!" puji Dikara.
"Iya cantik. Lihat, di sini banyak pohon. Dikara suka pohon?" tanya Raya berjongkok di depan Dikara.
"Iya, banyak buahnya, loh. Buah mangga, belimbing sama buah lambutan," jawab Dikara.
"Itu pohon yang ada di rumah, Tuan. Kalau di sini pohonnya pohon kayu besar yang bisa jadi payung. Jadi di sini enggak terlalu panas," timpal Bi Nah.
"Tuh, Bi Nah hebat, ya? Bi Nah tahu," puji Raya.
"Iya, Bi Nah pintel masak juga." Dikara mulai bisa memuji orang lain karena sering dicontohkan. Kini mereka bertiga masuk ke dalam taman.
***
"Ini ikan apa?" tanya Dikara saat mereka tengah duduk di pinggir kolam. Pembatas kolamnya sendiri memiliki anak tangga yang bisa digunakan untuk duduk. Ada penjual cuanki di sana. Raya dan Bi Nah membeli semangkuk bakso dan somay sapi itu. Cuanki sendiri punya arti cari uang jalan kaki akibat yang jual memakai tanggungan sambil jalan kaki keliling perumahan warga.
"Itu ikan koi kayaknya. Apa ikan mas merah, ya? Tante kurang tahu, Dika," jawab Raya.
"Coba tanya ke HP. Papa suka tanya ke HP," pinta Dikara.
"Baik." Raya mengambil ponsel dan melakukan percarian dengan memotret ikan. Aplikasi pencarian sekarang sangat canggih hingga bisa mencari hanya dengan gambar yang diambil pengguna.
"Itu ikan nila merah ternyata," jawab Raya.
"Wah, nama ikannya bagus. Kenapa namanya nila kan melah. Kalau Nila itu warna ini." Dikara menunjuk warna gambar karakter pakaiannya.
"Dika tahu warna Nila?" Raya terlihat kagum dengan anak itu.
"Tahu, lah! Dika latihan sebut walna sama Papa," jelasnya.
"Iya, main tebak warna, ya? Pakai papan apa itu namanya?" Bi Nah ikut bicara.
"Papan putar. Nanti tangan dan kaki pegang walna di putalan. Walnanya di kalpet walna," jelas Dikara.
"Nanti Tante boleh ikut main? Kayaknya menyenangkan." Raya mengusap rambut Dikara. Tak lama anak itu kembali memperhatikan ikan di kolam.
"Tuan Dikara kalau main sama Neng Raya betah, ya? Kalau sama Neneknya pasti enggak lama telpon minta dijemput," cerita Bi Nah.
"Nenek yang mana? Bu Sofi apa Bu Liris?" tanya Raya.
"Dua-duanya. Tuan Dikara nempel banget sama Tuan Arkian. Makanya susah kalau Tuan Arkian mau pergi enggak bawa Tuan Dika," jelas Bi Nah.
"Mudah-mudahan kalau sudah punya mama baru, Dikara mau main di rumah tanpa Kak Arki," harap Raya.
"Kenapa Neng Raya enggak nikah saja sama Tuan Arkian?" tanya Bi Nah membuat Raya tertegun.
"Setuju!" seru Dikara tiba-tiba. Ternyata anak itu mendengar perbincangan mereka.
"Dikara sayang, menikah itu harus saling cinta. Kalau Papa Arki enggak cinta sama Tante Raya," tolak Raya.
"Kalau Ateu Laya?" Dikara mengeluarkan pertanyaan yang membuat Raya kaget hingga sempat gadis itu terdiam. Tak lama Raya menggeleng.
"Kenapa? Padahal Tuan Arki itu ganteng. Tetangga pada heboh kalau Tuan Arkian sudah keluar rumah buat beli sayur. Makanya saya suka larang, Neng. Tetap saja Ibu-ibu sering nanyain. Maklum duren sawit," cerita Bi Nah.
"Duda keren banyak duit," timpal Raya sambil tertawa.
Dikara menunjuk penjual sosis di seberang kolam. "Ateu, Dika mau itu," pinta Dikara. Dia sepertinya tergoda karena beberapa anak terlihat membeli sosis juga.
"Cuankinya dihabiskan dulu, ya?" pinta Raya. Dikara menggeleng. "Kenapa?"
"Nanti kenyang," tolak Dikara.
Raya menganggukan kepala. Dia berdiri dan menuntun Dikara ke seberang kolam untuk membeli sosis. Lumayan lama, mereka kembali ke sana. "Dika makannya duduk, ya?"
Dikara duduk di pinggir kolam sambil memegang tusuk sosis. Dia hanya memberi mayonaise sebagai perasa sosisnya. Cuanki akhirnya Raya yang habiskan.
"Neng, di sini banyak orang jogja, ya?" tanya Bi Nah sambil mendongak melihat orang-orang yang lewat di atas mereka.
"Kok Bi Nah tahu mereka orang Jogja?" tanya Raya bingung.
"Ituloh yang suka lari-lari pagi," jelas Bi Nah.
"Duh, itu namanya joging, Bi. Masa jogja," ralat Raya.
Bi Nah tertawa. "Duh, maklum, Neng. Bahasa anak muda sekarang susah-susah. Mau liburan saja disebut family time."
"Iya juga, sih. Banyak istilah yang kebarat-baratan sekarang. Apalagi kalau main di media sosial."
Tiba-tiba saja Raya merasa ingin buang air. Wanita itu berdiri. "Bi, titip Dika, ya? Aku mau cari toilet dulu," pinta Raya yang langsung dibalas anggukan oleh Bi Nah.
Raya berjalan meninggalkan mereka untuk mencari toilet umum. Sekarang tinggal Bi Nah dan Dikara di sana. Dikara mengulurkan tangan. "Bi, kotol ini."
Bi Nah mengeluarkan tisyu basah dan mengelap tangan Dikara. "Wah, habis makan sosisnya. Mau lagi?" tanya Bi Nah.
"Kenyang. Sudah makannya." Dikara mengambil bungkus bekas sosis dan meleparkanya ke atas. Dia bermaksud melempar ke tempat sampah, tetapi salah sasaran dan jatuh di sepatu seseorang.
"Aduh!" pekik pemilik sepatu.
Dikara lekas lari memeluk Bi Nah. "Maaf, Bu. Enggak sengaja. Ini Tuan saya mau buang ke tempat sampah maksudnya," ucap Bi Nah.
Namun, pemilik sepatu melotot. "Heh anak kecil! Memang sepatu ini kelihatan kayak tempat sampah?" omel pemilik sepatu yang juga bawahan Aril di ekspedisi, Yasmin.
"Maaf, Bu. Tolong jangan dibentak namanya juga anak kecil," pinta Bi Nah.
"Halah! Bukan karena dia anak kecil, terus dimaklumin, ya! Tahu ini harga sepatunya berapa? Hah? Mau ganti? Bersihin!" tegas Yasmin galak hingga Dikara meneteskan air mata.
"Bibi, takut," adu Dikara. Bi Nah langsung mengambil tisyu dan membersihkan sepatu wanita itu. Dikara masih memeluk Bi Nah dengan ketakutan.
"Jangan nangis, deh! Bisanya ngadu saja. Ih, males sama anak kecil kayak gini! Ribet!" omel Yasmin.
"Maaf, Bu."
"Ibu-ibu! Emang kamu lihat wajah aku kayak ibu-ibu? Aku sering perawatan mahal! Pakai itu mata!" Setelah selesai mengomel, Yasmin lalu pergi. "Dasar anak rese!" umpat Yasmin sambil melangkah pergi.
Dikara menangis hingga sesegukan. Tangannya bergetar akibat takut. "Bibi, mau Papa. Dika mau Papa!" pinta Dikara hingga air matanya menetes ke leher.
"Kasian. Yang sabar, ya? Papa kerja dulu. Tunggu di sini. Nanti Tante Raya datang, ya?"